Kitab: Hari Kiamat (Bagian 1)

Oleh: Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil

PENGETAHUAN TENTANG HARI KIAMAT

Pengetahuan tentang hari Kiamat adalah perkara ghaib yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala, sebagaimana hal itu ditunjukkan oleh banyak ayat di dalam al-Qur-an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena pengetahuan tentang hari Kiamat adalah perkara yang hanya diketahui oleh Allah Azza wa Jalla. Dia tidak menampakkannya kepada seorang Malaikat yang didekatkan tidak juga kepada seorang Nabi yang diutus[1]. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan terjadinya Kiamat kecuali Allah Ta’ala.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sering sekali membicarakan keadaan Kiamat dan kedahsyatannya, sehingga orang-orang waktu itu bertanya kepada beliau kapan terjadinya Kiamat. Beliau mengabarkan bahwa itu adalah masalah ghaib yang hanya diketahui oleh Allah, demikian pula ayat al-Qur-an menjelaskan bahwa pengetahuan tentang kapan terjadinya Kiamat adalah sesuatu yang dikhususkan Allah untuk diri-Nya.

Di antaranya adalah firman-Nya:

“Mereka bertanya kepadamu tentang Kiamat, ‘Kapankah terjadinya?’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu adalah pada sisi Rabb-ku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.’ Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.’” [Al-A’raaf: 187]

Allah Ta’ala memerintahkan Nabi-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar mengabarkan kepada manusia bahwa pengetahuan tentang terjadinya Kiamat hanya ada di sisi Allah semata, hanya Dia-lah yang mengetahui masalahnya dengan jelas dan kapan terjadinya, tidak seorang pun dari penduduk langit dan bumi mengetahuinya.

Sebagaimana difirmankan oleh Allah:

“Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah.’ Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya.” [Al-Ahzaab: 63]

Juga sebagaimana difirmankan oleh Allah:

“(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari berbangkit, kapankah terjadinya? Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebutkan (waktunya)? Kepada Rabb-mulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya).” [An-Naazi’aat: 42-44]

Maka puncak dari pengetahuan tentang hari Kiamat kembali kepada Allah semata.

Karena itulah, ketika Jibril Alaihissallam bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hari Kiamat -sebagaimana dijelaskan dalam hadits Jibril yang panjang- Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Orang yang ditanya tentangnya tidak lebih tahu daripada orang yang bertanya.”[2]

Jibril tidak mengetahui kapan hari Kiamat itu terjadi, begitu pun Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Demikian pula Nabi ‘Isa Alaihissallam, beliau tidak mengetahui kapan Kiamat itu terjadi, padahal beliau akan turun ketika Kiamat sudah dekat. Bahkan (turunnya Nabi ‘Isa) termasuk tanda-tanda besar Kiamat, sebagaimana akan dijelaskan.

Al-Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan, demikian pula Ibnu Majah dan al-Hakim dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

“Pada malam aku di-Isra’kan ke langit, aku bertemu dengan Ibrahim, Musa, dan ‘Isa.” Beliau bersabda, “Lalu mereka saling menyebutkan tentang perkara Kiamat, selanjutnya mereka mengembalikan perkara mereka kepada Ibrahim, maka beliau berkata, ‘Aku tidak memiliki ilmu tentangnya, kembalikanlah perkaranya kepada Musa.’ Lalu beliau berkata, ‘Aku tidak memiliki ilmu tentangnya, kembalikanlah perkaranya kepada ‘Isa.’ Akhirnya beliau berkata, ‘Adapun kapan terjadinya, maka tidak ada seorang pun yang mengetahui kecuali Allah. Di antara wahyu yang diberikan oleh Rabb-ku Azza wa Jalla kepadaku, ‘Sesungguhnya Dajjal akan keluar.’ Beliau berkata, ‘Dan aku membawa dua pedang. Jika dia melihatku, maka dia akan meleleh sebagaimana timah yang meleleh.’ Beliau berkata, ‘Lalu Allah membinasakannya.’” [3]

Mereka adalah para Ulul Azmi dari kalangan para Rasul, dan mereka tidak mengetahui kapan terjadinya Kiamat.

Dan Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhuma, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda sebulan sebelum beliau wafat:

‘Kalian bertanya kepadaku tentang hari Kiamat? Sedangkan ilmunya hanyalah ada di sisi Allah, dan aku bersumpah dengan Nama Allah, tidak ada satu makhluk hidup pun yang lahir di atas bumi ini yang berumur seratus tahun.’” [4][5]

Hadits ini menafikan kemungkinan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahuinya setelah pertanyaan Jibril kepadanya.

Ibnu Katsir rahimahullah menuturkan, “Nabi yang ummi ini adalah pemimpin para Rasul, dan penutup mereka -shalawat dan salam dari Allah semoga dilimpahkan kepadanya- Nabi pembawa rahmat, penyeru taubat, pemimpin perang, pemberi keputusan, yang menghormati tamu, penghimpun, di mana semua manusia berkumpul padanya (untuk memperoleh syafa’at), di mana beliau pun bersabda dalam hadits yang shahih dari hadits Anas dan Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu anhuma:

‘Diutusnya aku dan hari Kiamat bagaikan dua (jari) ini.’ [6]

Beliau mendekatkan jari telunjuk dan yang ada setelahnya (jari tengah). Walaupun demikian keadaan beliau, Allah telah memerintahkannya agar mengembalikan ilmu tentang Kiamat kepada-Nya jika ditanya tentangnya, Allah berfirman:

“… Katakanlah, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [Al-A’raaf: 187][7]

Siapa saja yang beranggapan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui kapan terjadinya Kiamat, maka dia adalah orang bodoh, karena ayat-ayat al-Qur-an dan hadits-hadits Nabi yang telah disebutkan menolak anggapan tersebut.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Dan orang yang mengaku-aku sebagai ahli ilmu pada zaman kita ini telah menampakkan kebohongan. Dia berpura-pura kenyang (dengan ilmu) padahal ilmu itu tidak diberikan kepadanya bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui kapan terjadinya hari Kiamat.” (Sangat pantas jika) dikatakan kepadanya, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salla pernah bersabda di dalam hadits Jibril:

‘Orang yang ditanya tentangnya tidak lebih tahu daripada orang yang bertanya.’

Lalu mereka menyelewengkan makna yang sebenarnya, seraya berkata, “Maknanya adalah, ‘Aku dan engkau mengetahuinya.’”

Ini merupakan kebodohan yang paling besar, dan penyelewengan makna yang paling buruk. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih mengenal Allah, (maka tidak pantas) dia mengatakan kepada seseorang yang dianggapnya sebagai seorang badui, “Aku dan engkau mengetahui kapan Kiamat itu terjadi,” hanya saja orang bodoh itu berkata, “Sebelumnya beliau tahu bahwa dia adalah Jibril,” padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jujur dalam perkataannya, beliau bersabda:

“Tidaklah dia datang dengan satu rupa kecuali aku mengenalnya selain rupa yang ini.” [8]

Dalam lafazh yang lain:

“Dia (Jibril) tidak pernah disamarkan kepadaku selain pada kesempatan ini.”

Sementara dalam lafazh yang lain:

“Bawa kepadaku orang badui itu…”

Lalu mereka pergi untuk mencarinya, akan tetapi mereka tidak mendapatkannya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui bahwa dia adalah Jibril setelah beberapa saat, sebagaimana dikatakan oleh ‘Umar Radhiyallahu anhuma, “Lalu aku terdiam dalam waktu yang lama, kemudian beliau bersabda, ‘Wahai ‘Umar! Tahukah engkau siapa yang bertanya?’” [9]

Orang yang menyelewengkan makna tersebut berkata, “Beliau mengetahui bahwa dia adalah Jibril sejak dia bertanya kepada beliau, sementara beliau tidak memberitakan Sahabat akan hal itu kecuali setelah selang waktu berlalu!”

Kemudian ungkapan dalam hadits: (مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ) mencakup setiap orang yang bertanya dan ditanya, maka setiap orang yang bertanya dan ditanya tentang Kiamat ini keadaannya adalah seperti itu (sama-sama tidak tahu). [10]

Demikian pula, tidak ada gunanya menyebutkan tanda-tanda dan mengabarkannya kepada penanya yang sudah mengetahuinya, lebih-lebih ketika ia tidak bertanya tentang tanda-tandanya.

Dan lebih aneh lagi dari pendapat ini adalah apa yang diungkapkan oleh as-Suyuthi dalam al-Haawi setelah mengungkapkan jawaban atas pertanyaan tentang hadits yang masyhur di kalangan manusia, “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan berdiam di dalam kuburnya selama seribu tahun?” Dia (as-Suyuthi) berkata, “Saya jawab bahwa hal ini adalah bathil tidak ada landasannya sama sekali.”

Lalu diungkapkan bahwa beliau menulis sebuah buku dalam masalah ini dengan judul al-Kasyfu ‘an Mujaawazati Haadzihil Ummah al-Alf, di dalamnya beliau berkata:

Pertama, hadits-hadits yang ada menunjukkan bahwasanya masa umat ini lebih dari seribu tahun dan tambahannya tidak mencapai lima ratus tahun; karena diriwayatkan dari berbagai jalan bahwa umur dunia adalah tujuh ribu tahun, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus di akhir tahun keenam ribuan.[11]

Kemudian beliau menyebutkan beberapa perhitungan yang kesimpulannya sama sekali tidak mungkin jika masanya itu seribu lima ratus tahun. Kemudian beliau menyebutkan hadits-hadits dan atsar-atsar yang dijadikan landasan oleh beliau:

Di antaranya adalah yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Kabiir dari adh-Dhahhak bin Zummal az-Zuhani, dia berkata, “Aku bermimpi, kemudian aku ceritakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,” selanjutnya beliau menuturkan hadits yang di dalamnya diungkapkan:

“Tiba-tiba saja aku di (dekat)mu wahai Rasulullah, di atas mimbar yang memiliki tujuh tangga, dan engkau berada di tangga yang paling tinggi,” kemudian beliau bersabda, “Adapun mimbar yang engkau lihat memiliki tujuh tangga dan aku berada di tangga paling tinggi, itu berarti bahwa (umur) dunia tujuh ribu tahun, dan aku berada di ribuan tahun yang terakhir.” [12]

Beliau (as-Suyuthi) mengatakan bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam ad-Dalaa-il, dan as-Suhail mengatakan bahwa hadits ini dha’if sanadnya, akan tetapi hadits tersebut diriwayatkan secara mauquf kepada Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma melalui jalan-jalan yang shahih, dan ath-Thabrani [13] menshahihkan landasan ini dan menguatkannya dengan beberapa atsar.

Kemudian as-Suyuthi menjelaskan bahwa makna sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “… dan aku berada di ribuan tahun yang terakhir.” Maksudnya adalah kebanyakan umat Islam berada pada tahun ketujuh ribu, agar sesuai dengan riwayat se-lanjutnya bahwa beliau diutus di akhir tahun keenam ribu. Seandainya beliau diutus di awal tahun ketujuh ribu, niscaya tanda-tanda Kiamat besar seperti Dajjal, turunnya Nabi ‘Isa, dan terbitnya matahari dari barat telah di jumpai lebih dari seratus tahun sebelum masa kita ini, karena Kiamat terjadi tepat pada tahun ketujuh ribu, sementara tidak terjadi apa pun pada saat itu, maka hal ini menunjukkan bahwa sisa dari tahun ketujuh ribu lebih dari tiga ratus tahun. [14]

Ini adalah ringkasan perkataan as-Suyuthi rahimahullah, dan (perkataannya ini) berbenturan dengan ungkapan yang jelas di dalam al-Qur-an juga hadits-hadits yang shahih; bahwasanya umur dunia tidak diketahui oleh seorang pun kecuali Allah Ta’ala. Karena jika kita mengetahui umur dunia, niscaya kita akan tahu kapan terjadinya Kiamat. Anda telah mengetahui sebelumnya dari ayat-ayat al-Qur-an dan hadits-hadits Nabawi bahwa Kiamat tidak diketahui kapan terjadinya kecuali oleh Allah Ta’ala.

Demikian pula, bahwa kenyataan yang ada menolak hal itu (pendapat as-Suyuthi). Karena kita berada di awal abad kelima belas Hijriyyah, sementara Dajjal belum keluar, dan Nabi ‘Isa belum turun. As-Suyuthi menyatakan bahwa ada riwayat yang menyebutkan Dajjal keluar di awal seratus tahunan dan ‘Isa Alaihissallam turun, lalu membunuhnya. Kemudian beliau berdiam di bumi selama empat puluh tahun, manusia berdiam di bumi setelah matahari terbit dari barat selama seratus dua puluh tahun, dan jarak di antara dua tiupan (Sangkakala) adalah empat puluh tahun, ini semua mesti terjadi dalam masa dua ratus tahun [15]. Lalu berdasarkan perkataannya, seandainya Dajjal keluar sekarang maka mesti dua ratus tahun, sehingga terjadinya Kiamat setelah tahun seribu enam ratus.

Dengan ini jelaslah kebathilah setiap hadits yang membatasi umur dunia.

Ibnul Qayyim rahimahullah menuturkan dalam kitab al-Manaarul Muniif beberapa hal yang diketahui dengannya kepalsuan sebuah hadits. Beliau berkata, “Di antaranya adalah hadits yang menyelisihi nash al-Qur-an yang jelas, seperti hadits batasan umur dunia, yang mengatakan bahwa umur dunia hanya tujuh ribu tahun, sementara kita berada di masa ketujuh ribu tahun. Ini merupakan kebohongan paling jelas, karena seandainya hadits ini shahih, niscaya setiap orang tahu bahwa Kiamat akan terjadi dua ratus lima puluh satu tahun dari waktu kita sekarang ini.” [16]

Ibnul Qayyim hidup di abad kedelapan Hijriyyah, maka dia mengatakan perkataan seperti ini, dan telah berlalu dari perkataannya lebih dari enam ratus lima puluh dua tahun, akan tetapi dunia belum juga berakhir.

Ibnu Katsir berkata, “Adapun yang terdapat dalam kitab-kitab Israiliyyat (kisah-kisah yang bersumber dari bani Israil/Yahudi-ed.) dan Ahlul Kitab berupa pembatasan masa yang telah lalu dengan ribuan dan ratusan tahun, maka lebih dari satu orang ulama terang-terangan menyalahkan mereka di dalam hal itu, dan memperlakukan mereka dengan keras sementara mereka pantas untuk mendapatkannya, dan juga telah terdapat sebuah hadits:

“Dunia itu adalah satu pekan dari beberapa pekan di akhirat.”

Hadits ini sanadnya tidak shahih, demikian pula tidak shahih sanad setiap hadits yang menentukan waktu terjadinya hari Kiamat secara tepat.[17]

Sebagaimana tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan terjadinya hari Kiamat, maka tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan muncul-nya tanda-tanda Kiamat. Riwayat yang menjelaskan bahwa pada tahun ini akan seperti ini, dan pada tahun ini akan terjadi hal ini, maka hal itu tidak benar, karena penanggalan belum dilakukan pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi ‘Umar bin al-Khaththablah yang menetapkannya sebagai sebuah ijtihad dari beliau, dan awal perhitungannya dimulai dari peristiwa hijrahnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah.

Al-Qurthubi berkata, “Sesungguhnya apa yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang fitnah dan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi, dengan penentuan waktunya pada tahun tertentu membutuhkan cara yang benar (dalam menentukan keshahihan riwayat tersebut) yang bisa mematahkan segala ar-gumentasi, hal itu sebagaimana (menentukan) waktu terjadinya hari Kiamat, tidak seorang pun mengetahui pada tahun manakah ia akan terjadi, tidak juga pada bulan apakah? (Yang diketahui) bahwa ia akan terjadi pada hari Jum’at di akhir waktunya. Waktu di mana Allah menciptakan Adam Alaihissallam, akan tetapi Jum’at yang mana? Tidak seorang pun mengetahui tepatnya hari tersebut kecuali Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya, demikian pula masalah tanda-tanda Kiamat, tidak seorang pun mengetahui waktunya yang pasti, wallahu a’lam.[18]

Footnote:

[1]. Al-Barzanji berpendapat bahwasanya Nabi Shallallahu ‘laihi wa sallam mengetahui kapan terjadinya Kiamat, akan tetapi dilarang mengabarkannya. Ini adalah kesalahan yang sangat fatal.
[2]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Iimaan, bab Su-aalul Jibriil an-Nabiyya Shallallahu ‘laihi wa sallam ‘anil Iimaan wal Islaam wal Ihsaan wa ‘Ilmis Saa’ah wa Bayaanin Nabiyyi Shallallahu ‘laihi wa sallam lahu (I/114, al-Fat-h).
[3]. Musnad Ahmad (V/189, no. 3556), tahqiq Ahmad Syakir, dan beliau berkata, “Isnadnya shahih.”
Sunan Ibni Majah (II/1365), tahqiq Muhammad Fu-ad ‘Abdul Baqi, al-Bushairi berkata dalam kitab az-Zawaa-id, “Ini adalah sanad yang shahih, rijalnya tsiqah.”
Dan Mustadrak al-Hakim (IV/488-489), beliau berkata, “Ini adalah hadits yang isnadnya shahih, akan tetapi keduanya (al-Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya.” Dan disepakati oleh adz-Dzahabi. Akan tetapi Syaikh al-Albani melemahkannya dalam kitab Dha’iif al-Jaami’ish Shaghiir (V/20-21, no. 4712).
[4]. Maksudnya adalah tidak ada makhluk hidup yang hidup pada malam itu hidup selama seratus tahun, hal ini tidak menafikan adanya makhluk hidup lahir setelah malam itu yang mengalami hidup selama seratus tahun sebagaimana diungkapkan oleh an-Nawawi.-pent.
[5]. Shahiih Muslim, kitab Fadhaa-ilush Shahaabah Radhiyallahu anhum, bab Bayaan Ma’na Qaulihi Shallallahu ‘laihi wa sallam ‘alaa Ra’-si Mi-atis Sanah la Yabqa Nafsun Manfuusah (XVI/90-91, Syarh an-Nawawi).
[6]. Shahiih al-Bukhari, kitab ar-Riqaaq, bab Qaulun Nabiyyi Shallallahu ‘laihi wa sallam Bu’itstu Ana was Saa’ah ka Haataini, (XI/347, al-Fat-h).
[7]. Tafsiir Ibni Katsir (III/526).
[8]. Musnad Ahmad (I/314-315, no. 374), tahqiq Ahmad Syakir, dan beliau berkata, “Isnadnya shahih.” Sementara lafazh Muslim adalah:
“Tidaklah dia datang dengan satu rupa pun kecuali aku mengenalnya selain rupa yang ini.”
[9]. Shahiih Muslim kitab al-Iimaan, bab Imaaraatus Saa’ah (I/159, Syarah an-Nawawi).
Ibnu Hajar t berkata, “Adapun yang disebutkan di dalam riwayat an-Nasa-i dari jalan Abu Farwah di akhir hadits:
‘Ia adalah Jibril yang turun dengan rupa Dihyah al-Kalbi.’
Sesungguhnya ungkapan “turun dengan rupa Dihyah al-Kalbi” adalah Wahm, karena Dihyah adalah orang yang dikenal di kalangan mereka, sementara ‘Umar berkata, “Tidak ada seorang pun dari kami yang mengenalnya.” Dan Muhammad bin Nashr al-Marwazi telah meriwayatkan dalam kitabnya al-Iimaan dengan bentuk (jalan) yang diriwayatkan oleh an-Nasa-i, di akhir ungkapannya beliau hanya bersabda, “Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan masalah agama kepada kalian.” Inilah riwayat al-Mahfuuzhah (yang terjaga) karena kesesuaiannya dengan riwayat yang lainnya, (Fat-hul Baari I/125).

[10]. Al-Manaarul Muniif (hal. 81-82), tahqiq Syaikh ‘Abdul Fattah Abu Guddah, dan lihat ta’liq Syaikh terhadap ungkapan Ibnul Qayyim, lihat pula Majmu’ al-Fataawaa’, karya Ibnu Taimiyyah (IV/341-342).
[11]. Al-Haawi lil Fataawaa (II/86), karya as-Suyuthi, cet. II (1395 H), Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut.
[12]. Al-Haawi lil Fataawaa (II/88).
[13]. Lihat kitab Taariikhul Umam wal Muluuk, karya Abu Ja’far ath-Thabari (I/ 5-10) cet. Darul Fikr, Beirut.
[14]. Al-Haawi (II/88).
[15]. Al-Haawi (II/87).
[16]. Al-Manaarul Muniif (hal. 80) tahqiq Syaikh ‘Abdul Fattah Abu Guddah, dan lihat kitab Majmu’ al-Fataawaa (IV/342), karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
[17]. An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/15) tahqiq Dr. Thaha Zaini.
[18]. At-Tadzkirah fii Ahwaalil Mautaa’ wa Umuuril Aakhirah (hal. 628), karya Syamsuddin Abi ‘Abdillah Muhammad Ahmad al-Qurthubi, disebarluaskan oleh al-Maktabah as-Salafiyyah, al-Madinah al-Munawwarah.

DEKATNYA HARI KIAMAT

Ayat-ayat al-Qur-an yang mulia dan hadits-hadits shahih menunjukkan telah dekatnya hari Kiamat karena munculnya sebagian besar tanda-tanda Kiamat merupakan bukti bahwa Kiamat sudah dekat dan kita berada di akhir dunia.

Allah Ta’ala berfirman:

“Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).” [Al-Anbiyaa’: 1]

Allah Ta’ala berfirman:

“… Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari Berbangkit itu sudah dekat waktunya.” [Al-Ahzaab: 63]

Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya mereka memandang siksaan itu jauh (mustahil). Sedangkan kami memandangnya dekat (pasti terjadi).” [Al-Ma’aarij: 6-7]

Allah Ta’ala berfirman:

“Telah dekat (datangnya) saat itu (Kiamat) dan telah terbelah bulan.” [Al-Qamar: 1]

Dan ayat-ayat lainnya yang menunjukkan dekatnya kesudahan alam dunia ini dan perpindahan ke alam yang lain (akhirat), di alam itu setiap orang mendapatkan apa-apa yang mereka amalkan, jika baik maka baik pula balasan-nya, dan jika jelek maka jelek pula balasannya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jarak diutusnya aku dan hari Kiamat seperti dua (jari) ini.” Beliau berisyarat dengan kedua jarinya (jari telunjuk dan jari tengah), lalu merenggangkannya.”[1]

Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Aku diutus pada awal hembusan angin Kiamat.” [2]

Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya ajal kalian jika dibandingkan dengan ajal umat terdahulu adalah seperti jarak antara shalat ‘Ashar dan Maghrib.” [3]

Dan diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, beliau berkata:

“Kami pernah duduk-duduk bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sementara matahari berada di atas gunung Qu’aiqa’aan [4] setelah waktu ‘Ashar, lalu beliau bersabda, ‘Tidaklah umur-umur kalian dibandingkan dengan umur orang yang telah berlalu kecuali bagaikan sisa hari (ini) dibandingkan dengan waktu siang yang telah berlalu.’” [5]

Hadits ini menunjukkan bahwa waktu yang tersisa sangat sedikit jika dibandingkan dengan waktu yang telah berlalu. Akan tetapi waktu yang telah berlalu tidak ada yang mengetahui kecuali Allah Ta’ala. Belum pernah ada satu riwayat pun dengan sanad yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menerangkan batasan waktu dunia sehingga bisa dijadikan sebagai rujukan agar diketahui sisa waktu yang ada. Tentunya waktu sisa ini sangat sedikit sekali jika dibandingkan dengan waktu yang telah berlalu.[6]

Tidak ada sebuah ungkapan yang lebih jelas tentang dekatnya hari Kiamat daripada sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Jarak diutusnya aku dan hari Kiamat secara bersamaan, hampir saja dia mendahuluiku.” [7]

Ini adalah isyarat sangat dekatnya hari Kiamat dengan waktu diutusnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga beliau takut jika Kiamat itu mendahului beliau karena sangat dekatnya.

Footnote:

[1]. Shahiih al-Bukhari, kitab ar-Riqaaq bab Qaulin Nabiyyi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Bu’itstu Ana was Saa’atu ka Haataini dari Sahl z (XI/347, al-Fat-h).
[2]. Al-Albani berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh ad-Daulabi dalam al-Kuna’ (I/23), Ibnu Mandah dalam al-Ma’rifah (II/234/2) dari Abi Hazim dari Abi Jabirah secara marfu’, ini adalah sanad yang shahih dan semua rijalnya (rawi) tsiqah (dipercaya), ada perbedaan pendapat tentang Abu Jabirah, apakah dia seorang Sahabat? Sementara al-Hafizh dalam at-Taqriib mentarjih (menguatkan) bahwa beliau adalah seorang Sahabat. (Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah) (II/467, no. 808).
Dan lihat Tahdziibut Tahdziib (XII/52-53/al-Kuna), cet. Majlis Da-irah al-Ma’arif, India, cet. I th. 1327 H dan Taqriibut Tahdziib (II/405), tahqiq ‘Abdul Wahhab ‘Abdul Lathif, cet. Darul Ma’rifah, cet. II th. 1395 H.
[3]. Shahiih al-Bukhari, kitab Ahaadiitsul Anbiyaa’, bab Maa Dzukira ‘an Banii Israa-iil (VI/495, al-Fat-h).
[4]. (قُعَيْقِعَـانَ) dengan didhammahkan qaf yang pertama, dan dikasrahkan yang kedua, dengan lafazh Tashghir, “Sebuah gunung di sebelah selatan Makkah sejauh dua belas mil. Dinamakan Qu’aiqa’aan karena ketika kabilah Jurhum melakukan peperangan di sana terdengar banyak gemerincing senjata. Dan jelas bahwasanya perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini terjadi pada haji Wada atau pada peperangan Fat-hu Makkah, dan waktu itu Ibnu ‘Umar mengikutinya beserta para Sahabat.
Lihat an-Nihaayah, karya Ibnul Atsir (IV/88) dan Syarh Musnad Ahmad (VIII/ 176), karya Ahmad Syakir.
[5]. Musnad Ahmad (VIII/176, no. 5966) syarah Ahmad Syakir, dan beliau berkata, “Isnadnya shahih.”
Ibnu Katsir berkata, “Isnad ini hasan la ba’-sa bihi.” (An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/194)).
Dan Ibnu Hajar berkata, “Hasan,” (Fat-hul Baari XI/350).
[6]. An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/195) tahqiq Dr. Thaha Zaini.
[7]. Musnad Ahmad (V/348, Muntakhabul Kanzi), dan Taariikhul Umam wal Muluuk (I/8), karya ath-Thabrani.

TANDA-TANDA KECIL KIAMAT

DEFINISI ASYRAATHUS SAA’AH (TANDA-TANDA KIAMAT)

(الشَّرَطُ) dengan huruf ra yang berharakat, maknanya adalah tanda, bentuk jamaknya (أَشْرَاطٌ), dan (أَشْرَاطُ الشَّيْءِ) maknanya adalah bagian pertama dari se-suatu, demikian pula kalimat (شُـرَطُ السُّلْطَانِ) adalah orang-orang pilihan dari teman-temannya (penguasa) yang lebih diutamakan daripada orang lain dari kalangan tentaranya. Demikian pula lafazh (اَلاِشْتِرَاطُ) maknanya adalah sesuatu yang disyaratkan manusia satu sama lainnya, maka asy-Syarath adalah tanda bagi sesuatu yang ditandakan.[1]

Makna (السَّاعَةُ) menurut bahasa, ia adalah salah satu bagian (waktu) siang atau malam, bentuk jamaknya adalah (سَـاعَاتٌ) dan (سَـاعٌ), siang dan malam seluruhnya adalah 24 jam.

Makna (اَلسَّاعَةُ) menurut istilah syara’ adalah waktu di mana Kiamat itu terjadi. Dinamakan demikian karena cepatnya hitungan (waktu) di dalamnya, atau karena (Kiamat) itu mengagetkan manusia hanya dalam satu waktu. Maka semua makhluk mati dengan satu kali tiupan (sangkakala). [2]

Maka makna Asyraatus Saa’ah adalah tanda-tanda Kiamat yang mendahuluinya dan menunjukkan kedekatannya. Ada juga yang mengatakan bahwa tanda Kiamat adalah segala hal yang diingkari oleh manusia berupa gejala-gejalanya yang kecil sebelum Kiamat terjadi. Ada juga yang mengata-kan bahwa ia adalah sebab-sebab Kiamat bukan yang besar dan sebelum terjadinya. [3]

Kata as-saa’ah (Kiamat) dimutlakkan pada tiga makna:

1. As-Saa’atush Shughraa (Kiamat Kecil)
Ia adalah kematian manusia, barangsiapa meninggal dunia, maka telah terjadi Kiamat padanya karena ia telah memasuki alam akhirat.

2. As-Saa’atul Wusthaa (Kiamat Sedang)
Ia adalah meninggalnya manusia dan suatu generasi. Hal ini diperkuat dengan sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata:

“Jika orang-orang badui datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka bertanya tentang Kiamat, ‘Kapan terjadinya Kiamat? Lalu beliau menatap orang yang paling muda di antara mereka, beliau berkata, ‘Jika anak ini hidup dan masa tua tidak datang kepadanya, maka telah terjadi Kiamat kepada kalian.’”[4]

Artinya, kematian mereka. Maksudnya adalah Kiamatnya orang-orang yang diajak bicara oleh beliau.

3. As-Saa’atul Kubraa’ (Kiamat Besar)
Ia adalah kebangkitan manusia dari kubur mereka untuk dikumpulkan dan diberikan balasan.

Jika kata as-saa’ah diungkapkan secara mutlak dalam al-Qur-an, maka yang dimaksud adalah Kiamat kubra (besar).

Allah Ta’ala berfirman:

“Manusia bertanya kepadamu tentang hari Berbangkit…” [Al-Ahzaab: 63]

Maksudnya adalah (bertanya) tentang hari Kiamat.

Allah Ta’ala berfirman:

“Telah dekat (datangnya) saat itu…” [Al-Qamar: 1]

Maknanya adalah telah dekat hari Kiamat.

Allah Ta’ala telah menyebutkan dua Kiamat: yang kecil dan yang besar di dalam al-Qur-an al-Karim. Anda akan dapati penyebutan kedua Kiamat di dalam satu surat, sebagaimana tercantum di dalam surat al-Waaqi’ah.

Allah Ta’ala menyebutkan Kiamat besar di awal-awal surat tersebut. Allah berfirman:

“Apabila terjadi hari Kiamat, terjadinya Kiamat itu tidak dapat didustakan (disangkal). (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain), apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancur luluhkan sehancur-hancurnya, maka jadilah dia debu yang beterbangan, dan kamu menjadi tiga golongan.” [Al-Waaqi’ah: 1-7]

Kemudian di akhir ayat Allah menyebutkan Kiamat sughra (kecil), yaitu kematian, seraya berfirman:

“Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu. Tetapi kamu tidak melihat.” [Al-Waaqi’ah: 83-85]

Demikian pula Allah mengungkapkan kedua Kiamat di dalam surat al-Qiyaamah, Allah berfirman:

“Aku bersumpah dengan hari Kiamat.” [Al-Qiyaamah: 1]

Ini adalah Kiamat kubra (besar).

Selanjutnya Allah menyebutkan kematian. Dia berfirman:

“Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan.” [Al-Qiyaamah: 26]

Ia adalah Kiamat sughra (kecil).

Juga ayat-ayat lainnya yang terdapat pada beberapa surat dalam al-Qur-an yang sangat luas untuk diungkapkan di sini.

Dan Kiamat kubra (besar) adalah materi yang akan kami jelaskan tanda-tandanya sebagaimana diungkap di dalam al-Kitab dan as-Sunnah. [6]

PEMBAGIAN TANDA-TANDA KIAMAT (ASYRAATHUS SAA’AH)

Tanda-tanda Kiamat terbagi menjadi dua bagian:

1. Tanda-Tanda Kecil
Yaitu tanda-tanda yang mendahului Kiamat dalam kurun waktu yang lama dan merupakan sesuatu yang dianggap biasa. Seperti hilangnya ilmu, menyebarkan kebodohan, meminum khamr, saling berlomba membuat dan meninggikan bangunan, dan lainnya. Terkadang sebagiannya nampak bersamaan dengan tanda-tanda besar Kiamat, atau setelahnya.

2. Tanda-Tanda Besar
Yaitu peristiwa-peristiwa besar yang terjadi menjelang Kiamat dan merupakan sesuatu yang tidak biasa terjadi. Seperti keluarnya Dajjal, turunnya Nabi ‘Isa Alaihissallam, keluarnya Ya’-juj dan Ma’-juj, dan terbitnya matahari dari barat.[7]

Sebagian ulama membagi tanda-tanda Kiamat berdasarkan kemunculannya menjadi tiga bagian:[8]

a. Telah muncul dan berakhir.
b. Telah muncul dan senantiasa muncul bahkan bertambah banyak.
c. Belum muncul sampai sekarang.

Dua bagian yang pertama merupakan tanda-tanda kecil, adapun bagian ketiga, maka bergabung di dalamnya tanda-tanda besar dan sebagian tanda-tanda kecil.

TANDA-TANDA KECIL KIAMAT

Tanda-tanda kecil Kiamat yang diungkapkan oleh para ulama banyak sekali. Kami sebutkan di sini sebagian tanda tersebut yang telah tetap berdasarkan as-Sunnah bahwa ia termasuk tanda-tanda kecil Kiamat. Dan kami tinggalkan yang tidak shahih -sesuai dengan kemampuan ilmu kami yang sangat terbatas-. Hal itu dilakukan setelah meneliti hadits-hadits tersebut dan mengetahui pendapat para ulama terhadap hadits-hadits tersebut, berdasarkan keshahihan dan kelemahannya. Terkadang ada tanda-tanda Kiamat lain yang telah tetap keshahihannya hanya saja kami belum bisa meneliti keshahihan haditsnya.

Kami menyebutkan tanda-tanda ini tanpa berurutan, karena kami belum pernah mendapatkan satu hadits atau beberapa hadits yang jelas-jelas menerangkan urutannya. Maka pertama kali kami menyebutkan (tanda Kiamat) yang dijelaskan oleh para ulama bahwa ia telah muncul dan berakhir. Kemudian kami memilih penyebutan tanda-tanda Kiamat yang lainnya dengan mendahulukan berbagai peristiwa yang mesti untuk didahulukan daripada yang lainnya. Misalnya, nampaknya berbagai fitnah lebih didahulukan dari-pada diambilnya ilmu karena beberapa fitnah telah muncul pada zaman para Sahabat. Peperangan dengan Romawi didahulukan daripada penaklukan Konstantinopel karena khabar mengungkapkannya seperti itu. Penaklukan Konstantinopel didahulukan daripada memerangi Yahudi pada zaman turun-nya Nabi ‘Isa Alaihissallam karena penaklukannya terjadi sebelum munculnya Dajjal, dan turunnya Nabi ‘Isa Alaihissallam terjadi setelah munculnya Dajjal, dan demikianlah seterusnya. Sebagian tanda-tanda Kiamat menuntut untuk disebutkan di akhir karena ia tidak muncul kecuali setelah munculnya tanda-tanda besar Kiamat, seperti hancurnya Ka’bah oleh orang Habasyah, juga munculnya angin yang mencabut ruh kaum mukminin.

Di antara hal yang perlu diketahui bahwa sebagian besar dari tanda-tanda Kiamat telah muncul permulaannya pada zaman Sahabat Radhiyallahu anhum, dan terus bertambah, kemudian menjadi semakin banyak di sebagian tempat sementara di tempat lainnya tidak demikian, dan yang menjadikannya sempurna (dari tanda-tanda tersebut) adalah dengan datangnya hari Kiamat. Misalnya dicabutnya ilmu tidak berlanjut kecuali dengan kebodohan, akan tetapi hal itu tidak menghalangi adanya sebagian kelompok ahli ilmu karena mereka ketika itu tenggelam (berada) di antara orang-orang bodoh. Kiaskanlah (seperti itu) pada tanda-tanda Kiamat yang lainnya.[9]

Dan di antara hal yang perlu diperhatikan pula bahwa sebagian orang memahami bahwa sesuatu yang termasuk tanda-tanda Kiamat berarti sesuatu yang dilarang. Kaidah seperti ini tidak benar, karena tidak setiap apa yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari tanda-tanda Kiamat menjadi haram atau tercela. Karena saling berlomba dalam membuat bangunan yang tinggi, banyaknya harta, dan perbandingan lima puluh wanita untuk satu orang laki-laki jelas-jelas bukan sesuatu yang haram. Hal ini hanya sekedar tanda, sedangkan tanda tidak disyaratkan padanya suatu hukum apa pun. Tanda-tanda ini bisa berupa sesuatu yang baik, jelek, mubah, haram, wajib dan yang lainnya. Wal-laahu a’lam. [10]

Sekarang saatnya kita mulai membahas tanda-tanda kecil Kiamat, yaitu sebagai berikut.

Footnote:

[1]. Lihat an-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits wal Atsar (II/460), dan Lisaanul ‘Arab (VII/329-330), karya Abul Fadhl Ibnu Manzhur, cet. Darul Fikr dan Daar Shadir, Beirut.
[2]. Lihat an-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits (II/422), Lisaanul ‘Arab (VIII/169) dan Tartiibul Qaamusil Muhiith (II/647), karya Ustadz ath-Thahir Ahmad az-Zawawi, Darul Kutub al-‘Ilmiyyah. (1399 H).
[3]. Lihat an-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits (II/460), Lisaanul ‘Arab (VII/329-330).
[4]. Shahiih al-Bukhari, kitab ar-Riqaaq, bab Sakaraatul Maut (XI/361, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Qurbus Saa’ah (XVIII/90, Syarh an-Nawawi).
[5]. Fat-hul Baari (XI/363).
[6]. Lihat Majmu’ al-Fataawaa’ (IV/264-265), karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Fat-hul Baari (XI/364), dan Taajul ‘Aruus min Jawaahiril Qaamus (V/390).
[7]. Lihat kitab at-Tadzkirah, karya al-Qurthubi (hal. 624), Fat-hul Baari (XIII/485), dan kitab Ikmaalul Mu’allim Syarh Shahiih Muslim (I/70), karya Abi ‘Abdillah Muhammad bin Khalifah al-Ubay al-Maliki, cet. Darul Kutub al-‘Ilmiyah, Beirut. Dan lihat Muqaddimah kitab at-Tashriih bima Tawaa-tara fi Nuzuulil Masiih (hal. 9), karya Muhaddits Syaikh Muhammad Anwar Syah al-Kasymiri al-Hindi, disusun oleh muridnya Syaikh Muhammad Syafii’, tahqiq dan ta’liq Syaikh ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah, dicetak oleh percetakan al-Ashiil, Halab, disebarluaskan oleh Maktabah al-Mathbu’ah al-Islamiyyah, Lembaga Pendidikan Ilmu Agama Islam. (1385).
[8]. Lihat kitab Fat-hul Baari (XIII/53-54), al-Isyaa’ah li Asyraathis Saa’ah (hal. 3), karya al-Barzanji, Lawaa-mi’ul Anwaaril Bahiyyah wa Sawaathiul Asraaril Atsariyyah (II/66), karya al-‘Allamah Muhammad bin Ahmad as-Safarayini al-Hanbali, ta’liq ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman Abu Bitthin dan Syaikh Sulaiman bin Samhan salah satu ulama Najd, diambil dari buletin Yayasan al-Khaafiqiin dan per-pustakaannya, Damaskus, cet. II, th. 1402 H.
[9]. Lihat Fat-hul Baari (XIII/16).
Penjelasannya akan dirinci kembali dalam pembahasan tentang dicabutnya ilmu dan tersebarnya kebodohan.
[10]. Syarah Shahih Muslim, an-Nawawi (I/159).

1. DIUTUSNYA NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa diutusnya beliau merupakan pertanda dekatnya Kiamat, dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dijuluki dengan Nabiyyus Saa’ah.

Dijelaskan dalam hadits dari Sahl Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Jarak diutusnya aku dan hari Kiamat seperti dua (jari) ini.” Beliau memberikan isyarat dengan kedua jarinya (jari telunjuk dan jari tengah), lalu merenggangkannya.’” [1]

Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Jarak diutusnya aku dan hari Kiamat seperti dua (jari) ini.’”

Anas Radhiyallahu anhu berkata, “Dan beliau menggabungkan jari telunjuknya dengan jari tengah.” [2]

Dan diriwayatkan dari Qais bin Abi Hazim dari Abu Jubairah secara marfu’:

“Aku diutus pada awal hembusan angin Kiamat (awal tanda-tanda Kiamat).” [4]

Jadi tanda Kiamat yang pertama kali adalah diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah Nabi terakhir, tidak ada Nabi lain setelahnya, yang ada hanya Kiamat sebagaimana jari telunjuk dan jari tengah, di antara keduanya tidak ada lagi jari lain atau panjang salah satunya melebihi yang lain [5], hal ini sebagaimana diriwayatkan at-Tirmidzi:

“Jarak antara diutusnya aku dan hari Kiamat seperti dua (jari) ini.” Abu Dawud memberikan isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. Dia tidak melebihkan panjang salah satunya (kecuali hanya sedikit saja).” [6]

Dan di dalam riwayat Muslim: Syu’bah berkata, “Aku mendengar Qatadah berkata di dalam kisah-kisahnya, ‘Bagaikan kelebihan panjang salah satunya atas yang lain.’ Aku tidak tahu apakah beliau menyebutkannya dari Anas atau Qatadah yang mengatakannya.” [7]

Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Tanda Kiamat yang pertama adalah diutusnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena beliau adalah Nabi akhir zaman dan beliau telah diutus sementara tidak ada lagi Nabi di antara beliau dan hari Kiamat.” [8]

Allah Ta’ala berfirman:

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-Nabi…” [Al-Ahzaab: 40]

Footnote:

[1]. Shahiih al-Bukhari kitab ar-Riqaaq bab Qaulin Nabiyyi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Bu’itstu was Saa’atu ka Haataini dari Sahl Radhiyallahu anhu (XI/347, al-Fat-h).
[2]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Qurbus Saa’ah (XVIII/ 89-90, Syarah an-Nawawi).
[3]. Ibnul Atsir berkata, “Kata tersebut diambil dari kata yang berarti hembusan angin pertama kali yang lembut. Jadi maknanya adalah aku diutus di awal tanda-tanda Kiamat yang kecil, ada juga yang mengatakan kata tersebut merupakan bentuk jamak dari (نَسَمَةٌ) yang maknanya adalah aku diutus pada makhluk-makhluk yang diciptakan Allah menjelang terjadinya Kiamat,” seakan-akan beliau bersabda, “Di akhir penciptaan cucu Adam.” (An-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits (V/49-50)).
[4]. HR. Ad-Daulabi di dalam al-Kunaa (I/23), dan Ibnu Mandah dalam al-Ma’rifah (II/234/2).
Syaikh al-Albani mengatakan, “Shahih.”
Hadits ini diriwayatkan pula oleh al-Hakim dalam al-Kunaa -sebagaimana diungkap dalam al-Fat-hul Kabiir- dan beliau tidak menghubungkannya kepada yang lain.
Lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (III/8, no. 2829) dan Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (II/468, no. 808).
[5]. Lihat at-Tadzkirah (hal. 625-626), Fat-hul Baari (XI/349), dan Tuhfatul Ahwadzi Syarh at-Tirmidzi (VI/460).
[6]. Jaami’ at-Tirmidzi, bab Maa Jaa-a fii Qaulin Nabiyyi J Bu’itstu Ana was Saa’ah ka Haataini (VI/459-460), dan beliau berkata, “Hadits ini hasan shahih.”
[7]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Qurbus Saa’ah (XVIII/ 89, Syarh an-Nawawi).
[8]. At-Tadzkirah fii Ahwaalil Mautaa’ wa Umuuril Aakhirah (hal. 626).

2. WAFATNYA NABI SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM

Di antara tanda-tanda Kiamat adalah wafatnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dijelaskan dalam hadits ‘Auf bin Malik Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Ingatlah (wahai ‘Auf) ada enam (tanda) sebelum datangnya hari Kiamat, kematianku….’” [1]

Kematian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah musibah terbesar yang menimpa kaum muslimin. Dunia terasa gelap dalam pandangan para Sahabat radhiyallahu anhum ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat.

Anas bin Malik Radhiyallahu anhu berkata:

“Di hari kedatangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah segala sesuatu bercahaya, lalu ketika tiba hari wafatnya segala sesuatu menjadi gelap, dan tidaklah kami selesai menepuk-nepukkan tangan karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam -ketika kami menguburnya- sehingga kami mengingkari hati kami (tidak menemukan keadaan seperti sebelumnya).” [2]

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Maksudnya adalah mereka mendapati hati-hati mereka berubah dari yang mereka rasakan ketika masih bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa keharmonisan, kejernihan, dan kelembutan. Hal itu karena mereka telah kehilangan segala hal yang diberikan oleh beliau berupa pengajaran dan pendidikan.” [3]

Dengan wafatnya beliau terputuslah wahyu dari langit, sebagaimana disebutkan dalam jawaban Ummu Aiman Radhiyallahu anhuma kepada Abu Bakar dan ‘Umar Radhiyallahu anhuma ketika mereka berdua mengunjunginya setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Sesampainya mereka berdua padanya, dia menangis, lalu keduanya bertanya, “Apa yang membuatmu menangis? Segala sesuatu yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasul-Nya.” Kemudian ia menjawab, “Aku tidak menangis karena aku tidak tahu bahwa apa-apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasul-Nya, akan tetapi aku menangis karena sesungguhnya wahyu dari langit telah terputus.” Hal itu menjadikan keduanya menangis, kemudian keduanya ikut menangis bersamanya.”[4]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah meninggal sebagaimana manusia lainnya meninggal karena Allah tidak menetapkan kekekalan bagi seorang makhluk pun di dunia ini. Dunia ini hanya tempat persinggahan bukan tempat untuk menetap, sebagai-mana difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jika kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” [Al-Anbiyaa : 34-35]

Juga ayat-ayat lain yang menjelaskan bahwa kematian adalah haq (benar), dan setiap yang berjiwa pasti mati, walaupun dia seorang pemimpin para makhluk dan pemimpin orang-orang yang bertakwa, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kematian beliau sebagaimana diungkapkan oleh al-Qurthubi, “Perkara pertama yang menimpa Islam… kemudian setelahnya adalah kematian ‘Umar. Dengan kematian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam wahyu menjadi terputus, dan matilah kenabian. Kematian beliau adalah awal munculnya kejelekan dengan murtadnya orang-orang Arab, juga yang lainnya. Dan kematian beliau merupakan awal terputusnya kebaikan juga awal berkurangnya.

Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu anhu berkata:

Maka sungguh akan terjadi berbagai peristiwa setelahnya,
yang menyibukkan fikiran dan melelahkan

Shafiyyah binti ‘Abdil Muththalib Radhiyallahu anhuma berkata:

‘Demi Allah, tidaklah aku menangis karena kehilanganya,
akan tetapi karena aku takut pembunuhan yang akan datang setelahnya’” [5]

Footnote:

[1]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Jizyah wal Muwaada’ah, bab Maa Yuhdzaru minal Ghadr (VI/277, al-Fat-h).
[2]. Jaami’ at-Tirmidzi, bab-bab al-Manaaqib (X/87-88, Tuhfatul Ahwadzi), at-Tirmidzi berkata, “Hadits ini shahih gharib.”
Syu’aib al-Arna-uth berkata, “Isnadnya shahih.” Lihat Syarhus Sunnah, karya al-Baghawi (IV/50) tahqiq Syu’aib al-Arna-uth.
Ibnu Hajar berkata, “Abu Sa’id berkata sebagaimana diriwayatkan oleh al-Bazzar dengan sanad yang jayyid, “Tidaklah kami menepuk-nepukkan tangan karena menguburnya sehingga kami meng-ingkari hati kami.” (al-Fat-h VIII/149).
[3]. Fat-hul Baari (VIII/149).
[4]. Shahiih Muslim, kitab Fadhaa-ilush Shahaabah g, bab Fadhaa-ilu Ummi Aiman x (XVI/9-10, Syarh an-Nawawi).
[5]. At-Tadzkirah, karya al-Qurthubi (hal. 629-630) dengan sedikit perubahan, dan lihat al-Idzaa’ah, karya Shiddiq Hasan, (hal. 67-69).

3. PENAKLUKAN BAITUL MAQDIS

Di antara tanda-tanda Kiamat adalah penaklukan Baitul Maqdis. Dijelaskan dalam hadits ‘Auf bin Malik Radhiyallahu anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Ingatlah (wahai ‘Auf) ada enam (tanda) sebelum datangnya hari Kiamat….’” (Lalu beliau menyebutkan salah satunya), “Penaklukan Baitul Maqdis.” [1]

Di zaman ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu sempurnalah penaklukan Baitul Maqdis, tepatnya pada tahun 16 Hijriyyah, sebagaimana disebutkan oleh para ahli sejarah. ‘Umar Radhiyallahu anhu pergi mengadakan perdamaian dengan penduduknya dan menaklukkannya, membersihkannya dari kaum Yahudi dan Nasrani, dan membangun masjid di arah kiblat Baitul Maqdis. [2]

Al-Imam Ahmad meriwayatkan dari jalan ‘Ubaid bin Adam, beliau berkata:

“Aku mendengar ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu berkata kepada Ka’ab al-Akhbar [3], ‘Ke arah manakah aku melakukan shalat?’ Lalu dia menjawab, ‘Jika engkau mengambil pendapatku, maka hendaklah engkau shalat di belakang batu, sedangkan Qudus seluruhnya ada di hadapanmu.’ ‘Umar berkata, ‘Apakah engkau menyerupai orang Yahudi? Tidak, akan tetapi aku akan melakukan shalat sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya,’ lalu beliau maju ke arah kiblat kemudian shalat, lalu beliau datang dan menghamparkan selendangnya dan mengumpulkan kotoran ke selendangnya, dan orang-orang pun ikut membersihkan.” [4]

Footnote:

[1]. HR. Al-Bukhari. Telah disebutkan takhrijnya.
[2]. Lihat al-Bidaayah wan Nihaayah (VII/55-56).
[3]. Dia adalah Ka’ab bin Mati’ al-Humairi, salah satu sumber ilmu dan salah seorang ulama besar dari kalangan Ahlul Kitab. Beliau masuk Islam pada zaman Abu Bakar ash-Shiddiq, datang ke Madinah pada zaman ‘Umar, kemudian tinggal di Syam, dan meninggal pada zaman kekhilafahan ‘Utsman Radhiyallahu anhu dan berumur lebih dari seratus tahun. Dia adalah orang yang banyak meriwayatkan Israiliyat, sebagian besar tidak shahih sanad kepadanya. Tidak ada satu riwayat pun baginya di dalam Shahiih al-Bukhari, sementara di dalam Shahiih Muslim ada satu riwayat Abu Hurairah darinya.
[4]. Musnad Imam Ahmad (I/268-269, no. 261), tahqiq Ahmad Syakir, dan beliau berkata, “Isnadnya hasan.”

4. WABAH THA’UN DI ‘AMWAS [1]

Dijelaskan dalam hadits ‘Auf bin Malik yang terdahulu sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Ingatlah ada enam (tanda) sebelum datangnya hari Kiamat….”

Lalu beliau menuturkan di antaranya:

“Kemudian banyaknya kematian yang menimpa kalian bagaikan penyakit [2] kambing.” [3]

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Ada yang mengatakan, ‘Kejadian (dalam hadits) di atas muncul pada wabah penyakit tha’un amwas di zaman kekhilafahan ‘Umar, hal itu terjadi setelah penaklukan Baitul Maqdis.’”[4]

Pada tahun 18 Hijriyah menurut pendapat yang masyhur dari pendapat jumhur ulama [5] terjadi wabah tha’un di daerah ‘Amwas, kemudian menyebar di negeri Syam. Hal itu menyebabkan banyak dari kalangan Sahabat Radhiyallahu anhum dan yang lainnya meninggal dunia. Ada yang mengatakan bahwa jumlah yang meninggal mencapai dua puluh lima ribu jiwa dari kaum muslimin. Dan di antara orang-orang terkenal yang meninggal adalah: Abu Ubaidah ‘Amir bin al-Jarrah, kepercayaan umat ini” [6].

Footnote:

[1]. ‘Amwas adalah sebuah daerah di Palestina sejauh enam mil dari Ramalah melalui jalur Baitul Maqdis.
[2]. قُعَاصٌ dengan qaf yang didhammahkan, disebut juga عُقَاسُ dengan huruf ain  yang didhammahkan, dan huruf qaf yang ditakhfif sementara huruf akhirnya tanpa titik, ia adalah penyakit yang me-nyerang binatang, lalu dari hidungnya mengalir sesuatu sehingga ia mati tiba-tiba. Lihat an-Nihaayah fi Ghariibil Hadiits (IV/88) dan Fat-hul Baari (VI/278).
[3]. HR. Al-Bukhari dan telah terdahulu takhrijnya.
[4]. Fat-hul Baari (VI/278).
[5]. Lihat al-Bidaayah wan Nihaayah (VII/90).
[6]. Lihat Mu’jamul Buldaan (IV/157-158), dan al-Bidaayah wan Nihaayah (VI/94).

5. MELIMPAHNYA HARTA DAN TIDAK DIBUTUHKANNYA SHADAQAH

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak akan tiba hari Kiamat hingga harta menjadi banyak pada kalian, harta itu terus melimpah sehingga membingungkan pemiliknya siapakah yang mau menerima shadaqah darinya, lalu seseorang dipanggil kemudian dia berkata, ‘Aku tidak membutuhkannya.’”[1]

Diriwayatkan dari Abu Musa Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

“Sungguh akan datang kepada manusia suatu zaman di mana seseorang berkeliling dengan membawa harta shadaqah berupa emas, kemudian dia tidak mendapati seorang pun yang mau menerimanya darinya.”[2]

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa Allah Ta’ala akan memberikan karunia kepada umat ini, dengan membukakan untuk mereka simpanan-simpanan bumi, dan kekuasaan umat ini akan mencapai bumi bagian timur dan barat. Dijelaskan di dalam sebuah hadits Tsauban Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah mendekatkan [3] bumi untukku sehingga aku dapat melihat bagian timur dan baratnya, dan sesungguhnya kekuasaan umatku akan mencapai bagian bumi yang telah didekatkan padaku, dan aku diberikan dua (harta) simpanan; yaitu emas dan perak.” [4]

Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Dan sesungguhnya aku telah diberikan kunci-kunci (harta) simpanan bumi atau kunci-kunci bumi.”[5]

Dan diriwayatkan dari ‘Adi bin Hatim Radhiyallahu anhu, dia berkata:

“Ketika aku bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang laki-laki, lalu dia mengadu kepadanya tentang kefakiran, kemudian datang lagi yang lain, dan mengadu kepadanya tentang para pembegal. Selanjutnya beliau berkata, ‘Wahai ‘Adi! Apakah engkau melihat (kota) al-Hirah?’ ‘Aku belum melihatnya, sementara aku telah mendapatkan berita tentangnya,’ jawabku. Beliau bersabda, ‘Jika umurmu panjang, niscaya engkau akan melihat seorang wanita melakukan perjalanan dari al-Hirah hingga dia melakukan thawaf di sekeliling Ka’bah tanpa merasa takut kepada seorang pun kecuali kepada Allah,’ aku bertanya di dalam hati, ‘Ke manakah para pembegal dari Thayyi’ yang telah menebarkan fitnah di berbagai negeri?!’ (Sabda Rasul), ‘Dan seandainya umurmu panjang, niscaya akan dibukakan harta simpanan Kisra.’ Aku bertanya, ‘Kisra bin Hurmuz?!’ Beliau menjawab, ‘Kisra bin Hurmuz, dan seandainya umurmu panjang, niscaya engkau akan melihat seorang laki-laki mengeluarkan emas atau perak sepenuh kedua telapak tangannya, dia mencari orang yang akan menerimanya, lalu dia sama sekali tidak mendapati seorang pun yang mau menerimanya darinya… ‘Adi berkata, “Lalu aku melihat seorang wanita yang melakukan perjalanan dari (kota) al-Hirah hingga dia melakukan thawaf di Ka’bah tanpa ada rasa takut kecuali kepada Allah, dan aku adalah termasuk orang yang membuka harta simpanan Kisra bin Hurmuz, dan jika kalian berumur panjang, niscaya kalian akan melihat apa-apa yang dikatakan oleh Abul Qasim (Nabi) Shallallahu ‘alaihi wa sallam, (yaitu) orang yang menshadaqahkan (emas) sepenuh telapak tangan.” [6]

Telah banyak terbukti apa-apa yang dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Harta melimpah pada zaman Sahabat Radhiyallahu anhu dikarenakan banyaknya penaklukan, dan mereka membagi-bagikan harta dari penaklukan negeri Persia dan Romawi. Kemudian harta melimpah pada masa ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz rahimahullah, bahkan ada seseorang pada zaman beliau menawarkan harta shadaqah tetapi tidak didapatkan orang yang mau menerimanya darinya.

Demikian pula harta akan melimpah di akhir zaman, sampai-sampai ada seseorang menawarkan harta kepada yang lainnya, lalu orang yang ditawarkan berkata, “Aku tidak membutuhkannya.”

Ini -wallaahu a’lam- merupakan isyarat terhadap apa-apa yang akan terjadi pada zaman al-Mahdi dan Nabi ‘Isa Alaihissallam [7] berupa banyaknya harta dan bumi mengeluarkan keberkahan dan simpanannya.

Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Bumi mengeluarkan (harta) simpanannya seperti batangan-batangan dari emas dan perak.’ Beliau berkata, ‘Lalu sang pembunuh datang, dia berkata, ‘Karena inilah aku membunuh,’ kemudian datang orang yang memutuskan hubungan silaturahmi, lalu berkata, ‘Karena inilah aku memutuskan hubungan silaturahmi,’ dan datang si pencuri, lalu berkata, ‘Karena inilah tanganku dipotong,’ kemudian mereka meninggalkannya dengan tidak mengambil sedikit pun darinya.’”[8]

Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan tentang keadaan manusia yang tidak membutuhkan harta dan meninggalkannya, hal itu mungkin terjadi ketika keluarnya api, dan sibuknya manusia dengan perkara berhimpunnya (manusia ke satu tempat), sehingga tidak seorang pun yang peduli terhadap harta, bahkan mereka ingin meringankan diri (dari segala beban) semampunya.

Apa yang diungkapkan oleh Ibnu Hajar rahimahullah di atas tidak bertentangan dengan sebab lain yang menyebabkan mereka tidak membutuhkannya lagi, yaitu banyaknya harta, sebagaimana yang akan terjadi pada zaman al-Mahdi dan Nabi ‘Isa Alaihissallam. Maka sikap merasa tidak butuh terhadap harta ini terjadi pada dua masa -walaupun keduanya berjauhan- dengan dua sebab yang berbeda. Wallahu a’lam.

Footnote:

[1]. Shahiih al-Bukhari , kitab al-Fitan (XIII/81-82, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab az-Zakaah, bab Kullu Nau’in minal Ma’ruuf Shadaqah (VII/97, Syarah an-Nawawi).
[2]. Shahiih Muslim, kitab az-Zakaah, bab Kullu Nau’in minal Ma’ruuf Shadaqah (VII/96, Syarh an-Nawawi).
[3]. (زوي) seperti perkataan: Zawaituhu, Azwihi, Zayyan, yang berarti: Jama’tuhu; mengumpulkannya. Maksudnya bahwasanya Allah mengumpulkan bumi untuk beliau J, dan mendekatkannya se-hingga beliau melihat bagian barat dan timurnya.
[4]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah (XVIII/13, Syarah an-Nawawi).
[5]. Shahiih Muslim, kitab al-Fadhaa-il bab Haudhin Nabiyyi J wa Shifatuhu (XV/ 57, Syarh an-Nawawi).
[6]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Manaaqib, bab ‘Alaamaatun Nubuwwah fil Islaam (VI/60-61, Fat-h) dan Syarhus Sunnah, kitab al-Fitan, bab Maa yakunu min Katsratil Maal wal Futuuh (XV/31-33). Tahqiq Syu’aib al-Arna-uth.
[7]. Lihat kitab Fat-hul Baari (XIII/87-88).
[8]. Shahiih Muslim, kitab az-Zakaah, bab Kullu Nau’in minal Ma’ruuf Shadaqah (XV/98, Syarh an-Nawawi). Dan lihat Fat-hul Baari (XIII/88).

6. MUNCULNYA BERBAGAI MACAM FITNAH

(اَلْفِتَنُ) adalah bentuk jamak dari kata (فِتْنَةٌ), maknanya adalah cobaan dan ujian. Kemudian banyak digunakan untuk makna ujian yang dibenci, lalu dimutlakkan untuk segala hal yang dibenci atau berakhir dengannya seperti dosa, kekufuran, pembunuhan, pembakaran, dan yang lainnya dari segala hal yang dibenci.[1]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa di antara tanda-tanda hari Kiamat adalah munculnya fitnah besar yang bercampur di dalamnya kebenaran dan kebathilan. Iman menjadi goyah, sehingga seseorang beriman pada pagi hari dan menjadi kafir pada sore hari, beriman pada sore hari dan menjadi kafir pada pagi hari. Setiap kali fitnah itu muncul, maka seorang mukmin berkata, “Inilah yang menghancurkanku,” kemudian terbuka dan muncul (fitnah) yang lainnya, lalu dia berkata, “Inilah, inilah.” Senantiasa fitnah-fitnah itu datang menimpa manusia sampai terjadinya hari Kiamat.

Dijelaskan dalam hadits Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Sesungguhnya menjelang datangnya hari Kiamat akan muncul banyak fitnah besar bagaikan malam yang gelap gulita, pada pagi hari seseorang dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir di sore hari, di sore hari seseorang dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir pada pagi hari. Orang yang duduk saat itu lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri saat itu lebih baik daripada orang yang berjalan dan orang yang berjalan saat itu lebih baik daripada orang yang berlari. Maka patahkanlah busur-busur kalian, putuskanlah tali-tali busur kalian dan pukulkanlah pedang-pedang kalian ke batu. Jika salah seorang dari kalian dimasukinya (fitnah), maka jadilah seperti salah seorang anak Adam yang paling baik (Habil).’” [HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Hakim dalam al-Mustadrak][2]

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Bersegeralah kalian melakukan amal shalih (sebelum datangnya) fitnah-fitnah bagaikan malam yang gelap gulita, seseorang dalam keadaan beriman di pagi hari dan menjadi kafir di sore hari, atau di sore hari dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir pada pagi hari, dia menjual agamanya dengan kesenangan dunia.” [3]

Diriwayatkan dari Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma, isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terbangun pada suatu malam yang menakutkan, lalu beliau berkata, ‘Subhaanallaah, harta simpanan apakah yang telah diturunkan? Fitnah apakah yang telah diturunkan? Siapakah yang membangunkan pemilik kamar-kamar -yang beliau maksud adalah isteri-isterinya- sehingga mereka melakukan shalat? Banyak sekali wanita yang berpakaian di dunia, di akhirat kelak dia telanjang.’”[4] [HR. Al-Bukhari][5]

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhuma, ia berkata:

“Seorang penyeru Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berseru, ‘Shalat berjama’ah!’ Lalu kami berkumpul bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau berkata, ‘Sesungguhnya tidak ada seorang Nabi pun sebelumku melainkan wajib baginya untuk menunjuki umatnya kepada kebaikan yang ia ketahui, dan memberikan peringatan kepada mereka dari kejelekan yang ia ketahui, dan sesungguhnya umat kalian ini, dijadikan keselamatannya di awalnya, dan (orang) yang ada di akhirnya akan tertimpa musibah juga berbagai perkara yang kalian ingkari, dan datanglah fitnah, sebagiannya menjadi lebih ringan (karena besarnya fitnah yang setelahnya,-penj.), dan datanglah fitnah, lalu seorang mukmin berkata, ‘Ini, ini…’ maka barangsiapa ingin diselamatkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga, maka hendaklah kematian mendatanginya dalam keadaan dia beriman kepada Allah dan hari Akhir.’” [HR. Muslim][6]

Dan hadits-hadits tentang fitnah banyak sekali. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan peringatan kepada umatnya dari berbagai fitnah, memerintahkan mereka untuk berlindung darinya. Beliau mengabarkan bahwa akhir dari umat ini akan ditimpa musibah juga fitnah yang sangat besar, tidak ada yang bisa melindungi darinya kecuali keimanan kepada Allah dan hari Akhir, tetap bersama jama’ah kaum muslimin, mereka adalah Ahlus Sunnah -walaupun mereka hanya sedikit-, menjauhkan diri dari berbagai fitnah, dan memohon perlindungan darinya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Mohonlah perlindungan kepada Allah dari segala fitnah, yang nampak darinya dan yang tersembunyi.”

Diriwayatkan oleh Muslim [7] dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu.

Footnote:

[1]. Lihat Lisaanul ‘Arab (XIII/317-321), an-Nihaayah (III/410-411), dan Fat-hul Baari (XIII/3).
[2]. Musnad Imam Ahmad (IV/408 -dengan catatan pinggir Muntakhab Kanzul ‘Ummal), Sunan Abi Dawud (XI/337, ‘Aunul Ma’buud), Sunan Ibni Majah (II/1310), dan Mustadrak al-Hakim (IV/440), beliau berkata, “Ini adalah hadits yang isnadnya shahih, akan tetapi keduanya (al-Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya.” Dan adz-Dzahabi tidak mengomentarinya.
[3]. Shahiih Muslim, kitab al-Aimaan, bab al-Hatstsu ‘alal Mubaadarah bil A’maal Qabla Tazhaahuril Fitan (II/133, Syarah an-Nawawi).
[4]. Sebuah isyarat bagi isteri-isteri beliau agar banyak melakukan ibadah, serta tidak malas dengan anggapan mereka isteri beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.-ed. (Fat-hul Baari, syarah hadits no. 112).
[5]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Fitan, bab Laa Ya-ti Zamaanun illalladzi Ba’dahu Syarrun minhu (XIII/ 20, Syarh an-Nawawi).
[6]. Shahiih Muslim, kitab al-Imaarah, bab Wujuubul Wafaa’ bi Bai’atil Khaliifatil Awwal fal Awwal (XII/232-233, Syarh an-Nawawi).
[7]. Shahiih Muslim, kitab al-Jannah wa Shifatu Na’iimihaa wa Ahluhaa, bab ‘Ardu Maq’adil Mayyit ‘alaih wa Itsbaatu ‘Adzaabil Qabri wat Ta’awwudz minhu (XVII/203, Syarh an-Nawawi).

A. MUNCULNYA FITNAH DARI ARAH TIMUR

Sebagian besar fitnah yang menimpa kaum muslimin muncul dari arah timur, dari arah keluarnya tanduk syaitan. Hal ini sesuai dengan yang diberitakan oleh Nabi pembawa rahmat Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dijelaskan dalam hadits Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, bahwasanya ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, sedangkan beliau menghadap ke arah timur:

“Ketahuilah sesungguhnya fitnah itu dari sana, ketahuilah sesungguhnya fitnah itu dari sana, dari arah munculnya tanduk syaitan [1] (dari arah timur-ed.).” [HR. Al-Bukhari dan Muslim][2]

Dalam riwayat Muslim, bahwasanya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Pangkal kekufuran dari sana, dari arah keluarnya tanduk syaitan,” yakni dari arah timur.[3]

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, beliau berkata:

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a, ‘Ya Allah, limpahkanlah keberkahan bagi kami di dalam sha dan mudd kami, dan berilah keberkahan kepada kami pada negeri Syam dan negeri Yaman kami,’ lalu seorang laki-laki dari kaum berkata, ‘Wahai Nabiyullah? Dan pada Irak kami.’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya di sana ada tanduk syaitan, fitnah berkecamuk di sana, dan sesungguhnya kekerasan hati terdapat di timur.’” [4]

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Fitnah yang pertama kali muncul sumbernya dari arah timur. Fitnah itu sebagai sebab terjadinya perpecahan di antara kaum muslimin, dan itulah di antara hal yang menyenangkan syaitan dan menjadikannya bergembira, demikian pula bid’ah-bid’ah timbul dari arah itu.” [5]

Dari Iraklah munculnya kelompok Khawarij, Syi’ah, Rafidhah, Bathiniyyah, Qadariyyah, Jahmiyyah, dan Mu’tazilah. Demikian pula kebanyakan ajaran-ajaran kufur berkembang dari timur; dari arah Persia, yaitu Majusi (penyembah api) seperti Zurdusytiyyah [6], Manawiyyah [7], Mazdakiyyah [8] , Hindu [9], Budha [10] dan yang baru-baru ini muncul adalah Qadiyaniyyah [11] dan Bahaiyyah [12]… juga madzhab-madzhab lain yang menghancurkan.

Demikian pula, munculnya kaum Tatar pada abad ke tujuh belas Hijriyyah dari arah timur. Dengan sebab tangan-tangan merekalah terjadi banyak penghancuran, pembunuhan dan kejelekan yang sangat besar, sebagaimana tercantum dalam buku-buku sejarah.

Sampai saat ini senantiasa timur menjadi sumber fitnah, kejelekan, bid’ah, khurafat, dan atheisme. Faham komunis yang tidak mengakui adanya tuhan berpusat di negara Rusia dan Cina, keduanya ada di arah timur, dan datangnya Dajjal juga Ya’-juj dan Ma’-juj dari arah timur. Hanya kepada Allah kita me-mohon perlindungan dari segala fitnah yang nampak dan tersembunyi.

Harus kami ingatkan di sini bahwasanya sebagian fitnah merupakan tanda-tanda Kiamat yang telah disebutkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti peristiwa Siffin juga munculnya kaum Khawarj. Dan kami akan membicarakan secara ringkas tentang fitnah-fitnah besar yang menjadi sebab perpecahan di kalangan muslimin, juga menjadi sebab munculnya kejelekan yang sangat besar.

Footnote:

[1]. Maknanya adalah kekuatan syaitan dan pengikutnya, atau sesungguhnya matahari memiliki tanduk secara hakiki, ada juga yang mengatakan, “Sesungguhnya syaitan menempatkan matahari sebagai tanduk di kepalanya agar sujud kepada matahari terjadi (tertuju) padanya.” Lihat Fat-hul Baari (XIII/46).
[2]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Fitan, bab Qaulin Nabiyyi Shallallahu ‘alaihi wa sallam al-Fitnatu min Qibalil Masyriq (XIII/45, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraatus Saa’ah (XVIII/31, Syarh an-Nawawi).
[3]. Shahiih Muslim kitab al-Fitan (XVIII/31-32, Syarh an-Nawawi).
[4]. HR. Ath-Thabrani, dan para perawinya tsiqah.
Mukhtashar at-Targhiib wat Tarhiib (hal. 87), karya al-Hafizh Ibnu Hajar, tahqiq ‘Abdullah bin Sayyid Ahmad bin Hajjaj, cet. lama yang disebarluaskan oleh Maktabah as-Salam, Kairo, cet. IV th. 1402 H.
[5]. Fat-hul Baari (XIII/47).
[6]. Zurdusytiyah, mereka adalah pengikut Zurdusyt bin Yursyib, bapaknya dari Ajarbaizan, di antara keyakinannya bahwa cahaya dan kegelapan adalah dua sumber yang berlawanan, keduanya adalah awal adanya alam ini. Zurdusyt berkata, “Sesungguhnya Allah Ta’ala adalah Pencipta cahaya dan kegelapan juga yang membentuknya.” Zurdusytiyyah adalah sebuah kelompok yang terorganisir, di dalamnya ada derajat juga tingkatan, tempat mereka adalah di Persia (Iran).
Lihat al-Milal wan Nihal (I/236-237), karya asy-Syahrastani, dan Wa Jaa-a Daurul Majuus (hal. 24), karya Dr. ‘Abdullah al-Gharib.
[7]. Manawiyyah adalah pengikut Mani’ bin Fatik al-Majusi, ‘aqidah mereka bahwa alam diciptakan dari dua sumber yang qadim, yaitu cahaya dan kegelapan. Lihat al-Milal wan Nihal (I/244).
[8]. Mazdakiyyah adalah pengikut Mazdik bin Bafdad. Dialah yang menyerukan faham Ibaahiyyah dan berserikatnya manusia dalam harta juga wanita. Kaum komunis yang ada sekarang ini adalah perkembangan dari faham Mazdakiyyah.
Lihat kitab al-Milal wan Nihal (I/249) dan kitab Wa Jaa-a Daurul Majuus (hal. 27-29).
[9]. Hindu adalah agama terbesar penduduk India sekarang ini. Agama ini dibawa oleh al-Ariyyun ketika mereka menaklukkan India, tidak ada pendiri tertentu baginya, ia hanyalah kumpulan beberapa keyakinan. Mereka memiliki banyak tuhan dan membagi manusia kepada empat ting-katan, yang paling tinggi adalah Brahmana dan yang paling rendah adalah Paria. Mereka memiliki kitab suci Weda, kitab itu merupakan cerita tentang kaum Ariyyun, yaitu mereka yang berada pada tingkatan Brahmana, dan di dalamnya ada kumpulan beberapa pengajaran.
[10]. Budha. Pendiri agama ini adalah Sidarta, kemudian diberi nama Budha. Dakwahnya berdiri di atas landasan sikap hidup sengsara, zuhud, dan kerja keras, dia berkeyakinan adanya reinkarnasi -bahkan reinkarnasi adalah dasar agama-agama di India- dan Budha tidak percaya adanya tuhan.
Agama Budha telah bercampurbaur dengan agama Hindu, sedangkan Budha menjadi salah satu tuhan bagi orang-orang Hindu. Lihat Muqaaranatul Adyaan/ Adyaanul Hindil Kubraa’ (IV/137-170).
[11]. Qadiyaniyah, nama itu dinisbatkan kepada pendirinya Mirza Gulam Ahmad al-Qadiyani. Ajaran ini muncul di akhir kurun kesembilan belas masehi di India, yaitu di daerah Punjab, Pakistan. Dia mengaku sebagai Nabi, dan dialah al-Masih yang dijanjikan. Inggris membantu penyebaran agamanya. Di antara kebathilannya adalah menghapus konsep jihad, mewajibkan untuk taat kepada pemerintah Inggris, dan turunnya Nabi ‘Isa bin Maryam adalah cerita bohong orang-orang Nasrani. Ia berpendapat bahwa barangsiapa mengatakan sesungguhnya Nabi ‘Isa belum mati, maka ia telah melakukan kemusyrikan. Kematiannya pada tahun 1908 M.
Lihat al-Qaadiyani wa Mu’taqadaatuhu, karya Syaikh Mandzur Ahmad al-Bakistani, al-Qaadiyaniyyah Tsauratun ‘alan Nubuwwah wal Islaam, dan al-Qaadiyani Diraasatan wa Tahliil yang keduanya karya Abul Hasan an-Nadwi.
[12]. Baha-iyyah. Pendiri ajaran ini adalah seorang laki-laki dari Persia, bernama Mirza Ali Muhammad asy-Syiraji, yang memberikan julukan untuk dirinya sendiri dengan sebutan al-Bab. Pemerintah Persia telah memenjarakannya, kemudian membunuhnya, lalu digantikan oleh salah seorang pengikutnya, yaitu Baha-ullah Mirza Husain Ali. Di antara keyakinannya adalah penghapusan al-Qur-an, menghancurkan Ka’bah, membatalkan haji, mengaku diri sebagai Nabi dan memiliki kitab sendiri yang diberi nama al-Kitaabul Akdas.
Ajaran ini berkembang hingga para pengikutnya mengaku bahwa al-Baha adalah tuhan, selogan ajaran mereka “Baha wahai tuhanku”.
Lihat kitab Diraasaat ‘anil Bahaa-iyyah wal Baabiyyah, kumpulan risalah milik sekelompok penulis dari kalangan muslimin, dicetak oleh al-Maktab al-Islami, cet. II th. 1397 H, Damaskus.

B. TERBUNUHANYA ‘UTSMAN BIN AFFAN RADHIYALLAHU ANHU

Munculnya fitnah pada zaman Sahabat Radhiyallahu anhu terjadi setelah terbunuhnya Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu ; masa sebelum wafat beliau ibarat sebuah pintu yang terkunci dari berbagai fitnah. Ketika beliau Radhiyallahu anhu terbunuh, muncullah berbagai fitnah yang besar, dan muncullah orang-orang yang berseru kepadanya (fitnah) dari kalangan orang yang belum tertanam keimanan dalam hatinya, dan dari kalangan orang-orang munafik yang sebelumnya menampakkan kebaikan di hadapan manusia, padahal mereka menyembunyikan kejelekan dan makar terhadap agama ini.

Dijelaskan dalam ash-Shahiihain dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu, bahwasanya ‘Umar Radhiyallahu anhu berkata:

“Siapakah di antara kalian yang hafal sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang fitnah?” Lalu Hudzaifah berkata, “Aku hafal seperti yang beliau sabdakan.” (‘Umar) berkata, “Kemarilah, engkau memang berani.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Fitnah seorang laki-laki (yang ada) pada keluarganya, hartanya, dan tetangganya, bisa dihapus dengan shalat, shadaqah, dan amar ma’ruf nahi munkar.” Beliau (‘Umar) berkata, “Bukan yang ini, akan tetapi yang bergelombang seperti gelombang ombak di lautan.” Dia (Hudzaifah) berkata, “Wahai Amirul Mukminin! Hal itu tidak jadi masalah bagimu, sesungguhnya di antara engkau dengannya ada pintu yang tertutup.” Beliau (‘Umar) bertanya, “Pintu itu dibuka atau dirusak?” Dia menjawab, “Tidak, bahkan dirusak.” Beliau berkata, “Pintu itu pantas untuk tidak ditutup.” Kami (Syaqiq) bertanya, “Apakah beliau tahu apakah pintu itu?” Dia menjawab, “Betul, sebagaimana (dia tahu) bahwa setelah esok hari ada malam, sesungguhnya aku meriwayatkan hadits dan bukan cerita bohong.” Lalu kami sungkan untuk bertanya kepadanya, dan kami memerintahkan Masruq agar ia bertanya kepada beliau, lalu dia berkata, “Siapakah pintu itu?” Dia (Hudzaifah) menjawab, “‘Umar.”[1]

Itulah yang pernah dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Umar telah terbunuh, pintu telah dirusak, muncullah berbagai fitnah dan terjadilah banyak musibah. Fitnah yang pertama kali muncul adalah terbunuhnya Khalifatur Rasyid, Dzun Nuraini, ‘Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu anhu oleh para penyeru kejelekan, yang berkumpul untuk menghadapinya dari Irak dan Mesir. Mereka mema-suki Madinah dan membunuhnya sementara beliau berada di rumahnya Radhiyallahu anhu.[2]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kepada ‘Utsman bahwa musibah akan menimpanya, karena itulah beliau bersabar dan melarang para Sahabat agar tidak memerangi orang-orang yang membangkang kepadanya, sehingga tidak ada pertumpahan darah karenanya Radhiyallahu anhu.[3]

Dijelaskan dalam hadits Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu, ia berkata:

“Pada suatu hari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke sebuah kebun dari kebun-kebun Madinah… lalu datang ‘Utsman, aku berkata, ‘Tunggu dulu! Sehingga aku memohon izin (kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) untukmu,’ kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Izinkanlah ia, berilah kabar kepadanya dengan Surga, bersamanya ada musibah yang menimpanya.’” [4]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan ‘Utsman dengan menyebutkan musibah yang akan menimpanya, padahal ‘Umar pun meninggal dengan terbunuh. Hal itu karena ‘Umar tidak mendapatkan cobaan sebesar yang didapatkan oleh ‘Utsman; berupa sikap kaumnya yang lancang dan memaksanya untuk melepaskan jabatan kepemimpinan atas tuduhan kezhaliman dan ketidakadilan yang dinisbatkan kepadanya, dan ‘Utsman memberikan penjelasan yang lugas serta bantahan atas pernyataan-pernyataan mereka.[5]

Dengan terbunuhnya ‘Utsman Radhiyallahu anhu kaum muslimin menjadi berkelompok-kelompok, terjadilah peperangan antara para Sahabat, berbagai fitnah dan hawa nafsu menyebar, banyaknya pertikaian, pendapat menjadi berbeda-beda, dan terjadilah berbagai pertempuran yang membinasakan pada zaman Sahabat Radhiyallahu anhum. Sebelumnya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mengetahui fitnah yang akan terjadi pada zaman mereka.

Dijelaskan dalam sebuah hadits:

“(Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) pernah memperhatikan sebuah bangunan tinggi dari beberapa bangunan tinggi di Madinah, lalu beliau berkata, ‘Apakah kalian melihat fitnah yang aku lihat?’ Para Sahabat menjawab, ‘Tidak.’ Beliau berkata, ‘Sesungguhnya aku melihat fitnah-fitnah terjadi di antara rumah-rumah kalian bagaikan kucuran air hujan.’” [6]

An-Nawawi rahimahullah berkata, “Penyerupaan dengan kucuran air hujan terjadi pada sesuatu yang banyak dengan cakupannya yang umum, artinya fitnah tersebut banyak dan tidak khusus menimpa satu kelompok. Ini merupakan isyarat adanya peperangan yang terjadi antara mereka, seperti perang Jamal, Shiffin, Hurrah (daerah berbatu), pembunuhan ‘Utsman dan al-Husain Radhiyallahu anhuma… dan yang lainnya. Hadits tersebut juga menunjukkan adanya mukjizat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang nampak.[7]

Footnote:

[1]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Manaaqib, bab ‘Alaamatun Nubuwwah (VI/603-604, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah (XVIII/ 16-17, Syarh an-Nawawi).
[2]. Lihat perincian peristiwa itu dalam kitab al-Bidaayah wan Nihaayah (VII/170- 191).
[3]. Lihat al-‘Awaashim minal Qawaashim (hal. 132-137) tahqiq dan ta’liq Muhibbuddin al-Khatib.
[4]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Fitan, bab al-Fitnah allati Tamuuju ka Maujil Bahri (XIII/48, al-Fat-h).
[5]. Lihat Fat-hul Baari (XIII/51).
[6]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah.
[7]. Syarh Muslim, karya an-Nawawi (XVIII/8).

C. PERANG JAMAL

Di antara fitnah yang terjadi setelah terbunuhnya ‘Utsman Radhiyallahu anhu adalah perang Jamal yang terjadi antara ‘Ali Radhiyallahu anhu di satu pihak dengan ‘Aisyah, Thalhah, dan Zubair Radhiyallahu anhum di pihak lain. Hal itu ketika ‘Utsman terbunuh, orang-orang mendatangi ‘Ali di Madinah, mereka berkata, “Berikanlah tanganmu agar kami membai’atmu!” Lalu beliau menjawab, “Tunggu, sampai orang-orang bermusyawarah.” Kemudian sebagian dari mereka berkata, “Seandainya orang-orang kembali ke negeri-negeri mereka karena terbunuhnya ‘Utsman, sementara tidak ada seorang pun yang mengisi posisinya, niscaya tidak akan aman dari pertikaian dan kerusakan umat.” Lalu mereka terus mendesak ‘Ali z agar menerima bai’at mereka, akhirnya mereka membai’atnya. Di antara orang yang membai’at beliau adalah Thalhah, dan Zubair Radhiyallahu anhuma. Kemudian keduanya pergi ke Makkah untuk melakukan umrah. Di sana mereka ditemui oleh ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma. Setelah berbincang-bincang tentang peristiwa terbunuhnya ‘Utsman, maka mereka pergi ke Bashrah dan meminta kepada ‘Ali agar menyerahkan orang-orang yang telah membunuh ‘Utsman [1], namun ‘Ali tidak menjawab permohonan mereka karena beliau menunggu keluarga ‘Utsman agar mereka meminta putusan hukum darinya. Jika terbukti bahwa seseorang adalah di antara pembunuh ‘Utsman, maka dia akan mengqishasnya. Setelah itu mereka berbeda pendapat tentangnya, dan orang-orang tertuduh sebagai pelaku pembunuhan -yaitu orang-orang yang memberontak kepada ‘Utsman- merasa takut jika mereka bersepakat untuk memerangi mereka, akhirnya mereka mengobarkan api peperangan di antara dua kelompok ter-sebut (kelompok ‘Ali dan ‘Aisyah).”[2]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada ‘Ali bahwasanya akan terjadi perkara antara dia dengan ‘Aisyah. Dijelaskan dalam sebuah hadits dari Abu Rafi’, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada ‘Ali bin Abi Thalib:

“Sesungguhnya akan terjadi perkara di antara engkau dengan ‘Aisyah.” Dia berkata, “Aku, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Betul.” Dia berkata, “Kalau begitu aku mencelakakan mereka wahai Rasulullah.” Beliau menjawab, “Tidak, akan tetapi jika hal itu terjadi, maka kembalikanlah ia ke tempatnya yang aman.’” [3]

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa ‘Aisyah, Thalhah dan az-Zubair tidak pergi untuk melakukan peperangan akan tetapi untuk melakukan perdamaian di antara kaum muslimin adalah apa yang diriwayatkan oleh al-Hakim dari jalan Qais bin Abi Hazim, dia berkata:

“Sesampainya ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma di perkampungan Bani ‘Amir, anjing-anjing menggonggong, lalu dia berkata, “Air apakah ini?” [4] Mereka berkata, “Al-Hau-ab.” Beliau berkata, “Aku kira aku harus kembali.” Az-Zubair berkata kepadanya, “Tidak nanti saja, teruslah maju, lalu orang-orang akan melihatmu sehingga Allah mendamaikan di antara mereka.” Beliau berkata, “Aku kira aku harus kembali, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Apa yang terjadi pada salah seorang di antara kalian ketika anjing-anjing al-Hau-ab menggonggongnya?’”[5]

Sementara dalam riwayat al-Bazzar dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada isteri-isterinya:

“Siapakah di antara kalian yang memiliki unta dengan banyak bulu di mukanya, dia pergi sehingga anjing-anjing al-Hau-ab menggonggong, di sebelah kanannya dan sebelah kirinya banyak (orang) yang terbunuh, dan dia selamat padahal sebelumnya hampir saja (dia pun terbunuh).” [6]

Ibnu Taimiyyah berkata, “Sesungguhnya ‘Aisyah tidak pergi untuk melakukan perang, beliau pergi hanya untuk melakukan perdamaian di antara kaum muslimin, dan beliau mengira bahwa kepergiannya itu mengandung kemaslahatan bagi kaum muslimin, kemudian setelah itu beliau sadar bahwa tidak keluar lebih utama, maka jika beliau mengingat kepergiannya itu, beliau menangis sehingga kerudungnya basah, dan demikianlah kebanyakan Salaf, mereka merasa menyesal atas peperangan yang mereka lakukan. Maka Thal-hah, az-Zubair dan ‘Ali pun merasa menyesal Radhiyallahu anhum.”

Pada peristiwa perang Jamal sama sekali tidak ada niat dari mereka untuk melakukan peperangan, akan tetapi terjadinya peperangan bukan atas pilihan mereka. Karena ketika ‘Ali, Thalhah dan az-Zubair saling berkirim surat, mereka bermaksud untuk mengadakan kesepakatan damai. Jika mungkin, mereka akan meminta kepada para penebar fitnah untuk menyerahkan orang-orang yang telah membunuh ‘Utsman. ‘Ali sama sekali tidak ridha terhadap orang yang telah membunuh ‘Utsman, dia juga bukan orang yang membantu pembunuhan tersebut, sebagaimana ia bersumpah, “Demi Allah aku tidak membunuh ‘Utsman dan tidak mendukung pembunuhannya.” Sedangkan dia adalah orang yang berkata benar lagi jujur dalam sumpahnya. Kemudian para pembunuh takut jika ‘Ali bersepakat dengan mereka untuk menahan orang-orang yang telah membunuh ‘Utsman, lalu mereka membawa pasukan untuk menyerang Thalhah dan az-Zubair, sehingga Thalhah dan az-Zubair menyangka bahwa ‘Ali telah menyerangnya. Kemudian mereka membawa pasukan untuk melakukan pertahanan sehingga ‘Ali menyangka bahwa mereka telah menyerangnya, sehingga beliau pun melakukan pertahanan. Akhirnya terjadilah fitnah (peperangan) bukan atas keinginan mereka. Sedangkan ‘Aisyah hanya menunggangi unta dan tidak ikut dalam peperangan, juga tidak memerintah untuk melakukan peperangan. Demikianlah yang diungkapkan oleh lebih dari satu orang ulama dan ahli khabar.[7]

Footnote:

[1]. Abu Bakar Ibnul ‘Arabi dalam kitabnya al-‘Awaashim minal Qawaashim berpendapat, “Sesungguh-nya mereka berangkat ke Bashrah untuk mengadakan perdamaian di antara kaum muslimin.” Beliau berkata, “Inilah yang benar, dan bukan untuk tujuan selain itu, dan hal ini didukung oleh berbagai kabar shahih yang menjelaskannya.”
Lihat al-‘Awaashim (hal. 151).
[2]. Lihat penjelasan rincinya dalam kitab Fat-hul Baari (XIII/54-59).
[3]. Musnad Imam Ahmad (VI/393, dengan catatan pinggir Muntakhab Kanzul ‘Ummal).
Hadits ini hasan. Lihat Fat-hul Baari (XIII/55).
[4]. الْحَوْأَب sebuah tempat dekat Bashrah. Tempat itu di antara sumber air pada zaman Jahiliyyah, dan merupakan jalan yang ditempuh oleh orang yang datang dari Makkah menuju Bashrah. Dinamakan al-Hau-ab dinisbatkan kepada Abu Bakar bin Kilab al-Hau-ab, atau nisbat kepada al-Hau-ab binti Kalb bin Wabrah al-Qudha’iyyah.
Lihat Mu’jamul Buldaan (II/314), dan catatan pinggir Muhibbuddin al-Khatib atas kitab al-‘Awaa-shiim minal Qawaashim (hal. 148).
[5]. Mustadrak al-Hakim (III/120).
Ibnu Hajar berkata, “Sanadnya berdasarkan syarat ash-Shahiih.” Lihat Fat-hul Baari (XIII/55).
Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Ya’la, al-Bazzar, dan perawi Ahmad adalah perawi ash-Shahiih.” (Majma’uz Zawaa-id VII/237).
Hadits ini terdapat dalam Musnad Imam Ahmad (VI/52, dengan catatan pinggir Muntakhab Kanzul ‘Ummal).
[6]. Fat-hul Baari (XIII/55), Ibnu Hajar berkata, “Para perawinya tsiqah.”
Al-Imam Abu Bakar Ibnul ‘Arabi mengingkari hadits al-Hau-ab dalam kitabnya al-‘Awaashim minal Qawaashim (hal. 161), pendapat itu diikuti oleh Syaikh Muhibbuddin al-Khatib dalam ta’liqnya terhadap kitab al-‘Awashim, dan beliau menyebutkan bahwa hadits tersebut sama sekali tidak ter-maktub di dalam kitab-kitab Islam yang diakui.
Akan tetapi hadits tersebut shahih, hadits tersebut dishahihkan oleh al-Haitsami dan Ibnu Hajar sebagaimana dijelaskan terdahulu. Al-Hafizh dalam kitab Fat-hul Baari (XIII/55) pada pembahasannya terhadap hadits al-Hau-ab berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Ya’la, al-Bazzar, di-shahihkan oleh Ibnu Hibban, al-Hakim, dan sanadnya berdasarkan syarat al-Bukhari.”
Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah, dan beliau membantah orang yang membatalkan keshahihan hadits ini. Beliau menjelaskan bahwa yang me-riwayatkannya adalah di antara para Imam. Lihat as-Silsilah (jilid 1, juz 4-5/223-233) (no. 475).
[7]. Minhaajus Sunnah (II/185).

D. PERANG SHIFFIN

Di antara fitnah yang terjadi antara para Sahabat Radhiyallahu anhum selain perang Jamal adalah apa yang diisyaratkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

“Tidak akan terjadi hari Kiamat sehingga dua kelompok besar berperang, di antara keduanya terjadi peperangan yang sangat besar, padahal seruan (dakwah) mereka itu sama.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim][1]

Dua kelompok itu adalah kelompok ‘Ali dengan orang-orang yang bersamanya dan kelompok Mu’awiyah dengan orang-orang yang bersamanya, sebagaimana diungkapkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fat-hul Baari.[2]

Al-Bazzar meriwayatkan dengan sanad yang jayyid, dari Zaid bin Wahb, dia berkata, “Saat itu aku bersama Hudzaifah, lalu beliau berkata, ‘Bagaimanakah kalian sementara penduduk agama kalian saling memerangi?’ Mereka berkata, ‘Apa yang engkau perintahkan kepada kami?’ Beliau menjawab, ‘Lihatlah golongan yang mengajak kepada perintah ‘Ali, lalu pegang teguhlah! Karena sesungguhnya kelompok tersebut ada di atas kebenaran.’”[3]

Telah terjadi peperangan antara dua kelompok pada sebuah tempat yang terkenal, yaitu Shiffin [4], pada bulan Dzul Hijjah, tahun ke-36 Hijriyyah. Jumlah kelompok tersebut lebih dari tujuh puluh pasukan besar. Pada peperangan tersebut gugur sebanyak tujuh puluh ribu orang dari dua pasukan tersebut.”[5]

Peperangan yang terjadi antara ‘Ali dan Mu’awiyah sebenarnya tidak diinginkan oleh salah seorang dari keduanya. Akan tetapi di dalam dua pasukan tersebut terdapat para pengikut hawa nafsu yang mendominasi dan selalu berusaha untuk melakukan peperangan. Hal inilah yang menyebabkan berkecamuknya peperangan dan keluarnya perkara dari kekuasaan (kendali) ‘Ali juga Mu’awiyah Radhiyallahu anhuma.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Kebanyakan orang-orang yang memilih peperangan di antara dua kelompok bukanlah orang-orang yang taat kepada ‘Ali, tidak juga kepada Mu’awiyah. Sebelumnya ‘Ali juga Mu’awiyah Radhiyallahu anhuma berusaha mencegah agar tidak terjadi pertumpahan darah, akan tetapi keduanya tidak mampu menahannya. Sementara jika fitnah telah menyala, maka orang-orang bijak pun tidak akan mampu memadamkan apinya.

Di antara pasukan itu ada orang-orang semisal al-Asytar an-Nakha’i [6] , Hasyim bin ‘Atabah, al-Mirqal [7] , ‘Abdurrahman bin Khalid bin al-Walid [8], Abul A’war as-Sulami [9] dan yang lainnya dari kalangan orang-orang yang mendorong untuk dilakukannya peperangan. Satu kelompok membela ‘Utsman secara mati-matian, kelompok lain meninggalkan ‘Utsman. Satu kelompok membela ‘Ali dan kelompok lain lari dari ‘Ali. Peperangan para pengikut Mu’awiyah sebenarnya bukan karena semata-mata untuk Mu’awiyah, akan tetapi ada sebab-sebab lainnya.

Peperangan yang terjadi karena fitnah seperti peperangan kaum Jahiliyyah, tujuan dan keyakinan pelakunya tidak beraturan. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh az-Zuhri, “Telah terjadi fitnah sedangkan para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih berjumlah banyak. Mereka sepakat bahwasanya setiap darah, harta dan kehormatan yang tertimpa musibah dengan sebab mentakwil al-Qur-an adalah kesia-siaan. Para Sahabat mendudukkan mereka sendiri seperti kedudukan Jahiliyah.”[10]

Footnote:

[1]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Fitan, bab (tanpa bab) (XIII/8, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraatus Saa’ah (XVIII/12-13, Syarh an-Nawawi).
[2]. Fat-hul Baari (XIII/85).
[3]. Fat-hul Baari (XIII/85).
[4]. Shiffin adalah sebuah tempat di tepi sungai Efrat dari arah barat daya, dekat dengan ar-Riqqah, akhir perbatasan Irak dan awal negeri Syam.
Lihat Mu’jamul Buldaan (III/414), dan ta’liq Muhibbuddin al-Khatib terhadap kitab al’Awashiim (hal. 162).
[5]. Kitab Fat-hul Baari (XIII/86) dan Mu’jamul Buldaan (XIII/414-415).
[6]. Dia adalah Malik bin al-Harits bin ‘Abdi Yaghuts bin Maslamah an-Nakha’i al-Kufi yang terkenal dengan sebutan al-Asytar, mengalami zaman Jahiliyyah dan meriwayatkan hadits dari ‘Umar juga ‘Ali, ia adalah pengikut ‘Ali Radhiyallahu anhu. Ikut dalam peperangan Jamal, Shiffin dan peperangan yang lainnya. Dikatakan bahwa dia pun ikut dalam perang Yarmuk. Dia adalah kepala kaumnya, dia adalah orang yang berusaha menimbulkan fitnah dan merencanakan siasat atas ‘Utsman. Pernah menjadi gubernur di Mesir dan wafat ketika berjalan menuju ke sana pada tahun 37 H.
Lihat biografinya dalam kitab Tahdziibut Tahdziib (X/11-12), al-A’laam (V/ 259).
[7]. Hasyim bin ‘Atabah bin Abi Waqqash az-Zuhri, dikenal dengan nama al-Mirqal. Dia adalah komandan ‘Ali pada perang Shiffin. Lahir ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, ada yang mengatakan bahwa dia termasuk Sahabat, dan terbunuh pada perang Shiffin, dan dia adalah seorang pemberani.
Lihat biografinya dalam kitab Siyar A’laamin Nubalaa’ (III/486), Syadzaraatudz Dzahab (I/46), dan al-A’laam (VIII/66).
[8]. ‘Abdurrahman bin Khalid bin al-Walid, salah seorang yang dermawan. Dia adalah pembawa bendera Mu’awiyah pada perang Shiffin, meninggal tahun 46 H rahimahullah. Lihat biografinya dalam kitab Syadzaraatudz Dzahab (I/55).
[9]. Dia adalah ‘Amr bin Sufyan bin ‘Abd Syams bin Sa’ad adz-Dzakwani as-Sulami, yang terkenal dengan kun-yahnya. Ibnu Hajar menukil dari ‘Abbas ad-Dauri bahwasanya Yahya bin Ma’in berkata, “Abul A’war as-Sulami adalah seseorang dari kalangan Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau bersama Mu’awiyah.”
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari bapaknya, “Sesungguhnya Abul A’war mengalami masa Jahiliyyah dan bukan merupakan seorang Sahabat, pernah ikut perang Qubrush pada tahun 26 H, dan dia memiliki kedudukan pada perang Shiffin bersama Mu’awiyah.
Lihat al-Ishaabah (II/540-541) dan catatan pinggirnya al-Muntaqaa’ min Man-haajil I’tidal (hal. 264), karya adz-Dzahabi tahqiq dan ta’liq Syaikh Muhibuddin al-Khatib.
[10]. Minhaajus Sunnah, karya Ibnu Taimiyyah (II/224).

E. MUNCULNYA KAUM KHAWARIJ

Di antara fitnah-fitnah yang terjadi adalah munculnya kaum Khawarij (kaum yang memberontak) kepada ‘Ali Radhiyallahu anhu. Awal kemunculannya adalah setelah berakhirnya perang Shiffin dan kesepakatan antara penduduk Irak dan Syam untuk mengangkat juru damai antara kedua kelompok. Di tengah perjalanan kembalinya ‘Ali Radhiyallahu ke Kufah, kaum Khawarij memisahkan diri darinya -padahal sebelumnya mereka bersama pasukannya- dan mereka singgah pada suatu tempat yang bernama Harura’ [1], jumlah mereka mencapai 8000 orang, ada juga yang mengatakan 16000 orang, kemudian ‘Ali mengutus Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma kepada mereka. Maka Ibnu ‘Abbas berdialog dengan mereka, sehingga sebagian mereka kembali dan bergabung dengan golongan yang men-taati ‘Ali.

Golongan Khawarij menyebarkan isu bahwa ‘Ali telah taubat dari keputusan hukum. Karena itulah sebagian dari mereka kembali dari mentaatinya (membelot), kemudian ‘Ali berkhutbah di hadapan mereka di masjid Kufah, lalu orang-orang yang ada di sisi masjid berteriak dengan berkata, “Tidak ada hukum selain hukum Allah,” dan mereka berkata, “Engkau telah menyekutukan Allah, menjadikan orang-orang sebagai landasan hukum dan tidak menjadikan Kitabullah sebagai landasan hukum.”

Selanjutnya ‘Ali Radhiyallahu anhu berkata kepada mereka, “Kalian memiliki tiga hak atas kami: kami tidak melarang kalian untuk masuk ke dalam masjid-masjid, tidak juga menahan kalian untuk mendapatkan rizki berupa rampasan perang (fai’), dan kami tidak akan memulai untuk memerangi kalian selama kalian tidak melakukan kerusakan.”

Kemudian mereka berkumpul dan membunuh orang yang melewati mereka dari kalangan kaum muslimin. ‘Abdullah bin Khabbab al-Aratt Radhiyallahu anhuma [2] melewati mereka bersama isterinya. Mereka membunuhnya dan mereka membelah perut isterinya kemudian mengeluarkan anaknya. Tatkala Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu mengetahui hal itu, dan bertanya kepada mereka, “Siapa yang telah membunuhnya?” Mereka menjawab, “Kami semua membunuhnya.” Lalu ‘Ali bersiap-siap untuk memerangi mereka, dan berjumpa dengan mereka di sebuah tempat yang terkenal dengan sebutan Nahrawan [3]. Akhirnya beliau menghancurkan mereka dengan telak, dan tidak ada yang selamat darinya kecuali sedikit saja.”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan akan keluarnya kelompok ini di tengah-tengah umatnya. Telah diriwayatkan hadits-hadits secara mutawatir tentangnya. Sebagiannya disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Katsir, lebih dari tiga puluh hadits dalam kitab-kitab Shahiih, Sunan dan kitab-kitab Musnad.” [4]

Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Akan memisahkan diri satu kelompok (Khawarij) ketika kaum muslimin berpecah belah. Kelompok itu akan diperangi oleh salah satu golongan dari dua golongan yang lebih dekat dengan kebenaran.’” [HR. Muslim][5]

Dari Abu Sa’id Radhiyallahu anhu bahwasanya ketika beliau ditanya tentang al-Haruriyyah, beliau menjawab, “Aku tidak tahu apa al-Haruriyyah itu? Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Akan keluar di dalam umat ini -beliau tidak mengatakan di antaranya- suatu kaum yang kalian menganggap remeh shalat kalian dibandingkan shalat mereka, mereka membaca al-Qur-an namun tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama bagaikan anak panah yang keluar dari busurnya.” [HR. Al-Bukhari][6]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk memerangi kelompok Khawarij, dan beliau menjelaskan bahwa dalam memerangi mereka terdapat pahala dan ganjaran bagi orang yang membunuh mereka. Hal ini merupakan dalil kesesatannya kelompok ini dan jauhnya mereka dari Islam, juga bahayanya yang besar terhadap umat ini disebabkan fitnah dan kekacauan yang ditimbulkan oleh mereka.

Dijelaskan dalam ash-Shahiihain, dari ‘Ali Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Akan keluar satu kaum di akhir zaman, (mereka) adalah orang-orang yang masih muda, akal mereka bodoh, mereka berkata dengan sebaik-baiknya perkataan manusia, keimanan mereka tidak melewati kerongkongan, mereka keluar dari agama bagaikan anak panah yang keluar dari busurnya, di mana saja kalian menjumpai mereka, maka (perangilah) bunuhlah, karena sesungguhnya dalam memerangi mereka terdapat pahala di hari Kiamat bagi siapa saja yang membunuh mereka.’” [7]

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah berkata, “Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma menganggap mereka sebagai makhluk Allah yang paling jelek, dan beliau berkata, ‘Sesungguhnya mereka mengambil ayat yang turun untuk orang-orang kafir, lalu menjadikannya untuk orang-orang yang beriman.’” [8]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Mereka merupakan bencana yang sangat besar, mereka terus menebarkan keyakinan mereka yang rusak, mereka membatalkan hukum rajam bagi pelaku zina yang sudah menikah, memotong tangan pencuri dari ketiak, mewajibkan shalat bagi wanita haidh ketika dia sedang haidh, mengkafirkan orang yang tidak melakukan amar ma’ruf nahi munkar ketika ia sanggup melakukannya, jika tidak sanggup maka ia telah melakukan dosa besar, menghukumi kafir pelaku dosa besar, menolak harta dari ahludz dzimmah dan sama sekali tidak bermuamalah dengan mereka, berlaku semena-mena terhadap orang yang menisbatkan dirinya kepada Islam dengan dibunuh, ditawan, dan dirampas.” [9]

Kaum Khawarij senantiasa menampakkan dirinya hingga Dajjal menjumpai kelompok terakhir dari mereka. Dijelaskan dalam hadits Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Akan tumbuh para pemuda yang membaca al-Qur-an akan tetapi (al-Qur-an itu) tidak melewati kerongkongan mereka. Setiap kali sekelompok dari mereka muncul, maka mereka pantas untuk dihancurkan.” Ibnu ‘Umar berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Setiap kali sekelompok dari mereka keluar, maka mereka pantas untuk dihancurkan,’ lebih dari dua puluh kali hingga Dajjal keluar di dalam kelompok terakhir.”[10]

Footnote:

[1]. Harura’ sebuah desa berjarak 2 mil dari Kufah. Kepadanyalah kaum Khawarij dinisbatkan, maka mereka disebut juga Haruriyyah.
[2]. ‘Abdullah bin Khabbab al-Aratt at-Tamimi, beliau salah seorang Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, dilahirkan pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau menamainya ‘Abdullah. Ia dan ‘Abdullah bin az-Zubair adalah orang yang pertama kali dilahirkan pada masa Islam. Beliau dibunuh orang-orang Khawarij tahun 37 H. Lihat al-Ishaabah fii Tamyiizish Shahaabah (II/302, juga al-Bidaayah wan Nihaayah (VII/288), dan Tajriid Asmaa-ish Shahaabah (I/307).
[3]. Nahrawan berarti tiga sungai, yaitu sebuah negeri yang luas di dekat Baghdad – Irak, pada asalnya adalah lembah Jarrar, awalnya dari Ajarbaizan. Sungai tersebut mengairi banyak perkampungan, lalu sisanya mengalir ke Dajlah di bawah berbagai kota. Dalam bahasa Persia dikatakan Jaurawan, lalu Islam memasukkannya ke dalam bahasa Arab sehingga menjadi Nahrawan, dengan huruf nun yang difat-hahkan.
Lihat Mu’jamul Buldaan (V/290-325).
[4]. Lihat kitab al-Bidaayah wan Nihaayah (VII/290-307).
[5]. Shahiih Muslim, kitab az-Zakaah, bab I’thaaul Muallafah wa Man Yukhaaf ‘ala Imaanihi (VII/168, Syarh an-Nawawi).
[6]. Shahiih al-Bukhari, kitab Istitaabul Murtaddiin wal Mu’aanidiin wa Qitaalihim, bab Qatlul Khawaarij wal Mulhidiin ba’da Iqaamatil Hujjah ‘alaihim (XII/283, al-Fat-h).
[7]. Shahiih al-Bukhari (XII/283, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim kitab az-Zakaah, bab at-Tahriidh ‘ala Qatlil Khawaarij (VII/169, Syarh an-Nawawi).
[8]. Shahiih al-Bukhari, kitab Istitaabul Murtaddiin, bab Qatlul Khawaarij (XII/282, al-Fat-h). Dan Ibnu Hajar berkata, “Sanadnya hasan.” (Fat-hul Baari XII/286).
[9]. Fat-hul Baari (XII/285).
[10]. Sunan Ibni Majah, al-Muqaddimah, bab Dzikrul Khawaarij (I/61) (no. 174), dan hadits ini hasan.
Lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaaghiir (VI/362) (no. 8027), karya al-Albani.

F. PERANG AL-HURRAH[1]

Kemudian fitnah terus-menerus bermunculan setelah itu. Di antara fitnah ini adalah perang al-Hurrah yang terkenal pada masa Yazid bin Mu’awiyah. Waktu itu kota Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dibinasakan dan banyak dari kalangan Sahabat Radhiyallahu anhum yang terbunuh.

Sa’id bin al-Musayyab rahimahullah berkata, “Berkobarlah fitnah yang pertama, maka tidak seorang pun tersisa dari Sahabat yang ikut dalam perang Badar. Kemudian terjadilah fitnah yang kedua, maka tidak tersisa seorang pun dari Sahabat yang ikut dalam perang al-Hudaibiyyah.”

Beliau berkata, “Dan saya yakin, seandainya fitnah yang ketiga terjadi, niscaya fitnah tersebut tidak akan hilang sementara Thabaakh [2] masih ada di kalangan manusia.” [3]

Footnote:

[1]. Al-Hurrah, maksudnya adalah al-Hurrah bagian timur, salah satu Hurrah yang ada di Madinah, di sanalah terjadinya pertempuran antara penduduk Madinah dengan pasukan Yazid bin Mu’awiyah pada tahun 63 H. Penyebabnya adalah sesungguhnya penduduk Madinah menurunkan Yazid, lalu dia mengutus pasukan kepada mereka dengan pimpinan Muslim bin ‘Uqbah al-Marri, lalu dia menghancurkan Madinah, dan membunuh sekitar tujuh ratus para Sahabat, kaum Muhajirin dan Anshar, dan dari yang lainnya sepuluh ribu, maka kaum Salaf menamakannya dengan Masraf, dan Allah telah membinasakannya ketika dia sedang berada di jalan Makkah menuju Madinah.
Lihat kitab al-Bidaayah wan Nihaayah (VIII/217-224), dan Mu’jamul Buldaan (II/249).
[2]. Thabaakh maknanya adalah kebaikan dan kemanfaatan, dikatakan (فُلاَنٌ لاَ طَبَاخٌ لَهُ) maknanya adalah tidak memiliki akal. Lihat Syarhus Sunnah, karya al-Baghawi (XIV/396), tahqiq Syu’aib al-Arna-uth.
[3]. Syarhus Sunnah, karya al-Baghawi (XIV/395).

G. FITNAH PERKATAAN BAHWA AL-QUR’AN ADALAH MAKHLUK

Kemudian datanglah setelah itu fitnah pada zaman ‘Abasiyyah, yaitu fitnah perkataan bahwa al-Qur-an adalah makhluk. Ucapan ini diyakini oleh khalifah ‘Abbasiyyah, al-Ma’-mun, dan dia membela perkataan ini. Faham ini diikuti oleh kelompok Jahmiyyah juga Mu’tazilah yang memprovokasi khalifah untuk meyakininya, sehingga para ulama Islam diuji dengannya. Dengan sebab fitnah itu pula kaum muslimin tertimpa musibah yang besar. Hal itu telah menyibukkan mereka dalam masa yang sangat lama, ditambah lagi dengan banyaknya keyakinan lain yang masuk ke dalam ‘aqidah kaum muslimin.

Demikianlah, fitnah-fitnah yang terjadi sangat banyak, tidak terhitung, dan senantiasa bermunculan, berlanjut juga bertambah.

Dengan sebab fitnah ini juga fitnah yang lain, kaum muslimin berpecah-belah menjadi bergolong-golongan, setiap golongan menyerukan orang lain untuk mengikutinya, mengaku bahwa dialah yang berada di atas jalan yang benar, dan yang lain berada di atas kebathilan.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penunjuk jalan dan pemberi kabar gembira عليه الصّلاة والسّلام telah mengabarkan adanya perpecahan umat ini sebagaimana umat sebelumnya telah berpecah belah.

Dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Kaum Yahudi berpecah belah menjadi tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua golongan, dan kaum Nasrani berpecah belah menjadi tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua golongan, sementara umatku akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan.’” [HR. Ash-habus Sunan kecuali an-Nasa-i] [1]

Diriwayatkan dari ‘Amir bin ‘Abdillah bin Luhay, dia berkata:

“Kami melakukan haji bersama Mu’awiyah bin Abi Sufyan, lalu sesampainya kami di Makkah, seusai melaksanakan shalat Zhuhur dia berdiri seraya berkata, ‘Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya dua Ahli Kitab berpecah belah di dalam agama mereka menjadi tujuh puluh dua golongan, dan sesungguhnya umat ini akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, yakni -hawa nafsu- semuanya ada di dalam Neraka kecuali satu, yaitu al-Jama’ah. Dan sesungguhnya akan ada di dalam umatku beberapa kaum di mana kebid’ahan itu akan men-jalar di dalam diri mereka sebagaimana penyakit rabies menjalar kepada penderitanya, tidak tersisa darinya urat atau persendian kecuali dimasuki-nya. Demi Allah, wahai orang-orang Arab! Seandainya kalian tidak bisa melaksanakan segala hal yang dibawa oleh Nabi kalian, maka orang selain kalian lebih pantas untuk tidak bisa melaksanakannya.’” [2]

Footnote:

[1]. HR. At-Tirmidzi (VII/397-398, Tuhfatul Ahwadzi), dan beliau berkata, “Hadits hasan shahih.” Sunan Abi Dawud (XII/340, ‘Aunul Ma’buud), dan Sunan Ibni Majah (II/1321) tahqiq Fu-ad ‘Abdul Baqi.
[2]. Musnad Ahmad (IV/102 -dengan catatan pinggir Muntakhab Kanzul ‘Ummal), Sunan Abi Dawud (XII/341-342, ‘Aunul Ma’buud), Mustadrak al-Hakim (IV/ 102), dan al-Hakim berkata setelah menuturkan hadits ini dan hadits Abu Hurairah, “Ini adalah sanad-sanad yang tegak dengannya hujjah bagi penshahihan hadits ini.”
Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani, dan beliau menyebutkan jalan-jalannya dalam kitab Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah, dan membantah orang yang memberikan tudingan kepada hadits itu. Lihat as-Silsilah (jilid II/juz III/ 14-23) (no. 204).

H. MENGIKUT PRILAKU UMAT-UMAT TERDAHULU

Di antara fitnah yang besar adalah mengikuti prilaku orang-orang Yahudi dan Nasrani dan meniru-niru mereka. Sebagian kaum muslimin telah meniru gaya orang-orang kafir, menyerupai mereka, berperangai dengan perangai mereka dan merasa kagum kepada mereka. Hal ini sesuai dengan apa yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dijelaskan dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak akan datang Kiamat sehingga umatku mengambil jalan orang pada zaman sebelumnya sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta.” Lalu beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, seperti orang-orang Persia dan Romawi?” Lalu beliau menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka.” [HR. Al-Bukhari][1]

Dalam satu riwayat dari Abu Sa’id Radhiyallahu anhu:

“Kami bertanya, ‘Wahai Rasulullah! Yahudi dan Nasranikah?’ beliau menjawab, ‘Siapa lagi?!’” [HR. Al-Bukhari dan Muslim][2]

Ibnu Baththal rahimahullah berkata [3], “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan bahwa umatnya akan mengikuti perkara-perkara yang diada-adakan, bid’ah-bid’ah dan berbagai hawa nafsu, sebagaimana (perbuatan) itu terjadi pada umat-umat sebelum mereka, dan beliau telah memberikan peringatan dalam banyak hadits bahwasanya manusia yang terakhir lebih jelek, dan Kiamat tidak akan datang kecuali kepada orang-orang yang jelek, dan ajaran Islam akan tetap berdiri tegak pada orang-orang tertentu.” [4]

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Sebagian besar peringatan yang diungkapkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah terjadi, dan selebihnya akan terjadi.”[5]

Pada masa ini banyak kaum muslimin yang telah menyerupai orang-orang kafir yang di timur maupun di barat, kaum pria dari kalangan kita menyerupai kaum pria dari kalangan mereka, wanita-wanita kita menyerupai wanita-wanita mereka, dan terkena fitnah mereka sehingga menjadi sebab keluarnya sebagian orang dari Islam. Mereka meyakini bahwa peradaban dan kemajuan tidak akan pernah sempurna kecuali dengan melemparkan Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Barangsiapa mengenal Islam dengan benar, niscaya dia akan mengetahui sejauh mana kaum muslimin telah merosot di kurun-kurun terakhir; jauh dari ajaran Islam dan melenceng dari ‘aqidahnya, sehingga Islam tidak tersisa pada sebagian mereka kecuali hanya namanya saja. Mereka telah menjadikan undang-undang orang-orang kafir sebagai landasan hukum, dan jauh dari hukum Allah, tidak ada yang lebih tepat dalam menyifati kaum muslimin yang mengikuti mereka dan dalam pengambilan hukum dari orang-orang kafir daripada sifat yang diungkapkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana sabda beliau:

“… Sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, seandainya mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalian akan mengikuti mereka.” [6]

An-Nawawi rahimahullah berkata, “Yang dimaksud dengan sejengkal, sehasta, dan lubang biawak adalah hanya sebuah permisalan karena banyaknya sisi persamaan dengan mereka. Persamaan yang dimaksud dalam hal perbuatan-perbuatan maksiat, dan penyelewengan-penyelewengan, bukan dalam kekufuran. Hal ini merupakan mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan telah terbukti apa yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [7]

Demikianlah, sebenarnya fitnah itu tidak terhingga banyaknya. Fitnah wanita, fitnah harta, cinta akan keinginan hawa nafsu, juga cinta akan kedudukan dan pangkat; semuanya merupakan fitnah yang terkadang dapat menghancurkan manusia, dan membawanya pada kehinaan. Hanya kepada Allah kita memohon keselamatan.

Footnote:

[1]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-I’tishaam bil Kitaab was Sunnah, bab Qaulun Nabiyyi Latattabi’unna Sunaan man Kaana Qablakum (XIII/300, al-Fat-hul).
[2]. Shahiih al-Bukhari (XIII/300, dalam al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-‘Ilmi bab al-Aladdul Khasmu (XVI/219-220, Syarh an-Nawawi).
[3]. Dia adalah Abul Hasan ‘Ali bin Khalaf bin ‘Abdul Malik bin Baththal al-Qurthubi, beliau me-riwayatkan dari al-Mutharraf al-Qanazi dan Yunus bin ‘Abdillah al-Qadhi, beliau memiliki kitab syarah hadits Shahiih al-Bukhari, wafat pada bulan Shafar tahun 449 H rahimahullah.
Lihat biografinya dalam kitab Syadzaraatudz Dzahab (III/283), dan al-A’laam (IV/285), karya az-Zarkali.
[4]. Fat-hul Baari (XIII/301, al-Fat-h).
[5]. Ibid.
[6]. Takhrij hadits ini telah diungkapkan sebelumnya.
[7]. Syarh Muslim, karya an-Nawawi (XVI/219-220).

7. MUNCULNYA ORANG YANG MENGAKU SEBAGAI NABI

Di antara tanda-tanda Kiamat yang telah nampak adalah munculnya para pendusta yang mengaku sebagai Nabi. Jumlah mereka mendekati tiga puluh pendusta. Sebagian dari mereka telah muncul pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga pada zaman Sahabat dan orang yang semisal mereka senantiasa muncul.

Batasan di dalam hadits-hadits tersebut tidaklah bermakna bagi setiap orang yang mengaku sebagai Nabi secara mutlak, sebab mereka yang seperti itu banyak dan tidak terhingga, tetapi yang dimaksud dalam hadits adalah orang yang (mengaku sebagai Nabi) lagi memiliki kekuatan, banyak pengikutnya dan terkenal di kalangan manusia.[1]

Dijelaskan dalam ash-Shahiihain dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

“Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga dibangkitkan ‘dajjal-dajjal’ (para
pendusta) yang jumlahnya mendekati tiga puluh, semuanya mengaku bahwa mereka adalah utusan Allah.” [2]

Dan diriwayatkan dari Tsauban Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga beberapa kelompok dari umatku mengikuti kaum musyrikin dan hingga mereka menyembah berhala, dan sesungguhnya akan ada pada umatku tiga puluh orang pendusta, semuanya mengaku bahwa ia adalah seorang Nabi, padahal aku adalah penutup para Nabi, tidak ada Nabi setelahku.’” [3]

Hadits-hadits tentang kemunculan ‘dajjal-dajjal’ (para pendusta) seperti ini banyak jumlahnya. Di dalam sebagian riwayatnya dijelaskan dengan redaksi yang pasti bahwa mereka berjumlah tiga puluh orang, sebagaimana diungkap dalam hadits Tsauban. Dan di dalam riwayat lainnya bahwa jumlah mereka mendekati tiga puluh orang, sebagaimana dijelaskan di dalam ash-Shahiihain. Kemungkinan riwayat Tsauban diungkapkan dengan cara pembulatan, yaitu sebanyak 30 orang.

Di antara pendusta yang telah muncul dari ketiga puluh pendusta itu adalah Musailamah al-Kadzdzab, dia mengaku sebagai Nabi di akhir-akhir zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salalm. Rasul pernah mengirim surat kepadanya dan menamakannya ‘Musailamah al-Kadzdzab’ (si pendusta). Pengikutnya banyak dan kejahatannya semakin menjadi terhadap kaum muslimin, sehingga para Sahabat memeranginya di zaman Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu anhu pada perang Yamamah yang masyhur.

Demikian pula muncul al-Aswad al-‘Anasi di Yaman. Dia mengaku sebagai Nabi, lalu para Sahabat membunuhnya sebelum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat.

Muncul pula Sajah yang mengaku sebagai Nabi dan dinikahi oleh Musailamah. Tatkala Musailamah mati dibunuh, dia (Sajah) kembali memeluk Islam.

Demikian pula Thulaihah bin Khuwailid yang mengaku sebagai Nabi, kemudian bertaubat dan kembali memeluk Islam lalu baiklah keislamannya.

Kemudian muncul al-Mukhtar bin Abi ‘Ubaid ats-Tsaqafi, ia menampakkan kecintaan kepada Ahlul Bait dan menuntut balas atas pembunuhan Husain. Pengikutnya bertambah banyak sehingga dia bisa menguasai Kufah di awal kekhilafahan Ibnuz Zubair. Kemudian syaitan menyesatkannya sehingga dia mengaku sebagai Nabi dan Jibril turun kepadanya (menyampaikan wahyu).[4]

Di antara hal yang memperkuat bahwa dia termasuk para pendusta adalah riwayat Abu Dawud setelah beliau menyebutkan hadits Abu Hurairah yang terdapat dalam ash-Shahiihain tentang para pendusta (Dajjal): “Diriwayatkan dari Ibrahim an-Nakha’i sesungguhnya beliau berkata kepada ‘Ubaidah as-Salmani [5], “Apakah engkau melihat bahwa dia termasuk di dalam golongan mereka, -maksudnya al-Mukhtar-?” Dia menjawab, Ubaidah berkata, “Adapun dia termasuk para pemimpinnya.” [6]

Di antara mereka adalah al-Harits al-Kadzdzab. Muncul pada masa khilafah ‘Abdul Malik bin Marwan, lalu dia dibunuh.

Lalu pada masa khilafah ‘Abbasiyyah keluar sekelompok orang (yang mengaku Nabi). [7]

Di masa kini muncul Mirza Ahmad al-Qadiyani di India. Dia mengaku sebagai Nabi dan mengaku sebagai al-Mahdi yang ditunggu-tunggu. Dia juga berkeyakinan bahwa Nabi ‘Isa Alaihissallam tidak hidup di langit… dan keyakinan-keyakinan bathil lainnya. Sehingga dia memiliki para pengikut dan pembela. Banyak ulama yang menentangnya, membantahnya, serta menjelaskan bahwa dia adalah salah satu dari para pendusta (Dajjal) yang diperingatkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Para pendusta seperti itu akan terus bermunculan satu persatu, hingga akhirnya akan keluar Dajjal yang buta sebelah (yang sesungguhnya). Imam Ahmad meriwayatkan dari Samurah bin Jundub Radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tatkala terjadi gerhana matahari:

“Sesungguhnya -demi Allah- tidak akan terjadi hari Kiamat hingga keluar tiga puluh pendusta, terakhir dari mereka adalah si buta sebelah (picek) sang pendusta (Dajjal).” [8]

Dan di antara para pendusta (Dajjal) ini adalah empat wanita. Al-Imam Ahmad meriwayatkan dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Pada umatku ada dua puluh tujuh para pendusta, di antara mereka empat orang wanita, dan sesungguhnya aku adalah penutup para Nabi, tidak ada Nabi setelahku.” [9]

Footnote:

[1]. Lihat Fat-hul Baari (VI/617).
[2]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Manaaqib bab ‘Alaamatun Nubuwwah (VI/616, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraatus Saa’ah (XVIII/45-46, Syarh an-Nawawi).
[3]. Sunan Abi Dawud (XI/324, ‘Aunul Ma’buud), dan at-Tirmidzi (VI/466, Tuhfatul Ahwadzi), dan beliau berkata, “Ini adalah hadits shahih.”
[4]. Lihat Fat-hul Baari (VI/617).
[5]. ‘Ubaidah as-Salmani al-Maradi al-Kufi al-Faqih al-Mufti, masuk Islam ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, berjumpa dengan ‘Ali dan Ibnu Mas’ud c. Asy-Sya’bi berkata tentangnya, “Dia adalah orang yang menyamai (hakim) Syuraih dalam masalah hukum.” Lihat biografinya dalam kitab Syadza-raatudz Dzahab (I/78-79).
[6]. Sunan Abi Dawud (XI/486, ‘Aunul Ma’buud).
[7]. Fat-hul Baari (VI/617).
[8]. Musnad Ahmad (V/16, dengan catatan pinggir Muntakhab Kanzul ‘Ummal).
[9]. Musnad Ahmad (V/396), hadits ini shahih.
Lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (IV/97, no. 4134).
Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad, ath-Thabrani dalam al-Kabiir, dan al-Ausath, al-Bazzar, dan perawi al-Bazzar adalah perawi yang shahih.” (Majma’uz Zawaa-id VII/332).

8. MERATANYA RASA AMAN

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Tidak akan terjadi Kiamat hingga seseorang yang berkendaraan berjalan di antara Irak dan Makkah tidak merasa takut kecuali (rasa takut) tersesat di jalan.’” [1]

Hal ini terjadi pada zaman Sahabat Radhiyallahu anhum. Hal itu ketika Islam dan keadilan meliputi seluruh negeri yang ditaklukkan oleh kaum muslimin.

Hal ini diperkuat dengan hadits ‘Adi Radhiyallahu anhu, ketika Nabi bertanya kepadanya:

“Wahai ‘Adi, apakah engkau melihat (kota) al-Hirah?” “Aku tidak melihatnya, tetapi aku telah mendapatkan berita tentangnya,” jawabku. Beliau bersabda, “Jika umurmu panjang, niscaya engkau akan melihat seorang wanita melakukan perjalanan dari al-Hirah hingga dia melakukan thawaf di sekeliling Ka’bah dengan tidak merasa takut kepada seorang pun kecuali Allah….” [2]

Hal ini pun akan terjadi pada masa al-Mahdi dan Nabi ‘Isa Alaihissallam ketika keadilan telah meliputi tempat yang penuh dengan kezhaliman.

Footnote:

[1]. Musnad Ahmad (II/370-371 -dengan catatan pinggir Muntakhab al-Kanz).
Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad, dan perawinya adalah perawi ash-Shahiih.” (Majma’uz Zawaa-id VII/331).
[2]. Telah terdahulu takhrijnya.

9. MUNCULNYA API HIJAJ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga keluar api dari tanah Hijaj yang menerangi leher-leher unta di Bushra.” [1][2]

Api ini telah muncul pada pertengahan abad ke tujuh Hijriyyah, tepatnya pada tahun 654 H. Api tersebut sangat besar dan para ulama yang hidup pada masa itu juga setelahnya banyak mengomentari sifat api tersebut.

An-Nawawi rahimahullah berkata, “Pada masa kami muncul api di Madinah pada tahun 654 H. Api tersebut sangat besar, muncul dari arah timur Madinah di belakang al-Harrah. Telah beredar berita tentangnya secara mutawatir di kalangan penduduk Syam juga negeri-negeri lainnya, dan telah memberikan kabar kepadaku seseorang yang menyaksikannya dari penduduk Madinah.” [3]

Ibnu Katsir rahimahullah menukil lebih dari satu orang badui di kalangan orang Bushra bahwa mereka dapat melihat leher-leher unta dengan cahaya api yang muncul di tanah Hijaz. [4]

Al-Qurthubi rahimahullah telah menyebutkan munculnya api ini, dan beliau menjelaskan dengan rinci dalam kitab at-Tadzkirah [5] . Lalu beliau menuturkan bahwa api tersebut bisa dilihat dari Makkah dan dari gunung Bushra.

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Dan yang nampak bagiku (kebenarannya) bahwa api yang disebutkan… adalah api yang nampak di pinggiran kota Madinah, sebagaimana difahami oleh al-Qurthubi dan selainnya.” [6]

Api ini bukanlah api yang muncul di akhir zaman, yang mengumpulkan manusia di tempat berkumpul mereka, sebagaimana akan dijelaskan dalam pembahasan tanda-tanda Kiamat yang besar

Footnote:

[1]. Bushra dengan huruf ba yang didhammahkan, akhirnya adalah alif maqsuurah, nama sebuah kota yang terkenal di Syam, dinamakan pula Hauran, jarak antara kota tersebut dengan Damasqus adalah tiga malam perjalanan.
Lihat kitab Mu’jamul Buldaan (I/441), Syarh an-Nawawi (XVIII/30), dan Fat-hul Baari (XIII/80).
[2]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Fitan bab Khuruujun Naar (XIII/78, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraatus Saa’ah (XVIII/30, Syarh an-Nawawi).
[3]. Syarh Muslim, karya an-Nawawi (XVIII/28).
[4]. Lihat an-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/14) tahqiq Dr. Thaha Zaini, dan lihat al-Bidaayah wan Nihaayah (XIII/187-193).
[5]. Lihat at-Tadzkirah (hal. 636).
[6]. Fat-hul Baari (XIII/79).

10. MEMERANGI BANGSA TURK [1]

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga kaum muslimin memerangi bangsa Turk, yaitu kaum di mana wajah-wajah mereka seperti tameng [2] yang dilapisi kulit [3], mereka memakai (pakaian) yang terbuat dari bulu dan berjalan (dengan sandal) yang terbuat dari bulu.” [4]

Dalam riwayat al-Bukhari dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

“Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga kalian memerangi satu kaum yang sandal-sandal mereka terbuat dari bulu, dan kalian memerangi bangsa Turk yang bermata sipit, wajahnya merah, hidungnya pesek [5], wajah-wajah mereka seperti tameng yang dilapisi kulit.” [6]

Diriwayatkan dari ‘Amr bin Taghlib, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Di antara tanda-tanda Kiamat adalah kalian memerangi suatu kaum yang berwajah lebar, wajah-wajah mereka seperti tameng yang dilapisi kulit.’” [7]

Kaum muslimin telah memerangi orang-orang Turk pada masa Sahabat Radhiyallahu anhum. Hal itu terjadi di awal masa khilafah Bani Umayyah, pada zaman Mu-’awiyah Radhiyallahu anhu.

Abu Ya’la meriwayatkan dari Mu’awiyah bin Khudaij, dia berkata, “Saat itu aku bersama Mu’awiyah bin Abi Sufyan ketika datang kepadanya surat dari petugasnya di suatu daerah, dia mengabarkan bahwa telah terjadi peperangan dengan bangsa Turk dan kaum muslimin telah mengalahkannya. Banyak korban dari mereka, demikian pula banyak harta rampasan perang yang didapatkan dari mereka. Lalu Mu’awiyah marah karena hal itu, kemudian memerintahkan untuk menulis surat (yang isinya), “Aku telah memahami apa yang engkau katakan, korban yang telah engkau bunuh dan harta rampasan perang yang engkau dapatkan, maka aku tidak akan pernah ingin tahu terhadap apa yang engkau telah persiapkan, dan jangan engkau perangi mereka sampai datang perintahku kepadamu.” Aku (Mu’awiyah bin Khudaij) bertanya, “Kenapa wahai Amirul Mukminin?” Beliau menjawab, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Sungguh bangsa Turk akan mengalahkan orang Arab hingga mengejarnya di asy-Syiih [8] dan al-Qaishuum [9], ’ dan aku tidak suka untuk memerangi mereka karena hal itu.” [10]

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Buraidah dari bapaknya Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Aku pernah duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian kami mendengar beliau bersabda:

‘Sesungguhnya umatku akan digiring oleh satu kaum yang berwajah lebar, bermata sipit, wajah-wajah mereka seperti tameng (hal itu terjadi tiga kali), hingga mereka dapat mengejarnya di Jazirah Arab. Adapun pada kali yang pertama, selamatlah orang yang lari darinya. Pada kali kedua, sebagiannya binasa dan sebagian lainnya selamat, sementara pada kali yang ketiga, mereka semua membunuh yang tersisa.’ Para Sahabat bertanya, ‘Wahai Nabiyullah! Siapakah mereka?’ Beliau menjawab, ‘Mereka adalah bangsa Turk.’ Beliau berkata, ‘Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, niscaya kuda-kuda mereka akan ditambatkan di tiang-tiang masjid kaum muslimin.’”

Dia (‘Abdullah) berkata, “Setelah itu Buraidah tidak pernah berpisah dengan dua atau tiga unta, bekal perjalanan, dan air minum untuk kabur sewaktu-waktu, karena beliau mendengar sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang musibah yang ditimpakan oleh para pemimpin Turk.” [11]

Telah masyhur pada zaman Sahabat Radhiyallahu anhum sebuah hadits yang berbunyi:

“Biarkanlah bangsa Turk selama mereka membiarkan kalian.” [12]

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Sebelumnya ada penghalang antara mereka dengan kaum muslimin hingga penghalang tersebut terbuka sedikit demi sedikit. Tawanan dari kalangan mereka sangat banyak sehingga para penguasa saling berlomba mendapatkannya karena mereka memiliki sifat kuat dan pemberani sehingga sebagian besar tentara al-Mu’tashim adalah dari kalangan mereka. Lalu bangsa Turk menguasai raja al-Mu’tashim dan mereka membunuh puteranya, al-Mutawakkil, kemudian anak-anaknya yang lain satu persatu, sehingga kerajaan Islam bercambur baur dengan kerajaan ad-Dailam. Para penguasa as-Samaniyyah pun dari bangsa Turk, hingga mereka dapat menguasai negeri-negeri selain Arab. Kemudian kerajaan-kerajaan tersebut dikuasai oleh Dinasti Sabaktikin, lalu oleh Dinasti Saljuk, dan kekuasaan meluas mereka sampai Irak, Syam, dan Romawi. Selanjutnya dikuasai oleh sisa-sisa pengikut mereka di Syam -yaitu Dinasti Zanki- dan pengikut mereka -yaitu Baitu Ayyub-, mereka pun banyak dari bangsa Turk, mereka bisa mengalahkan kerajaan di Mesir, Syam dan Hijaz.”

Selanjutnya al-Ghazz memberontak kepada dinasti Saljuk pada abad ke-5 H. Mereka menghancurkan berbagai negeri dan banyak membunuh manusia.

Kemudian tibalah bencana besar dengan kedatangan bangsa Tatar. Keluarnya Jengis Khan terjadi setelah abad ke-6. Dunia dibumihanguskan olehnya, terutama daerah timur dan sekitarnya sehingga tidak tersisa satu negeri pun kecuali mendapatkan bagian kejelekan dari mereka. Dan konon hancurnya Baghdad dan terbunuhnya Khalifah al-Musta’shim, khalifah mereka yang terakhir di tangan-tangan bangsa Tatar pada tahun 650 H. Kemudian, sisa-sisa mereka senantiasa melakukan kerusakan sampai pada akhirnya datang Ling yang maknanya si pincang. Namanya adalah Tamur, datang ke Syam dan hidup di sana. Dia membakar Damaskus sampai ke atap-atapnya, masuk ke Romawi, India dan daerah yang ada di antara keduanya. Umurnya panjang hingga Allah mematikannya, dan berpencaranlah anak-anaknya di berbagai negeri.

Tampaknya semua yang kami sebutkan sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Sesungguhnya Bani Qunthura’ adalah yang pertama kali merampas kerajaan umatku.”

Seakan-akan maksud dari sabdanya “Umatku” adalah umat secara nasab, bukan umat dakwah, yaitu bangsa Arab. Wallaahu a’lam.[13]

Dengan penjelasan di atas, maka sesungguhnya bangsa Tatar yang muncul pada abad ke-7 Hijriyyah adalah bangsa Turk, karena sifat-sifat yang disifatkan untuk bangsa Turk sesuai dengan bangsa Tatar (Mongolia). Kemunculan mereka terjadi pada masa Imam an-Nawawi rahimahullah [14], beliau berkata tentang mereka, “Peperangan dengan bangsa Turk didapati dengan segala sifat mereka yang diungkapkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Mata mereka kecil (sipit), muka mereka merah, hidung mereka kecil (pesek), muka mereka seperti tameng yang dilapisi kulit, memakai terompah dari bulu, mereka didapati dengan sifat-sifat tersebut pada masa kami, kaum muslimin telah memerangi mereka beberapa kali dan sekarang pun mereka memeranginya.” [15]

Telah banyak bangsa Turk yang masuk Islam, bahkan banyak kebaikan juga manfaat yang mereka berikan untuk Islam dan kaum muslimin. Mereka menjadikan negeri Islam sebagai negeri yang kuat dan dengannya Islam menjadi jaya. Banyak terjadi penaklukan yang sangat besar pada masa mereka, di antaranya penaklukan Konstantinopel, ibu kota Romawi. Hal itu merupakan pijakan awal bagi penaklukan besar di akhir zaman sebelum kemunculan Dajjal, sebagaimana akan dijelaskan nanti, dan masuknya Islam ke Eropa serta berbagai negeri lainnya di timur maupun di barat.

Sikap mereka terhadap Islam membenarkan apa yang disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu setelah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan peperangan dengan bangsa Turk, beliau bersabda:

“Dan kalian akan mendapati manusia yang paling baik adalah yang (sebelumnya) paling benci terhadap perkara ini (Islam) hingga ia masuk ke dalamnya dan manusia ibarat barang tambang (beragam), orang terbaik dari mereka pada masa Jahiliyyah adalah orang terbaik dari mereka pada masa Islam.” [16]

Footnote:

[1] Tentang asal-usul bangsa Turk ada beberapa pendapat para ulama, di antaranya:
a. Mereka adalah keturunan dari Yafits bin Nuh, dari keturunan inilah Ya’juz dan Ma’juz berasal, mereka adalah anak-anak paman mereka.
b. Mereka berasal dari anak-anak Qanthura’, nama seorang budak wanita milik Ibrahim al-Khalil Shalawaatullaah wa Salaamuhu ‘alaihi, dan darinya lahir anak-anak yang merupakan nenek moyang bagi bangsa Cina dan Turk.
c. Ada juga yang berpendapat bahwa mereka dari keturunan Tubba’.
d. Dan ada yang mengatakan mereka berasal dari keturunan Afridun bin Sam bin Nuh.
Dikatakan negeri mereka adalah Turkistan, yaitu daerah antara Khurasan sampai ke Cina bagian barat dan dari bagian utara India sampai ujung al-Ma’mur.
Lihat an-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits (IV/113), Tartiibul Qamuusil Muhiith (III/700), Ma’aalimus Sunan (VI/68), Mu’jamul Buldaan (II/23), an-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/153) tahqiq Dr. Thaha Zaini, Fat-hul Baari (VI/104 dan 608), al-Isyaa’ah (hal. 35), dan al-Idzaa’ah (hal. 82).
[2] الْمِجَانُّ bentuk jamak dari kata (مِجَنٌّ), maknanya adalah tameng, huruf mimnya hanyalah sebagai tambahan, karena asalnya dari kata (الْجُنَّةُ) yang berarti penutup.
Lihat an-Nihaayah fi Ghariibil Hadiits (IV/301).
[3] اَلْمِجَانُّ الْمُطْرَقَةُ yaitu yang ditutupi dengan kulit, hal ini seperti ungkapan (طَارِقُ النَّعْلِ) artinya adalah sandal yang dijadikan berlapis-lapis. (Di dalam hadits ini) wajah mereka diibaratkan dengan tameng yang dipakaikan padanya kulit karena lebar dan menonjolnya pipi bagian atas.
Lihat an-Nihaayah fهi Ghariibil Hadiits (III/122), Syarh an-Nawawi li Shahiih Muslim (XVIII/36-37).
[4]. Shahiih Muslim, al-Fitan wa Asyraatus Saa’ah (XVIII/37, Syarh an-Nawawi).
[5]. (ذُلْفُ اْلأُنُوفِ) اَلذَّلَفُ dengan huruf yang berharakat, maknanya adalah hidung pendek lagi melebar, ada juga yang mengatakan bahwa maknanya adalah panjang ujungnya dan kecil, adapun الذُّلْفُ dengan huruf lam yang disukunkan  adalah bentuk jamak dari kata أَذْلَفُ, seperti kata أَحْمَرُ dan حُمْرٌ.
[6]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Manaaqib, bab ‘Alaamatun Nubuwwah fil Islaam (VI/604, al-Fat-h).
[7]. Musnad Ahmad (V/70, dengan catatan pinggir Muntakhab Kanzi), dengan lafazh beliau, dan Shahiih al-Bukhari, kitab al-Jihaad, bab Qitaalit Turk (VI/ 104, dalam al-Fat-h).
[8]. (الشِّيْحُ) dengan dikasrahkan, kemudian sukun dan huruf ha: tumbuhan dengan bau wangi, di mana orang-orang Tharqiah menamainya dengan wakhsyrik, (ذُاتُ الشِّيْحِ), nama sebuah perkampungan Bani Yarbu’, dan (ذُو الشِّيْحِ) sebuah tempat di Yamamah, dan sebuah tempat di Jazirah. Lihat Mu’jamul Buldaan (III/379).
[9]. (اَلْقَيْصُومُ) tumbuhan dengan bau wangi yang ada di daerah pedalaman, bentuk tunggalnya adalah (قَيْصُومَةٌ), ia adalah sumber air yang berhadapan dengan asy-Syaihah di antara keduanya ada tanjakan di sebelah timur dari Fiid yaitu (negeri di pertengahan jalan antara Makkah dan Kufah yang di-lewati oleh orang yang melaksanakan haji, ia dekat dengan Aja, Salma, Jablam dan Thayy).
Lihat Mu’jamul Buldaan (IV/282, 422).
[10]. Fat-hul Baari (VI/609).
Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Abu Ya’la, dan di dalamnya ada seseorang yang tidak aku kenal,” (Majma’uz Zawaa-id VII/312).
[11]. Musnad Ahmad (V/348-349 -dengan catatan pinggir al-Muntakhab).
Abul Khaththab ‘Umar bin Dihyah berkata, “Ini adalah sanad yang shahih.” At-Tadzkirah, karya al-Qurthubi (hal. 593).
Al-Haitsami berkata, “Abu Dawud meriwayatkannya secara ringkas, diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Bazzar secara ringkas, perawinya adalah perawi shahih. Majma’uz Zawaa-id (VII/311).
Akan tetapi riwayat Abu Dawud berbeda dengan riwayat Imam Ahmad, karena zhahir riwayat Abu Dawud menunjukkan sesungguhnya kaum musliminlah yang menggiring orang-orang Turk sebanyak tiga kali hingga menempatkan mereka di Jazirah Arab, dan di dalam riwayat itu dikatakan:
يُقُاتِلُكُمْ قَوْمٌ صِغَارُ اْلأَعْيُنِ.
“Kaum bermata kecil memerangi kalian.”
Maksudnya adalah orang-orang Turk.
Kelanjutan hadits:
تَسُوْقُوْنَهُمْ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ حَتَّى تُلْحِقُوْهُمْ بِجَزِيِرَةِ الْعَرَبِ… الحديث
“Kalian menggiringnya sebanyak tiga kali sehingga menempatkan mereka di Jazirah Arab…”
Sunan Abi Dawud, kitab al-Malaahim, bab Qitaalit Turk (XI/412-413, ‘Aunul Ma’buud).
Penulis kitab ‘Aunul Ma’buud berkata, “Menurut saya yang benar adalah riwayat Ahmad, adapun riwayat Abu Dawud, maka yang jelas telah terjadi kerancuan pada sebagian perawinya.”
Hal ini diperkuat oleh riwayat Imam Ahmad bahwasanya Buraidah tidak pernah meninggalkan dua atau tiga unta, bekal perjalanan, dan air minum setelah itu agar bisa kabur. Hal ini karena dia mendengar dari Nabi J tentang bencana yang ditimpakan oleh pemimpin-pemimpin Turk.
Diperkuat pula oleh kenyataan terjadinya keraguan pada sebagian perawi Abu Dawud, karena itulah dikatakan di akhir hadits, “أَوْ كَمَا قَالَ (Atau seperti yang disabdakan oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam).”
Demikian pula diperkuat oleh terjadinya berbagai peristiwa serupa sesuai dengan yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. (‘Aunul Ma’buud XI/414).
Kemudian dinukil dari al-Qurthubi kisah tentang keluarnya bangsa Turk, mereka keluar sebanyak tiga kali untuk menyerang kaum muslimin, yang terakhir adalah penghancuran yang mereka lakukan terhadap kota Baghdad, juga pembunuhan yang mereka lakukan terhadap Khalifah, para ulama, para Gubernur, tokoh dan ahli ibadah. Mereka masuk ke berbagai negeri hingga menguasai Syam dalam waktu yang singkat. Ketakutan yang mereka timbulkan masuk ke Mesir sehingga raja al-Muzhaffar yang diberi julukan Quthuz melawan mereka dalam sebuah pertempuran yang terkenal, yaitu ‘Ainu Jaaluut. Beliau mendapat kemenangan sebagaimana didapatkan oleh Thalut (mengalahkan Jalut pada zaman Nabi Dawud q), hancurlah persatuan musuh-musuhnya dan Allah menjaga kaum muslimin dari kejelekan mereka.
Lihat at-Tadzkirah, karya al-Qurthubi (hal. 592-595), ‘Aunul Ma’buud (XI/ 415-416).
[12]. Sunan Abi Dawud, kitab al-Malaahim, bab an-Nahyu ‘an Tahyiijit Turk wal Habasyah (XI/409, ‘Aunul Ma’buud).
Ibnu Hajar berkata, “Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dari hadits Mu’awiyah.” Fat-hul Baari (VI/ 609).
Al-‘Ajaluni berkata, “Az-Zarqani berkata, ‘Hasan.’” Dan beliau berkata di dalam al-Ashl, “Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari seseorang, dari kalangan Sahabat, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam… diriwayatkan oleh an-Nasa-i… demikian pula ath-Thabrani dalam al-Kabiir juga al-Ausath dari Ibnu Mas’ud secara marfu’ dengan lafazh:
اُتْرُكُوا التُّرْكَ مَا تَرَكُوكُمْ.
“Biarkanlah bangsa Turk selama mereka membiarkan kalian.”
Beliau bersabda:
أَوَّلُ مَنْ يَسْلُبُ أُمَّتِيْ مُلْكَهُمْ وَمَا خَوَّلَهُمُ اللهُ بَنُوْ قُنْطُوْرَاءَ.
“Yang pertama kali merampas kerajaan umatku dan apa yang dianugerahkan oleh Allah kepada mereka adalah Banu Qunthura’.”
Dan diriwayatkan oleh ath-Thabrani dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan secara marfu’ dengan jalan-jalan yang satu sama lain saling menguatkan.” Lihat Kasyful Khafaa wa Muziilul Ilbaas ‘Ammasy Tahara minal Ahaadiits ‘ala Alsunin Naas (I/38), karya al-‘Ajaluni, ta’liq Ahmad al-Qalasy, cet. Muassasah ar-Risalah, Beirut.
Syaikh al-Albani t berkata tentang hadits ini, “Hadits ini maudhu’.” Lihat Dha’iif al-Jaami’ish Shaaghiir (I/81, no. 105).
As-Sakhawi berkata setelah menyebutkan orang-orang yang meriwayatkannya, “Dan tidak di-benarkan menghukuminya sebagai maudhu, al-Hafizh Dhiya-uddin al-Maqdisi telah mengumpulkan satu juz secara khusus tentang keluarnya bangsa Turk sebagaimana kita dengar.” Al-Maqaashidul Hasanah fi Bayaani Katsiirin minal Ahaadiitsil Musytaharah ‘alal Alsinah (hal. 16-17) yang dishahihkan dan dita’liq catatan kakinya oleh ‘Abdullah Muhammad ash-Shiddiq, diberikan kata pengantar oleh ‘Abdul Wahhab ‘Abdul Lathif, cet. Darul Adab al-‘Arabi, dan disebarluaskan oleh Maktabah al-Khaniji – Mesir, tahun 1375 H.
Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Kabiir dan al-Ausath, di dalamnya ada perawi bernama ‘Utsman bin Yahya al-Qarqasani, dan saya tidak mengenalnya, sementara perawi-perawinya yang lain adalah perawi ash-Shahiih.” Majma’uz Zawaa-id (VII/312).
Walhasil hadits ini minimal hasan, terlebih lagi Ibnu Hajar menuturkan bahwa hadits ini masyhur pada masa Sahabat g, dan beliau tidak menyebutkan cacat di dalamnya. Maka hal ini menunjukkan bahwa hadits tersebut tsabit menurut beliau, dan saya telah mendapati bahwa Syaikh al-Albani telah membawakan syahid dengan hadits:
دَعُوا الْحَبَشَةَ مَا وَدَعُوكُمْ وَاتْرُكُوا التُّرْكَ مَا تَرَكُوكُمْ.
“Biarkanlah orang-orang Habasyah selama mereka membiarkan kalian dan biar-kanlah bangsa Turk selama mereka membiarkan kalian.”
Dan beliau berkata tentang sanadnya, “Ini adalah sanad la ba’-sa bihi di dalam syawahid (penguat), semua perawinya tsiqah selain Abu Sakinah,” al-Hafizh berkata dalam at-Taqriib, “Dikatakan bahwa namanya adalah Muhlim dan diperdebatkan apakah dia seorang Sahabat?” Menurutku (al-Albani), “Jika ia bukan seorang Sahabat, maka ia adalah seorang Tabi’in Mastuur, ada tiga orang yang me-riwayatkan darinya, maka hadits ini adalah syahid (penguat) yang hasan.” Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (II/416, no. 772).
Barangkali yang dimaksud dengan perkataan al-Albani, “Maudhu’” adalah tambahan yang ada di akhir hadits, yaitu ungkapan:
أَوَّلُ مَنْ يَسْلُبُ أُمَّتِيْ مُلْكَهُمْ وَمَا خَوَّلَهُمُ اللهُ بَنُوْ قُنْطُوْرَاءَ.
“Yang pertama kali merampas kerajaan umatku dan apa yang dianugerahkan oleh Allah kepada mereka adalah Banu Qunthura’.”
Dan akan dijelaskan nanti bahwa al-Hafizh Ibnu Hajar menjadikannya sebagai dalil, maka hadits tersebut tsabit menurut beliau, wallaahu a’lam.
[13]. Fat-hul Baari (VI/609-610).
[14]. Imam an-Nawawi lahir pada tahun 631 H, wafat pada tahun 676 H, saat itu adalah masa di mana Tatar datang, dan mereka menghancurkan Khilafah ‘Abbasiyyah. Lihat Tadzkiratul Huffaazh (IV/ 1471-1473).
[15]. Syarh an-Nawawi li Shahiih Muslim (XVIII/37-38).
[16]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Manaaqib, bab ‘Alaamatun Nubuwwah fil Islaam (VI/604, al-Fat-h).

(Bersambung)

About admin

Jika kata tak lagi bermakna lebih baik diam. (Masih) belajar Islam yang lurus dan benar. Cuma numpang sebentar di dunia. Silahkan duduk mari bicara. Lihat semua pos milik admin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: