Belajar Sejarah Bukan Sekedar Mengenang Peristiwa

Sejarah bukan hanya rekaman peristiwa pada masa tertentu yang tanpa makna. Jika ada orang berpandangan bahwa sejarah hanyalah peristiwa masa silam yang tidak perlu diingat-ingat, maka ini tentu sangat disayangkan, karena jelas bertentangan dengan al-Qur’an dan Hadits yang mengajarkan kepada kaum Muslimin untuk mengambil pelajaran dari peristiwa yang telah lewat. Orang berpandangan seperti ini jelas akan merugi, karena betapa banyak faidah yang bisa dipetik oleh orang yang mempelajari sejarah.

Terlebih jika sejarah itu berkaitan dengan agama yang menjadi kunci kebaikan dunia dan akhirat, maka tentu memahaminya akan menjadi semakin penting. Betapa tidak, dengan memahami sejarah dengan baik dan benar, kaum Muslimin bisa bercermin untuk mengambil banyak pelajaran dan membenahi kekurangan atau kesalahan mereka guna meraih kejayaan dan kemuliaan dunia dan akhirat.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, seorang Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengungkapkan, “Orang yang berbahagia (beruntung) adalah orang yang mengambil nasehat (pelajaran) dari (peristiwa yang dialami) orang lain.” (HR Muslim, no. 2645)

Namun tidak semua kisah ataupun sejarah yang berkaitan dengan agama bisa diterima begitu saja, perlu ada penelitian tentang kebenarannya. Oleh karena itu, sebaik-baik sejarah yang dapat diambil pelajaran dan hikmah berharga darinya adalah kisah-kisah yang terdapat dalam ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena kisah-kisah tersebut disamping sudah terjamin kebenarannya, juga bersumber dari wahyu Allah Ta’ala yang maha benar, serta kisah-kisah tersebut memang disampaikan oleh Allah Ta’ala untuk menjadi pelajaran bagi orang-orang yang berakal sehat.

Allah Ta’ala berfirman :

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka (para Nabi dan umat mereka) itu terdapat pelajaran  bagi orang-orang yang mempunyai akal (sehat).  Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat,  akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu,  serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS Yusuf/12:111)

Artinya, kisah-kisah yang menggambarkan keadaan para Nabi dan umat mereka tersebut, serta yang menjelaskan kemuliaan orang-orang yang beriman dan kebinasaan orang-orang kafir yang mendustakan seruan para nabi, berisi pelajaran bagi orang-orang yang beriman untuk memantapkan keimanan mereka dan menguatkan ketakwaan mereka kepada Allah Ta’ala dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.” (Lihat kitab Aisarut Tafasîr (2/236)

Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullâh menjelaskan bahwa diantara manfaat memahami kisah-kisah tersebut adalah bisa menjadi sebab untuk meraih ridha Allah Ta’ala. Beliau rahimahullah berkata, “Termasuk hal yang paling jelas (manfaatnya dalam kebaikan) bagi orang-orang (beriman) yang memiliki pemahaman (yang benar) adalah (merenungkan) kisah-kisah orang-orang yang terdahulu maupun orang-orang jaman sekarang, (yaitu) kisah orang-orang yang taat kepada Allah dan kemuliaan yang diberikan Allah Ta’ala kepada mereka, serta kisah orang-orang yang durhaka kepada-Nya dan kehinaan yang ditimpakan Allah Ta’ala kepada mereka. Barangsiapa yang tidak bisa memahami kisah-kisah tersebut dan tidak dapat mengambil manfaat darinya maka (sungguh) tidak ada jalan (kebaikan) untuknya.”

Sebagaimana firman Allah Ta’ala, yang artinya, “Dan berapa banyak umat-umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka yang memiliki kekuatan yang lebih besar daripada mereka, maka mereka (yang telah dibinasakan itu) telah pernah menjelajah di beberapa negeri. Adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari kebinasaan)?” (QS Qaaf/50: 36).

Salah seorang ulama salaf berkata, “Kisah-kisah (dalam al-Qur’an) adalah tentara-tentara Allah”, artinya: kisah-kisah tersebut tidak bisa disanggah oleh para penentang kebenaran.

Oleh karena itu, wahai hamba Allah! Bersungguh-sungguhlah untuk memahami tali yang menghubungkan Allah Ta’ala dengan hamba-hamba-Nya ini (al-Qur’an), karena barangsiapa yang berpegang-teguh dengannya maka dia akan selamat (dari kebinasaan) dan barangsiapa yang berpaling darinya maka dia akan binasa.” (Mukhtasharu Sîratir Rasal Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, hlm. 9)

Sumber: Majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XV

About admin

Jika kata tak lagi bermakna lebih baik diam. (Masih) belajar Islam yang lurus dan benar. Cuma numpang sebentar di dunia. Silahkan duduk mari bicara. Lihat semua pos milik admin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: