Taubat Nasuha

Penulis: Ustadz Zaenal Abidin Lc.

Hakikat tobat nasuha seperti yang ditegaskan Imam Al-Kalbi, ”Tobat Nasuha adalah menyesali dosa dengan hati, beristighfar dengan lisan, melepaskan diri dari dosa dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya(1)”. Tobat nasuha menuntut pelakunya bertobat secara lahir maupun batin, menyesal dan bertekad untuk tidak kembali kepada dosa-dosa. Tobat yang dilakukan secara lahir saja bisa diibaratkan kotoran yang dibungkus dengan kain sutra, sehingga orang yang melihatnya akan terpesona oleh bungkusnya, tapi begitu mengetahui isinya, ia akan berpaling. Pada Hari Kiamat kelak, akan tersingkaplah semua rahasia orang yang menampakkan ketaatan lahir saja, sehingga para malaikat akan berpaling meninggalkannya(2).”

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Hendaknya maksud tobat adalah bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala, yaitu merasa takut dan khusyuk kepada-Nya, menunaikan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan menjalankan ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah dengan berharap pahala-Nya, dan meninggalkan maksiat di atas cahaya-Nya karena merasa takut terhadap siksaan-Nya(3).”

Ketahuilah, bahwa tobat nasuha wajib dilakukan oleh setiap muslim berdasarkan firman Allah subhanahu wata’ala (yang artinya) :

“Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobatan nasuha (tobat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabb-mu akan menutupi kesalahankesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia,” (QS At-Tahrim [66]: 8).

Ibnu Katsir rahimahullah  berkata bahwa para ulama berkata, “Tobat nasuha adalah melepas dosa pada saat sekarang, menyesali dosa-dosa masa lalu, dan bertekad bulat untuk tidak mengulangi kesalahan pada masa yang akan datang. Kemudian, bila terkait dengan hak-hak anak Adam, maka harus dikembalikan sesuai dengan kondisinya(4).”

Seorang hamba yang telah menjalani tobat nasuha pasti akan merasakan manisnya iman, tenang dan bersihnya jiwa serta kebahagian hati. Karena, tobat nasuha merupakan sumber segala kebaikan, pemancar segala kebahagiaan, ketenangan juga kebersihan dan sarana terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wajalla. Sungguh, Allah subhanahu wata’ala mencintai hamba yang bertobat dan senang dengan tobatnya.

Mengalir sebagai karakter utama manusia adalah sifat lalai, lupa, dan condong berbuat salah dan melampaui batas. Karena karakter inilah, kita perlu beristighfar setiap saat, kembali kepada Allah subhanahu wata’ala, tidak menunda-nunda tobat, dan meningkatkan amal shalih. Tobat menghapus dosa dan tindakan tercela melalui empat langkah sebagaimana yang telah ditegaskan Al-Quradhi bahwa tobat nasuha harus menghimpun empat perkara; beristighfar secara lisan, melepaskan dari tindakan anggota badan, bertekad kuat dalam hati untuk tidak mengulanginya, dan menjauhi teman-teman yang buruk(5).

Tobat nasuha merupakan tempat peristirahatan pertama bagi orang-orang yang menempuh di jalan menuju kebenaran di sisi Rabb yang Mahakuasa, sekaligus sebagai permulaan orang-orang yang berjalan menuju akhirat.
Tobat nasuha bukan saja sebagai permulaan, tapi juga menjadi pertengahan sekaligus akhir perjalanan spiritual menuju Allah subhanahu wata’ala. Sehingga seorang hamba yang menempuh perjalanan tidak layak untuk memisahkan diri darinya. Ia harus tetap menjalankannya sampai akhir hayat. Kalaulah ia harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetap saja ia harus menjalankannya dan bersamanya.

Dan kebutuhan manusia pada tobat di akhir hayatnya sangat mendesak seperti kebutuhannya pada awal kehidupan, sehingga Allah subhanahu wata’ala berfirman (yang artinya):
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” (QS Ali Imran [3]: 133).

Abu Hayyan Al-Andalusi rahimahullah berkata, “Ketika mereka diperintahkan memelihara diri dari api neraka, maka mereka diperintahkan untuk bergegas menuju sebab-sebab yang mendatangkan pengampunan dan jalan menuju surga(6).”

Tobat nasuha dimulai dengan penyesalan, kemudian penyesalan melahirkan keinginan keras untuk kembali kepada Allah subhanahu wata’ala dan bertekad bulat meninggalkan maksiat. Dan telah dimaklumi bahwa kemaksiatan adalah penghalang dan penyekat hubungan antara seorang hamba dengan Tuhannya, sehingga ia pun segera memilih keselamatan. Sementara tidak ada cara paling bagus untuk menyelamatkan dari siksa Allah ‘azza wajalla kecuali hanya berlindung, berharap dan takut kepada-Nya. Dari perasaan harap dan cemas inilah akan lahir tobat Nasuha. Inilah jalan yang ditempuh oleh kaum yang kembali dan bertobat. Tobat adalah kembalinya seorang hamba kepada Allah subhanahu wata’ala yang Maha suci lagi Maha tinggi dari perbuatan dosa yang pernah dilakukannya dulu, baik karena sengaja maupun karena kejahilan. Ia kembali kepada Allah subhanahu wata’ala dengan penuh keikhlasan, kemantapan dan keyakinan yang disertai dengan ketaatan yang mengangkatnya sampai ke derajat para wali Allah subhanahu wata’ala yang benar-benar bertakwa.untuk menyelamatkan dari siksa Allah subhanahu wata’ala kecuali hanya berlindung, berharap dan takut kepada-Nya.

Dari perasaan harap dan cemas inilah akan lahir tobat Nasuha. Inilah jalan yang ditempuh oleh kaum yang kembali dan bertobat. Tobat adalah kembalinya seorang hamba kepada Allah subhanahu wata’ala yang Mahasuci lagi Maha tinggi dari perbuatan dosa yang pernah dilakukannya dulu, baik karena sengaja maupun karena kejahilan. Ia kembali kepada Allah subhanahu wata’ala dengan penuh keikhlasan, kemantapan dan keyakinan yang disertai dengan ketaatan yang mengangkatnya sampai ke derajat para wali Allah ‘azza wajalla yang benar-benar bertakwa.

 

Footnote :
(1) Lihat Jami Li Ahkamil Qur’an, Qurthubi, 18/ 129.
(2) Lihat Muhasyafatul Qulub, Al-Ghazali, hal. 62.
(3) Lihat Tahdzib Madarijus Salikin, Ibnu Qayyim, 1/202.
(4) Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 8/ 134.
(5) Lihat Tafsir Al-Qurthubi, 18/ 129.
(6) Lihat Tafsir Al-Bahr Al-Muhith, Abu Hayyan, 3/ 61.

Iklan

About admin

Jika kata tak lagi bermakna lebih baik diam. (Masih) belajar Islam yang lurus dan benar. Cuma numpang sebentar di dunia. Silahkan duduk mari bicara. Lihat semua pos milik admin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: