Islam, Agama yang Sempurna

Disusun oleh Syekh Muhammad Al-Amin bin Muhammad Al-Mukhtar Asy-Syinqithi (1305 H–1393 H)

Alih bahasa dan foot note oleh: Ustadz Muslim Atsari

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Salawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau, sahabat-sahabat beliau, dan orang-orang yang mendakwahkan ajaran beliau, sampai hari pembalasan.

Amma ba’du ….

Ini adalah ceramah yang aku sampaikan di Masjid Nabawi, atas permintaan Raja Maghrib (Maroko). Sebagian saudara-saudaraku meminta kepadaku agar ceramah ini dibukukan dan disebarkan, maka aku menyambut permintaannya, dengan harapan semoga Allah memberikan manfaat dengannya.

Allah berfirman,

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu dan telah Kucukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu.” (Q.s. Al-Maidah [5]:3)

 Yang dimaksudkan “pada hari ini” adalah hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah tahun 10 hijriyyah, pent.), yaitu hari Jumat pada haji wada’. Ayat yang mulia ini turun [1] ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang wukuf (berhenti) di Padang Arafah, pada waktu sore di hari itu. Beliau hidup selama 81 hari setelah turun ayat tersebut.

Di dalam ayat ini, Allah telah menjelaskan bahwa Dia telah menyempurnakan agama kita untuk kita. Dengan demikian, agama ini tidak akan kurang, selama-lamanya; tidak butuh tambahan, selama-lamanya. Oleh karena itulah, Allah menutup (pengutusan, ed.) seluruh nabi dengan Nabi kita–semoga salawat dan salam dilimpahkan kepada mereka semua–.

Di dalam ayat ini juga, Allah telah menjelaskan bahwa Dia telah meridhai Islam menjadi agama kita, sehingga Dia tidak akan memurkai agama ini, selama-lamanya. Oleh karena itulah, Allah menjelaskan bahwa Dia  tidak akan menerima selain agama Islam, dari siapa pun juga. Dia berfirman,

“Barang siapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali (agama itu) tidaklah akan diterima, dan di akhirat kelak dia termasuk orang yang rugi.” (Q.s. Ali Imran [3]:85)

 Allah ta’ala juga berfirman,

“Sesungguhnya, agama di sisi Allah hanyalah Islam.”. (Q.s. Ali Imran [3]:19)

 Penyempurnaan agama ini dan penjelasan seluruh hukumnya merupakan bentuk seluruh kenikmatan di dunia dan akhirat. Oleh karena itulah, Allah ta’ala berfirman,

“… Dan telah Kucukupkan nikmat-Ku kepadamu.” (Q.s. Al-Maidah [5]:3)

 Ayat yang mulia ini merupakan nash (teks) yang nyata bahwa agama Islam telah menerangkan dan menjelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia di dunia dan di akhirat.

Untuk itu, kami akan menyampaikan contoh dengan penjelasan 10 masalah besar yang merupakan topik pembicaraan dunia. Termasuk juga masalah-masalah di dunia dan akhirat, yang menjadi perhatian orang yang pandai. Juga terdapat sebagian (masalah), sebagai peringatan halus terhadap keseluruhannya. Sepuluh masalah ini adalah:

  1. Tauhid.
  2. Nasihat.
  3. Perbedaan antara amal saleh dengan hal lainnya.
  4. Menggunakan hukum selain syariat Islam yang mulia.
  5. Keadaan sosial antara masyarakat.
  6. Ekonomi.
  7. Politik.
  8. Masalah kekuasaan orang-orang kafir terhadap umat Islam.
  9. Masalah umat Islam menghadapi orang-orang kafir dalam kuantitas dan persiapan.
  10. Masalah perselisihan hati di antara masyarakat.

Kami akan menjelaskan solusi masalah-masalah tersebut berdasarkan Alquran. Ini merupakan isyarat cepat kepada penjelasan seluruh hal itu dari Alquran, itu sebagai peringatan terhadap yang lainnya.


[1]Sebagaimana hadis Umar bin Al-Khaththab, muttafaq ‘alaih (riwayat Bukhari dan Muslim);. Bukhari, Kitab “Al-Iman”, Bab “Bertambah dan Berkurangnya Iman”, 1:17; Muslim, Kitab “Tafsir”, 4:2312, hadits no. 3017)

 ***

1. Tauhid (Mengesakan Allah)

Dengan telaah terhadap Alquran maka diketahui bahwa tauhid terbagi menjadi tiga bagian.

Pertama: Tauhid rububiyah (Mengesakan Allah di dalam perbuatan-Nya; yaitu bahwa Dia tidak memiliki sekutu di dalam seluruh perbuatan-Nya. Bahwa hanya Allah yang menciptakan, memiliki, memberi rizeki, menguasai seluruh makhluk, pent.). Naluri/tabiat seluruh orang yang berakal telah diciptakan mengakui tauhid ini.

Allah ta’ala berfirman,

“Dan sungguh, jika kamu bertanya kepada mereka tentang siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab, ‘Allah,’ maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” (Q.s. Az-Zukhruf [43]:87)

Allah ta’ala juga berfirman,

“Katakanlah, ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang berkuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati serta yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan.’ Maka mereka menjawab, ‘Allah.’ Maka katakanlah, ‘Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?’” (Q.s. Yunus [10]:31)

Ayat-ayat seperti ini sangat banyak.

Adapun pengingkaran Fir’aun terhadap tauhid ini, termuat di dalam firman Allah,

“Fir’aun bertanya, ‘Siapa Rabb semesta alam itu?’ (Q.s. Asy-Syu’ara [26]: 23)

Maka itu merupakan kesombongan dan pura-pura bodoh! Dengan dalil firman Allah,

“Musa menjawab, ‘Sesungguhnya, kamu (wahai Fir’aun) telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb yang memelihara langit dan bumi, sebagai bukti-bukti yang nyata.” (Q.s. Al-Isra’ [17]:102)

Serta firman Allah,

“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan.” (Q.s. An-Naml [27]:14)

Oleh karena itulah, Alquran turun menetapkan tauhid jenis ini dengan bentuk pertanyaan penetapan. Seperti firman Allah,

“(Rasul-rasul mereka berkata), ‘Apakah ada keraguan terhadap Allah?’” (Q.s. Ibrahim [14]:10)

Juga firman-Nya,

“Katakanlah, ‘Apakah aku akan mencari Rabb selain Allah, padahal Dia adalah Rabb bagi segala sesuatu?” (Q.s. Al-An’am [6]:164)

Serta firman-Nya,

“Katakanlah, ‘Siapakah Rabb langit dan bumi?’ Jawablah, ‘Allah.’” (Q.s. Ar-Ra’d [13]:16)

Juga (ayat-ayat) semacam itu, karena mereka mengakuinya.

Jenis tauhid ini tidak bermanfaat bagi orang-orang kafir (walaupun mereka telah mengakuinya, pent.), karena mereka tidak mengesakan Allah di dalam peribadahan (ketundukan mutlak) kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah,

“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (Q.s. Yusuf [12]:106)

(Allah berfirman memberitakan perkataan orang-orang musyrik jahiliah,)

“Kami tidak menyembah mereka (sembahan selain Allah) melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah, sedekat-dekatnya.” (Q.s. Az-Zumar [39]:3)

“Dan mereka berkata, ‘Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah.’ Katakanlah, ‘Apakah kamu mengabarkan kepada Allah tentang sesuatu yang tidak diketahui-Nya?’” (Q.s. Yunus [10]:18)

Kedua: Tauhid uluhiyah (tauhid ibadah), yaitu mengesakan Allah di dalam beribadah kepada-Nya.

Tauhid inilah yang menjadi ajang peperangan antara seluruh rasul dengan umat-umat mereka. Inilah tauhid yang menjadi tujuan pengutusan para rasul. Kesimpulannya adalah makna “la ilaha illallah”. Ini dibangun di atas dua pondasi, yaitu: an-nafyu (peniadaan) dan al-itsbat (penetapan) dari “la ilaha illallah”.

Makna an-nafyu (peniadaan) dari “la ilaha illallah” yaitu: melepaskan segala sesuatu yang diibadahi selain Allah, di dalam seluruh jenis-jenis ibadah, apa pun bentuknya.

Adapun makna al-itsbat (penetapan) dari “la ilaha illallah” yaitu: mengesakan Allah semata, dengan seluruh jenis-jenis ibadah, dengan bentuk yang Allah telah mensyari’atkan untuk digunakan beribadah kepada-Nya. Mayoritas isi Alquran membahas tentang jenis tauhid ini.

Allah berfirman,

“Dan sesungguhnya, Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Beribadahlah (menyembahlah) kepada Allah (saja), dan jauhilah tagut.’” (Q.s. An-Nahl [16]:36)

Allah ta’ala berfirman,

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum-mu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, ‘Bahwasanya tidak ada sembahan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka kamu sekalian hendaklah menyembah-Ku.’” (Q.s. Al-Anbiya’ [21]:25)

Allah ta’ala juga berfirman,

Barang siapa yang ingkar kepada tagut dan beriman kepada Allah, maka sesunguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” (Q.s. Al-Baqarah (2):256)

Allah ta’ala juga berfirman,

Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu, adakah Kami menentukan sembahan-sembahan untuk disembah selain Allah yang Maha Pemurah?” (Q.s. Az-Zukhruf [43]:45)

Allah ta’ala juga berfirman,

Katakanlah, ‘Sesungguhnya, yang diwahyukan kepadaku adalah, ‘Bahwasanya sembahanmu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka hendaklah kamu berserah diri (kepada-Nya).”” (Q.s. Al-Anbiya’ [21]:108)

Ketiga: Mengesakan Allah di dalam nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya

Jenis tauhid ini terbangun di atas dua prinsip, sebagaimana telah dijelaskan oleh Allah jalla wa ‘ala.

Prinsip pertama: Menyucikan Allah ta’ala dari penyerupaan terhadap sifat-sifat makhluk.

Prinsip kedua: Beriman kepada seluruh (sifat) yang Allah sifatkan kepada diri-Nya atau yang disifatkan oleh Rasul-Nya kepada Allah; beriman dengan hakikatnya, bukan kiasan; dengan bentuk yang pantas dengan kesempurnaan-Nya dan keagungan-Nya. Telah pasti bahwa tidak ada yang menyifati Allah, yang lebih tahu tentang Allah, daripada Allah sendiri. Tidaklah ada yang menyebutkan tentang sifat Allah–setelah Allah sendiri–,yang lebih tahu tentang Allah, daripada utusan Allah.

Allah ‘azza wa jalla telah berfirman tentang diri-Nya,

Katakanlah,’Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah?’” (Q.s. Al-Baqarah [2]:140)

Allah pun berfirman tentang Rasul-Nya,

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Alquran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (Q.s. An-Najm [53]:3–4)

Allah telah menjelaskan ketidak-serupaan apa pun dengan-Nya,

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.” (Q.s. Asy-Syura [42]:11)

Allah juga telah menjelaskan penetapan sifat-sifat bagi-Nya beserta hakikat sifat-sifat itu, dengan firman-Nya,

Dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Q.s. Asy-Syura [42]:11)

Permulaan ayat di atas menetapkan sifat Allah tanpa disertai ta’thil (penolakan ayat-ayat tentang sifat Allah). Dengan demikian, dari ayat tersebut, jelas bahwa yang menjadi kewajiban adalah menetapkan sifat-sifat Allah sesuai hakikatnya, tanpa menyerupakan Allah (dengan makhluk-Nya), dengan menafikan kemungkinan penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya, tanpa melakukan ta’thil.

Allah juga menjelaskan kelemahan (ilmu) makhluk yang tidak mampu meliputi Allah jalla wa ‘ala,

Dia mengetahui segala sesuatu yang ada di hadapan mereka dan yang ada di belakang mereka, sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.” (Q.s. Thaha [20]:110)

2. Nasihat

Para ulama telah sepakat bahwa Allah ta’ala tidaklah menurunkan “pemberi nasihat” yang paling besar dan “pencegah” yang paling agung, dari langit menuju bumi, dibandingkan nasihat muraqabah (pengawasan) dan ilmu. Yaitu, bahwa manusia selalu memperhatikan bahwa Penguasanya (Allah) jalla wa ‘ala selalu mengawasinya serta mengetahui semua yang dia sembunyikan dan yang dia tampakkan.

Para ulama membuat perumpamaan–tentang “pemberi nasihat” yang paling besar dan “pencegah” yang paling agung tersebut–dengan gambaran yang menjadikan perkara yang dipahami dengan akal itu layaknya perkara kasat mata. Mereka mengatakan, ”Seandainya kita umpamakan seorang raja yang sangat banyak menumpahkan darah, sangat banyak membunuh orang, sangat besar kekuatan dan hukumannya, algojonya berdiri tegak di hadapannya, tikar kulit (untuk tempat darah) telah dihamparkan, pedangnya masih meneteskan darah, dan di sekitar raja tersebut terdapat putri-putrinya dan istri-istrinya, apakah terbetik di dalam pikiran bahwa ada seseorang di antara hadirin yang berkeinginan melakukan perbuatan yang meragukan atau perbuatan yang haram terhadap putri-putri raja tersebut dan istri-istrinya? Tidak, sama sekali tidak! Dan Allah memiliki sifat yang paling sempurna.

Bahkan, semua hadirin takut, hati mereka patuh, pandangan mereka tunduk, dan anggota badan mereka tenang. Puncak harapan mereka adalah keselamatan.

Tidak lagi ada keraguan–sedangkan Allah memiliki sifat yang paling sempurna–bahwa Allah jalla wa ‘ala lebih besar pengawasan-Nya dan lebih luas ilmu-Nya daripada raja tersebut. Dan tidak ada keraguan bahwa Allah jalla wa ‘ala memiliki hukuman yang lebih perih,  kekuatan yang lebih besar, dan siksaan yang lebih mengerikan.

Padahal, tanah larangan Allah adalah perkara-perkara yang Dia haramkan. Seandainya penduduk suatu kota mengetahui bahwa pemimpin kotanya (gubernur atau bupati) mengetahui semua yang mereka lakukan di malam hari, mereka pasti melewati malam mereka dengan takut dan meninggalkan seluruh kemungkaran karena takut kepada pemimpin tersebut.

Sesungguhnya, Allah telah menjelaskan bahwa hikmah penciptaan makhluk adalah untuk menguji mereka:

“Siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (Q.s. Al-Kahfi [18]:7)

Allah juga berfirman di awal surat Hud,

“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa–dan ‘Arsy-Nya (sebelum itu) berada di atas air–agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang paling baik amalnya.” (Q.s. Hud [11]:7)

Allah tidak berfirman ”siapakah di antara kamu yang lebih banyak amalnya”.

Allah juga berfirman di dalam surat Al-Mulk,

“Yang menciptakan kematian dan kehidupan, supaya Dia menguji kamu tentang siapa saja di antara kamu yang terbaik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (Q.s. Al-Mulk [67]:2)

Kedua ayat di atas menjelaskan maksud firman Allah,

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Q.s. Adz-Dzariyat [51]:56)

Dengan sebab hikmah penciptaan makhluk merupakan ujian yang telah disebutkan di atas, Malaikat Jibril ‘alaihis salam pun hendak menjelaskan kepada manusia perihal jalan keselamatan di dalam ujian tersebut. Karenanya, Jibril berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Beritahukan kepadaku tentang ihsan!”

Inilah hikmah penciptaan makhluk, (yaitu) sebagai batu ujian dalam menggapai sikap ihsan (melakukan amalan yang paling baik). Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa jalan ihsan adalah “pemberi nasihat” yang paling besar dan “pencegah” yang paling agung yang telah disebutkan. Yaitu, sabda beliau,

“Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak bisa melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” [2]

Oleh karena itulah, Anda tidak membuka lembaran kertas dari mushaf kecuali Anda mendapati pemberi nasihat yang agung ini di dalamnya. Allah berfirman,

“Dan sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui perkara yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih kepadanya daripada urat lehernya. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan di dekatnya ada malaikat pengawas yang selalu hadir. (Q.s. Qaf [50]:16–18)

 Juga firman-Nya,

“Maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (perihal amalan yang telah mereka perbuat), sedangkan (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka). (Q.s. Al-A’raf [7]:7)

Demikian pula dengan firman-Nya,

“Kamu tidak berada dalam suatu keadaan, tidak pula membaca suatu ayat dari Alquran, tidak juga menjalankan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Rabbmu walau sebesar zarrah (atom) di bumi atau pun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar daripada itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Q.s. Yunus [10]:61)

 Serta firman-Nya,

“Ingatlah, sesungguhnya (orang munafik itu) memalingkan dada mereka untuk menyembunyikan diri darinya (Muhammad). Ingatlah, di waktu mereka menyelimuti dirinya dengan kain, Allah mengetahui segala hal yang mereka sembunyikan dan segala hal yang mereka lahirkan. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui segala isi hati.” (Q.s. Hud [11]:5)

Semacam ini di dalam setiap tempat di dalam Alquran.


[2] Muttafaq ‘alaih, dari hadis Abu Hurairah; H.R. Bukhari, Kitabul Iman, Bab “Pertanyaan Jibril kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Iman”, juz 1, hlm. 18, (no. 50 dan 4777, pent.); Muslim, Kitabul Iman, juz 1, hlm. 39, no. 9; juga riwayat Muslim, dari hadits Umar bin Al-Khaththab, Kitabul Iman, juz 1, hlm. 36

***

3. Perbedaan antara Amal Saleh dengan Hal Lainnya

Alquran yang agung telah menjelaskan bahwa amal saleh adalah amal yang memenuhi tiga perkara. Jika salah satunya rusak maka amal itu tidak lagi bermanfaat bagi pelakunya pada hari kiamat.

Pertama: Amal itu sesuai dengan tuntunan yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. [1]

Sebabnya, Allah berfirman,

“Semua yang diberikan Rasul kepada kalian, terimalah. Semua yang dilarangnya, tinggalkanlah. (Q.s. Al-Hasyr [59]:7)

Dia juga berfirman,

“Barang siapa menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah.” (Q.s. An-Nisa’ [4]:80)

“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku.’” (Q.s. Ali-Imran [3]:31)

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan, untuk mereka, agama yang tidak diizinkan Allah.” (Q.s. Asy-Syura [42]:21)

“Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” (Q.s. Yunus [10]:59)

Kedua: Amalan itu ikhlas (murni) untuk wajah Allah ta’ala.

Sebabnya, Allah berfirman,

“Padahal, mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (Q.s. Al-Bayyinah [98]:5)

Demikian pula firman-Nya,

Katakanlah, ‘Sesungguhnya, aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. Aku juga diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri.’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya, aku takut akan siksaan hari yang besar jika aku durhaka kepada Rabbku.’ Katakanlah, ‘Hanya Allah yang kusembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku.’ Maka, sembahlah olehmu (wahai orang-orang musyrik) apa saja yang kamu kehendaki selain Dia.” (Q.s. Az-Zumar [39]:11–15)

Ketiga: Amalan itu dibangun di atas pondasi akidah yang sahih (keyakinan yang benar), karena amalan itu bagaikan atap, sedangkan akidah bagaikan pondasi.

Allah ta’ala berfirman,

“Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari amalan yang telah mereka kerjakan.” (Q.s. An-Nahl [16]:97)[2]

Oleh sebab itu, Allah memberi syarat “dalam keadaan beriman”.

Allah berfirman tentang orang-orang selain kaum mukminin,

“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (Q.s. Al-Furqan [25]:23)

Allah juga berfirman,

“Itulah orang-orang yang tidak memperoleh bagian apa pun di akhirat, kecuali neraka; lenyaplah di akhirat itu segala sesuatu yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah amalan yang telah mereka kerjakan.” (Q.s. Hud [11]:16)


Foot Note:

[1] Imam Bukhari meriwayatkan di dalam Kitab “Ash-Shulh” (Perdamaian), Bab “Jika Orang-Orang Berdamai dengan Perdamaian yang Zalim maka Perdamaian Itu Tertolak”, juz 3, hlm. 167. Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam Kitab “Al-Aqdhiyah”, Bab “Gugurnya Keputusan-Keputusan yang Batil serta Tertolaknya Perkara-Perkara yang Baru (Dalam Agama)”, juz 3, hlm. 1343, no. 1718; diriwayatkan dari Aisyah radhiallahu ‘anha, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

            ”Barang siapa membuat perkara baru di dalam urusan kami (agama) ini, yang bukan bagian di dalamnya (agama ini), maka perkara itu tertolak.

            Dalam riwayat yang lain, dengan lafal ”yang bukan bagian darinya”.

Dalam riwayat Imam Muslim,

      ”Barang siapa mengamalkan suatu amalan yang tidak memiliki tuntunan dari kami maka amalan itu tertolak.

[2] Di dalam kitab aslinya, tertulis surat Thaha, ayat 112. Namun, yang lebih tepat adalah surat An-Nahl, ayat 97. Oleh karena itu, ayat ini yang kami muat secara lengkap.

***

4. Berpegang pada Hukum Lain selain Syariat Islam yang Mulia

Alquran telah menjelaskan bahwa hal itu (yaitu berpegang pada hukum lain selain syariat Islam yang mulia, ed.) merupakan kekafiran yang nyata dan syirik terhadap Allah ta’ala. [6] Ketika setan membisikkan kepada orang-orang kafir Mekah agar bertanya kepada Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang seekor kambing yang telah menjadi bangkai, “Siapa yang mematikannya?” Beliau menjawab, “Allah yang mematikannya.” Kemudian setan membisikkan kepada mereka agar berkata kepada beliau, “Apa yang kamu sembelih dengan tanganmu itu halal, sedangkan yang Allah sembelih dengan tangan-Nya yang mulia itu haram? Kalau begitu kamu (umat Islam) lebih baik dari Allah!” [7]

Karena itulah, Allah menurunkan firman,

“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya, perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya, setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya tentulah kamu menjadi orang-orang yang musyrik.” (Q.s. Al-An’am [6]:121)

Tidak adanya huruf fa’ (yang artinya “maka”) di dalam firman Allah, ”Sesungguhnya tentulah kamu menjadi orang-orang yang musyrik,” sebagai tanda yang jelas terhadap ketetapan huruf lam sebagai pengantar sumpah. Dengan demikian, ini sebagai sumpah dari Allah jalla wa ‘ala di dalam ayat yang mulia ini bahwa barang siapa menaati setan di dalam peraturannya untuk menghalalkan bangkai maka dia adalah seorang musyrik. Itu merupakan syirik akbar (terbesar) yang mengeluarkan dari agama Islam dengan ijma’ kaum muslimin. Allah pun akan menegur pelakunya pada hari kiamat dengan firmannya,

“’… Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu, wahai Bani Adam, supaya kamu tidak menyembah setan? Sesungguhnya, setan itu musuh nyata bagimu,’ dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.” (Q.s. Yasin [36]:60–61)

Allah ta’ala juga berfirman memberitakan perkataan kekasih-Nya, Nabi Ibrahim,

“Wahai ayahandaku, janganlah engkau meyembah setan.” (Q.s. Maryam [19]:44)

“Menyembah setan” artinya ‘mengikutinya di dalam mensyariatkan kekafiran dan kemaksiatan-kemaksiatan’.

Allah juga berfirman,

“Yang mereka sembah selain Allah itu tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah setan yang durhaka.” (Q.s. An-Nisa’ [4]:117)

Allah juga berfirman,

“Dan demikianlah sekutu-sekutu mereka (pemimpin-pemimpin mereka) telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang musyrik itu memandang baik tindakan membunuh anak-anak mereka.” (Q.s. Al-An’am [6]:137)

Allah menamakan pemimpin-pemimpin mereka dengan “sekutu-sekutu” karena ketaatan orang-orang yang musyrik kepada para pemimpin itu adalah di dalam maksiat kepada Allah, dengan membunuh anak-anak mereka.

Ketika Adi bin Hatim radhiallahu ‘anhu bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang firman Allah,

“Mereka (ahli kitab) menjadikan orang-orang alim di kalangan mereka serta dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah.” (Q.s. At-Taubah [9]:31)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab bahwa makna “menjadikan orang-orang alim di kalangan mereka serta dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah” adalah ‘para pengikut itu mengikuti mereka di dalam mengharamkan perkara yang telah Allah halalkan dan dalam menghalalkan perkara yang telah Allah haramkan. [8]

Ini adalah perkara yang tidak diselisihi oleh siapa pun.

Allah ta’ala berfirman,

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengakui dirinya telah beriman kepada risalah yang diturunkan kepadamu dan kepada risalah yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada Tagut. Padahal, mereka telah diperintah mengingkari Tagut itu. Setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan sejauh-jauhnya.” (Q.s. An-Nisa’ [4]:60)

Allah juga berfirman,

“Barang siapa tidak memutuskan menurut ketetapan yang diturunkan Allah maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (Q.s. Al-Maidah [5]:44)

Allah juga berfirman,

“Maka patutkah aku mencari hakim selain Allah? Padahal, Dialah yang telah menurunkan kitab (Alquran) kepadamu dengan rinci. Orang-orang, yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mengetahui bahwa Alquran itu diturunkan dari Rabbmu dengan sebenarnya. Karenanya, janganlah sampai kamu termasuk orang yang ragu.” (Q.s. Al-An’am [6]:114)

Allah juga berfirman,

“Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Alquran), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya; dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.s. Al-An’am [6]:115)

Firman Allah ”yang benar”, yaitu di dalam berita-berita, ” dan adil”, yaitu di dalam hukum-hukum.

Allah juga berfirman,

“Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Q.s. Al-Maidah [5]:50)


[6]        Hal ini disertai perincian yang telah dikenal di kalangan ulama ahlus sunnah zaman dahulu maupun zaman sekarang, sebagaimana dikatakan sendiri oleh Syekh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi rahimahullah. Beliau berkata, “Ketahuilah bahwa penjelasan masalah ini adalah: bahwa di dalam syariat, terkadang yang dimaksud dengan kekafiran, kezaliman, dan kefasikan adalah “kemaksiatan”, terkadang juga maksdunya adalah “kekafiran yang mengeluarkan dari agama”.

Barang siapa yang tidak memutuskan perkara menurut aturan yang diturunkan Allah ….” Disebabkan oleh sikap menentang para rasul dan membatalkan hukum-hukum Allah, maka kezaliman, kefasikan, dan kekafirannya itu bisa mengeluarkan seseorang dari agama (Islam).

“Barang siapa yang tidak memutuskan perkara menurut aturan yang diturunkan Allah ….” Dengan meyakini bahwa dia telah melakukan perkara yang haram dan perkara yang buruk, sehingga kekafiran, kezaliman, dan kefasikannya tidak mengeluarkan dirinya dari agama (Islam).” (Tafsir Adhwaul Bayan, juz 2, hlm. 104).

Lihat pembahasan yang sangat penting ini di dalam kitab Qurratul ‘Uyun, karya Syekh Abu Usamah Salim bin ’Ied Al-Hilali hafizhahullah.

[7]        (Semakna dengan hadis ini juga) diriwayatkan oleh Abu Daud, Kitab “Dhahaya (Binatang-Bintang Sembelihan)”, Bab “Tentang Sembelihan Ahli Kitab”, juz 3, hlm. 245, no. 2818; Tirmidzi, Kitab “Tafsir Alquran”, Bab ”Dan dari Surat Al-An’am”, juz 5, hlm. 246; no. 3069; Nasa’i, Kitab “Dhahaya”, Bab “Ta’wil Firman Allah, ‘Dan janganlah kamu memakan  binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya’”, juz 7, hlm. 237; no. 4437, dengan penelitian Abdul Fattah Abu Ghuddah; juga riwayat Ibnu Majah dengan makna yang lain, Kitab “Sembelihan-Sembelihan”, Bab “Membaca Basmalah ketika Menyembelih”, juz 2, hlm. 1059, no. 3173.

[8]        H.R. Tirmidzi, Kitab “Tafsir Alquran”, Bab “Dan dari Surat At-Taubah”, juz 5, hlm. 259; no. 3095; beliau berkata, “Ini hadis gharib.”

***

5. Keadaan Sosial di Masyarakat

Dalam masalah ini, Alquran telah memuaskan orang yang kehausan dan telah menerangi jalan. Lihatlah perkara yang diperintahkan Allah kepada seorang pemimpin besar, agar dia lakukan kepada masyarakatnya,

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (Q.s. Asy-Syu’ara [26]:215)

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah, kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (Q.s. Ali Imran [3]:159)

 Juga lihatlah perintah yang Allah tetapkan kepada masyarakat umum, agar mereka lakukan kepada pemimpin-pemimpin mereka,

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah serta taatilah Rasul(-Nya) dan ulil amri di antara kalian.” (Q.s. An-Nisa’ [4]:59)

 Lihatlah pula hal yang diperintahkan Allah kepada seorang (kepala rumah tangga), agar dia lakukan kepada “masyarakatnya yang khusus”, yaitu anak dan istrinya,

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap perintah yang disampaikan oleh-Nya kepada mereka, dan yang selalu mengerjakan semua hal yang diperintahkan kepada mereka.” (Q.s. At-Tahrim [66]:6)

 Perhatikanlah juga, cara Allah mengingatkan kepala rumah tangga agar waspada dan teguh dalam membimbing “masyarakatnya yang khusus” (keluarganya. ed.). Namun, Allah juga memerintahkan, jika dia menemui perkara yang tidak pantas, agar dia memaafkan dan tidak menghukum.

Pertama, Allah memerintahkannya agar teguh dan waspada. Kedua, dengan memberi maaf dan tidak menghukum. Allah berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya, di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. At-Taghabun [64]:14)

 Lihatlah perkara yang Allah perintahkan kepada warga masyarakat umum dalam bermuamalah sesama mereka,

“Sesungguhnya, Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat; dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (Q.s. An-Nahl [16]:90)

 Allah juga berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya, sebagian prasangka itu adalah dosa. Janganlah pula kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” (Q.s. Al-Hujurat [49]:12)

Allah juga berfirman,

“Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok). Juga, janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu saling panggil dengan gelar-gelar yang buruk.Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman,; dan barang siapa yang tidak bertobat maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Q.s. Al-Hujurat [49]:11)

 Allah juga berfirman,

“Dan saling tolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan ketakwaan, dan jangan saling tolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Q.s. Al-Maidah [5]:2)

 Allah juga berfirman,

“Sesungguhnya, orang-orang mukmin itu bersaudara.” (Q.s. Al-Hujurat [49]:10)

Allah juga berfirman,

“Sedangkan urusan mereka (diputuskan) melalui musyawarah antara mereka ….” (Q.s. Asy-Syura [42]:38)

Beserta ayat-ayat lainnya.

Seorang anggota masyarakat –siapa pun dia– tidak akan selamat dari penentang yang menentangnya, dari musuh yang memusuhinya, dari kalangan masyarakatnya sendiri, baik masyarakat manusia atau pun jin. Sebagaimana dikatakan dalam sebuah sya’ir,

Seseorang tidak akan selamat dari musuh

Walau dia berusaha menyepi di puncak gunung

 Setiap individu memerlukan terapi terhadap penyakit yang menyebar ini. Allah ta’ala menjelaskan terapinya dalam tiga tempat di Alquran. Di sana, Allah menjelaskan bahwa terapi untuk menghadapi permusuhan manusia terhadap diri kita adalah dengan berpaling dari perbuatan keburukannya dan membalasnya dengan berbuat kebaikan. Adapun permusuhan dari kalangan setan dari jin maka tidak ada terapi terhadap penyakitnya, kecuali memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatannya.

Dalil pertama

Firman Allah ta’ala di bagian akhir surat Al-A’raf tentang gangguan dari manusia,

“Jadilah pemaaf, perintahlah orang lain mengerjakan perbuatan yang ma’ruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (Q.s. Al-A’raf [7]:199)

Sebanding dengan itu, tentang gangguan dari setan-setan jin,

“Jika kamu ditimpa godaan setan, berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.s. Al-A’raf [7]:200)

Dalil kedua

Di dalam surat Al-Mukminun, Allah berfirman di dalam ayat,

“Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa saja yang mereka sifatkan.” (Q.s. Al-Mukminun [23]:96)

Sebanding dengan itu, Allah berfirman,

“Dan katakanlah, ‘Ya Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan. Aku berlindung (pula) kepada-Mu, ya Rabbku, dari kedatangan mereka kepadaku.” (Q.s. Al-Mukminun [23]:97–98)

Dalil ketiga

Di dalam surat Fushshilat –dan di sini Allah menambahkan bahwa ini merupakan terapi dari langit yang akan menghentikan penyakit dari setan tersebut–. Allah juga menambahkan bahwa terapi dari langit ini tidaklah Allah berikan kepada setiap orang. Bahkan, terapi ini hanya diberi kepada orang yang memiliki bagian yang banyak dan besar.

Allah berfirman,

“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga tiba-tiba saja orang yang terlibat permusuhan denganmu seolah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar serta tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (Q.s. Fushshilat [41]:35)

Sebanding dengan itu, Allah berfirman,

“Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya, Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.s. Fushshilat [41]:36)

Pada tempat-tempat yang lain di dalam Alquran, Allah menjelaskan bahwa sikap lemah-lembut dan pekerti yang halus itu dilakukan khusus untuk umat Islam, bukan kepada orang-orang kafir. Allah berfirman,

“Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir.” (Q.s. Al-Maidah [5]:54)

Allah juga berfirman,

“Muhammad itu adalah utusan Allah; dan orang-orang yang bersama dia memiliki sikap keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (Q.s. Al-Fath [48]:29)

Allah juga berfirman,

“Wahai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka!” (Q.s. At-Taubah [9]:73; At-Tahrim [66]:9)

Melancarkan sikap keras –saat kelembutan yang justru dibutuhkan– merupakan sebuah kebodohan dan kehancuran. Akan tetapi, bersikap lembut –saat sikap keras yang seharusnya ditonjolkan– merupakan sebuah kelemahan. Dikatakan dalam sebuah sya’ir,

Jika dikatakan, ”Hendaklah engkau bersikap lembut,”

maka jawablah, kelembutan itu ada tempatnya.

Sikap lembut seorang pemuda yang bukan pada tempatnya

merupakan kebodohan.

6. Masalah Ekonomi

Alquran telah menjelaskan prinsip-prinsip ekonomi yang menjadi muara kembalinya semua cabang, karena permasalahan ekonomi itu kembali kepada dua prinsip.

Pertama: Kecerdasan di dalam mencari harta.

Kedua: Kecerdasan di dalam membelanjakan sesuai tempatnya.

Perhatikanlah betapa di dalam kitab-Nya, Allah membuka berbagai jalan mencari harta, dengan cara-cara yang selaras dengan penjagaan kehormatan dan agama. Allah telah menerangi jalan di dalam hal tersebut; Dia berfirman,

“Apabila shalat telah ditunaikan maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah serta ingatlah Allah sebanyak mungkin, supaya kamu beruntung.” (Q.s. Al-Jumu’ah [62]:10)

Allah juga berfirman,

“Di antara kamu, ada orang-orang yang sakit serta orang-orang yang berjalan di muka bumi dalam rangka mencari sebagian karunia Allah.” (Q.s. Al-Muzzammil [73]:20)

Juga, Allah berfirman,

“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Rabbmu.” (Q.s. Al-Baqarah [2]:198)

Serta firman Allah,

“Kecuali dengan jalan perniagaan yang terjadi atas dasar ‘suka sama suka’ di antara kamu.” (Q.s. An-Nisa’ [4]:29)

Allah berfirman pula,

“Dan Allah menghalalkan jual beli.” (Q.s. Al-Baqarah [2]:275)

Allah pun berfirman,

“Maka makanlah sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik.” (Q.s. Al-Anfal [8]:69)

Serta (ayat-ayat) selain itu.

Perhatikanlah pula, bagaimana Allah memerintahkan sikap hemat di dalam membelanjakan harta:

“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu, dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya.” (Q.s. Al-Isra’ [17]:29)

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), tidak berlebih-lebihan serta tidak kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (Q.s. Al-Furqan [25]:67)

“Dan mereka bertanya kepadamu mengenai harta yang mereka nafkahkan. Katakanlah, ‘Yang lebih dari keperluan.’” (Q.s. Al-Baqarah [2]:219)

Perhatikanlah juga, betapa Allah melarang manusia membelanjakan harta pada perkara yang tidak halal,

“Mereka akan menafkahkan harta itu kemudian menjadi sesal bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan.” (Q.s. Al-Anfal [8]:36)

7. Masalah Politik

Alquran telah menjelaskan prinsip-prinsip politik dan menerangi rambu-rambunya, serta menjelaskan jalan-jalannya. “Politik” artinya ‘mengatur urusan-urusan’; itu terbagi menjadi dua: pengaturan eksternal  dan pengaturan internal.

Pengaturan eksternal                                    

“Pengaturan eksternal” berkisar pada dua prinsip:

Pertama: Menyiapkan kekuatan yang cukup untuk menundukkan dan menghancurkan musuh. Allah telah berfirman tentang prinsip ini,

“Dan siapkanlah –untuk menghadapi mereka– kekuatan apa saja yang kamu sanggupi, juga dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah dan musuhmu.” (Q.s. Al-Anfal [8]:60)

Kedua: Persatuan yang benar dan universal, seputar kekuatan itu. Dalam hal ini, Allah berfirman,

“Dan berpeganglah kalian semua kepada tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai-berai.” (Q.s. Ali Imran [3]:103)

Allah juga berfirman,

“Dan janganlah kalian berbantah-bantahan, sehingga menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan.” (Q.s. Al-Anfal [8]:46)

Alquran juga telah menjelaskan perkara-perkara yang mengiringinya, berupa perdamaian dan dilepasnya perjanjian, jika keadaan menuntutnya.

Allah berfirman,

“Maka penuhilah janji terhadap mereka, sampai batas waktunya.” (Q.s. At-Taubah [9]:4)

Allah juga berfirman,

“Maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka.” (Q.s. At-Taubah [9]:7)

Allah juga berfirman,

“Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur.” (Q.s. Al-Anfal [8]:58)

Allah pun berfirman,

“Dan (inilah) suatu pemakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada manusia pada hari haji akbar, bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyirik.” (Q.s. At-Taubah [9]:3)

Allah pun memerintahkan agar waspada dan berhati-hati dari tipu daya musuh, serta usaha musuh untuk memanfaatkan berbagai kesempatan.

Allah berfirman,

Wahai orang-orang yang beriman, bersiap-siagalah!” (Q.s. An-Nisa’ [4]:71)

Allah juga berfirman,

“Dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kailan lengah terhadap senjata kalian.” (Q.s. An-Nisa’ [4]:102)

Pengaturan internal

Adapun “pengaturan internal”, maka urusan-urusannya kembali kepada penjagaan keamanan dan ketenteraman masyarakat, penolakan kezaliman-kezaliman, dan pengembalian setiap hak kepada para pemiliknya.

Perkara-perkara besar yang merupakan tonggak “pengaturan internal” ada enam,

1. Agama

Sesungguhnya, syariat datang untuk menjaga agama Islam.

“Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu.” (Q.s. Al-Baqarah [2]:179)

Oleh karena inilah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barang siapa merubah agamanya, bunuhlah dia!”  [9]

Dalam (hukum) ini terdapat pencegahan yang sangat efektif agar setiap muslim tidak  mengganti agamanya atau menyia-nyiakannya.

2. Jiwa

Dalam Alquran, Allah telah mensyariatkan qishash untuk menjaga jiwa manusia.

“Wahai orang-orang yang beriman, qishash diwajibkan atas kalian, berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh.” (Q.s. Al-Baqarah [2]:178)

“Dan barang siapa dibunuh secara zalim maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya.” (Q.s. Al-Isra’ [17]:33)

3. Akal

Alquran telah datang untuk menjaga akal manusia. Allah berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan panah merupakan perbuatan keji yang termasuk perbuatan setan. Karenanya, jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian mendapat keberuntungan.” (Q.s. Al-Maidah [5]:90)

Dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Semua yang memabukkan itu haram; jika suatu barang yang jumlahnya banyak itu memabukkan maka jumlahnya yang sedikit pun haram.” [10]

Untuk menjaga akal, peminum khamr wajib didera.

4. Nasab

Untuk menjaga nasab, Allah mensyariatkan dera bagi (seseorang yang telah melakukan) zina,

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina; deralah tiap orang dari keduanya sebanyak seratus kali dera.” (Q.s. An-Nur [24]:2)

5. Kehormatan

Untuk menjaga kehormatan, Allah mensyariatkan dera sebanyak 80 kali terhadap qadzif (orang yang menuduh orang lain berbuat zina tanpa empat orang saksi).

“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang-orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) sebanyak delapan puluh kali dera.” (Q.s. An-Nur [24]:4)

6. Harta

Untuk menjaga harta, Allah mensyariatkan hukuman potong tangan bagi pencuri,

“(Terkait) laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan dari perbuatan yang mereka kerjakan serta sebagai siksaan dari Allah.” (Q.s. Al-Maidah [5]:38)

Dengan demikian, jelaslah bahwa mengikuti Alquran itu sudah cukup bagi masyarakat, dengan seluruh kebaikan-kebaikan internal dan eksternal.


[9] H. R. Bukhari dari hadis Ibnu Abbas, Kitab “Jihad”, Bab “Tidak Boleh Menyiksa dengan Siksaan Allah”, juz 4, hlm. 21.

[10]         H.R. Ibnu Majah, Kitab ”Minuman-Minuman”, Bab “Barang yang Jika Jumlah Banyaknya Memabukkan maka Jika Jumlahnya Sedikit pun Haram”; juz 2, hlm. 1124, no. 3392. Namun, penggalan awal ”Semua yang Memabukkan Itu Haram” merupakan riwayat muttafaq ‘alaih dari hadis Abu Musa; H.R. Bukhari, Kitab ”Al-Maghazi”, Bab “Diutusnya Abu Musa dan Mu’adz menuju Yaman Sebelum Haji Wada’”; juz 5, hlm. 108; H.R. Muslim, Kitab “Minuman-Minuman”, Bab “Penjelasan bahwa Semua yang Memabukkan Tergolong Sebagai Khamr, dan Semua Khamr Itu Haram”, juz 3, hlm. 1585, no. 2001.

Iklan

About admin

Jika kata tak lagi bermakna lebih baik diam. (Masih) belajar Islam yang lurus dan benar. Cuma numpang sebentar di dunia. Silahkan duduk mari bicara. Lihat semua pos milik admin

One response to “Islam, Agama yang Sempurna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: