Bagaimana Para Ulama Menjaga Hadits

Allah telah berjanji untuk menjaga Adz Dzikra dalam firman-Nya :

إنا نحن نزلنا الذكر وإنا له لحافظون

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Adz Dzikra dan kamilah yang akan menjaganya”. (QS Al Hijir : 9).

Dan masuk ke dalam makna Adz Dzikra adalah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena Allah Ta’ala berfirman dalam ayat lain :

وأنزلنا إليك الذكر لتبين للناس ما نزل إليهم ولعلهم يتفكرون

“Dan Kami telah menurunkan Adz Dzikra agar engkau menjelaskan kepada mereka apa yang diturunkan kepada mereka dan agar mereka berfikir”. (QS An Nahl : 44).

Lanjutkan membaca


Tingkatan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Mengingkari Kemungkaran dengan Tangan

Mengingkari kemungkaran dengan tangan adalah tingkat pengingkaran yang paling tinggi, seperti menumpahkan miras, menghancurkan patung yang disembah, melarang orang dari berbuat jahat, dan lain-lain.

Pengingkaran dengan tangan dilakukan oleh pihak yang mempunyai kewenangan terhadap pelaku kemungkaran, seperti pemerintah atau yang mewakilinya, seperti satgas amar ma’ruf nahi mungkar (yang ditunjuk langsung). Semua sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Begitu pun seorang muslim terhadap keluarga dan anak-anaknya. Ia menyuruh mereka menjalankan perintah Allah Ta’ala dan mencegahnya dari hal-hal yang diharamkan-Nya dengan tangan apabila tidak mempan dengan ucapan, sesuai dengan kelapangan dan kemampuan.

Di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala menyebutkan pengingkaran terhadap kemungkaran yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Allah Ta’ala berfirman, “Dan demi Allah, sungguh, aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu setelah kamu pergi meninggalkannya. Maka dia (Ibrahim) menghancurkan (semua berhala itu) berkeping-keping, kecuali yang terbesar (induknya), agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.” (al-Anbiya: 57—58)

Lanjutkan membaca


Dengan Apa Jiwa Menjadi Suci

As-Sa’di Rahimahullah mengatakan, “Tazkiyah (penyucian) memiliki dua makna: pembersihan dari kotoran dan membekalinya dengan kebaikan.” (Tafsir as-Sa’di, surat Thaha: 76)

Ibnu Taimiyyah Rahimahullah mengatakan, “Jiwa akan suci dengan meninggalkan hal yang diharamkan dan melaksanakan yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (az-Zuhd wal Wara’)

“Demi jiwa dan penyempurnaannya (ciptaannya) maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya.” (asy-Syams: 7—10)

Ibnu Taimiyah Rahimahullah menjelaskan ayat berikut, “Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya.” (an-Nur: 21)

Lanjutkan membaca


Mereka Membela Syiah

Islam adalah agama yang berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman para salaf, yaitu para ulama yang seyogianya dikategorikan ulama, seperti para sahabat Nabi dan al-Khulafa ar-Rasyidin. Sebab, mereka adalah penyambung lidah Islam yang mewarisi langsung ilmu-ilmu Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam. Mereka memperjuangkan penegakan akidah Islam dan menuntun generasi selanjutnya untuk berjalan di atas metodenya (manhaj).

Islam tegak di atas akidah mereka yang mempertahankan al-Qur’an dan hadits, agar tidak hilang dan sirna dari umatnya. Itulah perjuangan mereka sebagai ulama, selalu menjadi garda terdepan pembelaan terhadap Islam.

Sungguh aneh kalau predikat ulama ini disematkan kepada mereka yang menyamakan Syiah dengan Sunni, atau menganggap Syiah bagian dari mazhab Islam. Artinya, perlu dipertanyakan status mereka sebagai “ulama”, apakah predikat yang disandangkan oleh umat kepada mereka itu sesuai dengan konsep pemikirannya yang tidak mengacu kepada ilmu ataukah tidak. Sebab, memang jelas bahwa pemikiran mereka bertolak belakang dengan Islam.

Lantas, siapakah yang disebut ulama yang menyejajarkan Syiah dengan Islam, sehingga tidak menyebut Syiah sesat? Ternyata mereka terbilang  pentolan bangsa ini, dianggap sebagai tokoh umat dan tokoh masyarakat yang menaruh simpati kepada Syiah, hingga akhirnya mereka termasuk dalam mata rantai kesesatan Syiah. Inilah kata mereka tentang Syiah.

Lanjutkan membaca


Tidaklah Menganggap Kecil Bahaya “Ihya’ut Turats al-Islami” kecuali seorang Turatsi juga

Jum’iyyah Ihya’ut Turats al-Islamy adalah jum’iyyah hizbiyyah, memadukan dua manhaj yang jelek, yaitu manhaj Ikhwanul Muslimin di satu sisi, dan manhaj Khawarij di sisi lain. Jum’iyyah ini adalah campuran dari dua manhaj yang menyimpang.

Hal ini sangat jelas tampak baik barangsiapa yang mengikuti dan meneliti manhaj jum’iyyah ini.

‘Ulama Salaf, seperti asy-Syaikh Nashiruddin al-Albani, asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahumallah, asy-Syaikh Rabi’ al-Madkhali, asy-Syaikh ‘Ubaid al-Jabiri hafizhahumallah serta para ‘ulama lainnya telah menjelaskan akan bahaya jum’iyyah ini dan mentahdzirnya. Karena memang itu adalah jum’iyyah hizbiyyah, yang mengharuskan baiat kepada pimpinan jum’iyyah, mengharuskan mendengar dan taat terhadapnya, dan meletakkan prinsip al-Wala’ (loyalitas) demi pimpinan jum’iyyah, meskipun dia seorang rafidhah, serta meletakkan prinsip al-Barra (anti loyalitas) terhadap siapapun yang membenci mereka, meskipun seorang salafy. Mereka juga membolehkan demonstrasi, mengingkari pemerintah secara terang-terangan, dan banyak lagi dari berbagai permasalahan yang dikenal dari mereka menyelisihi al-Kitab dan as-Sunnah serta prinsip salafush shalih. Permasalahan Jum’iyyah ini serta tahdzir para ‘ulama terhadapnya  dan terhadap pemikiran-pemikirannya, bukanlah perkara yang asing lagi bagi seorang pun. Walhamdulillah. Kecuali apa yang Allah kehendaki.

Lanjutkan membaca


Gerakan Menyusup Kaum Pendusta

Berdusta (taqiyah) merupakan keyakinan yang dibenarkan dalam agama Syiah. Keyakinan ini ditanamkan sedemikian rupa kepada para penganut Syiah hingga mereka mengamalkan akidah taqiyah ini. Bagi mereka, taqiyah bukan sebuah dosa. Ia justru dinilai sebagai ibadah. Terlebih dalam situasi yang tepat untuk bertaqiyah.

Sebagai penyeru agama syiah, Jalaluddin Rakhmat, dalam “Ideologi Syi’ah Melacak Latar Belakang Revolusi Islam Di Iran” membenarkan akidah taqiyah ini. Katanya, “Keyakinan ini menyebabkan sepanjang sejarah, kaum Syi’ah menentang setiap kekuatan politik yang tidak sepenuhnya melaksanakan syariat Islam. Sesuai dengan kondisi, penentangan ini boleh bersifat pasif (taqiyah) atau aktif (dengan revolusi seperti yang telah terjadi).”

Pernyataan Jalaluddin Rakhmat ini terkait sikapnya memperjuangkan kekuasaan yang sesuai garis imamah kaum Syiah. Jalaluddin Rakhmat termasuk pengagum revolusi kaum Syiah di Iran yang berhasil menggulingkan kekuasaan Syah Iran, Reza Pahlevi. (Islam Alternatif Ceramah-Ceramah Di Kampus, hlm. 245)

Lanjutkan membaca


Pendekatan Sunni Syiah di Indonesia

Salah satu bentuk gencarnya Syiah mengampanyekan pahamnya sekaligus usaha mereka melegalisasi keyakinannya adalah melalui seruan Taqrib Baina Sunni wa Syi’i (Pendekatan Antara Sunni dan Syi’ah). Sebenarnya gagasan ini adalah misi lama dari Khomeini, dan setelah dua puluh tahun meninggalnya, pendekatan antara Sunni-Syiah terus berjalan.
Lanjutkan membaca