Kontrol Media Massa Oleh Yahudi

“Kita akan menangani Pers dengan cara sebagai berikut:

1. Kita harus menungganginya dan mengendalikannya dengan ketat. Kita juga harus melakukan hal yang sama dengan barang cetakan, karena kita perlu melepaskan diri kita dari serangan-serangan Pers, kalau kita tetap terbuka terhadap kecaman melalui pamflet dan buku-buku.

2. Tak boleh satupun pernyataan sampai ke masyarakat diluar pengawasan kita. Kita telah mencapai hal itu pada saat ini sampai pada suatu tingkat dimana semua berita disalurkan melalui kantor-kantor berita yang kita kendalikan dari seluruh bagian dunia.

3. Literatur dan jurnalisme merupakan dua kekuatan pendidikan yang sangat penting, dan karena itu pemerintah kita akan menjadi pemilik sebagian besar dari jurnal-jurnal yang ada. Kalau ada sepuluh jurnal swasta, maka kita harus memiliki tiga-puluh jurnal milik kita sendiri, dan seterusnya. Hal ini tidak boleh sampai menimbulkan kecurigaan di masyarakat, karena alasannya semua jurnal yang kita terbitkan akan diluar kecenderungan dan pendapat yang paling kontroversial,jadi kita membangun kepercayaan pada masyarakat dan menarik perhatian lawan-lawan kita yang tidak mencurigai kita, dan akan masuk perangkap kita dan membuat mereka tidak berbahaya.” (‘Protokol yang Kedua-belas’)

Pertarungan untuk Menguasai Pers Dunia

Pikiran instinktif yang muncul di kalangan orang Yahudi bila ada kecaman-kecaman terhadap kelompoknya, apalagi bila datang dari pihak non-Yahudi, mereka merasa dihadapkan dengan kekerasan, ancaman, atau penindasan. “Boikot”, itulah reaksi pertama yang terpikirkan oleh kaum Yahudi bila menghadapi kecaman-kecaman tcrsebut. Tidak perduli apakah kecaman itu berasal dari surat-kabar, atau perusahaan dagang, atau bahkan dari sebuah hotel, atau dari scbuah produk manufaktur, dimana produsennya telah menggariskan kebijakan bahwa “produk saya siap dijual, tetapi bukan prinsip saya”.

Ceritera di bawah ini adalah tentang ‘boikot”, sebagai salah satu contoh menyangkut surat-kabar the New York Herald, salah satu surat kabar yang pada masanya tetap independen dari pengaruh kelompok Yahudi New York. Ceritera di bawah ini juga menggambarkan usaha tidak kenal letih dari kaum Yahudi untuk menguasai dunia pers.

Koran the Herald telah berusia 90 tahun ketika harus tutup pada tahun 1920 sebagai akibat proses amalgamasi. Koran ini sangat berpengaruh pada masanya dalam pengumpulan berita-berita dunia. Sekedar sebagai contoh, koran ini mengirimkan wartawannya Henry M. Stanley untuk mewawancarai Livingstone di Afrika, mensponsori ekspedisi Jeanette ke daerah kutub Antartika. Koran ini berperan besar dalam usaha pemasangan kabel bawah laut di Atlantik. Reputasinya di kalangan insan pers, berita atau tajuk rencana koran ini tidak bisa dibeli atau dipengaruhi oleh siapa pun. Prestasinya terutama dikenang karena untuk masa berpuluh tahun kebebasan jurnalistik koran ini mampu menahan serangan bertubi-tubi dari kelompok Yahudi New York. Pemiliknya, James Gordon Bennet, dikenang dengan kegiatan sosialnya dan selalu memelihara sikap bersahabat dengan masyarakat Yahudi di kotanya. Ia jelas tidak memendam prasangka sedikit pun terhadap mereka. Yang pasti ia tidak pernah secara sengaja memancing permusuhan dengan mereka. Namun ia dikenal bertekad untuk mempertahankan kehormatan atas kebebasan jurnalistik korannya. Ia tidak pernah menyimpang dari kebijakan dasar itu, meski kadangkala ada “pesan-pesan” yang dititipkan oleh para pemasang iklan untuk dimuat dalam tajuk korannya, atau tekanan maupun upaya mempengaruhi kebijakan pemberitaannya. Pada masa Bennet pers Amerika sebagian besar masih bebas. Kini pers sepenuhnya berada di bawah kontrol kelompok Yahudi. Kontrol ini dijalankan dengan berbagai cara. Apa pun caranya, kontrol itu ada, dan mutlak sifatnya.

Seabad yang silam di New York cukup banyak koran dibandingkan dengan sekarang ini. Sebagai akibat amalgamasi telah menurunkan persaingan pada sejumlah koran yang jumlahnya sudah tinggal tidak seberapa yang tidak lagi bersaing. Keadaan ini berlaku di negara-negara yang lain, termasuk Inggeris.

Koran the Herald milik Bennet, yang waktu itu dijual seharga tiga sen selembar, memiliki prestise paling tinggi dan menjadi medium iklan paling laris sehubungan dengan jumlah tiras dan sirkulasinya. Pada waktu itu jumlah populasi orang Yahudi di New York kurang dari sepertiga daripada jumlahnya yang sekarang, tetapi dalam soal kekayaan jangan ditanya.

Sekarang setiap orang memaklumi, hampir semua tokoh Yahudi selalu tertarik pada dua hal, ada ceritera yang harus diterbitkan, atau ada berita yang harus disembunyikan. Tidak ada kelompok rnasyarakat yang membaca koran dengan penuh perhatian dengan berita pers perihal diri rnereka dibandingkan dengan orang Yahudi. Koran the Herald sejak awal berdirinya telah menggariskan kebijakan tidak bersedia diganggu oleh campur-tangan dari luar dari melaksanakan kewajibannya sebagai pemberi informasi kepada masyarakat. Kebijakan ini memberikan keuntungan kepada koran lain yang ada di New York.

Ketika sebuah skandal terjadi di lingkungan kelornpok Yahudi (dan pada peralihan abad pengaruh kaum Yahudi yang kian marak melahirkan banyak orang Yahudi yang berpengaruh beramai-ramai mendatangi kantor para pemimpin redaksi berusaha agar beritanya tidak keluar). Tetapi para pemimpin redaksi di New York tahu benar koran the Herald tidak akan menghilangkan berita itu untuk kepentingan siapa pun. Apa gunanya sebuah koran tidak menerbitkan sementara yang lain menurunkannya ? Karenanya para pemimpin redaksi sarna rnenyatakan , “Kami dengan senanghati akan menutupinya, tetapi the Herald tetap akan menurunkannya, maka apa boleh buat kami terpaksa akan menerbitkannya juga demi perlindungan-diri. Tetapi bila anda dapat menekan the Herald untuk tidak rnenurunkan berita itu, kami dengan senanghati akan melakukannya juga” .

Ternyata the Herald tidak tunduk. Tidak ada satu pun tekanan, atau sogokan, atau ancarnan yang berhasil membuatnya bertekuk lutut.

Ada seorang bankir Yahudi yang terus-menerus menuntut agar Bennet memecat redaktur bidang ekonomi-keuangan koran the Herald. Bankir itu tengah berusaha melepaskan surat-surat bond Meksiko ketika bond itu sedang terpuruk nilainya. Suatu ketika sejumlah besar bond akan dilepas ke tengah-tengah pasar yang tidak mengetahui duduk perkaranya, the Herald menurunkan ceritera tentang adanya revolusi di Meksiko yang bakal terjadi, yang kemudian memang benar-benar terjadi. Kemarahan bankir itu sudah dapat diterka, dan mengambil langkah-langkah apa pun yang dapat dilakukannya untuk mengganti redaktur ekonomi-keuangan yang menjadi sumber malapetakanya. Namun, jangankan mengganti seorang redaktur, memecat seorang pesuruh kantor pun ia tidak bakal berhasil.

Kemudian ketika sebuah skandal besar yang melibatkan seorang anggota dari suatu keluarga terpandang, Bennet lagi-Iagi menolak untuk tidak menurunkan berita itu, dengan dalih, sekiranya kejadian itu menimpa suatu keluarga dari kelompok masyarakat yang lain, ia akan tetap menerbitkannya tidak perduli apakah keluarga itu dari kalangan atas atau bukan. Kelompok Yahudi di Philadelphia berhasil menghapus berita itu dari pers, tetapi karena sikap Bennet yang tidak bergeming berita itu tidak berhasil dihilangkan dari pers New York.

Koran adalah sebuah bisnis. Ada beberapa hal yang tidak boleh disentuhnya jika ia ingin dirinya tetap selamat dan tidak gulung-tikar. Kaidah ini mengandung kebenaran, karena koran pada masa kini tidak lagi tergantung hanya pada para pernbacanya, tetapi terutama dari para pernasang iklannya. Dan yang dibayar oleh para pembaca nyaris tidak cukup untuk menutup harga kertas korannya. Dalam hal ini maka para pemasang iklan tidak dapat dianggap remeh, karena mereka sarna pentingnya dengan pabrik kertas untuk hidup korannya. Para pemasang iklan terbesar di New York adalah dari kalangan department stores, dan sebagian besar department stores dimiliki oleh kelompok Yahudi. Cukup masuk akal bila orang-orang Yahudi itu mempengaruhi kebijakan pemberitaan dengan koran-koran dimana mereka memasang iklannya.

Pada waktu itu sudah menjadi keinginan yang menyala-nyala dari kelompok Yahudi untuk merebut kursi Walikota New York bagi seorang Yahudi. Mereka memilih waktunya tatkala partai-partai yang bersaing sedang mengalami kekisruhan internal untuk mengajukan proposal mereka. Metoda yang mereka pakai sangat unik. Mereka berdalih koran-koran tidak akan berani menolak tuntutan pemilik gabungan department stores. Jadi mereka menulis sepucuk surat yang “sangat konfidensial” sifatnya yang mereka kirimkan kepada para pemilik surat-kabar, menuntut dukungan terhadap calon walikota mereka. Para pemilik surat-kabar itu galau. Selama beberapa hari mereka memperdebatkan langkah apa yang harus diambil. Semua terdiam. Redaksi the Herald mengirim kawat kepada Bennet yang sedang berada di luar-negeri. Pada waktu itulah Bennet memperlihatkan keberanian dan kemampuannya mengarnbil keputusan yang menjadi ciri wataknya. Ia membalas kawat itu, “Turunkan isi surat itu sebagai berita”. Surat itu diterbitkan oleh koran the Herald, keangkuhan para pemasang iklan Yahudi tereksposekan, dan kalangan non-Yahudi di New York bernafas lega dan menyambut hangat langkah itu.

The Herald menjelaskan dengan terus-terang, bahwa ia tidak bersedia mendukung seorang calon atas dasar kepentingan pribadi, karena koran itu didedikasikan kepada kepentingan umum. Tetapi para pemimpin Yahudi bersumpah akan membalas the Herald dan orang yang telah berani membeberkan permainan mereka.

Mereka memang sudah lama membenci Bennet. The Herald memang koran masyarakat New York, tetapi Bennet mempunyai kaidah hanya nama-nama dari keluarga yang benar-benar terpandang yang akan diturunkan oleh korannya. Ceritera tentang upaya orang-orang kaya-baru Yahudi yang berusaha untuk masuk kolom berita tentang “apa siapa” di koran the Herald merupakan obyek yang biasanya digarap oleh wartawan-wartawan tua.

Perang itu memuncak dalam suatu perseteruan antara Bennet dengan Nathan Strauss, seorang Yahudi-Jerman yang menjadi pemilik usaha bisnis dengan nama ‘R.H.Macy and Company’. Pendiri usaha bisnis Macy itu seorang Skot dan dari ahli warisnya Strauss membeli perusahaan itu. Strauss sebenarnya seorang filantropis (dermawan) di ghetto (kampung Yahudi), kesalahan Bennet ia tidak memuat ceritera tentang kelebihan Strauss ini yang menyebabkan timbulnya perasaan sakit hati.

Orang Yahudi tentu saja memihak kepada Strauss. Para juru-bicara Yahudi memuji-muji Nathan Strauss dan memburuk-burukan Bennet. Bennet digambarkan menjalankan / usaha yang sangat buruk “menzalimi” seorang Yahudi yang berbudi luhur. Sejak itu Straus, seorang langganan pemasang iklan kelas berat, menarik setiap dolar dari bisnisnya dari the Herald. Anasir gabungan dan perkasa kaum yahudi New York bersatu untuk memberikan pukulan yang mematikan kepada Bennet. Kebijakan Yahudi “Kuasai dan Hancurkan” sekarang dipertaruhkan, dan untuk itu kaum Yahudi menyatakan perang.

Sebagai satu kesatuan para pemasang iklan Yahudi menarik iklan mereka. Alasan mereka koran the Herald memperlihatkan sikap permusuhan kepada kaum Yahudi. Maksud sesungguhnya dari aksi mereka ialah menghaneurkan seorang pemilik surat-kabar Amerika yang berani mengambil sikap independen dari mereka.

Pukulan mereka memang membuat koran the Herald sempoyongan. Aksi kaum Yahudi itu berarti hilangnya pendapatan 600.000 dolar setahun. Koran New York lain akan gulung-tikar menghadapi kerugian tersebut. Orang Yahudi mengetahui benar akan hal itu, dan mereka duduk dengan sabar menantikan kematian the Herald yang dianggap sebagai musuh mereka.

Tetapi Bennet bukan seorang pecundang. Lagipula ia mengenal benar psychologi orang Yahudi lebih baik daripada orang non-Yahudi mana pun yang ada di New York. Ia membalikkan meja ke arah musuh-musuhnya dengan cara yang tidak terduga-duga dan cara yang mengagetkan. Halaman terbaik di surat-kabarnya selama ini. selalu dibeli oleh orang Yahudi. Halaman ini kemudian ditawarkannya kepada para pengusaha non-Yahudi dengan kontrak yang eksklusif.

Para pedagang yang selama ini berjejal-jejal di halaman belakang dan di sela-sela yang buram karena terdesak oleh pengusaha Yahudi yang lebih berduit, kini muncul mekar penuh di halaman-halaman yang mahal. Salah seorang dari pengusaha non-Yahudi yang mengambil kesempatan itu bernama John Wanamaker, iklan besarnya sejak itu sangat menyolok di koran Bennet. Koran Bennet tetap beredar tanpa penurunan jumlah tiras maupun sirkulasinya dan dengan halaman-halaman tetap penuh dengan iklan. Bencana yang direncanakan terhadap the Herald tidak terjadi. Sebaliknya terjadi dadakan yang lucu. Kini para pengusaha non-Yahudi Amerika menikmati pelayanan yang paling diimpikan pada medium iklan yang memiliki nilai yang tinggi, sementara para pengusaha Yahudi tidak lagi menikmati kesempatan itu. Karena tidak tahan membayangkan usaha mereka akan beralih ke tangan para pengusaha non-Yahudi, orang-orang Yahudi itu kembali menemui Bennet, memohon kolom-kolomnya yang semula untuk iklan mereka kembali. Ternyata “boikot” itu telah memukul dengan telak para pemboikotnya. Bennet menerima semua yang datang tanpa memperlihatkan sikap dendam. Mereka meminta posisi lama mereka dipulihkan, tetapi Bennet menjawab, tidak. Mereka bersikeras, Bennet tetap menjawab, tidak. Mereka menawarkan akan bersedia membayar lebih mahal, tetapi Bennet menjawab, tidak. Halaman iklan yang diinginkan itu telah tertutup.

Bennet menang, tetapi di kemudian hari terbukti kemenangan itu harus ditebusnya dengan mahal. Setiap saat Bennet menolak mereka, orang Yahudi sementara itu tumbuh makin kuat di New York, dan di dalam benak mereka ada keyakinan bahwa memiliki kontrol terhadap jurnalisme di New York berarti menggenggam kontrol atas pikiran orang di seantero Amerika.

Jumlah surat-kabar berangsur-angsur berkurang karena merger. Seorang yahudi Philadelphia bernama Adolph S. Oehs mengambil-alih koran the New York Times. Dalam waktu yang tidak terlalu lama ia berhasil membuat korannya menjadi besar, hanya saja koran ini memiliki bias mengabdi bagi kepentingan kaum Yahudi. Kualitas jurnalisme pada the Times membuatnya sukses sebagai ttrompet masyarakat Yahudi. Dalam koran ini orang Yahudi disanjung-sanjung, dipuji-puji, dan dibela mati-matian; ras yang lain tidak mendapatkan hal seperti itu.

Kemudian Hearst mas uk gelanggang – ia seorang agitator (penghasut) yang berbahaya, karena ia tidak saja beragitasi di bidang yang keliru, tetapi ia juga beragitasi terhadap klas masyarakat yang keliru. Ia dikelilingi oleh orang-orang Yahudi, memberi mereka hadiah, pura-pura bekerja sarna dengan mereka, tetapi tidak pernah memberi-tahukan keadaan yang sebenarnya kepada mereka.

Kecenderungan untuk membangun kontrol pers oleh kelompok Yahudi makin kuat, dan berlanjut terus sejak itu. Nama-nama lama, yang dibangun oleh para redaktur lama dengan kebijakan mengabdi kepada kepentingan Amerika lambat laun sirna.

Sebuah surat-kabar didirikan didukung oleh pikiran pimpinan redaksi yang hebat, dalam hal mana pendirian itu merupakan ekspresi dari kepribadian yang kuat, atau surat-kabar itu menjadl di-institusionalisasikan pada suatu kebijakan dan menjadi sebuah usaha komersial. Pada perihal yang kedua, kesempatan untuk berlanjutnya kehidupan surat-kabar itu melampaui pendirinya akan lebih kuat kemungkinannya.

The Herald adalah Bennet, dan sepeninggalnya tidak dapat dihindari kekuatan dan jiwa dari surat-kabar itu akan turut hilang pula. Bennet yang makin hari makin tua khawatir, sesudah ditinggalkannya surat-kabarnya akan jatuh ke tangan orang Yahudi. Ia sadar benar mereka sangat menginginkannya. Ia tahu mereka telah memelorotkannya dan mencabutnya, dan kemudian akan membangun berbagai kantor-berita yang telah berani berbicara tentang mereka, dan membanggakannya sebagai penalukan bagi kaum Yahudi.

Bennet meneintai the Herald sebagaimana ia meneintai anaknya. Karena itu ia menuliskan sebuah wasiat agar the Herald tidak akan jatuh menjadi milik perorangan, tetapi penghasilannya disalurkan ke suatu dana yang digunakan bagi kepentingan mereka yang telah bekerja dan menjadikan the Herald sampai kepada kebesarannya seperti saat itu. Bennet meninggal pada bulan Mei 1919. Orang-orang Yahudi, musuh bebuyutan the Herald yang menunggu saat-saat itu dengan siaga, sekali lagi menarik iklan-iklan mereka dengan harapan, kalau mungkin, surat-kabar itu dijual. Mereka mengerti benar kalau the Herald menjadi usaha yang merugi, para pemegang mandat dari surat-kabar itu akan menjualnya dan tidak akan memperdulikan wasiat Bennet. Tetapi ada juga kepentingan-kepentingan di New York yang melihat bahayanya bilamana pers dikuasai oleh orang Yahudi. Kepentingan-kepentingan itu memberikan sejumlah uang agar the Herald dapat dibeli oleh Frank A. Munsey.

Tetapi semua terkejut ketika Munsey menghentikan koran tua yang berani itu, dan mengganti namanya dengan nama baru, the New York Sun. Koran yang dibesarkan oleh Bennet itu punah. Orang-orang yang turut membesarkannya berhenti dan keluar dari dunia persurat-kabaran, sedang mereka yang bertahan, kalau tidak pensiun, meninggal dunia.

Meskipun orang Yahudi gagal memiliki the Herald, mereka paling tidak berhasil membuat sebuah surat-kabar lain milik orang non-Yahudi gulung-tikar. Mereka maju terus untuk memegang kendali atas beberapa surat-kabar, kemenangan mereka akhirnya lengkaplah sudah. The Herald dikenang sebagai benteng terakhir melawan kekuatan keuangan kelompok Yahudi di New York dan di Amerika Kini orang Yahudi telah sempurna menjadi yang dipertuan di bidang jurnalistik di New York dibandingkan dengan kedudukan mereka di ibukota-ibukota Eropa. Di Eropa acapkali muncul surat-kabar yang menurunkan berita tentang ulah orang Yahudi. Surat-kabar seperti itu sudah tidak ada lagi di New York, bahkan di Amerika. Orang Yahudi memonopoli usaha persurat-kabaran dan memegang kendali terhadap apa yang patut diturunkan sebagai berita, dan apa yang tidak.

Monopoli Yahudi atas Media Cetak

The New York Times, the Wall Street Journal, dan the Washington Post, tiga surat-kabar kelas dunia ini menentukan arah pemberitaan , serta pengambilan keputusan oleh tokoh-tokoh di seluruh ibukota negara di dunia. Mereka menentukan apa yang patut menjadi berita dan apa yang bukan, baik pada tingkat nasional maupun internasional. Mereka menciptakan berita. Koran lain sekedar hanya menyalin dan meneruskannya ke seluruh penjuru dunia. Ketiga harian ini milik pemodal Yahudi, seperti juga koran-koran lain kini di Amerika Serikat dan di sebagian besar dunia. Keluarga Suzberger, seorang pemodal Yahudi yang menguasai The New York Times Company menguasai 36 buah perusahaan surat-kabar lainnya, dan duabelas majalah, termasuk McCall’s dan Family Circle. Pemilikan media cetak ini tidak berhenti hanya sampai koran yang memiliki pengaruh, tetapi hahkan sampai koran-koran kuning di New York, seperti the Daily News, dan the New York Post, yang dimiliki seorang milyarder Yahudi yang juga pengembang real-estate, Peter Kalikow. Koran ‘The Village Voice’ juga milik pribadi seorang pemodal Yahudi bernama Leonard Stern.

Hanya ada tiga majalah yang pantas dicatat di Amerika Serikat, Time, Newsweek, dan US News and World Report. Pimpinan eksekutif Time Worner Corporation adalah Steven Ross, dan orang ini pun seorang Yahudi.

Ada tiga penerbit buku ukuran raksasa, Random House, Simon & Schuster, dan Time Inc. Book Co. Kesemuanya dimiliki oleh pemodal Yahudi. Pimpinan eksekutif Simon & Schuster ialah Richard Snyder, dan ketuanya Jeremy Kaplan, kedua-duanya orang Yahudi. Western Publishing ada pada peringkat paling atas, yang menerbitkan buku-buku untuk kanak-kanak, dengan pangsa pasar yang dikuasainya 50 % dari pangsa pasar buku untuk kanak-kanak yang ada di dunia. Ketua dan pimpinan eksekutifnya sekaligus ialah Richard Bernstein, seorang Yahudi. Jurubicara kaum Yahudi biasanya selalu menggunakan taktik menghindar. Mereka senantiasa berujar “Ted Turner hukan orang Yahudi!” Meskipun demikian kalangan Yahudi tetap memegang semboyan, “Kita tidak sekedar memberikan pengaruh yang menentukan dalam sistem politik yang kita kehendaki serta kontrol terhadap pemerintah; kita juga melakukan kontrol terhadap pikiran dan jiwa anak-anak mereka”.

Penguasaan Media Elektronika

Kecenderungan deregulasi oleh pemerintah di seluruh dunia di bidang industri telekomunikasi menghasilkan bukannya persaingan yang kian meningkat, tetapi justeru gelombang pasang-naik merger perusahaan, disertai pengambil-alihan usaha pers yang menghasilkan multi-miliar dolar konglomerasi media. Dunia layar kaca, apakah dari suatu stasiun nasional atau melalui piringan satelit, atau saluran kabel, apakah film di gedung bioskop atau dalam bentuk VCD (video-cassette disc) di rumah; mendengarkan musik dari radio swasta niaga setempat, membaca koran, majalah, atau buku – sangat besar kemungkinannya informasi atau hiburan yang diterima tadi adalah produk atau didistribusikan oleh salah satu dari mega-usaha Yahudi di bawah ini.

Konglomerat media terbesar saat ini adalah Walt Disney Company, dimana pimpinan eksekutifnya, Michael Eisner seorang Yahudi. Kerajaan Disney dikepalai oleh seseorang yang oleh salah satu analis media disebutkan sebagai “tukang kontrol”, termasuk beberapa perusahaan produksi teve (Walt Disney Television, Touchstone Television, Buena Vista Television), jaringan teve kabelnya, termasuk di Indonesia, meliputi 14 juta pelanggan, dan dua perusahaan yang memproduksi video.

Dalam hal produksi film, the Walt Disney Pictures Group yang dikepalai oleh Joe Roth (juga seorang Yahudi), meliputi Touchstone Pictures, Hollywood Pictures, dan Caravan Pictures. Disney juga menguasai Miramax Films yang dipimpin oleh Weinstein bersaudara, orang Yahudi. Ketika Disney Company masih dipimpin oleh orang-orang non-Yahudi sebelum diambill alih oleh Eisner pada tahun 1948, film-filmnya lebih mengedepankan hiburan keluarga yang sehat. Meskipun masih memegang hak-cipta atas film-film semacam Snow White, tetapi di bawah Eisner film-film Disney memperluas produksinya pada film-film kekerasan dan sex secara mentah. Sebagai tambahan terhadap teve dan film, perusahaan itu menguasai juga Disneyland, Disney World, Epcot Center, Tokyo Disneyland, dan Euro Disney.

Disney setiap tahun menjual produk bernilai milyaran dolar dalam bentuk: buku, mainan anak-anak, dan pakaian. Pada bulan Agustus 1995, Eisner mengambil-alih jaringan Capital Cities/ABC, Inc., menciptakan sebuah kerajaan media dengan penjualan tahunan kira-kira $ 16,5 milyar. Capital Cities/ABC memiliki jaringan ABC Television Networks, yang selanjutnya menguasai sepuluh stasiun teve di New York, Chicago, Philadelphia, Los Angeles dan Houston. Anak perusahaan ABC Television di bidang teve kabel, ESPN, dikepalai oleh Steven Bernstein, yang juga seorang Yahudi. Perusahaan ini mcnguasai saham pemilikan Lifetime Television dan Arts & Entertainment Network Cable dengan jaringan tidak kurang dari 3.400 stasiun di seluruh dunia. Warner Music adalah perusahaan rekaman terbesar di dunia dengan menggunakan 50 buah merk dagang. Presiden komisaris dan direktur utamanya adalah Danny Goldberg. Stuart Hersh adalah ketua Warnervision, keduanya orang Yahudi. Dan jangan lupa CNN, siaran teve paling berpengaruh dengan jaringannya yang meliputi nyaris ke seluruh jagad, dikuasai oleh Ted Turner, yang juga orang Yahudi.

Karenanya jangan heran bila siaran CNN mengenai negara-negara yang tidak sehaluan dengan Israel, terutama negara-negara Islam atau komunitas muslim, akan selalu diplintir. Orang-orang dengan wajah dan latar-belakang Timur Tengah atau muslim senantiasa digambarkan sebagai “bandit”, bengis, culas, tidak dapat dipercaya dan berkubang dalam kegiatan terorisme. Demikian pula dengan jaringan media-cetak, radio, teve milik Rupert Murdoch, yang juga seorang Yahudi. Murdoch mengkhususkan diri pada pers ‘kuning” dengan berita-berita yang ‘jalang’. Sasarannya ini tidak terlalu mengejutkan bila dikaitkan dengan missi dari Illuminati yang bertujuan untuk mengacaukan moral di kalangan masyarakat ‘goyyim’ .

Dua perusahaan produksi film terbesar di dunia, MCA dan Universal Pictures, keduanya dimiliki oleh satu perusahaan, Seagram Co. Ltd. Pemilik Seagram adalahjuga raksasa produsen minuman keras, Edgar Bronman, yang menduduki jabatan sebagai ketua ‘World Jewish Congress’ (‘Konggres Yahudi Sedunia’). Perusahaan yang pernah merajai dunia perfilman seperti Melvyn, Goodwyn, Meyer (MGM), yang diambil dari nama tiga-serangkai Yahudi. Meski tidak sebesar MCA, Universal atau MGM, tetapi perusahaan film ‘Dreamworks’ yang dikuasai oleh David Geffen, Steven Spielberg, dan Jeffry Killwnberg, dikenal dengan film-film mereka yang menggunakan ‘efek teknik’ yang memukau para penggemarnya di seluruh dunia.

Tiga siaran televisi terbesar di dunia, ABC, CBS, dan NBC, melalui merger kerajaan media-elektronika, ketiga siaran televisi ini tidak lagi independen. Kini ketiganya dibawah kontrol Yahudi: ABC dipimpin oleh Leonard Goldenson, CBS oleh Laurence Tisch, dan NBC oleh Robert Sarnoff. Selama beberapa dasawarsa ketiga siaran televisi ini dikelola dari puncak sampai ke bawah oleh orang-orang Yahudi, dengan demikian watak keyahudiannya tidak akan pernah berubah, meski pemilikannya di kemudian hari mungkin saja beralih tangan. Penampilan kepentingan Yahudi terutama sangat menonjol dalam dunia televisi, yang merupakan media yang paling mudah mempengaruhi pendapat dan sikap masyarakat.

Buku Zionisme: Gerakan Menaklukan Dunia oleh ZA. Maulani

About admin

Jika kata tak lagi bermakna lebih baik diam. (Masih) belajar Islam yang lurus dan benar. Cuma numpang sebentar di dunia. Silahkan duduk mari bicara. Lihat semua pos milik admin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: