Catatan Terhadap Buku “Negeri-Negeri yang Musnah” karya Harun Yahya

Tulisan berikut berusaha mengupas tentang salah satu buku yang ditulis oleh Al Ustadz Harun Yahya, seorang penulis Islam terkenal Turki. Harun Yahya terkenal sebagai penulis yang menulis karya-karya penting yang menyingkap kekeliruan para evolusionis, ketidaksahihan klain-klaim mereka dan hubungan gelap antara darwinisme dengan ideologi berdarah seperti fasisme dan komunisme.

Karya-karya Harun Yahya dibaca di banyak negara, dari India hingga Amerika, daru Inggris hingga Indonesia. Buku-bukunya tersedia dalam berbagai bahasa dan dinikmati diseluruh dunia.

Terdapat pula karya-karyanya dalam bentuk lain seperti brosur dan VCD seperti yang belakangan banyak dinikmati kaum muslimin di negeri kita. Secara umum, karya-karya beliau memiliki banyak faidah dan keutamaan karena sedikitnya pemikir yang membahas tentang kerusakan ideologi barat seperti darwinisme, komunisme, dan fasisme, serta berbagai keajaiban kuasa Allah melalui penyampaian gambar yang memukau dan ilmiah.

Bagaimanapun beliau bukan merupakan pribadi yang bebas dari kesalahan. Tulisan ini merupakan salah satu catatan terhadap tulisan beliau pada buku ”Negeri-Negeri yang Musnah” terbitan penerbit Dzikra dari tulisan aslinya ”The Perished Nations”. Ajaibnya, buku ini justru mendapat sambutan yang luar biasa dari berbagai pemikir dan pengkaji tanpa peduli kekeliruannya yang sangat jelas.


Harun Yahya Mengingkari Banjir Kaum Nuh Terjadi di Seluruh Dunia

Beliau berkata pada hal. 13 ketika mencela Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang menegaskan bahwa terjadinya banjir bersifat global, ”Namun, dalam Al-Quran, jelas ditunjukkan bahwa tidak seluruh dunia, tetapi hanya umat nabi Nuh yang dihancurkan”. Pada klaimnya ini beliau mengkiaskan dengan adzab yang menimpa kaum ’Ad dan Kaum Tsamud serta seluruh nabi sebelum Muhammad shalallahu ’alaihi wa sallam yang hanya memusnahkan kaum tertentu.

Kita bandingkan dengan penjelasan Ibnu Katsir dalam ”Kisah Para Nabi” (terjemahan dari Qashasul Anbiya).

Beliau menjelaskan bahwa kaum Nuh adalah kaum Nuh adalah kaum yang pertama kali berbuat kemusyrikan di muka bumi. Maka tatkala mereka tetap keras kepala, maka Nuh berkata, ”Ya Tuhanku, janganlah engkau biarkan seorangpun diantara orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika engkau membiarkan orang-orang kafir itu tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hambaMu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangan kafir” (Nuh 25-27).

Berkata Ibnu Katsir, ” Setelah Allah Azza wa Jalla mengutus Nuh ’alaihissalam, maka Nuh pun segera menyeru kaumnya supaya mengesakan Allah dalam beribadah dan tidak menyekutukanNya. Selain itu ia juga mengajak kaumnya agar tidak menyembah dan mengesakan patung dan berhala. Serta mengajarkan pada mereka bahwa Tiada Tuhan yang berhak disembah Kecuali Allah. Sebagaimana Allah Ta’ala memerintahkan para rasul setelahnya, yang mereka semua tidak lain adalah anak keturunannya. Allah berfirman ”Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan” (al Shaffat 77).”

Berkata Ibnu Katsir, ”Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

”Dan bahtera itu berlayar mebawa mereka dalam gelombang laksana gunung.” (Huud 42).

Hal itu terjadi di mana Allah ’Azza wa Jalla mengirimkan hujan dari langit yang belum pernah sama sekali terjadi sebelum dan sesudahnya, hingga gerakan air seperti gelombang yang menjulang tinggi. Selain itu, dia juga memerintahkan bumi supaya mengeluarkan air dari segala penjuru dan sisinya. Sebagaimana yang difirmankanNya ini:

”Maka kami bukakan pintu-pintu langit (menurunkan) mata air yang tercurah. Dan kami jadikan bumi beberapa mata air, maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan . Dan Kami angkut Nuh ke atas bahtera yang terbuat dari papan dan paku, yang berlayar dengan pemeliharaan Kami (Allah).” (al Qamar 10-13). Maksudnya, kapal tersebut selalu dalam pengawasan, pemanratuan, dan penglihatan Kami (Allah).

berkata Ibnu Katsir, ”Ada sekelompok orang Parsi dan India yang mengingkari peristiwa taufan tersebut. Tetapi ada sebagian mereka yang mengakuinya seraya berkata ”Musibah Taufan tersebut terjadi di bumi babilonia dan tidak sampai kepada kita.” Lebih lanjut mereka mengatakan, ”Dan kami masih terus-menerus menjalankan kerajaan dan kekuasaan secara bergantian.”

Demikian itulah yang dikemukakan para pemuka Majusi, yaitu para penyembah api dan pengikut syaithan. Dan itu pula merupakan bentuk kebodohan dan kekufuran sekaligus kedustaan terhadap Tuhan pemilik bumi dan langit. Seluruh pemeluk agama telah sepakat mengakui adanya peristiwa taufan tersebut yang menimpa seluruh negeri yang ada dimuka bumi. Dan Allah Ta’ala tidak emnyisakan seorang kafirpun dimuka bumi, sebagai jawaban dan pemenuhan bagi do’a nabiNya dan sebagai implementasi dari ketetapan takdir.”

Apakah Seluruh Binatang Dinaikkan ke atas Perahu?

Harun Yahya menolak bahwa seluruh binatang dinaikkan ke atas perahu. Dia berkata (Hal 15), ”Menurut keyakinan ini, sepasang dari setiap spesies daratan dibawa bersama ke atas perahu.” Sampai perkataannya, ”Meski demikian, jelas mustahil sekalipun hanya untuk mengumpulkan seluruh binatang yang hidup di wilayah tersebut (maksudnya wilayah kaum Nuh).”

Klaim beliau ini didasari –terutama- oleh pandangan beliau bahwa banjir yang terjadi bersifat regional dan telah lewat bantahan terhadap klaim ini.

Allah berfirman dalam surat Huud ayat 40, ”Hingga apabila perintah Kami datang dan tannur telah memancarkan air, Kami berfirman, ”Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing sepasang binatang (jantan dan betina) serta keluargamu kecuali orang-orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan muatkan pula orang-orang yang beriman.”

Berkata Ibnu Katsir, ”Sebagian ’ulama menyebutkan, diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa yang pertama kali masuk  ke kapal tersebut dari bangsa burung-burungan adalah sebangsa burung kakak tua (berparuh besar). Dan yang terakhir kali masuk adalah keledai, sedangkan iblis masuk ke kapal itu dengan bergantung pada dosa keledai.”

Berapakah Tinggi Banjir Tersebut  

Berkata Harun Yahya (hal 16), ”Sebagaimana diketahui, Al Qur’an menginformasikan kepada kita bahwa perahu nabi Nuh itu terdampar di ”Al Judi” seusai banjir.” Lebih lanjut beliau mengklaim bahwa ”Judi” yang dimaksud bukanlah nama gunung tertentu, tetapi terdampar pada suatu ketinggian. Dia berkata, ”makna kata ”judi” yang disebutkan di atas mungkin juga mennjukkan bahwa air bah itu mencapai ketinggian tertentu, tetapi tidak mencapai ketinggian puncak gunung.”

Klaim beliau ini didasari oleh pemahamannya bahwa banjir yang terjadi bersifat regional dan bantahan tentang ini telah lewat, Alhamdulillah.

Lokasi Banjir nabi Nuh

Harun Yahya (hal 16) menetapkan bahwa banjir nabi Nuh terjadi di daratan mesopotamia. Beliau menguatkan perkataannya berdasarkan analisis sejarah, temuan arkeologis, dan pernyataan sejumlah pakar sejarah barat kontemporer. Dan telah lalu bantahan tentang ini.

Tempat kelahiran Ibrahim ’alaihissalam  

Berkata Harun Yahya (hal 35) bahwa tempat kelahiran Ibrahim adalah Harran dan Urfa. Berkata Ibnu katsir, ”Tanah kelahirannya ituadalah tanah Kaldaniyyin. Yang mereka maksudkan adalah Babil. Demikian itulah yang benar menurut ahli sejarah.” Ibnu Abbas mengemukakan, ” Yang benar, Ibrahim dilahirkan di Babil.”

Patut dicatat bahwa Harun Yahya  dalam tulisan-tulisannya jarang sekali mengikuti pola yang biasa di pakai para sejarawan muslim, sebagaimana akan datang penjelasannya insyaAllah. Seandainya beliau mau membandingkan kesimpulannya dengan kesimpulan yang dipegang para ’ulama…… tetapi beliau lebih mendahulukan pandangan para saintis!!!!

Urutan Periode Kenabian

Berdasarkan analisisnya terhadap analisis sejarah, temua arkeologis, dan kesimpulan sejarawan barat, Harun Yahya menyimpulkan urutan periode kenabian sebagai berikut:

Nuh

3000-2500 SM

Ibrahim

awal 2000 SM

Luth

1300 SM

Hud dan ’Ad

1300 – ? SM

Shalih dan Tsamud

800 – ? SM

Beliau berkata, ”Tentu saja urutan-urutan ini tidak bisa dikatakan sangat tepat, namun hal ini menghasilkan sebuah urutan, baik menurut penggambaran dalam Al-Quran dan data-data sejarah.” (Hal 88)

Sekali lagi, kengganan beliau menelaah kitab-kitab rujukan sejarah para ’ulama telah menjerumuskan beliau untuk berbicara tanpa ilmu. Betapa tidak, beliau  meletakkan periode nabi Hud dan nabi Shalih alaihimassalam setelah masa kenabian Ibrahim!!!!! Hal ini tidak pernah disimpulkan ahli sejarah manapun.

Referensi dalam Membahas Sejarah

Para ’ulama Islam dalam menelaah sejarah senantiasa merujuk pada sumber berikut ini:

ؤ Al Quran

ؤ Hadits Nabi yang  Mulia

ؤ Kitab Maghazi dan As-Sair

ؤ Kitab-kitab Tarikh

Diantara kitab-kitab tarikh yang terkenal ”Sejarah para Rasul dan Para Raja” karangan Imam Ath Thabari.

Adapun Harun Yahya, beliau tidak merujuk pada sumber-sumber tersebut, beliau berhenti pada ayat-ayat Al Quran dan menafsirkan dengan cara-cara yang tidak ada landasan ilmiahnya-sebagaimana terjadi pada sebagian besar bukunya yang lain. Sangat jarang beliau merujuk bahasannya pada hadits-hadits rasul apalagi rujukan kitab sejarah primer karya para ’ulama Islam. Padahal hadits dan kitab-kitab tersebut tercetak secara luas, bahkan lebih banyak tersebar dibanding sumber-sumber sejarawan barat yang diambil Harun Yahya.

Orang bijak berkata:

”Man ustadzuhu kitabuhu, fakhata’uhu aktsar min shawabihi”

Siapa yang menjadikan kitabnya sebagai gurunya, maka kesalahannya lebih banyak daripada benarnya.

About admin

Jika kata tak lagi bermakna lebih baik diam. (Masih) belajar Islam yang lurus dan benar. Cuma numpang sebentar di dunia. Silahkan duduk mari bicara. Lihat semua pos milik admin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: