Sifat dan Keistimewaan Jalan Kebenaran

Penulis: Ustadz Badrussalam, Lc.

Sesungguhnya Allah telah memancangkan jalan kebenaran dan memerintahkannya untuk menitinya, dan Allah pun memberikan padanya sifat-sifat dan keistimewaan jalan tersebut sehingga dapat dikenal oleh orang yang ingin menitinya, di antara sifat dan keistimewaannya adalah :

Satu Tak Berbilang

Allah Ta’ala berfirman :

فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلاَّ الضَّلاَلُ.

Dan apakah setelah kebenaran kecuali kesesatan”. (Yunus: 32).

Al Qurthubi rahimahullah berkata, “Ayat ini memutuskan bahwa tidak ada antara kebenaran dan kebatilan tempat yang ketiga dalam masalah ini yaitu menauhidkan Allah Ta’ala, demikian pula semua perkara yang serupa dengannya dari masalah-masalah yang pokok, kerena sesungguhnya kebenaran itu hanya ada pada satu sisi saja”. (Al Jami’ li Ahkamil Qur’an 8/336).

Allah Ta’ala berfirman :

وَلاَ تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ تَفَرَّقُوْا وَاخْتَلَفُوْا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتِ.

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang berselisih dan bercerai berai setelah datang kepada mereka kebenaran”. (Ali Imran : 105).

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Ayat-ayat yang melarang perpecahan dalam agama mengandung celaan terhadap perpecahan, semuanya adalah saksi yang tegas bahwa kebenaran di sisi Allah hanyalah satu selainnya adalah salah, kalaulah semua pendapat itu benar, tentu Allah dan Rosul-Nya tidak akan melarang kebenaran tidak pula mencelanya”.(Mukhtashor Ash Showa’iq Al Mursalah 2/566).

Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa umat Islam berpecah-belah menjadi 73 golongan dalam hadits-hadits yang banyak dan shahih, beliau menyebutkan bahwa semuanya masuk ke dalam api Neraka kecuali satu. Imam Asy Syathibi berkata,” Sesungguhnya sabda beliau “kecuali satu” secara teksnya menunjukkan bahwa kebenaran itu satu dan tidak berbilang, sebab kalaulah kebenaran itu berfirqah-firqah tentu beliau tidak akan berkata “kecuali satu”. (Al I’tisham 2/249).

Oleh karena itu imam Malik rahimahullah berkata, “Kebenaran hanyalah satu, dua pendapat yang berbeda kedua-duanya benar?! Kebenaran hanyalah satu”. (Jami’ Bayanil ‘Ilmi 2/907).

Adapun pendapat yang mengatakan bahwa setiap mujtahid itu benar adalah pendapat yang berasal dari kaum mu’tazilah Bashrah, Al Qadli Abu Thayyib Ath Thobari berkata, “Abul Hasan Al Asy’ari telah menyebutkan kedua pendapat itu semuanya, ia menjelaskan bahwa kebenaran itu hanya ada pada satu sisi saja, namun ia malah condong kepada pendapat “Setiap mujtahid itu benar” padahal ia adalah pendapat mu’tazilah Bashrah, dari merekalah bid’ah itu berasal.

Mereka mengatakan demikian karena kebodohan mereka terhadap makna-makna fiqih dan jalan-jalannya yang menunjukkan kepada kebenaran, yang membedakan antara kebenaran dengan syubhat-syubhat yang batil”. (Al Bahrul Muhith 6/243).

Sebagian orang ada yang menisbatkan pernyataan “setiap mujtahid itu benar” kepada imam Asy Syafi’i, akan tetapi penisbatan itu tidak benar, berkata Abu Ishaq Al Marwazi,” yang menisbatkannya kepada imam Syafi’i hanyalah orang-orang belakangan yang tidak mempunyai pengetahuan tentang madzhab beliau, itu hanyalah klaim mereka belaka”. (Al Bahrul Muhith hal. 243).[1]

Namun di zaman ini muncul pemahaman yang aneh terhadap firman Allah Ta’ala dalam surat Al maidah ayat 16:

يَهْدِي بِهِ اللهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلاَمِ .

Dengan kitab itulah Allah menunjukki orang-orang yang mengikuti keredlaannya ke jalan-jalan keselamatan…”.

Ia berkata, “Allah menyebut jalan-jalan keselamatan, ini menunjukkan bahwa kebenaran itu banyak, karena Allah menyebutnya dengan bentuk jamak.”

Bila kita membuka kitab-kitab tafsir, tidak ada satupun ulama tafsir yang memahami demikian, ibnu Katsir berkata,” Artinya jalan-jalan keselamatan dan manhaj-manhaj istiqomah”.[2]

Semua kebaikan berupa shalat, zakat, puasa, haji dan amal-amal shalih yang memasukkan pelakunya ke dalam syurga itulah jalan-jalan keselamatan. Oleh karena itu Syaikh Abdurrahman As Sa’di berkata menafsirkan, “Artinya Allah memberi hidayah kepada orang yang bersungguh-sungguh untuk meraih keridhaan Allah jalan-jalan keselamatan yang menyelamatkan pelakunya dari ‘adzab dan menyampaikannya ke Negeri keselamatan, ia adalah adalah ilmu tentang kebenaran dan amal secara global maupun secara terperinci”.[3]

Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu berkata,” Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggaris sebuah garis dengan tangannya, kemudian berkata,” Ini adalah jalan Allah yang lurus”. Kemudian menggaris di kanan dan kirinya,kemudian bersabda,” ini adalah jalan-jalan lainnya, tidak ada satu jalan pun kecuali ada padanya setan yang menyeru kepada jalan tersebut, lalu beliau membaca firman Allah Ta’ala:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ وَلاَ تَتَّبِعُوْا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ.

Dan inilah jalanku yang lurus maka ikutilah dan jangan kamu ikuti jalan-jalan yang lainnya niscaya (jalan-jalan tersebut) akan memecah belah kamu dari jalan-Nya. Itulah yang Allah perintahkan agar kamu bertaqwa.” (Al An’am : 153).

Dalam hadits ini Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membuat satu garis lurus dan menafsirkannya sebagai jalan Allah, lalu membuat garis-garis lain yang banyak di samping kanan dan kirinya, ini menunjukkan bahwa jalan Allah yang merupakan jalan kebenaran hanya satu disisi-Nya tak berbilang, sedangkan jalan keburukan itu banyak.

 

Tidak Kontradiksi

Jalan kebenaran tidak akan terjadi padanya kontradiksi karena ia berasal dari Allah Rabbul ‘alamin yang mengabarkan kepada kita dalam firman-Nya :

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا.

Tidakkah mereka mentadabburi Al Qur’an, kalaulah Al Qur’an itu berasal dari selain Allah tentu mereka akan mendapatkan di dalamnya pertentangan yang banyak.” (An Nisaa : 82).

Adapun jalan kebatilan sebaliknya, disana banyak terjadi kontradiksi dan kerancuan, sebuah contoh misalnya aqidah Syi’ah yang berkata, “Sesungguhnya para imam kami mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang belum terjadi, mengetahui kapan mereka mati, bahkan mereka tidak mati kecuali dengan idzin mereka.”

Kemudian kita lihat mereka melakukan taqiyah[4], maka kita bertanya kepada mereka, “Mengapa imam kamu bersembunyi dan tidak terang-terangan memperlihatkan aqidah mereka?” mereka menjawab, “Dalam rangka taqiyah.” Kita bertanya, “Taqiyah dari siapa?” Mereka menjawab, “Taqiyah dari musuh.” Lihatlah! Sungguh sangat aneh, padahal mereka meyakini bahwa imam mereka mengetahui kapan mereka mati dan tidak mati kecuali dengan idzin mereka, lalu mengapa harus taqiyah jika keadaannya demikian?

Demikian pula kaum sufiyah atau tasawuf yang meyakini bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah makhluk yang pertama kali Allah ciptakan bahkan beranggapan bahwa semua makhluk diciptakan dari cahaya beliau. Kemudian kita lihat mereka merayakan maulid dan berkata bahwa beliau dilahirkan hari begini dan begitu, ini  jelas kntradiksi yang fatal.

Mereka juga meyakini bahwa Allah tidak berada di atas ‘Arasy bahkan melarang menyifati Allah dengan sifat di atas, diantara mereka ada yang meyakini bahwa Allah berada di mana-mana, sementara ketika berdo’a kita lihat mereka menengadahkan tangannya ke atas tidak ke kanan atau ke kiri.

Demikian pula sebagian kaum mu’tazilah yang menolak berhujjah dengan hadits ahad dalam masalah aqidah dan menerimanya dalam masalah hukum, mereka tidak meyakini adanya adzab kubur dengan klaim haditsnya ahad, namun bila kita bertanya kepada mereka,” Apa hukumnya membaca ta’awwudz dari empat setelah tasyahud akhir : dari siksa api Neraka, dari siksa kubur, dari fitnah hidup dan mati dan dari fitnah dajjal dan hadits itu shahih diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim?

Bila mereka menjawab “Tidak sunnah”, berarti mereka telah menggugurkan kaidah mereka sendiri bahwa hadits ahad boleh dijadikan hujjah dalam masalah hukum. Dan bila mereka menjawab, “Sunnah”. Kita berkata kepadanya, “Mungkinkah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung dari ‘adzab kubur sementara beliau tidak meyakini adanya adzab kubur? Apa gunanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung dari sesuatu yang beliau tidak meyakini keberadaannya?” itulah keajaiban dunia.. dan banyak lagi contoh-contoh lainnya.

 

Bersambung Sanadnya

Di antara sifat jalan kebenaran adalah bersambung sanadnya sampai kepada Rosulullah dan para shahabatnya sebagaimana yang dikatakan oleh imam Asy Syafi’i :

Ilmu adalah yang disebutkan padanya haddatsana[5]

Selain itu adalah waswas setan belaka.

            Maka setiap keyakinan, pemikiran, dan ibadah yang tidak bersambung sanadnya sampai kepada Rosulullah dan para sahabatnya maka ia bukan kebenaran, sebuah contoh adalah kaum Asy’ariyah yang meyakini bahwa Allah hanya memilki sifat 20 saja, sementara keyakinan ini sanadnya hanya sampai kepada Abul Hasan Al Asy’ari ketika beliau berada di fase kedua dalam perjalan hidupnya, dan beliau sendiri kemudian bertaubat di akhir hayatnya dan menetapkan semua keyakinan ahlussunnah dalam menetapkan sifat Allah sebagaimana yang beliau tuangkan dalam kitab Al Ibanah dan beliau nyatakan taubatnya dalam kitab Maqolat Islamiyyin.

Demikian pula perayaan maulid, Isra Mi’raj dan perayaan-perayaan lainnya yang tidak disyariatkan sanadnya hanya bersambung kepada Banu ‘Ubaid Al Qoddah Al Fathimiyah kaum syi’ah yang ekstrim di abad keempat hijriyah[6], sementara di zaman imam yang empat belum muncul lebih-lebih di zaman shahabat, tabi’in dan tabi’uttabi’in.

Bahkan semua pemikiran yang ada di zaman ini hanya bersambung sampai kepada pendiri-pendirinya saja, pemikiran HTI hanya bersambung sampai kepada Taqiyudin An Nabhani yang wafat pada tahun 1977M. Ikhwanul muslimin hanya bersambung kepada Hasan Al Banna yang wafat pada tahun 1368H dan Sayyid Quthb yang semasa dengannya, Jama’ah Tabligh hanya bersambung kepada Muhamad Ilyas Al kandahlawi yang wafat pada tahun 1364H dan sebelum pendiri-pendiri tersebut hidup belum dikenal pemikiran-pemikiran itu oleh para ulama lebih-lebih di zaman imam yang empat yang hidup 12 abad sebelumnya.

Berbeda dengan jalan kebenaran yang senantiasa bersambung sanadnya sampai kepada Rosulullah dan para shahabatnya. Oleh karena itu ahlul haq senantiasa serupa aqidah dan manhaj mereka disetiap zaman dan dimanapun mereka berada karena berasal dari satu cahaya.

Al Imam Abul Mudzoffar As Sam’aani (489H) berkata, “Di antara bukti yang menunjukkan bahwa ahlul hadits berada di atas kebenaran adalah bahwa jika engkau membaca semua kitab-kitab mereka dari awal sampai akhir dari dahulu maupun sekarang walaupun negeri dan masa mereka berbeda-beda serta tempat tinggal yang berjauhan, engkau dapati mereka di atas satu jalan dalam menjelaskan aqidah, mereka meniti di atas satu jalan dan tidak menyimpang ke kanan dan ke kiri, hati mereka bagaikan satu hati dan penukilan mereka tidak engkau lihat padanya perbedaan sedikitpun, bahkan jika engkau mengumpulkan apa yang mereka ucapkan dan apa yang mereka nukil dari para pendahulunya, engkau dapati seakan-akan mereka berasal dari satu hati dan satu lisan, maka adakah bukti yang menunjukkan kepada kebenaran yang lebih terang dari ini ?? Dan sebab ahli hadits bersepakat (diatas kebenaran) adalah karena mengambil agama langsung dari Al Qur’an dan sunnah dengan penukilan (yang bersambung), sehingga mewariskan kesepakatan dan persamaan.” (Mukhtasor Showa’iq Al Mursalah 2/425).[7]

 

Wasathiyah

Wasathiyah artinya tengah-tengah tidak berlebihan dan tidak pula melecehkan, ia berada di atas jalan yang lurus jalan yang dititi oleh Rosulullah dan para shahabatnya, maka jalan kebenaran berada di tengah-tengah kebatilan sebagaimana islam berada ditengah-tengah antara yahudi yang melecehkan Nabi Isa bin Maryam dan menuduhnya sebagai anak hasil zina. Dan Nashrani yang mengagungkan Nabi Isa melebihi batasannya sebagai hamba Allah dan Rosulnya.

Dalam masalah taqdir, ia tengah-tengah diantara kaum qodariyah yang menolak adanya taqdir, dan kaum Jabariyah yang menghilangkan kemampuan hamba dan menganggap bahwa hamba tidak mempunyai kemampuan apa-apa sehingga menurutnya hamba tidak salah bila berbuat maksiat karena ia mengikuti taqdir. Keyakinan ini sama saja menghancurkan syariat para Nabi dan menggugurkan segala macam hukuman dan sanksi.

Dalam masalah kafir dan mengkafirkan, ia tengah-tengah diantara kaum khowarij yang mengkafirkan pelaku dosa besar dan kaum murji’ah yang mengatakan bahwa dosa tidak mempengaruhi kesempurnaan iman. Seperti dalam masalah pemerintah yang berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan, ia tengah-tengah diantara khowarij yang mengkafirkan mereka secara mutlak tanpa melihat keadaan pelakunya dan kaum murji’ah yang menganggap bahwa mereka sempurna imannya.[8]

Dalam masalah hadits, ia tengah-tengah antara antara kaum mu’tazilah yang menolak hadits ahad dan kaum shufi yang berpegang kepada hadits-hadits palsu dan lemah, demikian juga dalam masalah ijtihad, ia tengah-tengah antara kaum mu’tazilah yang membuka ijtihad untuk siapa saja yang berakal walaupun tidak menguasai alat-alat untuk berijtihad, dan kaum shufi yang menutup pintu ijtihad rapat-rapat dan mewajibkan taqlid kepada murid-muridnya. Dan seterusnya.

 

Imamnya hanya Rosulullah

Jalan kebenaran tidak mengagungkan sebuah perkataan yang harus diikuti selain firman Allah dan sabda Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, adapun selain Rosul maka harus dilihat dari sisi kesesuaiannya dengan Kitabullah dan sunnah Rosul-Nya, bila sesuai diterima dan jika tidak maka ditolak. Sehingga mereka tidak pernah berfanatik kecuali kepada Allah dan Rosul-Nya, bukan berfanatik kepada isme-isme tertentu tidak juga kepada organisasi atau kelompok tertentu. Tidak ada yang mereka banggakan kecuali kebenaran.

Berbeda dengan kebatilan, yang dibanggakan adalah apa yang ada pada kelompoknya tanpa melihat benar dan salahnya, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

 وَلاَ تَكُوْنُوْا مِنَ المُشْرِكِيْنَ مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ

Dan janganlah kalian seperti orang-orang musyrikin. (yaitu) orang-orang yang memecah belah agama mereka sedangkan mereka berkelompok-kelompok setiap kelompok merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka“. (Ar-Rum : 31-32).

Dalam ayat ini Allah menyebutkan bahwa sebab utama terjadinya perselisihan adalah karena setiap kelompok berbangga dengan apa yang ada pada kelompoknya, bukan berbangga dengan kebenaran yang berasal dari Al Qur’an dan sunnah sesuai dengan pemahaman para shahabat Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Para ulama telah menegaskan masalah ini terutama imam Asy Syafi’i rahimahullah, beliau berkata, “Semua yang aku katakan sementara sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang shahih menyalahi pendapatku, maka hadits Nabi lebih berhak untuk diikuti, jangan kamu taqlid (membeo) kepadaku.” (Manaqib Imam Syafi’i 1/473).

Beliau juga berkata, “Apabila kamu mendapatkan dalam kitabku yang menyelisihi sunnah Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka berpendapatlah dengan sunnah Rosulullah shallalahu ‘alaihi wasallam dan tinggalkan apa yang aku katakan.” (Manaqib Imam Syafi’i 1/472).[9]

Dan telah mutawatir bahwa beliau berkata, “Apabila hadits telah shahih maka itulah madzhabku.”

Imam Malik berkata, “Setiap orang bisa diambil dan dibuang perkataannya kecuali Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Mereka (para ulama) menetapkan bahwa para fuqoha yang diikuti telah membatalkan taqlid buta (membeo dengan tanpa dalil), mereka melarang murid-muridnya untuk taqlid buta kepada mereka, yang paling keras adalah Asy Syafi’i, beliau sangat tegas menekankan untuk mengikuti atsar yang shahih dan mengambil apa yang ditunjukkan oleh hujjah. Beliau berlepas diri untuk ditaqlidi bahkan mengumumkannya dengan terang-terangan. Semoga Allah memberi manfaat dengannya dan membesarkan pahalanya, karena beliau adalah sebab menuju kepada kebaikan yang banyak “. (Al Ihkam fii Ushulil Ahkam 6/118).

Sehingga wala’ dan baro’ mereka hanya di atas agama bukan diatas kepentingan pribadi, tidak pula kepentingan kelompok, organisasi, partai atau madzhab tertentu.

 

Manhaj Wahyu Bukan Ro’yu

Di antara sifat jalan kebenaran adalah bahwa ia manhaj wahyu bukan ro’yu dalam seluruh urusan agamanya, ia hanya taslim (menyerahkan diri) kepada wahyu dan tidak membuat-buat sendiri atau menentangnya dengan akal.

Adapun ro’yu adalah pendapat-pendapat manusia, ia terbagi menjadi tiga yaitu ro’yu yang shahih dan ro’yu yang batil dan ro’yu yang masih samar. Ulama salaf terdahulu mengamalkan ro’yu yang shahih dan berfatwa dengannya sebagaimana mereka mencela ro’yu yang batil dan melarang mengamalkan dan berfatwa dengannya. Adapun ro’yu yang ketiga mereka memperbolehkan mengamalkan atau berfatwa dengannya ketika darurat, namun mereka tidak memaksa seorangpun untuk mengamalkannya tidak juga mengharamkan untuk menyelisihinya, tidak menganggap orang yang menyelisihinya sebagai penyelisihan terhadap agama dan mereka memberi pilihan antara diterima atai di tolak.[10]

 

Macam-macam Ro’yu yang Terpuji

Ibnu Qayyim rahimahullah membagi ro’yu yang terpuji menjadi empat macam :

Pertama: Ro’yu para shahabat Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam generasi yang paling faqih, paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling lurus maksudnya, paling sempurna fitrahnya, paling bening pemikirannya, mereka menyaksikan diturunkannya wahyu, sangat memahami tafsirnya, sangat memahami maqosid (keinginan/maksud) Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, keutamaan ro’yu mereka dibandingkan dengan ro’yu generasi setelah mereka adalah seperti keutamaan mereka dibandingkan generasi setelahnya.

Bagaimana akan sama ro’yu mereka dengan generasi setelahnya, sementara diantara mereka ada yang berpendapat dengan suatu pendapat lalu Al Qur’an turun membenarkan pendapat tersebut eperti pendapat Umar, Sa’ad bin u’adz, ibnu Mas’ud dan para shahabat lainnya semoga Allah meridlai mereka semua.

Karena ro’yu mereka berasal dari hati yang dipenuhi dengan cahaya iman dan hikmah, dipenuhi ilmu, ma’rifah dan pemahaman tentang Allah dan Rosul-Nya sebagai nasehat untuk umat ini, mereka menukil ilmu dan iman dari lampu kenabian dalam keadaan masih baru masih bersih dari problem, bersih dari dari perselisihan dan penentangan, maka mengqiyaskan ro’yu mereka dengan ro’yu selain mereka adalah qiyas yang sangat rusak.

Kedua: Ro’yu yang menafsirkan nash, menjelaskan keindahannya, dan mempermudah istimbath[11] darinya sebagaimana yang dikatakan oleh Abdan,” Aku mendengar Abdullah bin Mubarak berkata,” Hendaklah yang menjadi sandaranmu adalah atsar dan ambillah untukmu ro’yu yang menafsirkan hadits.”

Contohnya adalah pendapat shahabat mengenai ‘aul dalam ilmu warits apabila bertumpuk beberapa ahli fardlu, masalah ghorrowain yaitu ibu, bapak dan salah satu suami istri, dimana ibu mendapatkan sepertiga yang tersisa setelah bagian suami istri dan lain-lain yang merupakan ro’yu yang bersandarkan kepada istidlal (pemahaman dalil) dan istimbath dari nash atau nash lain bersamanya.

Ketiga: Ro’yu yang menjadi kesepakatan umat dan diterima dari generasi ke generasi karena kesepakatan mereka pastilah benar, sebagaimana dalam sebuah hadits ketika para shahabat bermimpi lailatul qodar akan terjadi pada tujuh hari terakhir bulan Ramadlan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

أَرَى رُأْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّ فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ.

Aku melihat mimpi kamutelah bersepakat di tujuh hari terakhir, maka siapa yang ingin mencarinya hendaklah ia bersungguh-sungguh mencarinya di tujuh hari terakhir.” (HR Bukhari dan Muslim).[12]

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan kesepakatan mimpi kaum mukminin sebagai hujjah karena umat islam adalah ma’shum (tidak akan salah) dalam kesepakatan mereka dalam riwayat, mimpi, dan pendapat.

Keempat: Ro’yu yang terjadi setelah mencari ilmu kejadian tersebut dalam Al Qur’an, jika ia tidak mendapatkannya dalam Al Qur’an maka ia mencarinya dalam assunnah, jika ia tidak mendapatkannya dalam assunnah maka ia mencarinya dalam apa yang diputuskan oleh khulafa Rasyidin, jika tidk ada maka ia mencari pendapat seorang shahabat.[13]

 

Macam-macam Ro’yu yang Batil.

Adapun ro’yu yang batil maka dibagi oleh ibnu Qayyim menjadi lima :

Pertama: Ro’yu yang menyelisihi nash, dan ro’yu seperti ini sudah pasti batil dan rusak tidak halal untuk berfatwa dengannya walaupun sebagian orang ada yang jatuh kepadanya karena adanya syubhat atau taqlid.

Kedua: ro’yu yang berasal dari berbicara dalam agama hanya dengan dugaan dan rekaan disertai sikap tafrith (meremehkan) dalam mengetahui nash, memahaminya dan mengambil  hukum darinya.

Karena orang yang bodoh terhadap nash lalu ia mengqiyaskan dengan ro’yunya dengan tanpa ilmu hanya semata-mata adanya persamaan antara dua perkara lalu ia menganggapnya sama dalam hukum, atau semata-mata adanya perbedaan antara dua perkara lalu ia menganggapnya berbeda tanpa melihat kepada nash-nash dan atsar maka orang tersebut telah jatuh ke dalam ro’yu yang tercela dan ia telah sesat dan menyesatkan.

Ketiga: Ro’yu yang mengandung pengingkaran terhadap nama-nama Allah, sifat dan perbuatan-Nya dengan analogi-analogi yang batil yang diletakkan oleh ahli bid’ah seperti firqah Jahmiyah, mu’tazilah, qodariyah dan yang sejenisnya.

Mereka menggunakan analogi yang rusak, pendapat yang batil dan syubhat yang lemah untuk menolak nashnash yang shahih lagi gamblang, mereka menolak lafadz-lafadz nash dengan cara menganggap dusta atau salah para perawinya, dan menolak makna-makna nash dengan menta’wil dan merubah-rubah makna tersebut.

Seperti orang yang mengingkari bersemayamnya Allah di atas ‘Arasy, mengingkari terlihat Allah oleh kaum mukminin pada hari kiamat, dan lain sebagainya.

Keempat: ro’yu yang mengakibatkan munculnya bid’ah dan dirubahnya sunnah.

Empat ro’yu ini adalah ro’yu yang rusak dan tercela dengan kesepakatan para ulama.

Kelima: yang disebutkan oleh Abu umar bin Abdil Barr dari jumhur ahli ilmu yaitu berpendapat dalam hukum-hukum syariat dengan sebatas istihsan (menganggap baik) dan sangkaan, menyibukkan diri dengan masalah-masalah yang sulit dan pelik, mengembalikkan cabang dan kejadian kontemporer dengan cabang lainnya bukan kepada pokok tidak pula melihat illatnya, dan mempergunakan ro’yu untuk membicarakan permasalahan yang belum terjadi.

Karena menyibukkan diri dengan masalah-masalah seperti itu akan menyia-nyiakan sunnah dan mendorong untuk bodoh terhadapnya, bahkan tidak mau mengetahui sesuatu yang harus diketahui dari sunnah dan memalingkan diri untuk memahami makna-makna kitabullah.[14]

 

Penyusun: Ustadz Badrussalam, Lc.
Artikel www.cintasunnah.com

 


[1] Lihat kitab Zajrul Mutahawin.

[2] Tafsir Ibnu Katsir 3/50 tahqiq Hani Al Haj.

[3] Taisir Karimirrahman hal 188.

[4] Memperlihatkan kepada lawan seakan-akan ia sepakat dengannya padahal tidak. Dan ini adalah hakikat kemunafiqan.

[5] Haddatsana adalah kalimat yang dipergunakan oleh ahli hadits untuk menyampaikan hadits yang menunjukkan sanadnya bersambung.

[6] Saudara kami al akh Ibnu Usaini telah menulis buku yang sangat bagus dalam masalah ini yang berjudul “Benarkah Sholahuddin Al Ayyubi yang Pertama Kali Merayakan Maulid Nabi” silahkan pembaca rujuk kesana.

[7] Lihat kitab Al Intishar Bisyarhi Aqidah Aimatil Anshar karya Syaikh Muhamad Musa Alu Nashr hal 31.

[8] Bisa di rujuk buku “Keindahan Islam dan Perusaknya”. Karya penulis sendiri.

[9] Lihat Manhaj Imam Syafi’i fi Itsbatil ‘Aqidah 1/126.

[10] I’lamul Muwaqqi’in 1/125 tahqiq Syaikh Masyhur Hasan Salman.

[11] Istimbath adalah ungkapan tentang tata cara memahami dan mengambil hukum dari suatu nash, dan istimbath dilakukan setelah mengumpulkan semua nash dan menggabungkannya disertai penggunaan kaidah-kaidah agama yang diterima oleh para ulama.

[12] Bukhari no 2015 dan Muslim no 1165.

[13] Ibnu Qayyim, I’lamul Muwaqqi’in 1/149-156 tahqiq Syaikh Masyhur Hasan Salman dengan ringkas.

[14] Ibnu Qayyim, I’lamul Muwaqqi’in 1/125-128 dengan sedikit perubahan redaksi.

Iklan

About admin

Jika kata tak lagi bermakna lebih baik diam. (Masih) belajar Islam yang lurus dan benar. Cuma numpang sebentar di dunia. Silahkan duduk mari bicara. Lihat semua pos milik admin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: