Bagaimana Universitas Mengkhianati Mahasiswa

Penulis: Henry Makow Ph.D

Saya hanya menyekolahkan anak ke Universitas bilamana ia tidak mempunyai bakat.

Namun dia tetap juga kuliah, untuk status dalam kehidupan sosial dan untuk mendapatkan izasah.  Saya memperingatkan kepadanya bahwa setelah mempelajari filsafat dan ilmu sosial maka dia tidak akan mampu berpikir secara mandiri atau menyerap informasi yang tidak sesuai dengan pemrograman.

Universitas modern tidak diabdikan untuk kebenaran, akan tetapi justru sebaliknya. Represif femanism tidak terkendali di kampus tapi sebenarnya ini hanya merupakan gejala dari masalah yang jauh lebih mendalam.

“Budaya” Barat Modern didasarkan pada asumsi yang bersifat menipu dari “Pencerahan,” gerakan intelektual yang berasal dari abad ke-18. Hal ini pada gilirannya merupakan hasil dari program Illuminati dalam rangka menciptakan sebuah tatanan dunia baru yang bersifat (sekuler) dengan menyangkal eksistensi Tuhan dan hukum-hukum spiritual-Nya.

Dalam prakteknya bahwa berarti mahasiswa Seni mempelajari kumpulan pemikiran atheis yang disajikan seolah-olah Dewa mereka. Profesor mereka yang bertindak sebagai imam agung.

Seperti orang tuli yang menyelaraskan nada piano, mereka mencoba untuk menjelaskan kondisi manusia namun tanpa merujuk kepada Sang Pencipta, Rancangan atau Ketuhanan.

Mereka menggambarkan manusia sebagai hewan yang menyedihkan dalam sebuah dunia yang a-moral, dilukiskan dengan perjuangan tanpa belas kasihan dalam rangka mempertahankan hidupnya.

Mereka memuliakan “kebebasan” manusia dimana dengan hal tersebut berarti kebebasan untuk menolak Hukum-hukum Tuhan, dan menuruti hawa nafsu binatang dengan menciptakan serta menjauhkan fungsi kepribadian perorangan.

Illuminisme adalah doktrin Luciferian Freemasonry. (Komunisme adalah produk lain dari Illuminisme. Semua Pemimpin Komunis adalah Freemason.) Toga yang dipakai oleh lulusan universitas adalah lambang Freemasonry. Baju (Gaun) Hitam melambangkan okultisme. Mahasiswa Seni tanpa menyadarinya sedang dilantik menjadi seorang pengikut Lucifer/pemuja Komunis.

Tuhan melambangkan kemutlakan moral dan spiritual seperti cinta, kebenaran, kebaikan, harmoni dan keadilan. Menganggap adanya realitas mereka adalah penting bagi pengembangan kebaikan kita. Namun budaya kita sendiri tidak ikhlas menerima mereka (ini adalah cara kerja penipuan), ini sebenarnya merupakan pengabaian terhadap mereka.

Penyimpangan Fungsi dengan Rancangan

Pendidikan dan kebudayaan modern dirancang untuk membuat kita menyimpang dari fungsi kita sebagai manusia. Protokol Orang-orang Bijak Zion menegaskan hal ini. – Protokol bukan merupakan tulisan berisi kecaman-kecaman yang tajam mengenai anti-Semit. (Mereka mengatakannya seperti itu karena mereka tidak ingin Anda membacanya.) Dan Protokol merupakan blueprint of the New World Order,, yang sekarang ini sedang dalam posisi untuk menguasai dunia.

Seseorang seperti Baron Lionel Rothschild menulis antara 1875-1895 untuk Perkumpulan Rahasia Masonik, Illuminati. Illuminati merupakan kelanjutan aliansi amtara para bankir feodal Yahudi dengan aristokrat Eropa. Illuminati menciptakan dan membiayai Komunisme.

Kewajiban Illuminati adalah mengabdi dan taat kepada Lucifer, malaikat pemberontak yang menentang Tuhan yang mengatakan bahwa manusialah yang menentukan nasibnya sendiri. Dia disebut sebagai “pembawa cahaya terang.” Sekarang Anda memahami apa arti “Pencerahan”? Maksudnya orang-orang super kaya ingin menjadi tuhan dan membentuk realitas sesuai kepentingan mereka. Untuk melakukan hal ini, mereka harus memutuskan hubungan kita dengan Realitas yang sebenarnya, yaitu Tuhan (kebenaran cinta, mutlak dan keadilan.)

Tujuan mereka tidak terbatas, begitu juga ambisi mereka. Berikut adalah beberapa pernyataan yang relevan dari Protocol 16..

“Agar supaya dapat menghancurkan semua kekuatan kolektif, kecuali kita (Illuminati), maka tahap awal yang harus kita lakukan adalah dengan melemahkan kolektivisme itu sendiri, yaitu perguruan tinggi dengan melakukan re-edukasi terhadap mereka ke arah yang sesuai dengan tujuan kita.”

“Kita harus memperkenalkan ke dalam pendidikan mahasiswa semua prinsip-prinsip yang demikian cemerlang yang telah menghancurkan ketentraman mereka.”

“Jangan dikira bahwa ungkapan tersebut di atas hanyalah merupakan ungkapan  kosong: renungkanlah secara seksama mengenai keberhasilan yang telah kita atur melalui  Darwinisme, Marxisme, Nietzsche-isme …. hal penting yang harus dilihat dengan jelas adalah bahwa keberhasilan apa yang telah kita, yaitu kehancurkan Goyim dengan arahan ini,  karena mereka melaksanakan isme-isme yang telah kita masukkan kedalam pikiran Goyim “(Protokol 2).

“Kita akan menghapus dari ingatan semua orang mengenai fakta-fakta dari abad sebelumnya yang tidak diinginkan untuk kita…”

Kita akan mengubahnya menjadi “biadab, tunduk, membabi buta, menunggu untuk hal-hal yang akan diperkenalkan ke hadapan mata mereka dalam rangka untuk membentuk gagasan mereka …”

Saya ingatkan kepada Anda satu bagian dari sebuah Communist manual on brainwashing tahun 1930-an.   “Di Amerika Serikat kita telah mampu mengubah karya William James, dan lain-lain, … dan memasukkan ajaran-ajaran Karl Marx, Pavlov, Lamarck, dan bahan-bahan Dialektika Materialisme ke dalam buku-buku pelajaran psikologi, sehingga dengan demikian siapa pun yang benar-benar belajar psikologi maka sekaligus mereka menjadi calon yang akan menerima kebijaksanaan Komunisme.”

“Sebagaimana dalam setiap jabatan psikologi (universitas) di Amerika Serikat dikuasai oleh orang-orang yang mempunyai hubungan dengan kita, maka mereka dijamin bekerja secara konsisten dengan menggunakan buku-buku pelajaran tersebut… Mendidik secara luas pendidikan strata rakyat ke dalam prinsip-prinsip Komunisme yang diberikan dengan relatif mudah.” (II, Ch. 11)

Menundukkan Kepala Dihadapan  “Orang-orang Besar”

Para mahasiswa menghadapi “The Cult of Great Men” jajaran orang-orang modern yang berpura-pura yang telah merebut tempat Tuhan.

Setiap ucapan mereka diperlakukan sebagai sabda Kitab Suci. Artikel ilmiah yang dikhususkan untuk membahas kata-kata yang diucapkan mereka kemudian berubah menjadi sesuatu yang dijadikan positif. Dalam sebuah seminar mahasiswa, saya menyaksikan seorang siswa membaca sebuah daftar kata-kata kotor yang telah disensor dari novel William Faulkner “Sanctuary.” Setelah setiap sumpah serapah, siswa lain terkesiap dengan ngeri seolah-olah sebuah artefak agama telah dinodai.

Profesor adalah imam yang dibayar  dengan gaji besar dalam okult sekuler ini. Mereka berkepentingan untuk menjaga mati-matian semboyan ajarannya. Mereka mengajarkan kepada  mahasiswa kebiasaan yang menjadikan seumur hidupnya bermental rendah. Semua pengetahuan berasal dari Orang Besar (Great Men). Siswa sangat ingin menganalisis makna mereka. Seorang profesor pernah mengatakan kepada saya bahwa saya gagal karena “hanya orang-orang besar saja yang bisa mengatakan hal-hal seperti itu.”

Keadaan pola pikir mahasiswa menjadi pasif dan bingung. Dia bergumul dengan dunia untuk mendamaikan pandangan yang saling bertentangan.

Suatu hari saya terjaga. Jangan-jangan “orang-orang besar”  ini hidup di dunia yang berbeda? Tidak hidup di dunia dimana saya tinggal?

Saya berpikir sendiri?

Kerusakan berlangsung dalam ruang dan waktu. Dengan terus menerus mempelajari masa lalu, para mahasiswa tetap tidak berpikir apa yang harus dilakukan. Tidak ada manifesto yang tertinggal untuk ditulis, tidak ada (Penjara) Bastilles yang perlu untuk diserbu.

Sementara dunia berseru untuk kepemimpinan, generasi baru dikubur dalam catatan kaki manuskrip apek orang mati.

Pendidikan Mengabdi Kepada Tujuannya

Seperti yang Anda telah simak sekarang, pendidikan Humaniora tidak dimaksudkan untuk mengangkat atau memberdayakan mahasiswa. Dunia ini dimiliki dan dijalankan oleh komplotan rahasia kabal perbankan dan sekutu-sekutunya. Tujuannya, dalam kata-kata Cecil Rhodes, adalah untuk “secara bertahap menghisap kekayaan dunia.” Tentu saja hal itu dilaksanakan mereka dengan mengaburkan atau menyembunyikan rencana yang sebenarnya. Mereka ingin membuat mahasiswa menjadi alat mereka. Profesor yang tidak memainkan irama permainannya dipecat.

Keluarga Rockefeller menganggap manusia sebagai hewan piaraan. Hal ini terkandung dalam “Occasional Paper # 1” Dana Pendidikan Umum:

“Dalam mimpi kita, kita memiliki sumber daya yang tak terbatas dan orang-orang yang menyerahkan diri dengan kepatuhan yang sempurna sebagai hasil cetakan tangan-tangan kita. Konvensi pendidikan saat ini yang menurunkan nilai-nilai moral mahasiswa berasal dari pikiran kita, dan tidak terhalangi oleh tradisi, kami bekerja atas dasar niat baik terhadap rakyat pedesaan yang berhutang budi dan bertanggung jawab. Namun kami tidak akan mengajari filsafat kepada orang-orang ini atau anak-anak mereka atau menjadikan mereka orang-orang terpelajar, atau saintis.  Kami tidak akan  mencetak mereka menjadi penulis, penyair ataupun kolumnis. Kami tidak akan mencari cikal-bakal seniman besar, pelukis, musisi, atau pengacara, dokter, pengkhotbah, politisi, negarawan, karena kami memiliki cukup persediaan. Tugas yang ditetapkan untuk diri kami sendiri sangatlah sederhana serta sangat indah, melatih orang-orang seperti mereka sebagaimana kita temukan mereka untuk menjalani kehidupan yang sempurna dan ideal seperti apa adanya pada diri mereka sendiri.” (“The Rockefeller Empire” in Josephson, “The Strange Death of FDR” 1948, p. 69)

Jika Anda belum melihat, perguruan tinggi bukanlah tempat yang menyegarkan soal  jawab dan debat. Mereka sesuatu yang membosankan dan terisolasi dari isu kompromi moral dan kekecewaan.

Manusia meraba-raba dalam kegelapan. “Yang kita tahu adalah angin yang berhembus,” tulis Thoreau. Kepercayaan diri palsu kami didasarkan pada kemajuan material dan teknologi, yang Thoreau menyebutnya “berarti ditingkatkan untuk tujuan yang tidak baik.”

“Kami telah mengubah kepala bodoh Goyim dengan kemajuan,”menurut Protocol (XIII). Dengan pengecualian kemajuan “penemuan materi” “seperti ide yang menyesatkan, ditandai dengan ditinggalkannya kebenaran dalam semua kasus.”

Dengan kata lain, para pengikut Illuminati telah mempengaruhi manusia dengan ilusi bahwa mereka sedang membangun nilai-nilai idaman berdasarkan akal, padahal sebenarnya mereka sedang membangun tirani neo-feodal. Ini adalah esensi dari “globalisasi” serta prinsip di balik peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia.

Kesimpulan

Tuhan adalah Yang Maha Kuasa dan manusia yang percaya terhadap eksistensi-Nya akan jelas menyadari dimana cita-cita keadilan merupakan kepercayaan diri.  Sedangkan prioritas pertama para pengikut Illuminati adalah untuk menghancurkan agama Kristen (termasuk Islam*) dan keyakinannya kepada Tuhan. Mereka harus memutuskan tali pengikat manusia dari tambatan metafisik dalam rangka untuk menggantikan realitas palsu yang kondusif untuk memerintah mereka.

Pendidikan ilmu sastera hari ini adalah plasebo, sebagai pengganti pendidikan yang sebenarnya. Ini merupakan alasan untuk melakukan indoktrinasi, yang memenuhi syarat Anda diterima untuk bekerja.

Saran saya kepada mahasiswa adalah untuk membatasi diri kepada program yang memiliki aplikasi praktis dan kurang ideologis: seperti sains, teknik, komputer, farmasi, perdagangan dan lain-lain.

Dengan izin Tuhan dunia akan diselamatkan melalui tindakan-tindakan manusia yang melaksanakan kehendak-Nya. Tugas kita adalah mengambil cita-cita dengan sungguh-sungguh  dalam kehidupan pribadi kita masing-masing dan membawanya ke alam nyata. Menolak Tuhan beararti menjadi budak manusia yang sangat jahat.

Comments for “How University Betrays Students”
Vera said (January 5, 2008):

Saya telah membaca banyak artikel-artikel menarik Anda, mendalam dan menyadarkan, beberapa dari situs Anda dan orang lain, dari situs the Truth Seeker. Hari ini, setelah membaca artikel Anda tentang “Church of the Profane: How University Betrays Students”,tiba-tiba sesuatu yang mengerikan terelintas di kepalaku. Anda benar sekali, setelah 5 tahun saya belajar pada tingkat sarjana di sebuah universitas Eropa, saya hampir tak bisa mengingat semua informasi yang dijejalkan ke otak saya. Saya ingat diskusi kelas waktu itu, namun gurunya selalu membimbing ke arah penafsiran yang telah dianggap sempurna dari karya sastra dan tidak mau menerima setiap argumen (terutama dari saya) yang tidak mengarah kepada sudut pandangnya. Segera setelah saya mempelajari bahwa jika saya tidak mengikuti keyakinan guru saya, maka saya tidak akan pernah memperoleh gelar. Kejadian ini membawa saya ke artikel lain yang saya baca setelah membaca tulisan Anda,  dari situs the Truth Seeker: ” New World Disorders: Patterns of Psycopathy and other Fractal Anomalies.”  Artikel ini, seperti yang banyak Anda tulis, juga menjelaskan beberapa pokok bahasan lainnya, seperti bagaimana NWO membuka jalan pikiran kita untuk menerima segala kejahatan yang sedang dilakukan mereka terhadap manusia dan dunia adalah untuk “kebaikan yang lebih besar”, dan bagaimana jika seseorang secara individual memberontak terhadap sistem kepercayaan mereka, maka akibatnya akan dihukum atau menjadi orang buangan.

Mungkin sekarang musim yang turun hujan atau mungkin aku merasa lebih emosional hari ini daripada hari-hari lainnya, tetapi membaca dua tulisan semacam ini membuat saya depresi dan mulai memutar-mutar permasalahan secara mendalam dibarengi reaksi emosional.

Saya berpikir sendiri: Apakah saya benar-benar pernah berkinginan untuk mengantarkan anak-anak ke planet penjara ini? Apakah semua orang di planet ini sudah menjadi kawanan NWO? Apakah ada masa depan yang cerah di sana? Apakah kita semua menunggu keterpurukan untuk kemudian bangun, atau lebih baik menyadari bahwa kita sedang dibohongi dan dimanipulasi.?

Ada begitu banyak orang terbangun dari mimpi buruknya dan menyadari sedang menuju ke mana dunia ini, banyak orang yang seperti Anda, membantu orang lain untuk mengingatkannya dan  membangunkannya, akan tetapi apakah benar-benar kita bisa melakukan sesuatu? Apakah kita masih memiliki kesempatan melihat masa depan yang lebih cerah? Seberapa burukkah sistem NWO dan setiap upaya untuk menekannya akan gagal?

Lalu saya menyadari sesuatu. Mungkin mereka dapat memanipulasi dunia di luar kita, tetapi tidak di dalam dunia Anda, semangat Anda, energi Anda. Seperti yang Anda sebutkan dalam artikel yang Anda tulis sebelum Natal, Anda memilih untuk mengurangi menonton TV, untuk mencari kebenaran di balik fakta-fakta, untuk melihat sisi terang persoalan. Tidak ada yang lebih kuat daripada pelukan yang datang langsung dari hati, daripada senyuman penuh kasih, dan dari tangan yang ringan untuk membantu  orang lain … selama mereka tidak dapat mengendalikan  jiwa kita yang penuh kasih, mereka tidak akan pernah menang. Bahkan, saat aku menulis ini, saya berpikir bagaimana kejahatan tidak akan pernah menang. Kejahatan bukanlah sifat dari planet ini, orang-orangnya, alam semesta, Tuhan. Itulah yang saya akan ajarkan kepada anak-anak saya kelak …

Saya mohon maaf atas komentar yang panjang ini. Semua yang benar-benar ingin saya katakan adalah terima kasih banyak untuk semua artikel yang Anda tulis, tulisannya benar-benar inspiratif dan sangat membantu dalam saat-saat seperti ini.

Diterjemahkan oleh: akhirzaman.info

Original source: http://www.savethemales.ca/000561.html

About admin

Jika kata tak lagi bermakna lebih baik diam. (Masih) belajar Islam yang lurus dan benar. Cuma numpang sebentar di dunia. Silahkan duduk mari bicara. Lihat semua pos milik admin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: