Mutiara Hikmah Ulama Salaf (3)

Rasa Malu dan Kehidupan Hati

[222] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Kata al-Haya’ [rasa malu] berasal dari kata al-Hayat [kehidupan] sebab hati yang hidup akan membuat pemiliknya merasakan kehidupan yang sejati. Di dalam dirinya terdapat rasa malu yang akan menghalanginya dari berbagai keburukan. Karena sesungguhnya kehidupan hati itu adalah sesuatu yang bisa mencegah dirinya dari melakukan berbagai hal yang jelek dan merusak hati.” (lihat Mawa’izh Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, hal. 30)

Letak Niat

[223] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Letak niat adalah di dalam hati dengan kesepakatan para ulama. Apabila seseorang telah berniat dengan hatinya dan tidak mengucapkan hal itu dengan lisannya, maka niat itu sudah dianggap sah/cukup berdasarkan kesepakatan mereka. Karena sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabatnya, dan para tabi’in; tidaklah dinukil dari seorang pun diantara mereka bahwa mereka melafalkan niat, tidak dalam hal sholat, thaharah, maupun puasa.” (lihat Mawa’izh Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, hal. 36)

Syukur dan Istighfar

[224] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seorang hamba senantiasa berada diantara kenikmatan dari Allah yang mengharuskan syukur atau dosa yang mengharuskan istighfar. Kedua hal ini adalah perkara yang selalu dialami setiap hamba. Sebab dia senantiasa berada di dalam curahan nikmat dan karunia Allah dan senantiasa membutuhkan taubat dan istighfar.” (lihat Mawa’izh Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, hal. 87)

Orang Yang Faqih

[225] Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya orang yang faqih itu adalah orang yang zuhud kepada dunia dan sangat memburu akhirat. Orang yang paham tentang agamanya dan senantiasa beribadah kepada Rabbnya. Orang yang berhati-hati sehingga menahan diri dari menodai kehormatan dan harga diri kaum muslimin. Orang yang menjaga kehormatan dirinya dari meminta harta mereka dan senantiasa mengharapkan kebaikan bagi mereka.” (lihat Mukhtashar Minhaj al-Qashidin, hal. 28)

Akibat Terlalu Banyak Bicara

[226] Salman al-Farisi radhiyallahu’anhu berkata, “Orang yang paling banyak dosanya pada hari kiamat nanti adalah orang yang paling banyak berbicara dalam kemaksiatan kepada Allah ‘azza wa jalla.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 8)

Orang Yang Bertakwa

[227] Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu ditanya tentang orang-orang yang bertakwa. Beliau pun menjawab, “Mereka adalah suatu kaum yang menjaga diri dari kemusyrikan dan peribadahan kepada berhala, serta mengikhlaskan ibadah mereka untuk Allah semata.” (lihat Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 211)

[228] al-Hasan rahimahullah mengatakan, “Orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang menjauhi perkara-perkara yang diharamkan Allah kepada mereka dan menunaikan kewajiban yang diperintahkan kepada mereka.” (lihat Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 211)

[229] Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata, “Ketakwaan kepada Allah bukan sekedar dengan berpuasa di siang hari, sholat malam, dan menggabungkan antara keduanya. Akan tetapi hakikat ketakwaan kepada Allah adalah meninggalkan segala yang diharamkan Allah dan melaksanakan segala yang diwajibkan Allah. Barang siapa yang setelah menunaikan hal itu dikaruniai amal kebaikan maka itu adalah kebaikan di atas kebaikan.” (lihat Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 211)

Iman Yang Sejati

[230] Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Bukanlah iman itu dicapai semata-mata dengan menghiasi penampilan atau berangan-angan, akan tetapi iman adalah apa yang tertanam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan.” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1124)

[231] Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata, “Iman itu telanjang sedangkan pakaiannya adalah ketakwaan. Hartanya adalah fikih (ilmu agama). Adapun perhiasannya adalah rasa malu.” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1176)

Bukti Kasih Sayang Allah

[232] Imam Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi rahimahullah berkata, “Sesungguhnya suatu ilmu yang kebutuhan umat manusia terhadapnya semakin besar maka konsekuensinya adalah dalil-dalil yang menunjukkan kepadanya juga semakin jelas, sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya.” (lihat Syarh al-’Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 86)

Puncak Syukur

[233] Muhammad bin al-Hasan rahimahullah menceritakan: as-Sari bertanya kepadaku, “Apakah puncak syukur itu?”. Aku menjawab, “Yaitu Allah tidak didurhakai pada satu nikmat pun -yang telah diberikan-Nya-.” Lalu dia mengatakan, “Jawabanmu tepat, wahai anak muda.” (lihat al-Fawa’id wa al-Akhbar wa al-Hikayat, hal. 144)

Tanda Cinta Kepada Allah

[234] Rabi’ bin Anas rahimahullah menyebutkan sebuah ungkapan dari sebagian sahabatnya, “Tanda cinta kepada Allah adalah banyak berdzikir/mengingat kepada-Nya. Sebab sesungguhnya tidaklah kamu mencintai sesuatu melainkan pasti akan sering menyebutnya.” (lihat Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 559).

Menyelamatkan Diri Dari Azab

[235] Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu berkata, “Tidak ada sesuatu yang lebih menyelamatkan dari azab Allah selain berdzikir kepada Allah.” (lihat Sunan Tirmidzi tahqiq Syaikh Ahmad Syakir [5/459])

Beramal Dengan Ikhlas

[236] Abul Aliyah berkata: Para Sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepadaku, “Janganlah kamu beramal untuk selain Allah. Karena hal itu akan membuat Allah menyandarkan hatimu kepada orang yang kamu beramal karenanya.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 568)

Kerendahan Hati Ali bin Abi Thalib

[237] Putra Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu Muhammad bin al-Hanafiyah pernah bertanya kepada ayahnya, “Aku bertanya kepada ayahku: Siapakah orang yang terbaik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”. Beliau menjawab, “Abu Bakar.” Aku bertanya lagi, “Lalu siapa?”. Beliau menjawab, “’Umar.” Aku khawatir jika beliau mengatakan bahwa ‘Utsman adalah sesudahnya, maka aku katakan, “Lalu anda?”. Beliau menjawab, “Aku ini hanyalah seorang lelaki biasa di antara kaum muslimin.” (HR. Bukhari no. 3671)

Manusia Paling Utama Setelah Para Nabi

[238] Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata, “Orang yang paling utama setelah para Nabi ‘alaihimush sholatu was salam adalah Abu Bakar ash-Shiddiq, kemudian ‘Umar bin Khaththab al-Faruq, kemudian ‘Utsman bin ‘Affan Dzun Nurain, kemudian ‘Ali bin Abi Thalib al-Murtadha. Semoga Allah meridhai mereka semua.” (lihat al-Ibanah li Maa li ash-Shahabah minal Manzilah wa al-Makanah, hal. 112)

[239] Imam asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Orang yang paling utama setelah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakar, kemudian ‘Umar, kemudian ‘Utsman, kemudian ‘Ali. Semoga Allah meridhai mereka.” (lihat al-Ibanah li Maa li ash-Shahabah minal Manzilah wa al-Makanah, hal. 112)

Hakikat Ibadah

[240] Imam al-Baghawi rahimahullah menukil ucapan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma, beliau berkata, “Setiap istilah ibadah yang disebutkan di dalam al-Qur’an maka maknanya adalah tauhid.” (lihat Ma’alim at-Tanzil, hal. 20)

[241] Syaikh al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Ibadah mencakup melakukan segala hal yang diperintahkan Allah dan meninggalkan segala hal yang dilarang Allah. Sebab jika seseorang tidak memiliki sifat seperti itu berarti dia bukanlah seorang ‘abid/hamba. Seandainya seorang tidak melakukan apa yang diperintahkan, orang itu bukan hamba yang sejati. Seandainya seorang tidak meninggalkan apa yang dilarang, orang itu bukan hamba yang sejati. Seorang hamba -yang sejati- adalah yang menyesuaikan dirinya dengan apa yang dikehendaki Allah secara syar’i.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-Karim, Juz ‘Amma, hal. 15)

[242] Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Ibadah adalah kecintaan dan tundukan secara total, disertai kesempurnaan rasa takut dan perendahan diri.” (lihat Tafsir al-Fatihah, hal. 49 tahqiq Dr. Fahd ar-Rumi)

Hukuman Terberat

[243] Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tidaklah seorang hamba mendapatkan hukuman yang lebih berat daripada hati yang keras dan jauh dari Allah.” (lihat al-Fawa’id, hal. 95).

Bekal Seorang Da’i

[244] Syaikh Zaid bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah berkata, “.. Sesungguhnya tidaklah ada seorang da’i yang mengajak manusia kepada apa yang didakwahkan oleh para rasul kecuali pasti menghadapi orang-orang yang berupaya menghalang-halangi dakwahnya, sebagaimana yang dihadapi oleh para rasul dan nabi-nabi dari kaum mereka. Oleh sebab itu semestinya dia bersabar. Artinya dia harus berpegang teguh dengan kesabaran; yang hal itu termasuk salah satu karakter terbaik ahli iman dan sebaik-baik bekal bagi seorang da’i yang mengajak kepada Allah tabaraka wa ta’ala, sama saja apakah dakwahnya itu ditujukan kepada orang-orang yang dekat dengannya atau selainnya, dia harus menjadi orang yang penyabar.” (lihat Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul, hal. 13)

Menolak Jabriyah dan Qadariyah

[245] Abu Hafsh al-Farghani rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang mengakui [kandungan] Iyyaka na’budu wa Iyyaka nasta’in maka sesungguhnya dia telah berlepas diri dari paham Jabriyah dan Qadariyah.” (lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an [1/224])

Mengenal Allah

[246] Sebagian salaf berkata, “Wahai Rabbku, aku heran dengan orang yang mengenalmu bagaimana mungkin dia justru berharap kepada selain-Mu. Aku heran dengan orang yang mengenalmu lalu mengapa dia justru memohon pertolongan kepada selain-Mu.” (lihat Rawa’i’ at-Tafsir, Tafsir Ibnu Rajab al-Hanbali, hal. 74)

Ibadah Yang Paling Utama

[247] Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, beliau berkata, “Seutama-utama ibadah adalah doa.” Lalu beliau membaca ayat (yang artinya), “Rabbmu berfirman: Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkan permintaan kalian. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku pasti akan masuk ke dalam Jahannam dalam keadaan hina.” (QS. Ghafir: 60) (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak [1856])

Keutamaan Surat al-Fatihah

[248] Syaikh al-Utsaimin rahimahullah berkata, “al-Fatihah adalah Ummul Qur’an (Induk al-Qur’an); dikarenakan seluruh maksud ajaran al-Qur’an terkandung di dalamnya. Ia telah mencakup tiga macam tauhid. Ia juga mencakup penetapan risalah, hari akhir, jalan para rasul dan jalan orang-orang yang menyelisihi mereka. Segala perkara yang terkait dengan pokok-pokok syari’at telah terkandung di dalam surat ini. Oleh karena itu ia disebut dengan Ummul Qur’an.” (lihat Syarh al-Mumti’ [2/82])

Hanya Sedikit Yang Berhasil Lolos

[249] Tatkala begitu banyak orang yang menimba hadits pada masa al-A’masy ada seseorang yang berkata kepadanya, “Wahai Abu Muhammad, lihatlah mereka?! Betapa banyak jumlah mereka!!”. Maka beliau menjawab, “Janganlah kamu lihat kepada banyaknya jumlah mereka. Sepertiganya akan mati. Sepertiga lagi akan disibukkan dengan pekerjaan. Sepertiganya lagi, dari setiap seratus orang hanya ada satu orang yang berhasil -menjadi ulama-.” (lihat Nasha’ih Manhajiyah li Thalib ‘Ilmi as-Sunnah an-Nabawiyah, hal. 28)

Pokok Segala Kebaikan

[250] Dawud ath-Tha’i rahimahullah berkata, “Aku melihat bahwa segala kebaikan itu bersumber dari niat yang baik.” (lihat Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 19)

Sebab Baiknya Amalan

[251] Ibnu ‘Ajlan rahimahullah berkata, “Tidaklah menjadi baik suatu amal tanpa tiga hal, yaitu: ketakwaan kepada Allah, niat baik, dan cara yang benar.” (lihat Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 19)

Akar Perselisihan

[252] Yahya bin Mu’adz ar-Razi rahimahullah mengatakan, “Perselisihan manusia itu semuanya kembali kepada tiga sumber utama. Masing-masing memiliki lawan. Barangsiapa yang jatuh dari satu urusan niscaya dia akan terperosok kepada lawannya. Tauhid, lawannya syirik. Sunnah, lawannya adalah bid’ah. Dan taat, yang lawannya adalah maksiat.” (lihat Ilmu Ushul Bida’, hal. 39)

Bukan Ghibah

[253] al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Berbicara dalam bentuk kritik/celaan kepada orang/tokoh dalam rangka menunaikan nasehat untuk Allah, untuk Rasul-Nya, untuk kitab-Nya, dan untuk kaum mukminin itu tidak dikategorikan ghibah/menggunjing, bahkan dia akan mendapatkan pahala selama dia benar-benar tulus berniat untuk itu (memberi nasehat , pent).” (lihat al-Ba’its al-Hatsits Syarh Ikhtishar Ulum al-Hadits, hal. 228)

Merasa Diawasi Allah

[254] Pada suatu malam ada seorang lelaki yang merayu seorang wanita di tengah padang pasir. Akan tetapi wanita itu enggan memenuhi ajakannya. Lelaki itu berkata, “Tidak ada yang melihat kita kecuali bintang-bintang.” Wanita itu berkata, “Lalu dimanakah yang menciptakan bintang-bintang itu?!” (lihat Fiqh al-Asma’ al-Husna, hal. 33)

Keserupaan Syi’ah dengan Yahudi

[255] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Orang-orang Yahudi berkata bahwa tidak boleh kekuasaan itu dipegang oleh selain keturunan Dawud. Demikian pula, kaum Rafidhah/Syi’ah. Mereka mengatakan bahwa tidak boleh imamah/kepemimpinan umat ini dipegang oleh selain keturunan Ali. Orang Yahudi berkata bahwa tidak ada jihad fi sabilillah kecuali setelah keluarnya al-Masih ad-Dajjal dan diturunkan pedang. Kaum Rafidhah pun mengatakan bahwa tidak ada jihad fi sabilillah kecuali setelah keluarnya Imam Mahdi dan terdengar seruan dari langit. Orang-orang Yahudi mengakhirkan sholat hingga bintang-bintang tampak. Maka begitu pula Rafidhah. Mereka mengakhirkan sholat Maghrib hingga bintang-bintang tampak. Padahal di dalam hadits ditegaskan, “Umatku akan senantiasa berada di atas fithrah selama mereka tidak mengakhirkan sholat Maghrib hingga tampaknya bintang-bintang.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, di dalam Zawa’id disebutkan bahwa sanadnya hasan). Orang-orang Yahudi menyelewengkan ayat-ayat Taurat. Begitu pula kaum Rafidhah menyelewengkan ayat-ayat al-Qur’an. Yahudi memandang tidak dituntunkan mengusap khuf. Begitu pula Rafidhah memandang hal itu tidak diajarkan. Orang Yahudi membenci Jibril, mereka mengatakan, “Jibril adalah musuh kami dari kalangan malaikat.” Begitu pula  Rafidhah, mereka mengatakan, “Jibril salah menyampaikan wahyu kepada Muhammad.” (lihat Min ‘Aqa’id asy-Syi’ah, hal. 23-24)

Ciri Orang Zindiq

[256] Imam Abu Zur’ah ar-Razi rahimahullah mengatakan, “Apabila kamu melihat ada seseorang yang menjelek-jelekkan salah seorang Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ketahuilah bahwa dia adalah seorang zindik. Hal itu dikarenakan menurut kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membawa kebenaran. Demikian pula, al-Qur’an yang beliau sampaikan adalah benar. Dan sesungguhnya yang menyampaikan kepada kita al-Qur’an dan Sunnah-Sunnah ini adalah para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sesungguhnya mereka -para pencela Sahabat- hanyalah bermaksud untuk menjatuhkan kedudukan para saksi kita demi membatalkan al-Kitab dan as-Sunnah. Maka mereka itu lebih pantas untuk dicela, mereka itu adalah orang-orang zindik.” (lihat Qathful Jana ad-Daani Syarh Muqaddimah Ibnu Abi Zaid al-Qairuwani, hal. 161)

Istighfar Dengan Hati

[257] Yahya bin Mu’adz ar-Razi rahimahullah berkata, “Betapa banyak orang yang beristighfar namun dimurkai. Dan betapa banyak orang yang diam namun dirahmati.” Kemudian beliau menjelaskan, “Orang ini beristighfar, akan tetapi hatinya diliputi kefajiran/dosa. Adapun orang itu diam, namun hatinya senantiasa berzikir.” (lihat al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, hal. 69)

Jalan Kebenaran dan Jalan Kebatilan

[258] Sebagian ulama salaf berkata, “Hendaklah kamu mengikuti jalan kebenaran, dan janganlah merasa sedih karena sedikitnya orang yang berjalan di atasnya. Jauhilah jalan kebatilan, dan janganlah kamu merasa gentar karena banyaknya orang yang binasa.” (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 21)

Kebaikan Dunia dan Akhirat

[259] al-Hasan rahimahullah menafsirkan makna firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), “Wahai Rabb kami berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat.” Beliau mengatakan, “Kebaikan di dunia adalah ilmu dan ibadah. Adapun kebaikan di akhirat adalah surga.” (lihat Akhlaq al-’Ulama, hal. 40)

Pengaruh Sabar dan Syukur

[260] Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Sesungguhnya sabar dan syukur menjadi sebab seorang hamba untuk bisa memetik pelajaran dari ayat-ayat yang disampaikan. Hal itu dikarenakan sabar dan syukur merupakan pondasi keimanan. Separuh iman itu adalah sabar, separuhnya lagi adalah syukur. Kekuatan iman seorang hamba sangat bergantung pada sabar dan syukur yang tertanam di dalam dirinya. Sementara, ayat-ayat Allah hanya akan bermanfaat bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan meyakini ayat-ayat-Nya. Imannya itu pun tidak akan sempurna tanpa sabar dan syukur. Pokok syukur itu adalah tauhid. Adapun pokok kesabaran adalah meninggalkan bujukan hawa nafsu. Apabila seseorang mempersekutukan Allah dan lebih memperturutkan hawa nafsunya, itu artinya dia belum menjadi hamba yang penyabar dan pandai bersyukur. Oleh sebab itulah ayat-ayat yang ada menjadi tidak bermanfaat baginya dan tidak akan menumbuhkan keimanan pada dirinya sama sekali.” (lihat adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [1/145])

Pemaknaan Istilah Niat

[261] Syaikh Abdullah al-Bassam rahimahullah mengatakan, “Dalam konteks syari’at, niat memiliki dua sisi pembahasan. Salah satunya adalah niat dalam artian ikhlas dalam beramal untuk Allah semata. Ini adalah makna niat yang paling tinggi. Niat dalam makna ini dibicarakan oleh para ulama tauhid, akhlak dan perilaku. Adapun yang kedua, adalah niat yang berfungsi untuk membedakan antara suatu ibadah dengan ibadah yang lain. Niat dalam makna ini dibicarakan oleh para fuqoha/ahli fikih.” (lihat Taisir al-’Allam Syarh ‘Umdat al-Ahkam [1/10])

Hukum Mengeraskan Niat

[262] Syaikh Masyhur Hasan Salman hafizhahullah berkata, “Mengeraskan niat bukan sesuatu yang wajib, juga bukan sesuatu yang dianjurkan dengan kesepakatan ulama kaum muslimin. Bahkan, orang yang mengeraskan niat adalah orang yang melakukan kebid’ahan dan menyelisihi syari’at. Apabila dia melakukan hal itu dengan keyakinan bahwa hal itu termasuk bagian dari syari’at, maka dia adalah orang yang tidak paham (jahil) dan berhak diberi pelajaran.” (lihat al-Muhkam al-Matin fi Ikhtishar al-Qaul al-Mubin, hal. 48)

Sumber Kesyirikan

[263] Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “Sumber munculnya kesyirikan kepada Allah adalah kesyirikan dalam hal cinta. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah ta’ala (yang artinya), “Sebagian manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai sekutu. Mereka mencintainya sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah. Adapun orang-orang yang beriman lebih dalam cintanya kepada Allah.” (QS. al-Baqarah: 165)” (lihat ad-Daa’ wa ad-Dawaa’, hal. 212)

Cita-Cita Terburuk

[264] Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya sejelek-jelek cita-cita adalah jika kamu ingin mencari dunia dengan amalan akhirat.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 36)

Ketakwaan dan Taubat

[265] Abu Dzar radhiyallahu’anhu berkata, “Tidakkah engkau melihat umat manusia, betapa banyaknya mereka? Tidak ada yang baik diantara mereka kecuali orang yang bertakwa atau orang yang bertaubat.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 225)

Pendusta

[266] Hatim al-Asham rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang mendakwakan dirinya mencintai surga tanpa berinfak dengan hartanya maka dia adalah pendusta.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 240)

Dua Kunci Kebaikan

[267] Yunus bin ‘Ubaid rahimahullah berkata, “Dua perkara jika hal itu baik pada diri seorang hamba maka baiklah urusannya yang lain, yaitu sholat dan lisannya.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 274)

Menghindari Ujub

[268] Bisyr bin al-Harits rahimahullah berkata, “Jika berbicara membuatmu merasa ujub maka diamlah. Dan jika diam membuatmu merasa ujub maka berbicaralah.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 275)

Kesempurnaan Iman

[269] Abu Sulaiman ad-Darani rahimahullah berkata, “Apabila seorang hamba telah merasa malu kepada Rabbnya ‘azza wa jalla maka sungguh dia telah menyempurnakan imannya.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 291)

Antara Rasa Takut dan Harapan

[270] ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu’anhu berkata, “Seandainya ada yang berseru dari langit: ‘Wahai umat manusia masuklah kalian semuanya ke dalam surga kecuali satu orang’ aku takut orang itu adalah aku. Dan seandainya ada yang berseru dari langit: ‘Wahai umat manusia, masuklah masuklah kalian semuanya ke dalam neraka’, maka aku berharap orang itu adalah aku.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 301)

Kepemimpinan dan Ilmu

[271] Imam Yahya bin Ma’in rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang terburu-buru memangku jabatan sebagai pemimpin niscaya akan luput darinya banyak ilmu.” (lihat Syarh Shahih al-Bukhari li Ibni Baththal [1/159])

Pintu Kebaikan dan Keburukan

[272] al-Hasan bin Shalih rahimahullah berkata, “Sesungguhnya setan benar-benar akan membukakan sembilan puluh sembilan pintu kebaikan dalam rangka menyeret seorang hamba menuju sebuah pintu keburukan.” (lihat al-Muntaqa an-Nafis min Talbis Iblis, hal. 63)

Bahaya Ilmu Kalam

[273] Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Sungguh apabila seorang mendapatkan musibah maksiat yaitu bergelimang dengan segala bentuk larangan Allah selain syirik maka hal itu jauh lebih baik baginya daripada mempelajari ilmu kalam/filsafat.” (lihat al-Muntaqa an-Nafis min Talbis Iblis, hal. 79)

Penyesalan dan Kejujuran

[274] Abul Ma’ali al-Juwaini rahimahullah berkata, “Wahai teman-teman kami! Janganlah kalian menyibukkan diri dengan ilmu kalam. Seandainya dahulu aku mengetahui ilmu kalam akan mengantarkan aku kepada apa yang telah aku alami niscaya aku tidak akan menyibukkan diri dengannya.” (lihat al-Muntaqa an-Nafis min Talbis Iblis, hal. 84)

Berubah Fungsi

[275] Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “al-Qur’an itu diturunkan untuk diamalkan, akan tetapi orang-orang justru membatasi amalan hanya dengan membacanya.” (lihat al-Muntaqa an-Nafis min Talbis Iblis, hal. 116)

Orang Yang Faqih

[276] Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya orang yang benar-benar faqih/paham agama adalah yang senantiasa merasa takut kepada Allah ‘azza wa jalla.” (lihat al-Muntaqa an-Nafis min Talbis Iblis, hal. 136)

Keutamaan Seorang Ahli Ilmu

[277] Abu Ja’far al-Baqir Muhammad bin ‘Ali bin al-Husain rahimahullah berkata, “Seorang alim [ahli ilmu] yang memberikan manfaat dengan ilmunya itu lebih utama daripada tujuh puluh ribu orang ahli ibadah.” (lihat Jami’ Bayan al-’Ilmi wa Fadhlihi, hal. 131)

[278] Ja’far ash-Shadiq rahimahullah berkata, “Meriwayatkan hadits dan menyebarkannya di tengah-tengah umat manusia itu jauh lebih utama daripada ibadah yang dilakukan oleh seribu ahli ibadah.” (lihat Jami’ Bayan al-’Ilmi wa Fadhlihi, hal. 131)

Beramal Tanpa Ilmu

[279] Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullah berkata, “Barangsiapa melakukan suatu amal tanpa landasan ilmu maka apa-apa yang dia rusak itu justru lebih banyak daripada apa-apa yang dia perbaiki.” (lihat Jami’ Bayan al-’Ilmi wa Fadhlihi, hal. 131)

Menyikapi Kritik Terhadap Sebagian Ulama

[280] Imam Ahmad  rahimahullah berkata, “Setiap orang yang telah terbukti kuat keadilan/kredibilitasnya maka tidak boleh diterima tajrih/celaan kepada dirinya dari siapa pun hingga hal itu dijelaskan [sebab-sebabnya] sampai pada suatu keadaan yang tidak ada kemungkinan lain kecuali memang harus menjatuhkan jarh/celaan kepadanya.” (lihat Dhawabith al-Jarh wa at-Ta’dil ‘inda al-Hafizh adz-Dzahabi II/634)

Keutamaan Ilmu Hadits

[281] Mak-hul asy-Syami rahimahullah berkata, “al-Qur’an lebih membutuhkan kepada as-Sunnah, daripada kebutuhan as-Sunnah terhadap al-Qur’an.” (lihat Nasha’ih Manhajiyah li Thalib ‘Ilmi as-Sunnah an-Nabawiyah, hal. 15)

[282] asy-Syarif Hatim bin ‘Arif al-’Auni hafizhahullah mengatakan, “Oleh sebab itu benarlah jika dikatakan bahwa orang yang sedang mempelajari as-Sunnah (hadits) sebagai orang yang sedang mempelajari al-Qur’an. Dan tidaklah salah jika dikatakan kepada orang yang membaca as-Sunnah, bahwa dia sedang membaca tafsir al-Qur’an!!” (lihat Nasha’ih Manhajiyah li Thalib ‘Ilmi as-Sunnah an-Nabawiyah, hal. 15)

Makna Syahadat Risalah

[283] Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Makna syahadat bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah yaitu mentaati segala perintahnya, membenarkan berita yang disampaikannya, menjauhi segala yang dilarang dan dicegah olehnya, dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan syari’atnya.” (lihat Hushul al-Ma’mul bi Syarh Tsalatsat al-Ushul, hal. 116)

Pentingnya Sanad

[284] Imam Muslim meriwayatkan dari Muhammad bin Sirin rahimahullah, beliau berkata, “Dahulu mereka tidak menanyakan masalah sanad. Akan tetapi tatkala mulai terjadi fitnah, maka mereka pun berkata: ‘Sebutkan kepada kami periwayat-periwayat kalian’. Maka dilihatlah kepada Ahlu Sunnah untuk diambil haditsnya, dan dilihat kepada Ahli Bid’ah dan ditinggalkan haditsnya.” (lihat Fiqh al-Fitan, hal. 72-73)

Sumber Kebaikan

[285] Abu Sulaiman ad-Darani rahimahullah berkata, “Pokok segala kebaikan di dunia dan di akhirat adalah rasa takut kepada Allah ta’ala.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 305)

Ilmu dan Rasa Takut

[286] Ibnu Mubarak rahimahullah berkata, “Semestinya orang yang paling banyak ilmunya diantara kalian adalah orang yang paling besar rasa takutnya.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 312)

Doa Sa’id bin Jubair

[287] Sa’id bin Jubair rahimahullah berdoa, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu tawakal yang tulus dan untuk selalu bersangka baik kepada-Mu.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 316)

Nasib Pemuja Dunia

[288] Abu Sulaiman ad-Darani rahimahullah berkata, “Dunia akan mencari orang yang berusaha lari meninggalkannya. Apabila dunia berhasil meraihnya niscaya ia akan melukainya. Dan seandainya pencari dunia berhasil meraihnya [dunia] niscaya dunia akan membinasakan dirinya.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 338)

Pengaruh Cinta Dunia

[289] Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Sungguh aku bisa mengetahui kecintaan seorang terhadap dunia dari caranya mengucapkan salam kepada orang yang memiliki [perkara] dunia [yang dia cari].” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 338)

Sumber Kehinaan

[290] Bisyr bin al-Harits rahimahullah berkata, “Katakanlah kepada orang yang suka mengejar-ngejar dunia: Bersiaplah kamu untuk merasakan kehinaan.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 339)

Manis dan Pahit

[291] Thawus rahimahullah berkata, “Sesuatu yang terasa manis di dunia [maksiat] kelak akan terasa pahit di akhirat, sedangkan sesuatu yang terasa pahit di dunia [sabar] kelak akan terasa manis di akhirat.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 341)

Ujian dan Tipu Daya

[292] Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Tidaklah dunia dilapangkan untuk seseorang kecuali akan memperpedaya, dan tidaklah ia dilipat [disempitkan] dari seseorang melainkan sebagai cobaan.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 341)

Ajal Dunia

[293] Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya dunia ini memiliki ajal sebagaimana anak Adam memiliki ajal. Jika telah datang ajalnya maka matilah dunia.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 341)

Kesulitan dan Kesenangan

[294] Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu’anhu berkata, “Kami diuji dengan kesulitan maka kami pun bisa bersabar, akan tetapi tatkala kami diuji dengan kesenangan maka kami tidak bisa bersabar.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 342)

Ilmu dan Kekuasaan

[295] Sufyan berkata: al-Ahnaf mengatakan: ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu’anhu berkata kepada kami, “Perdalamlah ilmu sebelum kalian dijadikan sebagai pemimpin.” Sufyan mengatakan, “Sebab seorang jika sudah mendalami ilmu niscaya tidak akan mencari jabatan kepemimpinan.” (lihat Aina Nahnu min Akhlaq as-Salaf, hal. 37)

Orang Yang Cerdas

[296] ‘Amr bin al-’Ash radhiyallahu’anhu berkata, “Bukanlah orang yang pandai yang bisa membedakan yang baik dengan yang buruk. Akan tetapi orang yang benar-benar pandai adalah yang bisa membedakan mana yang lebih baik diantara dua keburukan.” (lihat Aina Nahnu min Akhlaq as-Salaf, hal. 41)

Sosok Yang Kuat

[297] Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Janganlah salah seorang dari kalian taklid/membebek kepada siapa pun dalam hal agamanya; jika orang itu beriman maka dia pun beriman, dan jika orang itu kafir maka dia pun ikut kafir. Jika kalian harus mengikuti maka teladanilah orang-orang [salih] yang sudah meninggal. Sebab orang yang masih hidup tidak aman dari goncangan fitnah.” (lihat Aina Nahnu min Akhlaq as-Salaf, hal. 49)

Sedih dan Gembira

[298] Diriwayatkan bahwa Hatim al-Asham rahimahullah berkata, “Aku senang jika orang yang berdebat denganku benar dan aku merasa sedih jika dia salah.” (lihat Aina Nahnu min Akhlaq as-Salaf, hal. 51)

Antara Abu Bakar dan Ahmad bin Hanbal

[299] ‘Ali ibnul Madini rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Allah memperkuat agama ini dengan Abu Bakar ash-Shiddiq pada hari-hari riddah -kemurtadan orang-orang arab sepeninggal Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, pent- dan dengan Ahmad bin Hanbal pada har-hari mihnah -cobaan bagi umat berupa pemaksaan aqidah al-Qur’an makhluk, pent-.” (lihat Thabaqat ‘Ulama al-Hadits [2/83])

Keutamaan Mengikuti Atsar

[300] Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Jika kamu sanggup untuk tidak menggaruk kepala kecuali dengan dasar dari atsar/riwayat maka lakukanlah.” (lihat Manaqib al-Imam al-A’zham Abi ‘Abdillah Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri, hal. 29)

Kemuliaan Ilmu

[301] Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya ilmu lebih diutamakan daripada perkara yang lain karena dengannya -manusia- bisa bertakwa.” (lihat Manaqib al-Imam al-A’zham Abi ‘Abdillah Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri, hal. 30)

Penjaga Langit dan Penjaga Bumi

[302] Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Para malaikat adalah para penjaga langit sedangkan ashabul hadits adalah para penjaga bumi.” (lihat Manaqib al-Imam al-A’zham Abi ‘Abdillah Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri, hal. 31)

Kemanfaatan Hadits

[303] Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi umat manusia daripada hadits.” (lihat Manaqib al-Imam al-A’zham Abi ‘Abdillah Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri, hal. 32)

Fitnah Akibat Hadits

[304] Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Fitnah yang timbul oleh hadits lebih dahsyat daripada fitnah yang ditimbulkan dari emas dan perak.” (lihat Manaqib al-Imam al-A’zham Abi ‘Abdillah Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri, hal. 33)

Menilai Diri Sendiri

[305] Abdullah ibnu Mubarak rahimahullah berkata, “Jika seorang telah mengenali kadar dirinya sendiri [hawa nafsu] niscaya dia akan memandang dirinya jauh lebih hina daripada seekor anjing.” (lihat Min A’lam as-Salaf [2/29])

Ilmu dan Dunia

[306] Ibnu Mubarak rahimahullah berkata, “Kami mencari ilmu untuk dunia maka ilmu justru menunjukkan kepada kami untuk meninggalkan dunia.” (lihat Min A’lam as-Salaf [2/30])

Membenci Pembela Bid’ah

[307] Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang mencintai pembela bid’ah maka Allah akan menghapuskan amalnya dan Allah akan mencabut cahaya Islam dari dalam hatinya.” (lihat Min A’lam as-Salaf [2/47])

Membantu Pembela Bid’ah

[308] Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang mendukung pembela bid’ah sesungguhnya dia telah membantu untuk menghancurkan agama Islam.” (lihat Min A’lam as-Salaf [2/47])

Rendah Hati Terhadap Kebenaran

[309] Waki’ bin al-Jarrah rahimahullah berkata, “Seorang [periwayat] tidak akan sempurna kecuali apabila dia mencatat dari orang yang di atasnya, orang yang sejajar dengan dirinya, dan orang yang berada di bawah kedudukannya.” (lihat Min A’lam as-Salaf [2/66])

Merealisasikan Zuhud

[310] Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah pernah ditanya tentang makna zuhud di dunia, beliau menjawab, “Jika dia mendapatkan nikmat maka bersyukur dan jika dia mendapatkan cobaan musibah maka dia pun bersabar. Itulah zuhud.” (lihat Min A’lam as-Salaf [2/78])

Hakikat Orang Berilmu

[311] Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Bukanlah seorang alim [ahli ilmu] orang yang mengetahui kebaikan dan keburukan akan tetapi sesungguhnya orang yang alim adalah yang mengetahui kebaikan lalu mengikutinya dan mengetahui keburukan lalu berusaha menjauhinya.” (lihat Min A’lam as-Salaf [2/81])

Mengagungkan Sholat

[312] Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Termasuk bentuk pengagungan sholat yaitu hendaknya kamu datang sebelum iqomah.” (lihat Min A’lam as-Salaf [2/82])

Fitnah Dari Hadits

[313] Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah berkata, “Fitnah yang timbul dari hadits lebih dahsyat daripada fitnah karena harta dan anak-anak.” (lihat Min A’lam as-Salaf [2/97])

Sesuatu Yang Paling Berat

[314] Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang membiasakan dirinya untuk beramal ikhlas karena Allah niscaya tidak ada sesuatu yang lebih berat baginya daripada beramal untuk selain-Nya. Dan barangsiapa yang membiasakan dirinya untuk memuaskan hawa nafsu dan ambisinya maka tidak ada sesuatu yang lebih berat baginya daripada ikhlas dan beramal untuk Allah.” (lihat Ma’alim Fi Thariq al-Ishlah, hal. 7)

Berdakwah Dengan Ilmu

[315] Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Ilmu -dalam dakwah, pent- adalah sebuah kewajiban. Jangan sampai anda berdakwah di atas kebodohan. Jangan sampai anda berbicara dalam hal-hal yang anda tidak ketahui ilmunya. Orang yang bodoh akan menghancurkan, bukan membangun. Dia akan merusak, dan bukannya memperbaiki. Maka bertakwalah kepada Allah, wahai hamba Allah! Waspadalah anda dari berbicara tentang [agama] Allah tanpa ilmu. Jangan anda mendakwahkan sesuatu kecuali setelah mengetahui ilmu tentangnya…” (lihat Ma’alim Fi Thariq al-Ishlah, hal. 9)

Majelis Yang Buruk

[316] Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah mengisahkan: Dahulu aku mengajar suatu majelis setiap hari jum’at. Apabila orang yang datang banyak aku pun senang, dan apabila yang datang sedikit aku pun sedih. Aku menanyakan hal ini kepada Bisyr bin Manshur, dia menjawab, “Ini adalah majelis yang buruk, jangan kamu kembali kepadanya!” Setelah itu aku pun tidak lagi kembali ke majelis itu (lihat Ma’alim Fi Thariq al-Ishlah, hal. 12)

Majelis Atho’ bin Abi Robah

[317] Imam adz-Dzahabi menceritakan dari salah seorang yang hidup sezaman dengan Imam Atho’ bin Abi Robah rahimahullah. Orang itu mengatakan, “Aku telah melihat Atho’ -sedangkan dia adalah penduduk bumi yang paling diridhai manusia ketika itu- sementara tidak ada orang yang duduk hadir [belajar] dalam majelisnya kecuali sembilan atau delapan orang saja.” (lihat Ma’alim Fi Thariq al-Ishlah, hal. 12)

Cita-Cita Tinggi

[318] Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tingginya cita-cita seseorang adalah tanda kebahagiaannya, sedangkan rendahnya cita-cita seseorang adalah tanda bahwa dia tidak akan menggapai kebahagiaan itu.” (lihat Ma’alim Fi Thariq al-Ishlah, hal. 13)

Ciri Ahli Bid’ah dan Pemecah Belah Umat

[319] Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang menjadikan seseorang selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dia jadikan satu-satunya pedoman; sehingga barangsiapa yang mencintainya maka itulah Ahlus Sunnah wal Jama’ah -menurutnya- dan barangsiapa yang menyelisihinya adalah ahli bid’ah dan pemecah belah -sebagaimana hal itu bisa ditemui pada para pengikuti imam ahlul kalam dalam urusan agama ini ataupun selainnya- maka sesungguhnya dia adalah seorang ahli bid’ah, penyebar kesesatan dan pemecah belah.” (lihat Ma’alim Fi Thariq al-Ishlah, hal. 19)

Tanda Ketundukan Hati

[320] Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Salah satu tanda ikhbat/ketundukan hati dan keikhlasan diri seseorang adalah tidak bergembira dengan pujian manusia dan tidak merasa sedih semata-mata dengan celaan mereka.” (lihat Ma’alim Fi Thariq al-Ishlah, hal. 29)

Empat Samudera

[321] Sebagian orang bijak berkata, “Empat samudera untuk empat perkara. Kematian adalah samudera –untuk menenggelamkan- kehidupan. Nafsu adalah samudera untuk syahwat. Kubur adalah samudera penyesalan. Dan pemaafan dari Allah adalah samudera bagi kesalahan-kesalahan.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 124)

Hari Kemiskinan

[322] Abud Darda’ radhiyallahu’anhu berkata, “Maukah aku kabarkan tentang hari kefakiranku? Yaitu hari ketika aku turun ke kuburku.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 125)

Nasehat Umat Terdahulu

[323] Sebagian orang salih berkata, “Cukuplah bagimu kubur untuk mengerti nasehat-nasehat umat terdahulu yang telah berlalu.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 125)

Manfaat Mengingat Kubur

[324] Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Baranngsiapa memperbanyak mengingat tentang alam kubur niscaya dia akan mendapati kuburnya menjadi salah satu taman surga. Dan barangsiapa yang lali dari mengingatnya niscaya dia akan mendapati kuburnya sebagai salah satu lubang menuju neraka.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 127)

Kemunafikan

[325] Diriwayatkan bahwa Hasan al-Bashri rahimahullah melihat ada seseorang yang makan di pekuburan. Maka beliau pun berkata, “Ini adalah orang munafik. Kematian ada di hadapannya sementara dia justru menikmati makanan.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 131)

Kembali Kepada-Nya

[326] Suatu ketika Abu Hazim rahimahullah ditanya, “Bagaimanakah keadaan orang yang menghadap kepada Allah?” Beliau menjawab, “Adapun orang yang taat maka keadaannya seperti kedatangan seorang yang telah pergi lama kepada sanak keluarganya yang sangat rindu kepadanya. Adapun orang yang maksiat, maka kedatangannya seperti halnya kedatangan seorang budak yang durhaka meninggalkan majikannya dalam keadaan sangat marah.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 139)

Mengapa Tertawa-tawa

[327] Dikisahkan dari al-Hasan, bahwa beliau berkata: Ada seorang lelaki berkata kepada saudaranya, “Wahai saudaraku, pernahkah dating kepadamu ayat yang mengatakan bahwa kalian [manusia] pasti akan menghampiri neraka?” Maka dia menjawab, “Iya.” Lalu orang itu bertanya, “Lalu apakah pernah datang kepadamu berita bahwasanya kamu pasti bebas dari siksanya?” Maka dia menjawab, “Tidak ada.” Lalu orang itu mengatakan, “Lantas untuk apa engkau tertawa-tawa?” Akhirnya lelaki itu tidak pernah terlihat tertawa-tawa hingga kematiannya (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 140-141)

Saat Yang Dinantikan

[328] Abu Hazim rahimahullah berkata, “Wahai anak Adam, setelah kematian barulah akan datang kepadamu kabar itu [mengenai nasibmu].” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 142)

Angan-Angan Yang Tidak Akan Terwujud

[329] Sebagian orang bijak memberikan nasehat, “Wahai saudaraku, waspadalah engkau dari kematian di dunia ini, sebelum engkau menemui suatu negeri [akhirat] yang engkau mengangankan kematian di sana dan engkau tidak akan bisa menemukannya.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 145)

Menjalarnya Dosa

[330] Sebagian orang salih berkata, “Meresapnya dosa ke dalam hati seperti jatuhnya minyak di atas pakaian. Jika kamu tidak segera mencucinya dia akan merembet kemana-mana.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 152)

About admin

Jika kata tak lagi bermakna lebih baik diam. (Masih) belajar Islam yang lurus dan benar. Cuma numpang sebentar di dunia. Silahkan duduk mari bicara. Lihat semua pos milik admin

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 133 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: