Kitab: Hari Kiamat (Bagian 4)

AL-MASIH AD-DAJJAL

1. Makna al-Masiih

Abu ‘Abdillah al-Qurthubi rahimahullah menyebutkan dua puluh tiga pendapat tentang asal kata tersebut [1]. Sementara penulis kitab al-Qaamuus melanjutkan-nya menjadi lima puluh pendapat.”[2]

Lafazh ini dimutlakkan untuk orang yang benar, juga dimutlakkan untuk orang yang sesat lagi pendusta.


Al-Masih ‘Isa bin Maryam Alaihissallam adalah orang yang benar, sementara al-Masih ad-Dajjal adalah yang sesat lagi pendusta.

Allah menciptakan dua al-Masih, salah satu dari keduanya adalah lawan untuk yang lain.

Nabi ‘Isa Alaihissallam adalah al-Masih yang membawa petunjuk, dia menyembuhkan orang buta sejak lahir, yang berpenyakit kusta, juga menghidupkan yang mati dengan seizin Allah.

Sementara Dajjal -semoga Allah melaknatnya- adalah al-Masih yang membawa kesesatan. Dia menguji manusia dengan sesuatu yang diberikan kepadanya berupa kemampuan-kemampuan yang luar biasa, seperti menurunkan hujan, menghidupkan bumi dengan tumbuhan, dan hal-hal lain yang diluar kebiasaan.

Dajjal dinamakan juga dengan al-Masih karena salah satu matanya buta, atau karena dia mengelilingi dunia hanya dalam waktu empat puluh hari.[3]

Pendapat pertamalah yang paling kuat, karena adanya hadits:

“Sesungguhnya Dajjal itu terhapus (buta) sebelah matanya.” [4]

2. Makna ad-Dajjal

Lafazh ad-Dajjal diambil dari perkataan orang Arab (دَجَلَ الْبَعِيْرَ), makna-
nya adalah dicat dengan ter dan menutupi dengannya.[5]

Makna asal dari kata (الدَّجَلُ) ad-Dajalu adalah mencampuradukkan, dikatakan “دَجَلَ إِذَا لَبِسَ وَمَوَّهَ” maknanya adalah merancukan dan mengaduk-aduk.

Jadi, Dajjal adalah orang yang merancukan, pendusta dan yang diberikan sesuatu yang luar biasa. Kata tersebut termasuk bentuk mubaalaghah (melebihkan) dengan wazan (فَعَّالٌ), jadi maknanya adalah banyaknya kebohongan juga kerancuan darinya [6]. Bentuk jamaknya (دَجَّالُوْنَ), sementara Imam Malik menjamakkannya dengan kata (دَجَاجَلَةُ), dan termasuk jama’ taksir.[7]

Al-Qurthubi menuturkan bahwa Dajjal secara bahasa memiliki sepuluh makna.[8]

Dan lafazh Dajjal menjadi sebutan nama untuk al-Masih yang buta lagi pendusta. Jika dikatakan “Dajjal”, orang langsung ingat hanya kepadanya.

Dajjal dinamakan Dajjal karena dia telah menutupi kebenaran dengan kebathilan, atau karena dia telah menutupi kekufurannya di hadapan manusia dengan kebohongan, juga perancuannya kepada mereka. Ada juga yang me-ngatakan bahwa dia menutupi perkara yang benar dengan jumlah pengikutnya yang banyak [9], wallaahu a’lam.

3. Sifat Dajjal dan Hadits-Hadits yang Menjelaskannya

Dajjal adalah seorang laki-laki dari keturunan Adam. Dia memiliki banyak sifat yang dijelaskan dalam berbagai hadits agar manusia mengenalnya dan memberikan peringatan kepada mereka atas kejelekannya, sehingga ketika dia keluar maka orang-orang yang beriman akan mengenali dan tidak terkena fitnahnya. bahkan mereka akan tetap mengetahui sifat-sifatnya yang dikabar-kan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sifat-sifat ini dapat membedakannya dari manusia yang lain. Maka tidak akan ada yang tertipu kecuali orang bodoh yang telah ditetapkan kesengsaraan baginya. Hanya kepada Allah-lah kita memohon keselamatan.

Di antara sifat-sifat tersebut bahwa dia seorang laki-laki, masih muda, berkulit merah, pendek, jarak antara kedua betisnya berjauhan (leter o), berambut keriting, keningnya lebar, dadanya bidang, mata yang kanannya buta, mata tersebut tidak muncul tidak pula tertancap dalam seakan-akan buah anggur yang menonjol, sementara di atas matanya yang kiri ada daging keras yang tumbuh, di antara kedua matanya tertulis huruf ك، ف، ر dengan huruf yang terputus-putus, atau (كافـر) dengan bersambung, setiap muslim dapat membacanya, baik dia orang yang buta huruf maupun tidak. Dan di antara sifatnya bahwa dia orang yang mandul, tidak memiliki anak.

Berikut ini sebagian hadits shahih yang menjelaskan berbagai sifatnya di atas, dan hadits-hadits tersebut merupakan sebagian dalil yang menunjukkan kemunculan Dajjal.

a. Diriwayatkan dari ‘Umar Radhyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Ketika aku sedang tidur, aku (bermimpi) melakukan thawaf di sekeliling Ka’bah….” (Kemudian beliau menuturkan bahwa beliau melihat Nabi ‘Isa q, lalu melihat Dajjal dan mensifatinya, beliau berkata), “Tiba-tiba saja ada seorang laki-laki dengan badan yang besar, merah (kulitnya), rambutnya keriting, matanya buta sebelah, seolah-olah matanya adalah buah anggur yang menonjol.” Mereka (para Sahabat) berkata, “Orang yang paling mirip dengan Dajjal ini adalah Ibnu Quthn [10], seorang laki-laki dari Khuza’ah.” [11]

b. Diriwayatkan dari ‘Umar Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan Dajjal di tengah-tengah manusia, lalu beliau bersabda:

“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak picek (buta sebelah), dan ketahuilah sesungguhnya al-Masih Dajjal adalah picek mata sebelah kanannya. Matanya bagaikan anggur yang menonjol.” [12]

c. Dijelaskan dalam hadits an-Nawwas bin Sam’an Radhiyallahu anhu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika mensifati Dajjal:

“Sesungguhnya dia adalah seorang pemuda, rambutnya sangat keriting, matanya menonjol, seolah-olah aku sedang menyerupakannya dengan ‘Abdul ‘Uzza bin Quthn.” [13]

d. Dalam hadits ‘Ubadah bin ash-Shamit Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Dajjal adalah seorang laki-laki, pendek, jarak antara kedua betisnya berjauhan, keriting, buta sebelah, mata yang terhapus tidak terlalu menonjol, tidak pula terlalu ke dalam, maka jika dia melakukan kerancuan (mengaku sebagai Rabb) kepadamu, maka ketahuilah sesungguhnya Rabb kalian tidak buta sebelah.”[14]

e. Dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Adapun Masihud Dhalalah (Dajjal), maka sesungguhnya dia buta sebelah matanya, keningnya lebar, atas dadanya bidang dan badannya agak bongkok.”[15]

f. Dalam hadits Hudzaifah Radhiyallahu anhu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

“Dajjal itu buta mata sebelah kirinya, dan berambut gembal.” [16]

g. Dalam hadits Anas Radhiyallahu anhu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Dan sesungguhnya di antara dua matanya tertulis Kaafir.” [17]

Dalam satu riwayat:

“Kemudian beliau mengejanya kaaf faa’ raa’, setiap muslim dapat membacanya.”[18]

Sementara dalam riwayat lain:

“Setiap mukmin dapat membacanya, baik yang bisa menulis atau tidak.” [19]

Tulisan tersebut nampak secara hakiki [20]. Semua manusia tidak memiliki masalah dalam tulisan ini, yang pintar maupun yang bodoh. Demikian pula orang yang ummi (buta huruf), “Hal itu karena sesungguhnya kemampuan mata diciptakan oleh Allah untuk para hamba sesuai dengan kehendak-Nya dan kapan Dia menghendakinya. Seorang mukmin akan dapat melihatnya dengan mata penglihatannya walaupun dia tidak bisa menulis; sementara orang kafir tidak melihatnya walaupun dia bisa menulis, sebagaimana orang-orang yang beriman bisa melihat berbagai macam dalil dengan pandangannya sementara orang kafir tidak bisa melihatnya. Maka Allah menciptakan kemam-puan untuk melihat (lagi membaca) tanpa harus belajar terlebih dahulu, karena pada zaman tersebut banyak hal yang terjadi diluar kebiasaan.” [21]

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Yang benar berdasarkan pendapat para ulama bahwa tulisan tersebut nampak secara nyata. Ia adalah tulisan secara hakiki, Allah menjadikannya sebagai tanda dari berbagai tanda yang pasti atas kekufuran, kebohongan dan kebathilannya. Allah Ta’ala menampakkannya kepada setiap muslim yang bisa menulis atau tidak, dan menyembunyikannya dari setiap orang yang Allah kehendaki kesengsaraan baginya dan terfitnah olehnya, hal itu sama sekali tidak mustahil.”[22]

h. Dan di antara sifatnya adalah apa yang dijelaskan dalam hadits Fathimah binti Qais Radhiyallahu anhuma tentang kisah al-Jassasah. Di dalam hadits tersebut, Tamim ad-Dari Radhiyallahu anhu berkata, “Akhirnya kami pergi dengan cepat hingga kami masuk ke sebuah kuil, ternyata di dalamnya ada seorang yang sangat besar yang tidak pernah kami lihat sama sekali sebelumnya, dan dia diikat dengan sangat kuat.” [23]

i. Dan di dalam hadits ‘Imran bin Hushain Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sejak penciptaan Adam sampai hari Kiamat tidak ada satu makhluk yang lebih besar fitnahnya daripada Dajjal.” [24]

j. Adapun (sifat) Dajjal bahwa dia tidak memiliki keturunan, dijelaskan dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu tentang kisahnya bersama Ibnu Shayyad, dia berkata kepada Abu Sa’id, “Bukankah engkau pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Sesungguhnya dia (Dajjal) tidak bisa memiliki keturunan?’
Dia (Abu Sa’id) berkata, ‘Benar,’ jawabku.” [25]

Yang perlu diperhatikan dari berbagai riwayat terdahulu bahwa pada sebagian riwayat dijelaskan mata yang kanannya buta, sementara pada riwayat lainnya mata kirilah yang buta, padahal semua riwayat tersebut adalah shahih, maka ada sesuatu yang musykil di dalamnya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berpendapat bahwa hadits Ibnu ‘Umar yang diriwayatkan dalam ash-Shahiihain dan hadits yang menjelaskan bahwa mata kanannya yang buta adalah lebih kuat daripada riwayat Muslim yang menjelaskan bahwa mata kirinya yang buta, karena hadits yang disepakati atas keshahihannya lebih kuat daripada yang lain. [26]

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berpendapat bahwa kedua mata Dajjal adalah cacat, karena semua riwayat adalah shahih. Mata yang dihapus adalah mata yang padam, maksudnya yang hilang cahayanya, yaitu mata yang sebelah kanan sebagaimana dijelaskan dalam riwayat Ibnu ‘Umar. Adapun mata yang kiri adalah mata yang di depannya ada daging tebal, maksudnya mata yang tertutupi tetapi masih ada cahayanya, ini pun cacat. Jadi dia adalah orang yang cacat kedua matanya, karena kata al-a’war untuk semua anggota badan arti-nya buruk/cacat, terutama jika berhubungan dengan mata. Maka kedua mata Dajjal adalah cacat, salah satunya hilang penglihatannya dan yang lain dengan kecacatannya.

An-Nawawi rahimahullah mengomentari penggabungan dalil ini dengan perkata-annya, “Penggabungan inilah yang paling tepat.”[27]

Pendapat ini dianggap yang paling kuat oleh Abu ‘Abdillah al-Qurthubi rahimahullah.[28]

Footnote:

[1]. Lihat at-Tadzkirah (hal. 679).
[2]. Lihat Tartiibul Qaamuus (IV/239), penulis al-Qaamuus menuturkan bahwa beliau memaparkan berbagai pendapat ini dalam kitab Syarhu Masyaariqil Anwaar dan yang lainnya.
[3]. Lihat an-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits (IV/326-327), Lisaanul ‘Arab (II/594-595).
[4]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikrud Dajjaal (XVIII/61, Syarh an-Nawawi).
[5]. Lihat Lisaanul ‘Arab (XI/236), Tartiibul Qaamuus (II/152).
[6]. Lihat an-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits (II/102).
[7]. Lisaanul ‘Arab (XI/236).
[8]. At-Tadzkirah (hal. 658).
[9]. Lisaanul ‘Arab (XI/236-237), dan Tartiibul Qaamuus (II/152).
[10]. Ibnu Quthn. Namanya adalah ‘Abdul Uzza bin Quthn bin ‘Amr al-Khuza’i, ada yang mengatakan bahwa dia adalah keturunan Bani Musthaliq dari Khuza’ah. Ibunya adalah Halah binti Khuwailid, dia bukan seorang Sahabat. Meninggal pada zaman Jahiliyyah. Adapun riwayat yang menjelaskan bahwa dia berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah berdampak negatif penyerupaannya?” beliau men-jawab, “Tidak, engkau seorang muslim sementara dia adalah kafir.” Ini adalah tambahan yang lemah dari al-Mas’udi dalam riwayat Ahmad, dan hadits ini telah bercampur-baur dengan hadits lain.
Lihat komentar Ahmad Syakir terhadap kitab Musnad Ahmad (XV/30-31), lihat al-Ishaabah fii Tamyiizish Shahaabah (IV/239), dan Fat-hul Baari (VI/488, XIII/101).
[11]. Shahiihul al-Bukhari, kitab al-Fitan bab Dzikrud Dajjal (XIII/90, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-Iimaan, bab Dzikrul Masiih Ibni Maryam q wal Masiihid Dajjal (II/237, Syarh an-Nawawi).
[12]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Fitan, bab Dzikrud Dajjal (XIII/90, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikrud Dajjal (XVIII/59, Syarh an-Nawawi).
[13]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikrud Dajjal (XVIII/65, Syarh an-Nawawi).
[14]. Sunan Abi Dawud (XI/443-‘Aunul Ma’buud). Hadits ini shahih, lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (II/317-318, no. 2455).
[15]. Musnad Imam Ahmad (XV/28-30) tahqiq dan syarah Ahmad Syakir, beliau berkata, “Sanadnya shahih,” dan dihasankan oleh Ibnu Katsir.
Lihat an-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/130) tahqiq Dr. Thaha Zaini.
[16]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah bab Dzikrud Dajjal (XVIII/60-61, Syarh an-Nawawi).
[17]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Fitan, bab Dzikrud Dajjal (XIII/91, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah bab Dzikrud Dajjal (XVIII/59, Syarh an-Nawawi).
[18]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan bab Dzikrud Dajjal (XVIII/59, Syarh an-Nawawi).
[19]. Shahiih Muslim (XVIII/61, Syarh an-Nawawi).
[20]. Berbeda dengan orang yang berkata, “Tulisan tersebut adalah kiasan dari tanda sesuatu yang terjadi,” sesungguhnya ini adalah pendapat yang lemah. Lihat Syarh an-Nawawi li Shahiih Muslim (XVIII/ 60-61), dan Fat-hul Baari (XIII/100).
[21]. Fat-hul Baari (XIII/100).
[22]. Syarh an-Nawawi li Shahiih Muslim (XVIII/60).
[23]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Qishshatul Jassasah (XVIII/82, Syarh an-Nawawi).
[24]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan, bab Baqiyatu min Ahaadiitsid Dajjal (XVIII/86-87, Syarh an-Nawawi).
[25]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan, bab Dzikri Ibni Shayyad (XVIII/50, Syarh an-Nawawi).
[26]. Fat-hul Baari (XIII/97).
[27]. Lihat Syarh an-Nawawi li Shahiih Muslim (II/235).
[28]. At-Tadzkirah (hal. 663).

4. Apakah Dajjal Masih Hidup (Sekarang Ini)? Dan Apakah Dia Sudah Ada Pada Zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam?

Sebelum menjawab dua pertanyaan ini, hendaknya kita mengetahui keadaan Ibnu Shayyad, apakah dia Dajjal atau bukan?

Jika Dajjal itu bukan Ibnu Shayyad, apakah dia sudah ada sebelum ia menampakkan fitnahnya atau belum?

Dan sebelum menjawab pertanyan-pertanyaan ini, kami akan mengenal-kan Ibnu Shayyad terlebih dahulu.

a. Ibnu Shayyad.
Namanya adalah Shafi -ada juga yang mengatakan ‘Abdullah- bin Shayyad atau Shaa-id.[1]

Ia dari kalangan Yahudi Madinah, ada juga yang mengatakan dari ka-langan Anshar. Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, ia masih kanak-kanak.

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa ia masuk Islam, dan anaknya adalah ‘Umarah yang termasuk di antara Tabi’in yang terkemuka. Imam Malik rahimahullah dan yang lainnya meriwayatkan darinya.[2]

Imam adz-Dzahabi rahimahullah memuat biografi tentangnya dalam kitab ‘Tajriidu Asmaa-ish Shahaabah’, beliau berkata, “‘Abdullah bin Shayyad, Ibnu Syahin [3] menyebutkan dalam periwayatannya, ia berkata, ‘Dia adalah Ibnu Sha-id, ayahnya seorang Yahudi, ‘Abdullah dilahirkan dalam keadaan buta dan dalam keadaan telah dikhitan, dialah yang dikatakan orang sebagai Dajjal. Kemudian ia masuk Islam, ia termasuk kalangan Tabi’in, dan pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (ketika masih kafir).” [4]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam kitabnya al-Ishaabah, menyebutkan biografinya sebagaimana yang diutarakan oleh Imam adz-Dzahabi, selanjutnya ia berkata, “Di antara anaknya adalah ‘Umarah bin ‘Abdullah bin Shayyad, ia termasuk orang terkemuka di antara kaum muslimin, dan termasuk rekan Sa’id bin Musayyib. Imam Malik dan yang lainnya telah meriwayatkan hadits darinya.”

Kemudian Ibnu Hajar menyebutkan sejumlah hadits tentang Ibnu Shay-yad, sebagaimana akan kita sebutkan pada kesempatan berikutnya.

Selanjutnya beliau berkata, “Secara garis besar, mengkategorikan Ibnu Shayyad dalam golongan Sahabat tidak memiliki arti penting, sebab apabila ia benar-benar Dajjal, maka secara pasti ia tidak mungkin tergolong Sahabat karena kematiannya pasti dalam keadaan kafir. Akan tetapi jika tidak seperti itu, maka keadaan bertemunya dia dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah saat dirinya belum masuk Islam.” [5]

Akan tetapi jika setelahnya ia masuk Islam, maka ia termasuk Tabi’in yang melihat wajah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (sebelumnya), sebagaimana yang dikatakan oleh adz-Dzahabi.

Ibnu Hajar dalam kitabnya Tahdzibut Tahdziib memuat biografi ‘Umarah bin Shayyad dan berkata, “‘Umarah bin ‘Abdillah bin Shayyad al-Anshari, Abu Ayyub al-Madani, ia meriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah, Sa’id bin Musayyib, ‘Atha’ bin Yasar. Adapun para perawi yang meriwayatkan darinya adalah adh-Dhahhak bin ‘Utsman al-Khuzami, Imam Malik bin Anas dan selainnya. Ibnu Ma’in dan an-Nasa-i berkata, “Ia tsiqah.” Abu Hatim berkata, “Haditsnya baik.” Dan Ibnu Sa’ad berkata, “Ia tsiqah tetapi periwayatannya sedikit.” Imam Malik bin Anas tidak mengunggulkan keutamaan yang lain darinya, dan mereka berkata: kami bani Usyaihib bin an-Najjar, dan terkenal dengan sebutan bani Najjar, dan mereka sekarang sekutunya bani Malik bin an-Najjar, namun tidak diketahui asal-usul mereka [6]
.
b. Prihal Ibnu Shayyad.
Ibnu Shayyad adalah tukang dusta, terkadang ia menjadi dukun yang ucapannya bisa jadi benar atau salah. Kemudian tersebar kabar tentangnya di tengah-tengah manusia bahwasanya dia adalah Dajjal. Sebagaimana akan di-jelaskan berikutnya dalam pembahasan ujian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya.

c. Ujian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Kepadanya.
Ketika tersebar berita tentang Ibnu Shayyad bahwa dia adalah Dajjal, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin mengetahui keadaannya. Ketika itu beliau pergi dengan sem-bunyi-sembunyi sehingga Ibnu Shayyad tidak merasakannya dengan harapan agar beliau mendengarkan sesuatu darinya. Dan ketika itu beliau mengajukan beberapa pertanyaan yang dapat menjelaskan jati dirinya.

Dijelaskan dalam sebuah hadits dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, bahwasanya ‘Umar pergi bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sekelompok Sahabat, sehingga mereka mendapati sedang bermain bersama anak-anak di sebuah bangunan tinggi seperti benteng Ibnu Maghalah [7]. Ketika itu Ibnu Shayyad telah mendekati baligh, dia tidak merasakan sesuatu hingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menepuknya dengan tangan beliau, lalu berkata kepada Ibnu Shayyad, “Apakah engkau bersaksi bahwasanya aku adalah utusan Allah?” Kemudian Ibnu Shayyad menatapnya, lalu berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusannya orang-orang yang ummi (buta huruf),” selanjutnya Ibnu Shayyad berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah engkau bersaksi bahwasanya aku adalah utusan Allah?” Beliau menolaknya dan berkata, “Aku beriman kepada Allah dan Rasul-Rasul-Nya.” “Apa yang engkau lihat?” Lanjut Nabi. Ibnu Shayyad berkata, “Datang kepadaku seorang yang jujur dan seorang pendusta.” Kemudian Nabi berkata, “Pikiranmu kacau balau, apakah aku menyembunyikan sesuatu darimu?” Kemudian Ibnu Shayyad menjawab, “Ad-Dukh [8].” “Duduklah, sesungguhnya engkau tidak akan pernah melampaui kedudukanmu,” kata Nabi. Lalu ‘Umar Radhiyallahu anhu berkata, “Biarkanlah aku memenggal lehernya!” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Jika dia memang (Dajjal), maka engkau tidak akan bisa mengalahkannya, dan jika dia bukan (Dajjal), maka tidak ada kebaikan bagimu membunuhnya.”[9]

Dalam riwayat lain, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salalm bertanya kepadanya, “Apa yang engkau lihat?” Dia menjawab, “Aku melihat singgasana di atas air, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Engkau melihat singgasana iblis di atas lautan, apa lagi yang engkau lihat?” Dia menjawab, “Aku melihat dua orang yang jujur dan satu orang pendusta, atau dua orang pendusta dan satu orang yang jujur.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Pikirannya telah kacau, tinggalkanlah dia!”[10]

Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma berkata, “Setelah itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Ubay bin Ka’ab bertolak ke sebuah perkebunan kurma yang di dalamnya ada Ibnu Shayyad. Dengan sembunyi-sembunyi beliau berusaha untuk mendengarkan sesuatu dari Ibnu Shayyad sebelum Ibnu Shayyad melihat beliau. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya sedang berbaring -dengan mengenakan pakaian kasar yang ada tandanya-. Lalu ibu Ibnu Shayyad melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang bersembunyi di balik batang pohon kurma, dia berkata kepada Ibnu Shayyad. “Wahai Shafi -nama Ibnu Shayyad- ini adalah Muhammad,” lalu dia meloncat, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Seandainya ibunya membiarkannya, niscaya perkaranya akan jelas.” [11]

Abu Dzarr Radhiyallahu anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutusku untuk menemui ibunya, beliau berkata, ‘Tanyalah berapa lama dia mengandungnya?’ Lalu aku mendatanginya dan bertanya kepadanya, kemudian dia menjawab, ‘Aku mengandungnya selama 12 bulan.’” (Abu Dzarr) berkata, “Kemudian beliau mengutusku (lagi) kepadanya, ‘Tanyakanlah kepadanya tentang jeritannya ketika lahir?’” (Abu Dzarr) berkata, “Lalu aku kembali kepadanya, dan bertanya, dia menjawab, ‘Dia menjerit bagaikan anak yang berumur satu bulan.’” Selanjutnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya (anak itu), ‘Sesungguhnya aku telah merahasiakan sesuatu kepadamu.’ Dia menjawab, ‘Engkau telah merahasiakan bagian depan dari hidung dan mulut seekor domba yang berwarna hitam (seperti tanah) dan asap (ad-dukhan) dariku.’” (Abu Dzarr) berkata, “Dia hendak mengatakan ad-dukhan, lalu tidak dapat melakukannya, sehingga dia hanya mengatakan ad-dukh, ad-dukh.” [12]

Maka pertanyaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya dengan ad-dukhan (asap) ditujukan untuk mengetahui hakikat dirinya.

Yang dimaksud dengan ad-dukhan di sini adalah apa yang ada pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Maka tunggulah hari ketika langit membawa asap yang nyata.” [Ad-Dukhaan: 10]

Sementara dalam hadits Ibnu ‘Umar pada riwayat al-Imam Ahmad, “Sesungguhnya aku telah menyembunyikan sesuatu kepadamu.” Beliau meyembunyikan firman Allah:

“Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata.” [Ad-Dukhaan: 10][13]

Ibnu Katsir رحمه الله berkata, “Sesungguhnya Ibnu Shayyad sebagai penyingkap sesuatu dengan cara dukun, dengan lisan jin-jin yang memutus-mutuskan perkataan, karena itulah dia berkata, ‘Ia adalah ad-dukh,” maksudnya ad-Dukhaan. Ketika itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui sumber perkataannya bahwa itu adalah dari syaithan. Lalu beliau berkata, ‘Duduklah! Karena engkau tidak akan melebihi kedudukanmu.’” [14]

d. Kematiannya.
Diriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Kami kehilangan Ibnu Shayyad pada peristiwa al-Harrah.” [15]

Ibnu Hajar telah menshahihkan riwayat ini dan melemahkan pendapat yang mengatakan bahwa dia meninggal di Madinah dan mereka (para Sahabat) membuka wajahnya lalu menshalatkannya.[16]

Footnote:

[1]. Lihat Fat-hul Baari (III/220, VI/164), ‘Umdatul Qaari Syarh al-Bukhari (VIII/170, XIV/278-303), karya Badruddin al-‘Aini, cet. Darul Fikr, an-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/128), Syarh an-Nawawi li Shahiih Muslim (XVIII/46), ‘Aunul Ma’buud (XI/) (lembarannya tidak ada).
[2]. Lihat an-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/128), tahqiq Dr. Thaha Zaini.
[3]. Beliau adalah al-Hafizh Abu Hafs ‘Umar bin Ahmad bin ‘Utsman bin Syahin al-Baghdadi, al-waa’izh (ulama yang selalu mamberi nasehat), pakar tafsir, termasuk juga pakar hadits, banyak menguasai bidang ilmu. Ia memiliki banyak karya tulis, yang paling banyak dalam bidang tafsir dan tarikh. Wafat tahun 385 H rahimahullah. Lihat biografinya dalam Syadzaraatudz Dzahab (III/117), al-A’laam (V/40) karya az-Zarkali.
[4]. Lihat Tajriid Asmaa-ish Shahaabah, (I/319, no. 3366), karya al-Hafizh adz-Dzahabi, cet. Darul Ma’arif Beirut.
[5]. Lihat al-Ishaabah fii Tamyiizis Shahaabah, bag. ke 4, di antara yang memiliki awal nama (‘Abdullah), (III/133, no. 6609), karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani. Cet. as-Sa’adah – Mesir cet. I, th. 1328 H.
[6]. Lihat: kitab Tahdzibut tahdziib, VII/418, (no: 681).
[7]. (مَغَالَة) dengan huruf mim yang difat-hahkan, diberi titik dan tanpa syiddah, maknanya adalah salah satu nama kabilah di kalangan Anshar. Fat-hul Baari (III/220).
[8]. Maksudnya adalah ad-Dukhaan (asap), akan tetapi dia mengungkapkannya secara terputus-putus seperti cara para dukun, sebagaimana yang akan dijelaskan nanti.
[9]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Janaa-iz bab Idzaa Aslamash Shabiyyu fa Maata Hal Yushalla ‘Alaihi wa Hal Yu’radhu ‘alash Shabiyyil Islaam (III/318, al-Fat-h).
[10]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikru Ibni Shayyad (XVIII/49-50, Syarh an-Nawawi).
[11]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Janaa-iz bab Idzaa Aslamash Shabiyyu fa Maata hal Yushalla ‘alaihi (III/ 318, al-Fat-h).
[12]. Musnad Ahmad (V/148, dengan catatan pinggir Muntakhab Kanz).
Ibnu Hajar berkata tentang sanadnya, “Shahih,” Fat-hul Baari (XIII/325).
Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bazzar dan ath-Thabrani dalam al-Ausath, dan perawi Ahmad adalah perawi ash-Shahiih, selain al-Harits bin Hushairah, dia adalah tsiqah.” Majmaa’uz Zawaa-id (VIII/2-3).
[13]. Musnad Ahmad (IX/139, no. 6360), tahqiq Ahmad Syakir, beliau berkata, “Sanadnya shahih.”
[14]. Tafsiir Ibni Katsir (VII/234).
[15]. Sunan Abi Dawud (XI/476, ‘Aunul Ma’buud).
[16]. Lihat Fat-hul Baari (XIII/328).

e. Apakah Ibnu Shayyad adalah Dajjal yang Sesungguhnya?
Telah dijelaskan sebelumnya keadaan Ibnu Shayyad dan pertanyaan Nabi kepadanya yang menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan jati diri Ibnu Shayyad secara detail, karena beliau sama sekali tidak mendapatkan wahyu bahwa dia adalah Dajjal atau yang lainnya.

Sementara ‘Umar pernah bersumpah di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya Ibnu Shayyad adalah Dajjal, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkarinya.

Sebagian Sahabat berpendapat dengan apa yang diungkapkan oleh ‘Umar, dan bersumpah bahwasanya Ibnu Shayyad adalah Dajjal, sebagaimana diriwayatkan dari Jabir, Ibnu ‘Umar, dan Abu Dzarr Radhiyallahu anhum.

Dijelaskan dalam sebuah hadits dari Muhammad bin al-Munkadir,[1] dia berkata, “Aku melihat Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhuma bersumpah atas Nama Allah bahwasanya Ibnu Shayyad adalah Dajjal.” Aku berkata, “Engkau bersumpah atas Nama Allah?!” Dia berkata, “Sesungguhnya aku mendengar ‘Umar bersumpah terhadap hal itu di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salalm tidak mengingkarinya.”[2]

Diriwayatkan dari Nafi’ rahimahullah [3] , dia berkata, “Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma pernah berkata, ‘Demi Allah aku tidak meragukan bahwa al-Masihud Dajjal adalah Ibnu Shayyad.’” [4]

Diriwayatkan dari Zaid bin Wahb[5], beliau berkata, “Abu Dzarr Radhiyallahu anhu berkata, ‘Bersumpah sepuluh kali dengan menyatakan sesungguhnya Ibnu Shayyad adalah Dajjal lebih aku sukai daripada bersumpah hanya satu kali dengan menyatakan sesungguhnya dia bukan Dajjal.’” [6]

Diriwayatkan dari Nafi’, Ibnu ‘Umar berjumpa dengan Ibnu Sha-id pada salah satu jalan di Madinah, lalu dia mengatakan suatu perkataan yang menjadikannya marah dan naik pitam, sehingga membuat keributan di jalan. Kemudian Ibnu ‘Umar datang kepada Hafshah dan menceritakan kepada, lalu dia (Hafshah) berkata kepadanya, “Semoga Allah merahmatimu! Apa yang engkau inginkan dari Ibnu Sha-id?! Apakah engkau tidak mengetahui bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Sesungguhnya ia hanya keluar karena kemarahan yang dibencinya?!’” [7]

Dan pada satu riwayat dari Nafi, dia berkata, Ibnu ‘Umar berkata, “Aku telah menemuinya sebanyak dua kali (pada pertemuan pertama) aku menemuinya, lalu aku berkata kepada sebagian mereka (sahabat Ibnu Shayyad), “Apakah kalian mengatakan bahwa dia Dajjal?” Mereka menjawab, “Tidak, demi Allah.” Nafi berkata, Ibnu Umar mengatakan, “Engkau telah berbohong padaku, demi Allah sebagian dari kalian telah mengabarkan kepadaku sesungguhnya dia tidak akan mati hingga dia menjadi orang yang paling banyak harta dan anaknya di antara kalian, demikianlah anggapan tentangnya sampai hari ini.” Dia berkata, “Lalu kami pun berbincang-bincang, kemudian meninggalkannya.” Dia berkata, “Aku berjumpa dengannya pada kesempatan yang lain sementara matanya telah membengkak.” Aku bertanya, “Sejak kapan matamu seperti yang aku lihat sekarang ini?” Dia menjawab, “Tidak tahu.” Aku menyanggah, “Engkau tidak tahu sementara ia berada di kepalamu sendiri?” Dia berkata, “Jika Allah menghendaki, niscaya Dia akan menjadikan hal ini pada tongkatmu ini.” Beliau berkata, “Lalu dia mendengus seperti dengusan keledai yang paling keras yang pernah aku dengar.” Beliau berkata, “Lalu sebagian sahabatnya mengira bahwa aku telah memukulnya dengan tongkatku hingga matanya cidera, demi Allah, padahal aku sama sekali tidak merasakan (berbuat seperti itu).” Dia (Nafi) berkata, “Dan dia datang kepada Ummul Mukminin (Hafshah), lalu menceritakannya, beliau bertanya, ‘Apa yang engkau inginkan darinya?! Tidakkah engkau tahu bahwasanya beliau (Nabi) pernah bersabda, ‘Sesungguhnya penyebab awal yang mendorongnya keluar kepada manusia adalah kemarahan yang menyebabkan dia marah.’”[8]

Ibnu Shayyad mendengarkan apa-apa yang dibicarakan manusia tentang-nya, lalu dia merasa sangat terluka karenanya. Dia membela diri bahwa dia bukanlah Dajjal, dan berhujjah bahwa yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang sifat-sifat Dajjal tidak sesuai dengan keadaannya.

Dijelaskan dalam sebuah hadits dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Kami pernah keluar untuk melakukan haji atau umrah dan Ibnu Sha-id ikut bersama kami, kemudian kami singgah. Selanjutnya orang-orang berpisah sementara aku bersamanya. Aku merasa sangat takut karena apa yang dikatakan manusia tentangnya.” (Abu Sa’id) berkata, “Dia datang dengan perbekalannya, lalu dia meletakkannya bersama perbekalanku.” Aku berkata kepadanya, “Udara sangat panas, sebaiknya engkau meletakkannya di bawah pohon itu,” (Abu Sa’id) berkata, “Akhirnya dia melakukannya.” Kemudian kami diberikan satu ekor kambing, lalu dia pergi dan kembali dengan membawa satu wadah besar, dia berkata, “Minumlah wahai Abu Sa’id!” Aku berkata, “Sesungguhnya udara sekarang ini panas sekali, dan susu itu juga panas,” sebenarnya tidak ada masalah bagiku, hanya saja aku tidak ingin meminum sesuatu yang berasal dari tangannya, (atau dia berkata) mengambil dari tangannya,” lalu dia berkata, “Wahai Abu Sa’id, sebelumnya aku hendak mengambil tali, lalu menggantung-kannya di pohon, kemudian aku ikat leherku karena (merasa sakit hati) terhadap segala hal yang dikatakan oleh manusia. Wahai Abu Sa’id, siapakah yang tidak mengetahui hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada sesuatu yang tersembunyi dari kalian wahai orang-orang Anshar. Bukankah engkau orang yang paling mengetahui hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Dia (Dajjal) adalah orang kafir,’ sementara aku adalah seorang muslim? Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa dia (Dajjal) adalah orang yang tidak memiliki anak, sementara aku telah meninggalkan anak-anakku di Madinah? Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa dia (Dajjal) tidak akan pernah memasuki Madinah dan Makkah, sementara aku datang dari Madinah menuju Makkah?” Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Hampir saja aku menerima alasannya,” kemudian dia berkata, “Demi Allah, sesungguhnya aku mengenalnya dan mengetahui tempat kelahirannya, dan di mana dia sekarang.” Abu Sa’id berkata, “Aku berkata kepadanya, ‘Celakalah engkau pada hari-harimu.’”[9]

Dalam satu riwayat lain, Ibnu Shayyad berkata, “Demi Allah, sesungguh-nya aku mengetahui di mana dia (Dajjal) sekarang, dan mengenal bapak juga ibunya.” (Perawi berkata) dikatakan kepadanya, “Apakah engkau senang jika engkau adalah dia?” Dia menjawab, “Jika ditawarkan kepadaku, maka aku tidak akan membencinya.” [10]

Sebenarnya masih ada beberapa riwayat yang menjelaskan keadaan Ibnu Shayyad. Kami sengaja tidak mengungkapkan agar tidak memperpanjang pem-bahasan, karena sebagian peneliti seperti Ibnu Katsir, Ibnu Hajar, dan yang lainnya menolak riwayat-riwayat tersebut karena kelemahan sanadnya.[11]

Masalah Ibnu Shayyad terasa rancu bagi sebagian ulama dan masalahnya menjadi sulit bagi mereka. Sebagian mereka mengatakan bahwa dia adalah Dajjal dan berhujjah dengan dalil sebelumnya, yaitu sumpah sebagian Sahabat yang menyatakan bahwa dia adalah Dajjal, dan dengan peristiwa yang terjadi antara dia dengan Ibnu ‘Umar juga Abu Sa’id Radhiyallahu anhum. Sementara sebagian lainnya berpendapat bahwa dia bukanlah Dajjal, mereka berhujjah dengan hadits Tamim ad-Dari Radhiyallahu anhu. Sebelum mengungkapkan pendapat kedua kelompok itu, kami akan menuturkan hadits Tamim ad-Dari yang panjang.

Al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya kepada Amir bin Syarahil asy-Sya’bi [12] -kabilah Hamdan- bahwasanya ia bertanya kepada Fathimah binti Qais, saudari adh-Dhahhak bin Qais, -dia adalah salah seorang wanita yang ikut pada hijrah yang pertama- dia berkata, “Ceritakanlah kepadaku satu hadits yang engkau dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak engkau sandarkan kepada seorang pun selain beliau!” “Jika engkau mau, maka aku akan melakukannya,” Jawabnya. Dia berkata, “Tentu saja, ceritakanlah kepadaku.” Akhirnya dia menceritakan bagaimana dia menjanda dari suaminya, dan bagaimana ia melakukan ‘iddah di rumah Ibnu Ummi Maktum, kemudian
dia berkata, “Setelah masa ‘iddahku selesai, aku mendengar panggilan penyeru Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Shalat berjama’ah,’ lalu aku pergi menuju masjid dan melakukan shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu aku berada di shaff para wanita yang dekat dengan barisan kaum (pria). Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelesaikan shalatnya, beliau duduk di atas mimbar sambil tersenyum, lalu berkata, “Hendaklah setiap orang tetap pada tempat shalatnya!” Selanjutnya beliau bersabda, “Apakah kalian tahu mengapa aku mengumpulkan kalian?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku tidak mengumpulkan kalian untuk menyampaikan kabar gembira atau kabar buruk, akan tetapi aku mengumpulkan kalian karena Tamim ad-Dari sebelumnya adalah seorang Nasrani, lalu dia datang, melakukan bai’at dan masuk Islam. Dia menceritakan kepadaku sebuah cerita yang sesuai dengan apa yang aku ceritakan kepada kalian tentang Masihud Dajjal. Dia menceritakan kepadaku bahwa dia pernah menaiki sebuah kapal laut bersama 30 orang yang berpenyakit kulit dan kusta. Mereka terombang ambing oleh ombak selama satu bulan di tengah lautan hingga akhirnya terdampar pada sebuah pulau di arah terbenamnya matahari. Mereka menaiki kapal kecil (sampan), lalu mereka masuk ke dalam pulau. Selanjutnya binatang dengan berbulu lebat menemui mereka, mereka tidak mengetahui mana depan juga mana belakangnya karena bulunya lebat, mereka berkata, ‘Celaka! Siapa engkau?’ Dia menjawab, ‘Aku adalah al-Jassasah.’ Mereka bertanya, ‘Apakah al-Jassasah itu?’ Dia berkata (tanpa menjawab), ‘Wahai kaum! Pergilah kepada orang yang berada di dalam kuil ini, karena dia sangat merindukan berita dari kalian.’ (Tamim ad-Dari) berkata, ‘Ketika binatang itu menyebutkan seseorang kepada kami, maka kami pun meninggalkannya karena kami takut jika dia adalah syaitan.’ Dia berkata, ‘Akhirnya kami cepat-cepat pergi hingga kami memasuki kuil, ternyata di dalamnya ada orang yang sangat besar dan diikat dengan sangat kuat yang pertama kali kami lihat. Kedua tangannya dibelenggu sampai ke lehernya, antara kedua lututnya hingga kedua mata kakinya dirantai dengan besi, kami berkata, ‘Celaka, siapa engkau?’ Dia berkata, ‘Kalian telah ditakdirkan untuk membawa kabar untukku, kabarkanlah siapa kalian?’ Mereka menjawab, ‘Kami adalah manusia dari bangsa Arab, kami menaiki kapal laut, lalu kami mendapati laut dengan ombaknya sedang mengamuk, kami terombang ambing oleh ombak selama satu bulan di tengah lautan hingga terdampar di pulau ini, kemudian kami menaiki sampan, lalu kami masuk ke pulau ini, selanjutnya binatang dengan berbulu lebat menemui kami, kami tidak mengetahui mana depan juga mana belakangnya karena bulunya sangat lebat. Kami berkata, ‘Celaka! Siapa engkau?’ Dia menjawab, ‘Aku adalah al-Jassasah.’ Kami bertanya, ‘Apakah al-Jassasah itu?’ Dia berkata (tanpa menjawab), ‘Pergilah kepada orang yang berada di dalam kuil ini karena dia sangat merindukan berita dari kalian,’ akhirnya kami pun segera mendatangimu. Kami merasa kaget dan takut kepadanya, dan mengira bahwa dia adalah syaitan.’ Dia berkata, ‘Kabarkanlah kepadaku tentang pohon kurma di Baisan?[13]’ Kami berkata, ‘Apa yang engkau tanyakan tentangnya?’ Dia menjawab, ‘Aku bertanya kepada kalian tentang buahnya, apakah dia masih berbuah?’ Kami menjawab, ‘Ya (masih berbuah).’ ‘Hampir saja dia tidak berbuah lagi,’ katanya. Dia berkata, ‘Kabarkanlah kepadaku tentang danau Thabariyah?’ Kami berkata, ‘Apa yang engkau tanyakan tentangnya?’ Dia menjawab, ‘Apakah masih ada airnya?’ Mereka menjawab, ‘Danau itu masih banyak airnya.’ “’Hampir saja airnya kering,’ katanya. Dia berkata, ‘Kabarkanlah kepadaku tentang mata air Zughar ?[14]’ Mereka berkata, ‘Apa yang engkau tanyakan tentangnya?’ Dia menjawab, ‘Apakah mata air tersebut masih mengalir? Dan apakah penduduknya masih bercocok tanam dengan airnya?’ Kami menjawab, ‘Betul, airnya masih banyak dan penduduknya masih bercocok tanam dengan airnya.’ Dia bertanya, ‘Kabarkanlah kepadaku tentang Nabi orang-orang yang ummi, apa yang dia lakukan?’ Mereka menjawab, ‘Dia telah berhijrah dari kota Makkah dan singgah di Yastrib (Madinah).’ ‘Apakah orang-orang memeranginya?’ Tanya dia. ‘Betul,’ jawab kami. Dia bertanya, ‘Apa yang dia lakukan terhadap mereka?’ Lalu kami pun mengabarkan kepadanya bahwasanya dia telah menolong orang-orang yang mengikutinya dan mereka pun taat kepadanya.’ Dia berkata kepada mereka, ‘Apakah benar seperti itu?’ Kami menjawab, ‘Betul.’ Dia berkata, ‘Sesungguhnya lebih baik bagi mereka untuk mentaatinya, dan aku kabarkan kepada kalian sesungguhnya aku adalah al-Masih (Dajjal), dan hampir saja aku diizinkan untuk keluar hingga aku bisa keluar, lalu aku akan berkelana di muka bumi, maka aku tidak akan pernah meninggalkan satu kampung pun melainkan aku menyinggahinya dalam waktu empat puluh malam, selain Makkah dan Thaibah (Madinah), keduanya diharamkan atasku. Setiap kali aku hendak masuk ke salah satu darinya, maka para Malaikat akan menghadangku dengan pedang yang terhunus yang menghalangiku dengannya, dan pada setiap lorong-lorong kedua kota tersebut ada seorang Malaikat yang menjaganya.’”

Dia (Fathimah) berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda -sambil menusukkan tongkat kecilnya di mimbar-, ‘Inilah Thaibah, inilah Thaibah, inilah Thaibah -yakni Madinah- ingatlah bukankah aku pernah mengatakan hal itu kepada kalian?” Lalu orang-orang berkata, “Benar.” “Sungguh cerita yang diungkap-kan oleh Tamim telah membuatku kagum karena ia sesuai dengan apa yang pernah aku ceritakan kepadanya, tentang Madinah dan Makkah. Ketahuilah sesungguhnya dia (Dajjal) berada di lautan Syam, atau lautan Yaman. Oh tidak, tetapi berada dari arah timur, dari arah timur, dari arah timur,’ (dan beliau memberikan isyarat dengan tangannya ke arah timur).”

Dia (Fathimah) berkata, “Maka aku hafal hal ini dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [15]

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Sebagian ulama beranggapan bahwa hadits Fathimah ini gharib yang hanya diriwayatkan oleh perorangan. Padahal tidak demikian. Sebab, selain Fathimah juga diriwayatkan dari Abu Hurairah, ‘Aisyah, dan Jabir Radhiyallahu anhum.” [16]

Footnote:

[1]. Beliau adalah Abu ‘Abdillah Muhammad bin al-Munkadir bin ‘Abdillah bin al-Hadir bin ‘Abdil ‘Uzza at-Taimi. Seorang Tabi’in, salah seorang imam, meriwayatkan dari sebagian para Sahabat dan wafat pada tahun 131 H rahimahullah. Lihat Tahdziibut Tahdziib (IX/473-475).
[2]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-I’tishaam bil Kitaabi was Sunnah, bab Man Ra’-a Tarkan Nakiir minan Nabiyyi Hujjatun li man Ghairir Rasuul (XIII/223, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikru Ibni Shayyad (XVIII/52-53, Syarh an-Nawawi).
[3]. Beliau adalah Abu ‘Abdillah, ahli fiqih Madinah, budak Ibni ‘Umar, yang didapatkannya pada sebuah peperangan yang beliau lakukan. Dia meriwayatkan dari banyak para Sahabat, dia adalah seorang yang tsiqah dan banyak meriwayatkan hadits. Wafat pada tahun 119 H rahimahullah. Lihat biografinya dalam Tahdziibut Tahdziib (X/412-414).
[4]. Sunan Abi Dawud (XI/483). Ibnu Hajar berkata, “Sanadnya shahih,” Fat-hul Baari (XIII/325).
[5]. Beliau adalah Abu Sulaiman Zaid bin Wahb al-Juhani al-Kufi, pergi menjumpai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia ditangkap ketika sedang di dalam perjalanan. Beliau meriwayatkan hadits dari banyak Sahabat seperti ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Abu Dzarr dan yang lainnya g. Dia adalah seorang yang tsiqah lagi banyak meriwayatkan hadits. Wafat pada tahun 96 H rahimahullah.
Lihat biografinya dalam Tahdziibut Tahdziib (III/427).
[6]. HR. Imam Ahmad, telah terdahulu takhrijnya.
[7]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikru Ibni Shayyad (XVIII/57, Syarh an-Nawawi).
[8]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikru Ibni Shayyad (XVIII/57, Syarh an-Nawawi).
[9]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah bab Dzikru Ibni Shayyad (XVIII/51-52, Syarh an-Nawawi).
[10]. Shahiih Muslim (XVIII/51, Syarh an-Nawawi).
[11]. Lihat an-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/127) tahqiq Dr. Thaha Zaini dan Fat-hul Baari (XIII/ 326).
[12]. Beliau adalah seorang imam lagi hafizh, Amir bin Syarahil. Ada juga yang mengatakan, Amir bin ‘Abdillah bin Syarahil asy-Sya’bi al-Humairi, dilahirkan 6 tahun setelah kekhilafahan ‘Umar dan meriwayatkan dari banyak Sahabat, dia pernah berkata, “Aku tidak pernah menulis hitam di atas yang putih (menulis), dan tidaklah seseorang meriwayatkan hadits kepadaku kecuali aku meng-hafalnya.” Wafat setelah tahun 100 H dengan umur 90 tahun rahimahullah.
Lihat Tahdziibul Kamaal, karya al-Mazzi (II/643), Tahdziibut Tahdziib (V/65-69).
[13]. (بيسان) dengan huruf yang difat-hahkan kemudian sukun dan huruf sin tanpa titik, lalu nun, sebuah kota di Yordania, tegasnya di dataran rendah Syam lebih dikenal tempat tersebut dengan se-menanjung. Semenanjung itu berada di antara Hauran dan Palestina, di sanalah tempat mata air al-Fulus, mata air yang sedikit mengandung kandungan garam dan terkenal dengan banyaknya pohon kurma.
Yaqut berkata, “Aku telah melihatnya berkali-kali, lalu aku tidak melihat di sana kecuali dua pohon kurma yang besar, ia adalah salah satu tanda akan keluarnya Dajjal.” Lihat Mu’jamul Buldaan (I/527).
[14]. (زُغَرٌ) dengan wajan (زُفَرٌ) dan (صُرَدٌ), dan huruf akhirnya tanpa titik.
Yaqut berkata, “Orang terpercaya bercerita kepadaku bahwa Zughar berada di ujung sebuah danau yang berbau busuk pada sebuah lembah di sana. Jarak antara mata air itu dengan Baitul Maqdis se-panjang perjalanan tiga malam, daerah tersebut ada di sisi kota Hijaz, dan mereka memiliki per-kebunan di sana.
Lihat Mu’jamul Buldaan (III/142-143), dan kitab an-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits (II/304).
[15]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikru Ibnu Shayyad (VIII/78-83, Syarh an-Nawawi).
[16]. Fat-hul Baari (XIII/328).
Kami katakan: Di antara orang yang membantah hadits yang mulia ini adalah Syaikh Abu Ubayyah, dia berkata, “Hadits ini memiliki tabiat khayalan dan tanda kepalsuan.”
Dan kita tanya Abu ‘Ubayyah, “Dengan dalil apakah sebuah hadits shahih yang telah diterima oleh umat bisa ditolak? Ya Allah, kecuali karena kerancuannya dan berjalan di belakang pikiran yang dangkal, semoga Allah mengampuni kita semua dan dia.”
Lihat an-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim dengan ta’liq Syaikh Muhammad Fahim Abu ‘Ubayyah

f. Beberapa Pendapat Ulama Tentang Ibnu Shayyad
Abu ‘Abdillah al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Pendapat yang benar bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, berdasarkan dalil-dalil yang telah lalu, dan tidak mustahil bahwa dia telah ada sebelumnya di pulau tersebut, dan ada di depan para Sahabat di waktu yang lain.” [1]

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama telah berkata, ‘Kisahnya itu musykil (sulit difahami), dan perkaranya samar-samar, apakah dia itu Masihud Dajjal yang terkenal atau yang lainnya? Akan tetapi tidak diragukan bahwa dia termasuk Dajjal di antara para Dajjal

Para ulama berkata, ‘Nampak di dalam hadits-hadits tersebut bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diberikan wahyu apakah dia itu Dajjal atau yang lainnya. Beliau hanya diwahyukan tentang sifat-sifat Dajjal, sementara Ibnu Shayyad memiliki ciri-ciri yang memungkinkan. Karena itulah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyatakan secara pasti bahwa dia adalah Dajjal atau yang lainnya, dan karena itu pula beliau berkata kepada ‘Umar, ‘Jika dia memang Dajjal, maka engkau tidak akan pernah bisa membunuhnya.

Adapun alasan yang dikemukakan Ibnu Shayyad bahwa dia adalah seorang muslim sementara Dajjal adalah seorang kafir, Dajjal tidak memiliki keturunan sementara dia (Ibnu Shayyad) memiliki keturunan, dan Dajjal tidak akan bisa memasuki Makkah dan Madinah padahal dia bisa memasuki Madinah dan pergi menuju Makkah, semua ini bukan merupakan dalil karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya memberikan sifat-sifatnya ketika fitnahnya muncul dan ketika dia keluar mengelilingi bumi.

Di antara kerancuan kisahnya bahwa dia salah satu Dajjal pembohong adalah perkataannya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?!’ Dan pengakuannya bahwa dia didatangi orang yang jujur dan orang dusta, dia melihat singgasana di atas air, tidak benci kalau ia Dajjal, dia mengetahui tempatnya, dan perkataannya, ‘Sesungguhnya aku mengenalnya, mengetahui tempat kelahirannya dan mengetahui di mana dia sekarang,’ dan kesombongannya yang memenuhi jalan.

Adapun sikapnya yang menampakkan keislaman, hajinya, jihadnya, dan pengingkarannya akan tuduhan yang ditujukan kepadanya sama sekali bukan dalil yang menunjukkan secara tegas bahwa dia bukan Dajjal.” [2]

Perkataan Imam Nawawi ini bisa difahami bahwa beliau rahimahullah memperkuat pendapat yang menyatakan bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal.

Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Orang-orang berbeda pendapat ten-tang Ibnu Shayyad dengan perbedaan yang sangat tajam, dan masalahnya sangat rumit hingga dikatakan banyak pendapat tentangnya, dan zhahir hadits yang telah diungkapkan bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ragu-ragu, apakah dia Dajjal atau bukan?…”

Keragu-raguan tersebut telah dijawab dengan dua jawaban:
Pertama: Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ragu-ragu sebelum Allah memberitahukan kepadanya bahwa dia adalah Dajjal. Ketika dia telah diberi tahu tentangnya, maka beliau tidak mengingkari sumpah yang diucapkan oleh ‘Umar (bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal).

Kedua: Orang Arab terkadang mengucapkan kata-kata yang mengandung nada keraguan, walaupun di dalam kabar tersebut tidak ada keraguan.

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa dia adalah Dajjal, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq[3] dengan sanad yang shahih dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Pada suatu hari aku berjumpa dengan Ibnu Shayyad -dia bersama seseorang dari kalangan Yahudi- ternyata cahaya sebelah matanya telah padam dan menonjol bagaikan mata keledai. Ketika aku melihatnya, aku berkata, “Sungguh, wahai Ibnu Shayyad! Sejak kapan cahaya sebelah matamu padam?” Dia menjawab, “Demi Allah aku tidak tahu.” Aku berkata, “Engkau telah berbohong, padahal dia ada di kepalamu.” Dia (Ibnu ‘Umar) berkata, “Lalu dia mengusapnya dan mendengus sebanyak tiga kali.”[4]

Kisah seperti ini telah disebutkan sebelumnya dalam riwayat Imam Muslim.[5]

Nampak bagi kami dari perkataan asy-Syaukani bahwa beliau rahimahullah bersama orang-orang yang berpendapat bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal besar.

Imam al-Baihaqi rahimahullah [6] berkata untuk mengomentari hadits Tamim, “Di dalamnya dinyatakan bahwa Dajjal besar yang akan keluar pada akhir zaman bukanlah Ibnu Shayyad, sementara Ibnu Shayyad adalah salah satu dari para Dajjal (pendusta) yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka akan keluar, dan kebanyakan dari mereka telah keluar.”

Seakan-akan orang yang memastikan bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal tidak pernah mendengar kisah Tamim, jika tidak demikian sebabnya, penggabungan di antara keduanya (kedua dalil yang nampak bersebrangan,-penj.) adalah sesuatu yang sangat jauh (tidak mungkin), karena bagaimana mungkin orang yang hidup pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan menjelang aqil baligh, bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ditanya oleh beliau, lalu di akhir umurnya menjadi tua dan dipenjara di suatu pulau, terikat dengan besi dan bertanya kepada mereka tentang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah dia telah keluar atau belum?!

Maka pendapat yang lebih tepat adalah tidak adanya penjelasan (keterangan) yang pasti (dari Rasulullah) dalam masalah ini

Adapun sumpah ‘Umar Radhiyallahu anhu, maka kemungkinan sumpah ini beliau lakukan sebelum mendengar kisah Tamim Radhiyallahu anhu, lalu setelah beliau mendengarnya, maka beliau tidak kembali kepada sumpah yang disebutkan.

Sementara Jabir Radhiyallahu anhu, di mana dia mempersaksikan sumpahnya di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena mencontoh sumpah yang dilakukan ‘Umar di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[7]

Kami katakan: Akan tetapi Jabir Radhiyallahu anhu adalah salah seorang perawi hadits Tamim, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat Abu Dawud, di mana dia menceritakan kisah al-Jassasah juga Dajjal seperti kisah Tamim. Kemudian Ibnu Abi Salamah rahimahullah [8] berkata, “Sesungguhnya di dalam hadits ini ada sesuatu yang tidak aku hafal.” Dia[9] berkata, “Jabir bersaksi bahwasanya dia adalah Ibnu Sha-id.” Aku (Ibnu Abi Salamah) berkata, “Sesungguhnya dia telah mati.” Dia berkata, “Walaupun dia telah mati.” “Dia telah masuk Islam,” kataku. “Walaupun dia telah masuk Islam,” katanya. Aku berkata, “Dia telah masuk ke Madinah.” “Walaupun dia telah masuk ke Madinah,” dia menyangkal. [10]

Jabir Radhiyallahu anhu bersikeras menyatakan bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, walaupun dikatakan, “Sesungguhnya dia telah masuk Islam, telah masuk Madinah, dan telah mati.”

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa diriwayatkan dengan shahih dari Jabir Radhiyallahu anhu, bahwasanya dia berkata, “Kami kehilangan Ibnu Shayyad pada peristiwa al-Harrah.” [11]

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Abu Nu’aim al-Ashbahani rahimahullah [12] meriwayatkan dalam kitab Taariikh Ashbahaan[13] sesuatu yang memperkuat bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal. Dia menuturkannya dari jalan Syabil bin ‘Urzah, dari Hassan bin ‘Abdirrahman, dari bapaknya, dia berkata, ‘Ketika kami menaklukkan Ashbahan, jarak antara tentara kami dengan tentara Yahudi sejauh satu Farsakh. Biasanya kami mendatanginya dengan jalan yang kami pilih. Lalu aku mendatanginya pada suatu hari, ternyata orang-orang Yahudi sedang menari dan memukul gendang, kemudian aku bertanya kepada salah seorang temanku dari kelompok mereka. Dia berkata, ‘Raja kami yang kami meminta tolong kepadanya untuk menaklukkan orang Arab telah masuk,” lalu aku bermalam di atas loteng rumahnya, selanjutnya aku melakukan shalat Shubuh. Ketika matahari terbit, tiba-tiba saja ada keributan di tengah-tengah pasukan, aku memperhatikannya ternyata ada seseorang yang mengenakan mahkota dari tumbuh-tumbuhan yang harum, dan orang-orang Yahudi memukul gendang dan menari (berpesta), setelah aku memperhatikannya, ternyata dia adalah Ibnu Shayyad, kemudian dia masuk ke Madinah dan tidak akan kembali hingga tiba hari Kiamat.” [14

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Cerita Jabir ini (yaitu mereka kehilangan Ibnu Shayyad pada peristiwa al-Harrah) tidak sesuai dengan cerita dari Hassan bin ‘Abdirrahman, karena penaklukan kota Ashbahan terjadi pada masa kekhilafahan ‘Umar, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Tariikhnya sementara jarak antara terbunuhnya ‘Umar dengan masa perang Harrah adalah sekitar 40 tahun.”

Bisa juga difahami bahwa kisah ini disaksikan oleh bapaknya Hassan setelah penaklukan kota Ashbahan dengan lamanya waktu tersebut, dan jawaban dari kata (لَمَّا) ketika di dalam ungkapan, “لَمَّا افْتَتَحْنَا أَصْبَهَانَ (Ketika kami menaklukkan Ashbahan),” adalah dibuang dan ditakdirkan (diperkirakan) menjadi, “Aku mengadakan perjanjian dengannya dan bolak balik ke sana (dengan pemahaman seperti ini) mulailah kisah Ibnu Shayyad. Dengan ini maka zaman penaklukan Ashbahan dan zaman masuknya Ibnu Shayyad ke Madinah bukan dalam satu waktu.[15]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menuturkan bahwa masalah Ibnu Shayyad telah menjadi sesuatu yang rumit bagi sebagian Sahabat. Mereka mengira bahwa dia adalah Dajjal, sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tawaqquf (berdiam diri) sehingga jelas bagi beliau setelah itu bahwa dia bukan Dajjal. Dia hanya salah seorang dukun yang memiliki kemampuan-kemampuan syaitan, karena itulah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi untuk mengujinya.”[16]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Maksudnya bahwa Ibnu Shayyad bukanlah Dajjal yang akan keluar di akhir zaman, berdasarkan dalil hadits Fathimah
binti Qais al-Fihriyyah, hadits ini merupakan penentu dalam masalah ini.”[17]

Inilah sejumlah pendapat ulama mengenai Ibnu Shayyad, yang saling bersebrangan dengan masing-masing dalilnya.

Karena itulah al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah telah berijtihad untuk menselaraskan antara hadits-hadits yang bertentangan, dia berkata, “Cara yang paling dimengerti dalam menggabungkan makna yang dikandung dalam hadits Tamim Radhiyallahu anhu dan keberadaan Ibnu Shayyad sebagai Dajjal dan sesungguhnya Dajjal pada hakikatnya adalah yang disaksikan dalam keadaan terikat oleh Tamim. Sedangkan Ibnu Shayyad adalah syaitan yang menampakkan diri dalam bentuk Dajjal ketika itu, sehingga dia pergi ke Ashbahan, lalu ber-sembunyi bersama kawannya hingga dia datang pada masa yang ditakdirkan oleh Allah untuk keluar di sana. Mengingat rumitnya masalah ini, maka Imam al-Bukhari berusaha menempuh jalan Tarjih (menentukan yang paling kuat di antara yang lemah,-penj.), maka beliau mencukupkannya dengan hadits Jabir dari ‘Umar tentang Ibnu Shayyad, dan tidak meriwayatkan hadits Fathimah binti Qais tentang kisah Tamim.” [18]

g. Ibnu Shayyad Aadalah Hakiki dan Bukan Khurafat
Abu ‘Ubayyah beranggapan bahwa kepribadian Ibnu Shayyad hanyalah cerita bohong (khurafat) yang tidak masuk akal, kisahnya terus berlanjut pada sebagian kitab dan dinisbatkan kepada Rasulullah, sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengeluarkan perkataan atau perbuatan kecuali yang berisi kebenaran, dan telah tiba masanya agar kita menghayati ruh dan makna hadits, petunjuk dan sasarannya, sebagaimana kita mempelajari sanad dan jalan periwayatannya agar pengetahuan Islam kita selamat dari kesalahan dan kebohongan.” [19]

Inilah yang dikatakan oleh Syaikh Abu ‘Ubayyah dalam komentarnya terhadap hadits-hadits tentang Ibnu Shayyad

Pendapatnya itu dapat ditolak dengan pernyataan bahwa hadits-hadits tentang Ibnu Shayyad adalah shahih, diriwayatkan dalam kitab-kitab Sunnah, seperti Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim juga yang lainnya. Di dalam hadits-hadits tentang Ibnu Shayyad sama sekali tidak ada yang bertentangan dengan ruh hadits dan kebenaran, karena sesungguhnya Ibnu Shayyad -seperti telah dijelaskan sebelumnya- telah menjadi sesuatu yang rancu bagi kaum muslimin, dia adalah salah satu Dajjal di antara para Dajjal, Allah menampakkan kebohongannya dan kebathilannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin.

Sebaliknya ungkapan Abu ‘Ubayyah sendirilah yang saling bertabrakan pada sebagian komentarnya terhadap hadits-hadits Ibnu Shayyad, dia berkata, “Sebenarnya Ibnu Shayyad mengatakan satu kalimat yang sama sekali tidak mengandung makna, sebagaimana kebiasaan para dukun, dengan kata-katanya yang sama sekali tidak memiliki maksud. Maka dia adalah seorang tukang sulap yang suka bohong.” [20]

Perkataannya ini mengandung pengakuan bahwa Ibnu Shayyad hanyalah seorang tukang sulap yang suka bohong! Maka bagaimana mungkin pada satu kesempatan dia mengatakan bahwa Ibnu Shayyad hanyalah cerita khurafat, se-mentara di kesempatan lainnya dia mengatakan bahwa dia adalah sang tukang sulap?!

Maka tidak diragukan lagi bahwa perkataan Abu ‘Ubayyah saling bertentangan.
Orang-orang yang mencermati komentar Syaikh Abu ‘Ubayyah terhadap kitab an-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim, karya al-Hafizh Ibnu Katsir, niscaya dia akan mendapati keanehan dari sikapnya. Abu ‘Ubayyah telah melepaskan kendali akalnya terhadap hadits-hadits yang diungkapkan oleh Ibnu Katsir; apabila dia mengambil sesuatu yang sesuai dengan pendapatnya, maka itulah yang haq; adapun yang lainnya dia takwil dengan penakwilan yang bertentangan dengan zhahir hadits, atau menghukumi hadits-hadits shahih dengan maudhu’ (palsu) tanpa mengungkapkan dalil atau bukti yang benar.

Abu ‘Ubayyah berkata tentang hadits-hadits Ibnu Shayyad, “Apakah anak kecil itu sudah mukallaf? Apakah perhatian Rasul sampai kepada mendatangi dan menanyakannya dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu? Apakah masuk akal bahwa beliau menunggu sehingga mendapatkan jawabannya? Apakah masuk akal jika beliau memberikan kesempatan kepadanya dengan jawaban seorang kafir yang mengaku sebagai Nabi dan Rasul? Dan Apakah Allah mengutus anak-anak? Pertanyaan-pertanyaan ini kami tujukan kepada orang-orang yang melumpuhkan akal mereka dari berfikir yang benar dan lurus.” [21]

Ungkapan Abu ‘Ubayyah dapat dijawab bahwa tidak ada seorang pun yang mengatakan, “Sesungguhnya anak kecil mukallaf, tidak pula bahwa Allah mengutus anak-anak, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meneliti masalah Ibnu Shayyad, apakah dia Dajjal secara hakiki atau bukan?” Karena telah tersebar di sekitar Madinah bahwa dia adalah Dajjal yang diberikan peringatan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan beliau sendiri tidak diberikan wahyu tentang Ibnu Shayyad. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat bahwa yang dapat membuka identitasnya sebagai Dajjal -sementara dia adalah seorang mumayyiz yang dapat memahami dengan bertanya padanya- adalah ungkapan: “Apakah engkau bersaksi bahwasanya aku adalah utusan Allah…? Sampai perkataan beliau, “Sesungguhnya aku menyembunyikan sesuatu kepadamu?” Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang diarahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya.

Ungkapan ini sama sekali tidak ditujukan untuk membebankan Ibnu Shayyad dengan keislaman. Tujuannya hanyalah berusaha untuk menampakkan hakikat dari perkaranya. Jika tujuannya adalah seperti yang kami utarakan, maka tidak aneh jika Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunggu jawaban darinya, dan telah nampak dari jawabannya bahwa dia adalah salah satu dari para Dajjal (pendusta).

Demikian pula, tidak ada satu penghalang pun yang menghalangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menawarkan keislaman kepada anak kecil. Bahkan Imam al-Bukhari rahimahullah menuturkan kisah Ibnu Shayyad dengan memberikan judul untuknya dengan ungkapan, “Bab bagaimana Islam ditawarkan kepada anak kecil.” [22]

Adapun sikap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak menghukum pengakuan Ibnu Shayyad sebagai Nabi, maka itu adalah kerancuan yang dipengaruhi oleh tidak adanya penelitian yang dilakukan oleh Abu ‘Ubayyah terhadap pendapat para ulama dalam masalah itu. Padahal mereka telah menjawab pernyataan yang semisal dengan beberapa jawaban di antaranya:

Pertama : Bahwa Ibnu Shayyad adalah orang Yahudi yang berada di Madinah atau di antara sekutu mereka. Sedangkan di antara Nabi dan mereka ada perjanjian damai saat itu, yaitu ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah. Maka beliau menulis sebuah perjanjian dengan mereka, juga melakukan perdamaian yang isinya agar mereka tidak dicela juga dibiarkan memeluk agama mereka.

Hal ini diperkuat oleh riwayat Imam Ahmad dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhuma tentang kisah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pergi kepada Ibnu Shayyad dan pertanyaan yang diajukan kepadanya, juga perkataan ‘Umar Radhiyallahu anhu tentangnya, “Izinkanlah aku untuk membunuhnya wahai Rasulullah!” lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Jika dia memang (Dajjal), maka bukan engkau bagiannya, karena yang akan membunuhnya hanyalah ‘Isa bin Maryam عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ, dan jika dia bukan (Dajjal), maka engkau tidak berhak membunuh seseorang yang ada di dalam perjanjian.” [23]

Jawaban inilah yang dipegang oleh al-Khaththabi[24] dan [25] al-Baghawi رحمهما الله.

Ibnu Hajar berkata, “Inilah pendapat yang jelas.” [26]

Kedua: Ibnu Shayyad ketika itu masih kecil, belum baligh.
Jawaban ini diperkuat oleh riwayat al-Bukhari dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma tentang kisah kepergian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ibnu Shayyad, di dalamnya ada ungkapan, “Sehingga beliau mendapatinya sedang bermain bersama anak-anak di sebuah bangunan tinggi bani Maghalah, saat itu Ibnu Shayyad telah hampir baligh.” [27]

Dan al-Qadhi ‘Iyadh memilih jawaban ini.[28]

Ketiga : Masih ada jawaban ketiga yang diungkapkan oleh a-Hafizh Ibnu Hajar bahwa Ibnu Shayyad tidak mendakwahkan dirinya sebagai Nabi dengan terang-terangan, ia hanya mendakwahkan risalah, dan pengakuan terhadap risalah tidak mesti memberi arti adanya pengakuan terhadap kenabian, sebab Allah Ta’ala berfirman:

“Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengutus (irsaal) syaitan-syaitan itu kepada orang-orang kafir…” [Maryam: 83]

Footnote:

[1]. At-Tadzkirah (hal. 702).
[2]. Syarh Nawawi li Shahiih Muslim (XVIII/46-47).
[3]. Al-Mushannaf (XX/306), tahqiq Habiburrahman al-A’zhami.
[4]. Nailul Authaar syarh Muntaqal Ahbaar (VII/230-231), karya asy-Syaukani, cet. Mushthafa al-Halabi, Mesir.
[5]. Hal (271).
[6]. Beliau adalah al-Hafizh Abu Bakar Ahmad bin al-Husain bin ‘Ali asy-Syafi’i, penulis beberapa kitab seperti as-Sunanul Kubraa’, ash-Shugraa’, Dalaa-ilun Nubuwwah, al-Mabsuth dan yang lainnya, wafat di Naisabur pada tahun 458 H rahimahullah. Lihat Syadzaaratudz Dzahab (III/304-305), dan al-A’laam (I/116).
[7]. Fat-hul Baari (XIII/326-327).
[8]. Beliau adalah ‘Umar bin Abi Maslamah bin ‘Abdirrahman bin ‘Auf az-Zuhri seorang hakim di Madinah, perawi terpercaya, namun terkadang salah, terbunuh di Syam 132 H rahimahullah.
[9]. Yang berkata adalah Abu Salamah bin ‘Abdirrahman bapaknya ‘Umar. Lihat Taqriibut Tahdziib (II/56). Lihat ‘Aunul Ma’buud (XI/477).
[10]. Sunan Abi Dawud, kitab al-Malaahim, bab fii Khabaril Jassasah (XI/476, ‘Aunul Ma’buud).
Ibnu Hajar mengomentari hadits ini dengan berkata, “Ibnu Abi Salamah ‘Umar bermasalah, akan tetapi dia adalah perawi yang hasan haditsnya,” setelah itu beliau membantah orang yang berkata bahwa Jabir tidak mengetahui hadits Tamim.” Fat-hul Baari (XIII/327).
[11]. Telah terdahulu takhrijnya.
[12]. Beliau adalah al-Hafizh Ahmad bin ‘Abdillah bin Ahmad bin Ishaq al-Ashbahani, penulis kitab-kitab besar, seperti Hilyatul Auliyaa’ dan yang lainnya. Dia termasuk orang-orang yang tsiqah, lahir dan meninggal di Ashbahan pada tahun 430 H rahimahullah. Lihat Syadzaraatudz Dzahab (III/245), dan al-A’laam (I/157).
[13]. Dzikru Akhbari Ashbahan (hal. 287-288), karya Abu Nu’aim, dicetak di kota Leden pada percetakan Briil 1934 M.
[14]. Fat-hul Baari (III/327-328), Ibnu Hajar berkata, “‘Abdurrahman bin Hassan aku tidak mengenalnya dan perawi selainnya adalah tsiqah.”
[15]. Fat-hul Baari (XIII/328).
[16]. Lihat al-Furqaan baina Auliyaa-ir Rahmaan wa Auliyaa-isy Syaithaan (hal. 77), cet. II, th. 1375 H di beberapa percetakan Riyadh.
[17]. An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/70) tahqiq Dr. Thaha Zaini.
[18]. Fat-hul Baari (XIII/328).
[19]. An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/104), tahqiq Muhammad Abu ‘Ubayyah.
[20]. An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/88).
[21]. An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/104).
[22]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Jihaad, bab Kaifa Yu’radhul Islaam ‘alash Shabiyyi (VI/171, al-Fat-h).
[23]. Al-Fathur Rabbaani (XXIV/64-65).
Al-Haitsami berkata, “Perawinya adalah perawi ash-Shahih.” Majmaa’uz Zawaa-id (VIII/3-4).
[24]. Ma’aalimus Sunan (VI/182).
[25]. Syarhus Sunnah (XV/80) tahqiq Syu’aib al-Arna-uth.
[26]. Fat-hul Baari (VI/174).
[27]. Shahiih al-Bukhari (VI/172, al-Fat-h).
[28]. Syarh an-Nawawi li Shahiih Muslim (XVIII/48).

5. Tempat Keluarnya Dajjal

Dajjal akan keluar dari arah timur, dari Khurasan[1], dari perkampungan Yahudi Ashbahan [2], kemudian ia mengembara di atas bumi, tidak ada satu negeri pun yang ditinggalkannya kecuali Makkah dan Madinah, dia tidak akan bisa memasukinya karena para Malaikat menjaganya.

Dalam hadits Fathimah binti Qais terdahulu dijelaskan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai Dajjal:

“Ketahuilah sesungguhnya dia (Dajjal) berada di laut Syam, atau lautan Yaman. Oh tidak, bahkan (ia akan datang) dari arah timur. Dari arah timur?” (Dan beliau memberikan isyarat dengan tangannya ke arah timur).[3]

Diriwayatkan dari Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meriwayatkan hadits kepada kami, beliau bersabda:

‘Dajjal akan keluar dari bumi di arah timur yang dinamakan Khurasan.’” [4]

Dan diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Dajjal akan keluar dari perkampungan Yahudi Ashbahan, bersamanya ada tujuh puluh ribu orang Yahudi.” [5]

Ibnu Hajar berkata, “Adapun mengenai tempat di mana Dajjal akan keluar? Maka dia keluar dari arah timur secara pasti.” [6]

Ibnu Katsir berkata, “Maka pertama kali dia muncul dari Ashbahan, dari sebuah kampung yang bernama al-Yahuudiyyah.” [7]

6. Dajjal Tidak Akan Memasuki Makkah dan Madinah

Diharamkan kepada Dajjal untuk memasuki Makkah dan Madinah ketika dia keluar di akhir zaman berdasarkan hadits-hadits shahih yang menjelaskan hal itu. Adapun negeri-negeri lainnya, maka sesungguhnya Dajjal akan memasukinya satu persatu.

Dijelaskan dalam hadits Fathimah binti Qais Radhiyallahu anhuma, bahwa Dajjal mengatakan, “Lalu aku bisa keluar. Aku akan berjalan di muka bumi, maka tidak akan aku tinggalkan satu kampung pun kecuali aku singgah kepadanya dalam waktu empat puluh malam, selain Makkah dan Thaibah (Madinah al-Munawarah), keduanya diharamkan untukku, setiap kali aku hendak masuk ke salah satu darinya, maka Malaikat akan menghadangku dengan pedang yang terhunus yang menghalangiku untuk memasukinya, dan di setiap lorong darinya ada Malaikat yang menjaganya.” [8]

Dan telah tetap (pada sebuah riwayat) bahwasanya Dajjal tidak akan memasuki empat masjid: Masjidil Haram, Masjid Madinah, Masjid ath-Thuur, dan Masjidil Aqsha.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Junadah bin Abi Umayyah al-Azdi, dia berkata, “Aku dan seseorang dari kalangan Anshar pergi menemui seseorang dari kalangan Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kami berkata, “Ceritakanlah kepada kami apa-apa yang engkau dengarkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bercerita tentang Dajjal… (lalu dia menuturkan hadits, dan berkata), “Sesungguhnya dia akan berdiam di muka bumi selama empat puluh hari dalam waktu tersebut dia akan mencapai setiap sumber air dan tidak akan mencapai empat masjid: Masjidil Haraam, Masjid Madinah, Masjid ath-Thuur, dan Masjid al-Aqsha.” [9]

Adapun yang terdapat dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim[10] bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki dengan rambut keriting, buta sebelah matanya, dia meletakkan kedua tangannya di atas kedua pundak seorang laki-laki untuk melakukan thawaf, lalu beliau bertanya tentangnya? Mereka (para Malaikat) menjawab, “Sesungguhnya dia adalah Masihud Dajjal.” Hadits ini bisa dijawab dengan pernyataan bahwa larangan Dajjal masuk ke dalam Makkah dan Madinah hanya terjadi ketika dia keluar di akhir zaman, wallahu a’lam.[11]

7. Pengikut Dajjal

Pengikut Dajjal yang paling banyak adalah orang-orang Yahudi, ‘Ajam, bangsa Turk, dan manusia dari berbagai bangsa dan golongan, sebagian besar mereka adalah orang-orang Arab dusun juga para wanita.

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Orang-orang Yahudi Ashbahan yang akan mengikuti Dajjal sebanyak tujuh puluh ribu, mereka mengenakan jubah tebal dan bergaris.”[12]

Sedangkan dalam riwayat Imam Ahmad:

“Delapan puluh ribu orang, mereka mengenakan topi perang.” [13]

Dan diriwayatkan dalam hadits Abu Bakar Radhiyallahu anhu terdahulu:

“Dajjal akan diikuti oleh beberapa kaum, wajah-wajah mereka seperti tameng yang dilapisi kulit.” [14]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Nampaknya -wallaahu a’lam- bahwa yang dimaksud dengan bangsa Turk adalah para pembantu Dajjal.” [15]

Kami katakan: Demikian pula orang-orang ‘Ajam, sebagaimana dijelaskan sifat mereka dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu:

“Tidak akan tegak hari Kiamat hingga kalian memerangi bangsa Khuz dan Karman dari kalangan ‘Ajam, wajah mereka merah, hidungnya pesek, matanya sipit, wajah mereka seperti tameng yang dilapisi kulit, dan terompah-terompah mereka terbuat dari bulu.” [16]

Adapun pernyataan bahwa kebanyakan pengikut mereka dari kalangan Arab karena sesungguhnya kebodohan telah menyelimuti mereka, juga berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Umamah yang panjang:

“Dan di antara fitnahnya -yakni fitnah Dajjal- bahwa dia berkata kepada orang Arab kampung, ‘Bagaimana pendapatmu jika aku membangkitkan bapak dan ibumu untukmu, apakah engkau mau bersaksi bahwasanya aku adalah Rabb-mu?’ Dia berkata, “Ya.” Lalu dua syaitan menjelma menjadi bapak dan ibunya, keduanya berkata, ‘Wahai anakku! Ikutilah dia karena dia adalah Rabb-mu.’”[17]

Adapun para wanita, maka keadaan mereka lebih parah daripada keadaan orang-orang Arab kampung karena tabi’at mereka yang cepat terpengaruh dan kebodohan yang menyelimuti mereka. Dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan dari ‘Umar Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Dajjal akan turun pada tanah lembab di Mirqanah ini, maka orang yang paling banyak keluar bersamanya adalah para wanita, sehingga seseorang kembali kepada mertuanya, kepada ibunya, anak puterinya, saudara perempuannya dan bibinya, lalu dia menguatkan hati-hati mereka sebab khawatir mereka keluar bersamanya.’” [19]

Footnote:

[1]. Khurasan. Sebuah negeri luas di sebelah timur. Di dalamnya ada beberapa negara bagian, di antara-nya Naisabur, Harah, Marwa, Balkha, juga kota-kota yang berada di dalamnya selain sungai Jaihun.
Lihat Mu’jamul Buldaan (II/350).
[2]. Ashbahan. Yaqut berkata, “Kota Ashbahan ada di tempat yang terkenal, yaitu Jayy, tempat ter-sebut sekarang ini terkenal dengan sebutan Syahrastan dan dengan sebutan al-Madinah, lalu ketika Buktanshar (raja Romawi) menuju Baitul Maqdis dan mengambilnya juga menawan penduduknya, maka dia membawa orang-orang Yahudi bersamanya, lalu menetapkannya di Ashbahan, kemudian mereka membangun sebuah tempat di ujung kota Jayy dan menetap di sana, lalu dinamakan Yahudiyyah (perkampungan Yahudi)… maka kota Ashbahan sekarang ini adalah Yahudiyyah.
Lihat Mu’jamul Buldaan (I/208).
[3]. Shahiih Muslim (XVIII/83, Syarh an-Nawawi).
[4]. Jaami at-Tirmidzi, bab Ma Jaa-a min Aina Yakhrujud Dajjal? (VI/495, Tuhfatul Ahwadzi). Al-Albani berkata, “ Shahih,” Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (III/150, no. 3398).
[5]. Al-Fathur Rabbaani Tartiib Musnad Ahmad (XXIV/73). Ibnu Hajar berkata, “Shahih,” Fat-hul Baari (XIII/328).
[6]. Fat-hul Baari (XIII/91).
[7]. An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/128), tahqiq Dr. Thaha Zaini.
[8]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Qishashatud Dajjal (XVIII/83, Syarh an-Nawawi).
[9]. Al-Fathur Rabbani (XXIV/76, Tartiibus Saa’aati).
Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad, dan perawinya adalah perawi ash-Shahiih.” Majmaa’uz Zawaa-id (VII/343). Ibnu Hajar berkata, “Para Perawinya adalah tsiqah.” Fat-hul Baari (XIII/105).
[10]. Shahiih al-Bukhari, kitab Ahaadiitsul Anbiyaa’ bab Qaulullahi Ta’aala Wadzkur fil Kitaabi Maryam (VI/477, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-Iimaan, bab Dzikrul Masiih ibni Maryam wal Masiihid Dajjal (II/233-235, Syarh an-Nawawi).
[11]. Lihat Syarh an-Nawawi li Shahiih Muslim (II/224), dan Fat-hul Baari (VI/488-489).
[12]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab fi Baqiyyati min Ahaadiitsid Dajjal (XVIII/ 85-86, Syarh an-Nawawi).
[13]. Al-Fathur Rabbani Tartiibul Musnad (XXIV/73). Hadits ini shahih, lihat Fat-hul Baari (XIII/238).
[14]. HR. At-Tirmidzi dan telah terdahulu takhrijnya.
[15]. An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/117) tahqiq Dr. Thaha Zaini.
[16]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Manaaqib bab ‘Alaamatun Nubuwwah (VI/604, al-Fat-h).
[17]. Sunan Ibni Majah, kitab al-Fitan, bab Fitnatud Dajjal wa Khuruuju ‘Isa bin Maryam wa Khuruuju Ya’-juj dan Ma’-juuj (II/1359-1363), hadits ini shahih. Lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaaghiir (VI/273-277, no. 7753).
[18]. Mirqanah adalah sebuah lembah di Madinah dari arah Tha-if, seseorang melewatinya di ujung kedatangannya, tegasnya di ujung kuburan para syuhada Uhud. Lihat Mu’jamul Buldaan (IV/401).
[19]. Musnad Ahmad (VII/190, no. 5353) tahqiq Ahmad Syakir, dia berkata, “Sanadnya shahih.”

8. Keluarbiasaan Dajjal Adalah Hal Yang Sebenarnya

Telah diuraikan sebelumnya berbagai keluarbiasaan yang menyertai Dajjal dalam pembahasan tentang fitnah yang dilakukannya. Semua keluarbiasaan ini adalah sesuatu yang hakiki, bukan khayalan atau tipuan, sebagaimana yang dianggap oleh sebagian ulama.

Ibnu Katsir rahimahullah telah menukil dari Ibnu Hazm juga ath-Thahawi, ke-duanya berkata bahwa yang menyertai Dajjal bukanlah hakiki.

Demikian pula yang dinukil dari Abu ‘Ali al-Juba-i[1] tokoh Mu’tazilah sebuah ungkapan, “Tidak selayaknya bahwa hal itu merupakan hakikat, agar keluarbiasaan dari tukang sihir tidak serupa dengan keluarbiasaan seorang Nabi.”[2]

Setelah mereka datanglah Syaikh Rasyid Ridha, beliau mengingkari bahwa Dajjal memiliki keluarbiasaan. Beliau mengatakan bahwa hal ini bertentangan dengan Sunnatullah pada makhluk-Nya. Beliau berkata ketika mengomentari berbagai hadits tentang Dajjal, “Sesuatu yang diungkapkan di dalamnya menandingi mukjizat paling besar yang Allah berikan kepada Ulul ‘Azmi dari para Rasul, atau bahkan melebihinya dan dianggap sebagai sebuah kerancuan karenanya, sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama kalam. Sementara sebagian ulama hadits menganggap bahwa hal itu termasuk hal bid’ah dari kalangan mereka (ahlul kalam), maklum adanya bahwa Allah tidak memberikan mukjizat tersebut kecuali agar bisa dijadikan petunjuk bagi makhluk-Nya yang sesuai dengan ketetapan-Nya bahwa kasih sayang-Nya mendahului kemarahan-Nya. Maka bagaimana mungkin Allah memberikan keluarbiasaan yang paling besar untuk memberikan fitnah bagi kelompok paling besar (umat Islam) dari kalangan hamba-Nya?! Karena dari riwayat-riwayat tersebut dijelaskan bahwa dia mengelilingi bumi hanya dalam waktu empat puluh hari kecuali Makkah dan Madinah….”

Sampai pada ungkapannya, “Sesungguhnya semua keluarbiasaan yang dinisbatkan kepadanya adalah sesuatu yang bertentangan dengan Sunnatullah pada makhluk-Nya, dan telah tetap dalam nash-nash al-Qur-an bahwa Sunnatullah tidak akan dapat dirubah juga diganti, sementara riwayat-riwayat ini mudhtharib (goncang) lagi saling bertabrakan, sehingga tidak layak untuk dijadikan pengkhusus atas nash-nash qath’i apalagi menjadikannya sebagai penentang.”[3]

Beliau memperkuat adanya kontradiksi di antara berbagai hadits tentang Dajjal bahwa di dalam sebagian riwayat -sebagaimana telah dijelaskan- Dajjal memiliki gunung roti juga sungai-sungai air dan madu, dia memiliki Surga juga Neraka… dan yang lainnya. Hal ini jelas bertentangan dengan sebuah hadits dalam ash-Shahiihain, dari al-Mughirah bin Syu’bah, dia berkata, “Tidak seorang pun bertanya kepada Nabi J seperti pertanyaan yang telah aku ajukan, dan sesungguhnya beliau berkata kepadaku:

“Apakah yang dapat membahayakanmu darinya?” Aku menjawab, “Ka-rena sesungguhnya mereka berkata bahwa dia memiliki gunung roti, dan sungai air.” Beliau bersabda, “Bahkan dia lebih mudah bagi Allah dari hal itu semua. (yakni, daripada menjadikan ayat untuk menyesatkan kaum muslimin).”[4]

Dan di antara orang yang mengingkari keluarbiasaan yang dimiliki oleh Dajjal adalah Abu ‘Ubayyah. Beliau berkata di dalam komentarnya terhadap berbagai hadits yang membahasnya, “Apakah banyak manusia yang akan menghadapi fitnah yang sangat besar dan banyak ini?! Dia menghidupkan dan mematikan orang di hadapan banyak manusia dan (kata-katanya) bisa didengar oleh manusia, kemudian Allah mencampakkan para hamba-Nya ke dalam api Neraka karena terkena fitnahnya!! Sesungguhnya Allah Mahalembut lagi Maha Pengasih terhadap hamba-hamba-Nya daripada memberikan cobaan yang besar ini kepada mereka yang tidak mungkin ada yang sanggup meng-hadapinya kecuali orang yang dikaruniai ketetapan keimanan yang sempurna dan kekuatan ‘aqidah yang sangat kokoh, dan sesungguhnya Dajjal lebih mudah bagi Allah daripada hanya sekedar memberikannya kekuasaan terhadap makhluk-Nya, dan diberi-Nya berbagai senjata yang membahayakan lagi menggoyahkan ‘aqidah dan agama di dalam hati manusia di alam semesta.” [5]

9. Bantahan Terhadap Mereka Dapat Diringkas dengan Beberapa Per-nyataan Berikut

Pertama: Sesungguhnya berbagai hadits yang menjelaskan tentang keluarbiasaan Dajjal (خَوَارِقُ الدَّجَّالِ) adalah tetap lagi shahih, tidak bisa ditolak juga ditakwil dan anggapan adanya keserupaan, tidak ada idhthirab (kegoncangan) di dalamnya, juga tidak adanya kontradiksi di antara hadits.

Sedangkan yang dijadikan dalil oleh Rasyid Ridha bahwa hadits al-Mu-ghirah yang diriwayatkan dalam ash-Shahiihain bertentangan dengan hadits-hadits tentang Dajjal, maka hal itu bisa dijawab dengan pernyataan bahwa makna sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “بَلْ هُوَ أَهْوَنُ عَلَـى اللهِ مِنْ ذَلِكَ (bahkan lebih mudah bagi Allah dari yang demikian itu)” adalah bahwa lebih mudah bagi Allah daripada menjadikan keluarbiasaannya untuk menyesatkan kaum mukminin juga mem-berikan keraguan di dalam hati mereka, bahkan hal itu juga untuk menambah keimanan orang yang beriman dan menambah keraguan bagi orang-orang yang di dalam hatinya telah tertanam penyakit, hal itu seperti perkataan seseorang yang telah dibunuh oleh Dajjal, “Aku lebih yakin tentang kedustaanmu hari ini.” Jadi sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bahkan lebih mudah bagi Allah dari yang demikian” tidak bermakna bahwa dia tidak memiliki hal-hal seperti itu sedikit pun, akan tetapi maknanya adalah hal itu lebih mudah bagi Allah daripada menjadikan sesuatu sebagai bukti akan kebenarannya, terutama Allah telah menjadikan sebuah tanda yang jelas akan kebohongan juga kekufurannya yang bisa dibaca oleh setiap muslim baik yang bisa membaca ataupun tidak, sebagai bukti tam-bahan bagi orang yang diajak bicara olehnya [6], sebagaimana telah dijelaskan di dalam pembahasan tentang sifat-sifatnya.

Kedua: Seandainya kita menerima hadits tersebut secara zhahir, maka perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya sebelum turunnya penjelasan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang segala macam keluarbiasaannya berdasarkan dalil perkataan al-Mughirah kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sebab mereka berkata, sesungguhnya dia memiliki…” dia tidak berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya engkau telah berkata tentangnya ini dan itu (tentang Dajjal).” Kemudian datang wahyu setelah itu yang menjelaskan segala macam keluarbiasaan yang dimiliki oleh Dajjal, maka tidak ada pertentangan antara hadits al-Mughirah dengan hadits-hadits tentang Dajjal yang lainnya.”

Ketiga: Sesungguhnya segala macam keluarbiasaan yang dimiliki oleh Dajjal adalah hakiki, bukan khayalan juga bukan cerita bohong, dan segala macam keluarbiasaan ini merupakan sesuatu yang Allah tentukan sebagai fitnah dan cobaan bagi para hamba, sementara Dajjal sama sekali tidak mungkin bisa menyerupai keadaan para Nabi, karena tidak ada riwayat yang menjelaskan bahwa dia mengaku sebagai Nabi ketika ia memunculkan berbagai ke-luarbiasaan di tangannya kepada manusia. Bahkan keluarnya segala keluar-biasaan terjadi ketika dia mengaku sebagai tuhan.”[7]

Keempat: Sesungguhnya sikap Rasyid Ridha yang menganggap mustahil bahwa Dajjal bisa mengelilingi dunia hanya dalam waktu empat puluh hari kecuali Makkah dan Madinah sama sekali tidak berlandaskan dalil. Bahkan dalil yang ada menjelaskan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang ia katakan. Karena dijelaskan di dalam riwayat Muslim bahwasanya sebagian hari-hari Dajjal dirasakan seperti satu tahun, sebagiannya lagi terasa seperti satu bulan, yang lainnya seperti satu pekan… sebagaimana telah dijelaskan.

Kelima: Sesungguhnya segala macam keluarbiasaan yang diberikan ke-pada Dajjal sama sekali tidak bertentangan dengan Sunnatullah di alam ini. Karena jika kita memahami perkataan Rasyid Ridha secara zhahirnya niscaya kita akan membatalkan segala macam kemukjizatan para Nabi dengan alasan bertentangan dengan Sunnatullah di alam ini. Maka segala macam yang di-katakan kepada para Nabi bahwa segala macam keluarbiasaannya tidak ber-tentangan dengan Sunnatullah bisa kita katakan pula kepada semua keluarbiasaan yang diberikan kepada Dajjal dengan alasan bahwa hal itu merupakan fitnah, cobaan, dan ujian

Keenam: Jika kita menerima sangkaan bahwa segala macam keluarbiasaan yang dimiliki oleh Dajjal bertentangan dengan Sunnatullah di alam ini, maka kita katakan bahwa zaman keluarnya Dajjal memang zaman yang luar biasa, dan saat akan terjadi berbagai peristiwa besar yang mengisyaratkan kehancuran alam semesta, hancurnya dunia dan dekatnya Kiamat. Dan jika dia keluar ketika zaman fitnah yang Allah kehendaki, maka tidak benar jika dikatakan, “Sesungguhnya Allah Mahalembut kepada hamba-Nya (sehingga tidak pantas) untuk memberikan fitnah kepada mereka dengan segala keluarbiasaan yang dilimpahkan kepadanya (Dajjal), karena sesungguhnya Dia Mahalembut dan Mahatahu. Akan tetapi dengan hikmah-Nya Dia memberikan cobaan kepada hamba-Nya, karena sebelumnya Allah telah memberikan peringatan kepada mereka akan hal itu.”

Setelah menyebutkan jawaban ringkas ini, maka pantas kiranya jika kami menukil beberapa ungkapan para ulama yang menetapkan adanya keluarbiasaan Dajjal. Sesungguhnya ia terjadi secara hakiki, yang Allah jadikan sebagai fitnah juga cobaan bagi para hamba-Nya.

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Hadits-hadits ini yang diriwayatkan oleh Muslim juga yang lainnya merupakan hujjah bagi madzhab yang haq dalam menetapkan keberadaannya (Dajjal). Sesungguhnya dia adalah manusia secara hakiki, Allah memberikan ujian kepada para hamba-Nya melaluinya dengan segala hal yang telah Allah tentukan; berupa kemampuan untuk menghidup-kan orang yang telah ia bunuh, dan nampaknya segala macam gemerlap dunia juga kesuburan bersamanya, Surga dan Nerakanya, dua sungainya, segala simpanan bumi yang mengikutinya, perintahnya agar langit menurunkan hujan sehingga turunlah hujan, dan perintahnya agar bumi menumbuhkan tumbuhan sehingga tumbuh, semuanya terjadi atas kekuasaan Allah Ta’ala dan kehendak-Nya. Kemudian Allah melemahkannya setelah itu, lalu dia tidak sanggup untuk membunuh orang tersebut juga yang lainnya, dan Allah membatalkan urusannya, setelah itu ‘Isa Alaihissallam dapat membunuhnya, dan Allah menetapkan keimanan orang-orang yang beriman.

Inilah madzhab Ahlus Sunnah dan semua ulama hadits, para ulama fiqih dan para pemikir, berbeda dengan orang yang mengingkari dan membathilkan keberadaannya seperti Khawarij, Jahmiyyah, sebagian kaum Mu’tazilah… dan selainnya yang mengakui keberadaannya akan tetapi segala macam keluarbiasaannya hanyalah khayalan belaka bukan hakiki, dan mereka menyangka, seandainya hal itu memang hakiki; maka hal itu mengakibatkan tidak bisa dipercayainya keberadaan mukjizat para Nabi.

Ini adalah kesalahan dari mereka semua, karena sesungguhnya dia (Dajjal) sama sekali tidak mengaku sebagai Nabi, maka apa yang menyertainya sebagai bukti kebenaran (atas apa-apa yang diserukannya), dia hanya mengaku sebagai tuhan, disamping itu di dalam pengakuannya sendiri ada sesuatu yang mendustakannya, yaitu keadaannya sendiri, (yaitu) adanya bukti-bukti yang terjadi padanya, seperti kekurangan yang ada pada dirinya, kelemahannya dalam menghilangkan aib pada kedua matanya, dan kelemahan dalam menghilangkan bukti kekufuran yang tertulis di antara kedua matanya.

Adanya bukti-bukti ini dan yang lainnya menjadikan seseorang tidak akan tertipu kecuali orang-orang rendah yang ingin menutupi segala kebutuhan juga kefakirannya karena ingin menutupi kelaparan, atau hanya sebatas ngaku-ngaku karena takut dari perbuatan jelek yang dilakukannya, karena dia adalah fitnah yang sangat besar, yang menjadikan hati tercengang dan membingungkan fikiran, selain itu dia berjalan di atas bumi dengan sangat cepat, dia tidak akan diam sehingga memberikan kesempatan kepada orang-orang lemah untuk mengamati keadaannya dan bukti-bukti yang ditunjukkannya dan kekurangannya, pada akhirnya banyak orang membenarkannya dalam keadaan seperti ini.

Dan karena itu pulalah para Nabi memberikan peringatan (kepada seluruh umatnya) dari fitnahnya dan bukti-bukti kebathilannya.

Adapun orang-orang yang diberikan taufik oleh Allah, maka sesungguhnya mereka tidak akan pernah terbuai, juga tidak akan pernah tertipu dengan segala hal yang dia bawa. Sebagaimana telah kami jelaskan tentang bukti-bukti kebohongannya, demikian pula pengetahuan tentangnya yang telah dijelaskan. Oleh karena itu orang yang telah dibunuh dan dihidupkannya kembali berkata, “Tidaklah ada sesuatu yang bertambah di dalam diriku kecuali keyakinan (bahwa engkau adalah Dajjal).” [8]

Dan al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Dajjal merupakan ujian yang Allah berikan kepada para hamba-Nya dengan segala keluarbiasaan yang bisa disaksikan pada zamannya, sebagaimana telah dijelaskan bahwa orang yang menjawab seruannya, maka Dajjal akan memerintahkan langit untuk menurunkan hujan sehingga turunlah hujan, dan bumi agar menumbuhkan tumbuhan sehingga tumbuhlah segala macam tumbuhan yang dimakan oleh mereka juga oleh hewan-hewan ternak mereka, maka hewan ternak mereka akan kembali gemuk. Sementara orang yang tidak menjawab seruannya dan menolaknya niscaya akan tertimpa kekeringan, kelaparan, kefakiran, matinya binatang ternak dan sedikitnya harta, jiwa-jiwa dan buah-buahan berkurang. Dia akan diikuti oleh simpanan bumi bagaikan pemimpin lebah yang diikuti oleh pasukannya, dia akan membunuh pemuda dan meng-hidupkannya, semua ini bukanlah khayalan, akan tetapi hakiki, sebagai ujian yang Allah berikan kepada para hamba-Nya di akhir zaman. Maka akan ba-nyak orang yang tersesat, demikian pula akan banyak orang yang berjalan di atas hidayah karenanya, orang-orang yang ragu akan menjadi kafir, sementara orang-orang yang beriman akan bertambah keimanannya.” [9]

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Dan di dalam diri Dajjal beserta segala keluarbiasaan yang ia miliki ada sebuah bukti nyata bagi orang yang memikirkannya karena ia memiliki kemampuan yang luar biasa (ha-hal yang digunakan) yang mempengaruhi manusia juga nampak cacat-cacatnya seperti buta kedua matanya, lalu jika dia mengaku bahwa dia adalah tuhan mereka, maka sejelek-jeleknya keadaan orang yang melihatnya dari kalangan orang yang berakal, dia akan mengetahui bahwa dia (Dajjal) tidak akan pernah bisa me-nyempurnakan penciptaan yang lainnya, merubahnya, memperindahnya, demikian pula dia sama sekali tidak bisa menolak kekurangan di dalam diri-nya, maka sekurang-kurangnya dia berkata, “Wahai orang yang mengaku dirinya sebagai pencipta langit dan bumi! Sempurnakanlah rupamu, rapihkan-lah dan hilangkanlah segala aib darinya, lalu jika engkau mengira bahwa tuhan tidak dapat menciptakan sesuatu di dalam dirinya, maka hilangkanlah sesuatu yang tertulis di antara kedua matamu!” [10]

Dan Ibnul ‘Arabi rahimahullah[11] berkata, “Semua keluarbiasaan yang nampak di tangan Dajjal berupa kemampuan untuk menurunkan hujan, memberikan kesuburan bagi orang yang membenarkan (perkataan)nya, juga kekeringan bagi orang yang mendustakannya, simpanan bumi yang mengikutinya, Surga, Neraka, dan sungai-sungai yang ia miliki, semuanya adalah cobaan yang Allah berikan, juga ujian agar orang-orang yang ragu menjadi celaka, sementara orang-orang yang yakin akan selamat, semuanya adalah perkara yang ditakuti, karena itulah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Tidak ada fitnah yang lebih besar daripada fitnah Dajjal.’”[12]

Footnote:

[1]. Dia adalah Muhammad bin ‘Abdil Wahhab bin Salam al-Mishri, wafat pada tahun 303 H.
Lihat biografinya dalam Syadzaraatudz Dzahab (II/241), al-A’laam (VI/256).
[2]. An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/120) tahqiq Dr. Thaha Zaini.
[3]. Tafsiir al-Manaar (IX/490).
[4]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Fitan, bab Dzikrud Dajjal (XIII/89, Syarh al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikrud Dajjal (XVIII/74, Syarh an-Nawawi).
[5]. An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/118) tahqiq Muhammad Abu Ubayyah.
[6]. Lihat Syarah Shahiih Muslim karya an-Nawawi (XVIII/74), dan Fat-hul Baari (XIII/93).
[7]. Lihat Fat-hul Baari (XIII/105).
[8]. Syarh an-Nawawi li Shahiih Muslim (XVIII/58-59), dan Fat-hul Baari (XIII/105).
[9]. An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/121) tahqiq Dr. Thaha Zaini.
[10]. Fat-hul Baari (XIII/103).
[11]. Beliau adalah Abu Bakar Muhammad bin ‘Abdillah bin Muhammad al-Ma’afiri al-Isybili al-Maliki, penulis banyak kitab seperti Ahkaamul Qur-aan juga yang lainnya, wafat di dekat kota Fas di Maghrib, dan dimakamkan di sana pada tahun 543 t.
[12]. Fat-hul Baari (XIII/103).

10. Melindungi Diri dari Fitnah Dajjal

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan bimbingan kepada umatnya dengan sesuatu yang dapat bisa menjaga mereka dari segala fitnah Dajjal, beliau telah meninggalkan umatnya dengan jalan hidup yang sangat jelas, malamnya bagaikan siang, tidak akan ada orang yang menyimpang darinya kecuali dia akan celaka. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak meninggalkan kebaikan kecuali menunjuki umat kepadanya, demikian pula tidak pernah meninggalkan kejelekan kecuali memberikan peringatan kepadanya umat agar meninggalkannya, dan di antara hal yang beliau peringatkan adalah fitnahnya karena ia adalah sebesar-besarnya fitnah yang dihadapi oleh umat ini sampai tegaknya Kiamat. Sebelumnya setiap Nabi telah memberikan peringatan kepada umatnya akan adanya Dajjal yang buta matanya, adapun Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara khusus diperintahkan untuk memberikan peringatan yang lebih, dan Allah Ta’ala telah banyak menjelaskan mengenai sifat-sifat Dajjal kepadanya agar umatnya selalu hati-hati. Sesung-guhnya dia akan keluar kepada umat ini, karena ia adalah umat yang terakhir dan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para Nabi.

Berikut ini sebagian bimbingan Nabi yang diberikan kepada umatnya agar dia selamat dari fitnah yang besar ini, di mana kita pun selalu memohon kepada Allah agar memberikan keselamatan dan melindungi kita semua darinya.

a. Memegang teguh agama Islam dan mempersenjati diri dengan keimanan, mengenal Nama-Nama Allah dan sifat-sifat-Nya yang mulia yang tidak ada sesuatu pun berserikat di dalamnya. Maka ia akan mengetahui bahwa Dajjal adalah manusia biasa yang makan dan minum, dan bahwa Allah Ta’ala disucikan dari semua itu. Sesungguhnya Dajjal buta sebelah matanya, sementara Allah tidak buta. Sungguh, tidak akan ada orang yang dapat melihat Rabb-nya hingga dia mati, sementara Dajjal akan dilihat oleh manusia ketika dia keluar, baik orang mukmin maupun orang kafir.

b. Memohon perlindungan dari fitnah Dajjal, terutama ketika shalat. Telah diriwayatkan beberapa hadits shahih tentangnya.

Di antaranya adalah yang diriwayatkan oleh asy-Syaikhani dan an-Nasa-i, dari ‘Aisyah, isteri Nabi Radhiyallahu anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a di dalam shalatnya dengan do’a:

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah al-Masih ad-Dajjal….[1]

Diriwayatkan oleh al-Bukhari rahimahullah, dari Mush’ab [2], dia berkata, “Sa’d pernah memerintahkan lima hal dan menyebutkannya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau memerintahkannya… (di antaranya):

‘Dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia.’ (Yakni dari fitnah Dajjal).”[3]

Memaknai dunia dengan Dajjal merupakan satu isyarat bahwa fitnah Dajjal adalah sebesar-besarnya fitnah yang terjadi di dunia.” [4]

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Jika salah seorang di antara kalian bertasyahhud, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari empat hal, dengan mengucapkan, ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa Neraka, siksa kubur, fitnah kehidupan dan mati, dan dari kejahatan fitnah Dajjal.”[5]

Al-Imam Thawus rahimahullah [6] memerintahkan puteranya agar mengulangi shalat jika ia tidak membaca do’a ini di dalam shalatnya.[7]

Ini adalah dalil yang menunjukkan semangat kaum Salaf dalam mengajarkan anak-anaknya untuk melakukan do’a yang agung ini.

As-Safarini rahimahullah berkata, “Di antara sesuatu yang patut bagi setiap alim adalah hendaklah dia menyebarkan hadits-hadits tentang Dajjal pada anak-anak, kaum wanita dan kaum pria… dan telah diriwayatkan bahwasanya di antara tanda-tanda keluarnya (Dajjal) adalah melupakan penyebutannya di atas mimbar.”[8]

Hingga perkataan beliau, “Terutama di zaman kita sekarang ini, di mana telah banyak fitnah dan cobaan, sementara syi’ar-syi’ar Islam telah banyak yang lenyap, yang sunnah dianggap bid’ah sementara yang bid’ah menjadi syari’at yang diikuti. Laa haula walaa quwwata illa billaah.” [9]

c. Menghafal beberapa ayat dari surat al-Kahfi. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk membaca awal-awal dari surat al-Kahfi untuk menghadapi Dajjal, dan di dalam sebagian riwayat ayat-ayat terakhir dari surat tersebut, yakni dengan membaca sepuluh ayat dari awalnya atau dari akhirnya.

Di antara hadits-hadits yang menjelaskan hal itu adalah apa yang diriwayatkan oleh Muslim rahimahullah dari hadits an-Nawwas bin Sam’an yang panjang… (di dalamnya terdapat sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam):

“Barangsiapa di antara kalian bertemu dengannya, maka bacakanlah kepadanya permulaan surat al-Kahfi.” [10]

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan pula dari Abud Darda’ Radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa hafal sepuluh ayat dari awal surat al-Kahfi, maka dia akan dijaga dari Dajjal.”

Maksudnya dari fitnahnya.

Muslim rahimahullah berkata, “Syu’bah berkata, ‘Pada akhir-akhir surat al-Kahfi,’ al-Hammam berkata, ‘Dari awal surat al-Kahfi.’” [11]

An-Nawawi rahimahullah berkata, “Sebab hal itu adalah keajaiban-keajaiban dan tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada pada permulaan suratnya. Maka barang-siapa merenunginya, niscaya dia tidak akan terkena fitnah Dajjal, demikian pula di akhirnya, yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Maka apakah orang-orang kafir menyangka bahwa mereka (dapat) meng-ambil…” [Al-Kahfi: 102]” [12]

Ini adalah di antara keistimewaan surat al-Kahfi. Telah diriwayatkan beberapa hadits yang mendorong untuk membacanya, terutama pada hari Jum’at.

Al-Hakim rahimahullah meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya orang yang membaca surat al-Kahfi pada hari Jum’at, niscaya dia akan diterangi oleh cahaya di antara dua Jum’at.” [13]

Tidak diragukan bahwa surat al-Kahfi memiliki kedudukan yang agung, karena di dalamnya terdapat ayat-ayat yang sangat memukau, seperti kisah Ashhabul Kahfi, kisah Musa bersama Khidir, kisah Dzul Qarnain, dan aktivitasnya membangun dinding penghalang besar yang menutupi Ya’-juj dan Ma’-juj, menetapkan adanya hari Berbangkit, tiupan sangkakala, dan penjelasan mengenai orang-orang yang merugi amalnya, mereka adalah orang-orang yang mengira bahwa mereka berada dalam petunjuk padahal mereka adalah orang yang berada dalam kesesatan dan kebodohan.

Maka sudah seharusnya bagi setiap muslim untuk bersemangat dalam membaca surat ini, menghafalnya, dan mengulang-ulangnya, terutama pada sebaik-baiknya hari di mana matahari terbit, yaitu hari Jum’at.

d. Berlari dan menjauhi Dajjal, dan lebih utama ialah menetap di Makkah atau Madinah. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa Dajjal tidak akan bisa masuk ke dalam dua tanah haram. Maka ketika Dajjal keluar hendaklah seorang muslim menjauh darinya, hal itu karena berbagai syubhat juga hal-hal di luar kebiasaan yang sangat besar yang telah Allah berikan kepadanya sebagai fitnah bagi manusia. Dajjal akan mendatangi seseorang yang meyakini ada keimanan di dalam hatinya, akan tetapi pada akhirnya dia akan mengikuti Dajjal. Hanya kepada Allah-lah kita memohon semoga Dia melindungi kita dan seluruh kaum musliminh dari fitnahnya.

Imam Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim rahimahullah meriwayatkan dari Abu
Dahma’ rahimahullah [14], dia berkata, “Aku mendengar ‘Imran bin Hushain Radhiyallahu anhu meriwayatkan sebuah hadits, dia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Barangsiapa mendengar kedatangan Dajjal, maka hendaklah ia menjauh darinya. Demi Allah, sesungguhnya seseorang mendatanginya padahal dia menganggap bahwa dirinya adalah seorang mukmin, lalu dia meng-ikutinya karena banyaknya syubhat yang menyertainya, atau tatkala syubhat menyertainya.’” [15]

Footnote:

[1]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Adzaan bab ad-Du’aa’ qablas Salaam (II/317, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-Masaajid wa Mawaadhi’ush Shalaah, bab at-Ta’awwudz min Adzaabil Qabri wa Adzaabi Jahannam (V/87, Syarh an-Nawawi).
[2]. Dia adalah Mush’ab bin Sa’d bin Abi Waqqash, lihat Fat-hul Baari (XI/175).
[3]. Shahiih al-Bukhari, kitab ad-Da’awaat, bab at-Ta’awwudz min Adzaabil Qabri (XI/174, al-Fat-h).
[4]. Fat-hul Baari (XI/179).
[5]. Shahiih Muslim, kitab al-Masaajid wa Mawaadhi’ush Shalaah, bab at-Ta’awwudz min Adzaabil Qabri wa Adzaabi Jahannam (V/87, Syarh an-Nawawi).
[6]. Beliau adalah al-Imam Thawus bin Kisan al-Yamani, Abu ‘Abdirrahman, salah seorang tokoh Tabi’in, bertemu dengan lima puluh Sahabat, dan melakukan haji sebanyak empat puluh kali, dia adalah orang yang mustajab do’anya. Ibnu ‘Uyainah berkata, “Ada tiga orang yang menjauhi para penguasa: Abu Dzarr pada masanya, Thawus pada zamannya, dam ats-Tsauri pada zaman-nya.” Beliau wafat pada tahun 106 H rahimahullah.
Lihat biografinya dalam Tahdziibut Tahdziib (V/8-10).
[7]. Lihat Shahiih Muslim, kitab al-Masaajid wa Mawaadhi’ush Shalaah, bab at-Ta’awwudz min Adzaabil Qabri wa Adzaabi Jahannam (V/87, Syarh an-Nawawi).
[8]. Di dalam masalah ini diriwayatkan hadits yang dishahihkan oleh al-Haitsami dalam Majmaa’uz Zawaa-id dari ash-Sha’bi bin Jatsamah, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah J bersabda, ‘Tidak akan keluar Dajjal hingga manusia lupa tidak menyebutkannya, dan hingga umat tidak menyebutkannya lagi di atas mimbar.”
Lihat Majma’uz Zawaa-id wa Manba’ul Fawaa-id (VII/335).
[9]. Lawaami’ul Anwaar al-Bahiyyah (II/106-107).
[10]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan bab Dzikrud Dajjal (XVIII/65, Syarh an-Nawawi).
[11]. Shahiih Muslim, kitab Shalaatul Musaafiriin, bab Fadhlu Suuratil Kahfi wa Aayatul Kursi (VI/92-93, Syarh an-Nawawi).
[12]. Syarah an-Nawawi li Shahiih Muslim (VI/93).
[13]. Mustadrak al-Hakim (II/368), beliau berkata, “Isnad hadits ini shahih, akan tetapi keduanya tidak meriwayatkannya.”
Adz-Dzahabi berkata, “Nu’aim (Ibnu Hammad) memiliki al-Manaakir (hadits-hadits munkar).”
Al-Albani berkata, “Shahih.” Shahiih al-Jaami’ish Shagiir (V/340, no. 6346).
[14]. Beliau adalah Qarfah bin Bahis al-‘Adawi al-Bashri, Tabi’in, tsiqah, meriwayatkan dari sebagian Sahabat seperti ‘Imran bin Hushain, Samurah bin Jundub dan yang lainnya.
Lihat biografinya dalam Tahdziibut Tahdziib (VIII/369).
[15]. Al-Fat-hur Rabbaani (XXIV/74), Sunan Abi Dawud (XI/242, ‘Aunul Ma’buud), dan Mustadrak al-Hakim (IV/531).

11. Penyebutan Dajjal Dalam al-Qur-an

Para ulama bertanya-tanya tentang hikmah tidak disebutkannya Dajjal secara jelas di dalam al-Qur-an padahal fitnahnya sangat besar. Demikian pula peringatan para Nabi terhadapnya (dalam al-Qur-an), juga perintah agar me-mohon perlindungan dari fitnahnya di dalam shalat. Mereka menjawabnya dengan beberapa jawaban di antaranya:

a. Sesungguhnya Dajjal diungkapkan dalam kandungan lafazh اَلآيَاتُ (tanda-tanda) yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala:

“… pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Rabb-mu tidak berguna lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau (belum) berusaha berbuat kebajikan dengan imannya itu…” [Al-An’aam: 158]

Tanda-tanda yang dimaksud adalah Dajjal, terbitnya matahari dari barat, dan binatang. Semuanya diungkapkan dalam penafsiran ayat ini.

Imam Muslim dan at-Tirmidzi رحمهما الله meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Ada tiga hal yang jika keluar, maka tidak berguna lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu atau (belum) berusaha berbuat kebaikan dengan imannya itu: terbitnya matahari dari barat, Dajjal, dan binatang bumi.’” [1]

b. Sesungguhnya al-Qur-an menyebutkan turunnya Nabi ‘Isa Alihissallam, dan Nabi ‘Isalah yang akan membunuh Dajjal. Maka menyebutkan Masiihul Huda sudah cukup, sehingga tidak perlu menyebutkan Masihudh Dhalaa-lah. Dan kebiasaan orang Arab adalah merasa cukup dengan menyebut-kan salah satu yang berlawanan tanpa menyebutkan yang lainnya.

c. Sesungguhnya dia (Dajjal) di sebutkan dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.” [Al-Mu’min: 57]

Sesungguhnya yang dimaksud dengan manusia di sini adalah Dajjal, ayat ini termasuk pengungkapan semua komponen untuk sebagian darinya.

Abul ‘Aliyah rahimahullah[2] berkata, “Maknanya adalah lebih besar daripada penciptaan Dajjal ketika kaum Yahudi membesar-besarkannya.” [3]

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Dan ini -jika memang telah tetap- merupakan sebaik-baiknya jawaban, maka termasuk tanggung jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjelaskannya, wallaahu a’lam.” [4]

d. Sesungguhnya al-Qur-an tidak menyebutkan Dajjal secara jelas sebagai pelecehen terhadapnya karena dia telah mengaku sebagai tuhan padahal dia adalah manusia, di mana keadaan sangat bertentangan dengan kemuliaan Rabb, keagungan, kesempurnaan, dan kesuciaan-Nya dari segala kekurangan, karena dia sangat hina di sisi Allah dan sangat kecil sehingga tidak pantas untuk disebutkan (di dalam al-Qur-an). Walaupun demikian, para Nabi memberikan peringatan akan kedatangannya, menjelaskan bahaya fitnahnya, sebagaimana yang telah dijelaskan. Sesungguhnya se-tiap Nabi telah memberikan peringatan akan (kemunculannya) dan mem-berikan peringatan terhadap fitnahnya.

Jika ada bantahan (terhadap ungkapan tersebut) dengan pernyataan bahwa al-Qur-an pun telah menyebutkan Fir’aun padahal dia telah mengaku sebagai tuhan yang disembah, maka jawabannya bahwa masalah Fir’aun telah berlalu dan selesai, hal ini disebutkan sebagai pelajaran bagi manusia. Adapun masalah Dajjal, maka sesungguhnya ia akan terjadi pada akhir zaman. Tidak disebutkannya hal ini dalam al-Qur-an sebagai cobaan bagi manusia, padahal pengakuannya sebagai tuhan lebih jelas, sehingga tidak perlu diberikan perhatian atas kebathilannya karena Dajjal sangat nampak kekurangannya, jelas keburukannya, dan kerendahannya lebih jelas daripada pengakuan yang di-serukannya. Maka Allah tidak mengungkapkannya (di dalam al-Qur-an), karena Allah Ta’ala mengetahui dari para hamba-Nya yang beriman bahwa hal seperti ini tidak samar bagi mereka, dan tidak menambah mereka kecuali keimanan dan rasa berserah diri kepada Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana yang dikata-kan oleh si pemuda yang dibunuh oleh Dajjal, “Demi Allah, sungguh aku lebih yakin kepadamu pada hari ini bahwa engkau adalah Dajjal.”[5]

Terkadang sesuatu tidak disebutkan karena telah jelas, sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sakit menjelang kematiannya tidak menulis surat bahwa yang akan menggantikannya adalah Abu Bakar Radhiyallahu anhu karena hal itu memang sudah jelas. Hal itu disebabkan kedudukan Abu Bakar yang agung di sisi para Sahabat Radhiyallahu anhuma, karena itulah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Allah dan orang-orang yang beriman enggan, kecuali kepada Abu Bakar.” [6]

Ibnu Hajar rahimahullah mengungkapkan bahwa pertanyaan mengenai tidak adanya penyebutan secara jelas tentang Dajjal di dalam al-Qur-an senantiasa ada, karena sesungguhnya Allah Ta’ala menyebutkan Ya’-juj dan Ma’-juj di dalam al-Qur-an, sedangkan fitnah mereka dekat dengan fitnah Dajjal.”[7]

Demikianlah, kami kira jawaban pertama lebih dekat, wallaahu a’lam. Maka Dajjal telah diungkapkan di dalam kandungan beberapa ayat dalam al-Qur-an, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam-lah yang berkewajiban untuk menjelaskan keumuman ayat tersebut (dan beliau sudah menerangkannya).

12. Binasanya Dajjal

Dajjal akan mati di tangan al-Masih ‘Isa bin Maryam Alaihissallam, sebagaimana ditunjukkan oleh beberapa hadits shahih. Hal itu bahwa Dajjal akan berkelana di seluruh permukaan bumi, kecuali Makkah dan Madinah, pengikutnya sangat banyak, fitnahnya menyeluruh dan tidak ada yang selamat darinya kecuali sedikit saja dari kaum mukminin, di saat itu turunlah Nabi ‘Isa bin Maryam Alaihissallam di atas menara timur di Damaskus, sementara hamba-hamba Allah yang beriman berkumpul di sekelilingnya hingga beliau berjalan bersama mereka menuju Dajjal. Adapun Dajjal sedang menghadap ke Baitul Maqdis ketika Nabi ‘Isa turun, lalu Nabi ‘Isa mendapatinya di pintu Ludd. Ketika Dajjal melihatnya, maka dia akan mencair seperti garam yang larut. Kemudian ‘Isa Alaihissallam berkata, “Sesungguhnya aku memiliki satu pukulan untukmu, engkau tidak akan luput dariku, akhirnya ‘Isa mendapatkannya dan membunuhnya dengan tombak dan para pengikutnya kalah, sehingga orang-orang yang beriman mengejar dan membunuh mereka hingga pepohonan dan bebatuan berkata, “Wahai muslim! Wahai hamba Allah! Ini seorang Yahudi di belakangku, kemari, bunuh dia!” Kecuali gharqad karena ia adalah pohon orang Yahudi”. [8]

Pada kesempatan ini kami uraikan beberapa hadits yang menjelaskan kebinasaan Dajjal dan para pengikutnya

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhuma, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Dajjal akan muncul pada umatku… (lalu dia menuturkan hadits, dan di dalamnya:) lalu Allah mengutus ‘Isa bin Maryam seakan-akan ia adalah ‘Urwah bin Mas’ud, kemudian dia mencarinya dan membinasakannya.’” [9]

Imam Ahmad dan at-Tirmidzi meriwayatkan dari Majma’ bin Jariyah al-Anshari Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Ibnu Maryam akan membunuh Dajjal di pintu Ludd.” [10]

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dari an-Nawwas bin Sam’an Radhiyallahu anhu, sebuah hadits yang panjang tentang Dajjal… dan di dalamnya terdapat kisah turunnya Nabi ‘Isa dan terbunuhnya Dajjal, dan di dalamnya ada sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Orang kafir yang mencium aroma nafasnya akan mati, dan aroma nafas-nya dapat tercium sejauh pandangannya. Lalu dia mencarinya, sehingga men-dapatkannya di pintu Ludd, kemudian dia membunuhnya.” [11]

Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhuma, bahwasanya dia berkata, “Dajjal akan muncul pada saat agama sudah tidak diperhatikan dan ilmu (agama) sudah ditinggalkan…” (lalu beliau menuturkan hadits, dan di dalamnya ada ungkapan:) “Kemudian Nabi ‘Isa bin Maryam turun, lalu beliau berseru pada waktu sahur, dia berkata, ‘Wahai manusia, apa yang menghalangi kalian untuk keluar menghadapi si pendusta lagi buruk ini?’ Mereka berkata, ‘Ini seorang laki-laki dari bangsa jin.’ Akhirnya mereka semua pergi. Tiba-tiba mereka berjumpa dengan Nabi ‘Isa bin Maryam Alaihissallam, kemudian iqamah shalat dikumandangkan. Dikatakan kepadanya, ‘Majulah untuk meng-imami kami, wahai Ruuhullaah!’ Beliau berkata, ‘Hendaknya imam kalian yang maju, dan menjadi imam bagi kalian,’ kemudian seusai melakukan shalat Shubuh, mereka semua keluar menemuinya (Dajjal).’ Beliau (Rasul) bersabda, ‘Ketika si pendusta melihatnya (Nabi ‘Isa), maka dia akan mencair bagaikan garam yang mencair di dalam air. Selanjutnya dia berjalan menujunya, lalu membunuhnya hingga pepohonan dan bebatuan berkata, ‘Wahai Ruuhullaah, ini orang Yahudi,” maka dia tidak meninggalkan seorang pun yang mengikutinya (Dajjal) melainkan dia membunuhnya.”[12]

Dengan terbunuhnya Dajjal -semoga Allah melaknatnya- oleh Nabi ‘Isa, maka berakhirlah fitnah yang besar, dan Allah menyelamatkan orang-orang yang beriman dari kejelekannya dan kejelekan para pengikutnya melalui tangan Ruuhullaah dan Kalimatullaah, ‘Isa bin Maryam q dan para pengikutnya yang beriman, hanya milik Allah-lah segala puji dan karunia.

Footnote:
[1]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan, bab az-Zamanul Ladzi la Yuqbalu fiihil Iimaan (II/195, Syarh an-Nawawi), dan Jaami’ at-Tirmidzi fi Tuhfatil Ahwadzi (VIII/449).
[2]. Beliau adalah Rafi’ bin Mahran ar-Rayyahi, pernah menjadi tuan bagi al-Hasan al-Bashri yang merupakan salah satu tokoh Tabi’in, mendapatkan zaman al-Jahiliyyah dan masuk Islam setelah wafatnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau meriwayatkan dari banyak Shahabat Radhiyallahu anhum, dan wafat pada tahun 90 H rahimahullah.
Lihat biografinya dalam Tahdziibut Tahdziib (III/284-285).
[3]. Tafsiir al-Qurthubi (XV/325).
[4]. Fat-hul Baari (XIII/92).
[5]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Fitan, bab La Yadkhulud Dajjal al-Madinah (XIII/101, al-Fat-h).
[6]. Shahiih Muslim, kitab al-Fadhaa-il, bab Fadhaa-il Abi Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu anhu (XV/155, Syarh an-Nawawi).
[7]. Fat-hul Baari (XIII/91-92, al-Fat-h).
[8]. Ludd adalah sebuah daerah di Palestina dekat Baitul Maqdis.
Lihat Mu’jamul Buldaan (V/15).
[9]. Lihat an-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/128-129) tahqiq Dr. Thaha Zaini.
[10]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikrud Dajjal (XVIII/75-76, Syarh an-Nawawi).
[11]. Al-Fat-hur Rabbaani Tartiibu Musnad Ahmad (XXIV/83), dan at-Tirmidzi (VI/513-514, Tuhfatul Ahwadzi)
[12]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikrud Dajjal (XVIII/67-68, Syarh an-Nawawi).
Al-Fat-hur Rabbaani Tartiib Musnad Ahmad (XXIV/85-86).
Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad dengan dua sanad, perawi salah satunya adalah perawi ash-Shahiih.” Lihat Majmaa’uz Zawaa-id (VII/344).

(Bersambung)

Tentang admin

Jika kata tak lagi bermakna lebih baik diam. (Masih) belajar Islam yang lurus dan benar. Cuma numpang sebentar di dunia. Silahkan duduk mari bicara. Lihat semua tulisan milik admin

One response to “Kitab: Hari Kiamat (Bagian 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 133 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: