Kitab: Hari Kiamat (Bagian 5)

TURUNNYA NABI ISA ALAIHISSALLAM

Sebelum berbicara tentang turunnya Nabi ‘Isa bin Maryam Alaihissallam alangkah baiknya bagi kita untuk mengenal terlebih dahulu sifat-sifatnya yang dijelaskan dalam nash-nash syara’.

1. Sifat Nabi ‘Isa Alaihissallam

Sifat beliau yang dijelaskan dalam berbagai riwayat bahwa beliau seorang laki-laki, perawakannya sedang, tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu pendek, berkulit merah dan berbulu, dadanya bidang, rambutnya lurus, seolah-olah dia baru keluar dari pemandian, beliau memiliki rambut yang melebihi cuping telinga, disisir rapi hingga memenuhi kedua pundaknya.

Beberapa hadits yang menjelaskan sifat-sifat tersebut:

Di antaranya apa yang diriwayatkan oleh asy-Syaikhani dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

“Aku berjumpa dengan Musa ketika aku di-isra’-kan… (lalu beliau menyebutkan sifatnya hingga beliau berkata): dan aku berjumpa dengan ‘Isa… (lalu beliau mensifatinya dengan berkata,) bertubuh sedang (tidak tinggi dan tidak pendek), merah, seakan-akan dia keluar dari kamar mandi.’” [1]

Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Aku melihat ‘Isa, Musa dan Ibrahim (pada malam Isra’), adapun ‘Isa adalah orang (yang berkulit) merah, berambut ikal, dan berdada bidang.’”[2]

Muslim rahimahullah meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Aku melihat diriku berada di dekat Hajar Aswad sementara orang-orang Quraisy bertanya kepadaku… (lalu beliau menuturkan hadits, di dalamnya ada ungkapan): Ternyata ‘Isa bin Maryam sedang melakukan shalat, orang yang paling mirip dengannya adalah ‘Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi.’” [3]

Sementara dalam ash-Shahiihain dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Pada suatu malam aku bermimpi berada di Ka’bah, lalu aku melihat seseorang berkulit coklat paling bagus, di antara semua laki-laki yang berkulit coklat, rambutnya sampai ke bawah telinganya dan sangat indah yang pernah kamu lihat, tersisir rapi dan meneteskan air, dia bersandar pada dua orang atau pada pundak dua orang, dia sedang melakukan thawaf, lalu aku bertanya, ‘Siapakah dia?’ Dijawab, ‘Dia adalah al-Masih bin Maryam.’” [4]

Dalam riwayat al-Bukhari dari Ibnu ‘Umar, dia berkata, “Tidak, demi Allah! Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak mengatakan merah, akan tetapi dia berkata (lalu mengungkapkan hadits di atas secara lengkap).” [5]

Dalam riwayat Muslim dari beliau Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Ternyata dia adalah seorang laki-laki berkulit coklat (sawo matang)… (sampai dia berkata) rambutnya tersisir rapi.”[6]

Sedangkan menggabungkan riwayat-riwayat ini, tegasnya pada sebagian riwayat bahwa beliau berkulit merah, sementara pada riwayat lain berkulit coklat, pada sebagian riwayat rambutnya lurus sementara pada riwayat yang lain rambutnya ikal:

Sesungguhnya tidak ada kontradiksi antara merah dengan warna coklat, karena mungkin saja warna coklat yang jernih (sehingga tampak kemerah-merahan,-penj.).[7]

Sedangkan riwayat yang menjelaskan pengingkaran Ibnu ‘Umar bagi riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi ‘Isa berkulit merah, maka hal itu bertentangan dengan yang dihafal oleh yang lainnya. Abu Hurairah dan Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma meriwayatkan bahwa beliau Alaihissallam berkulit merah.

Adapun mengenai sebagian riwayat yang menerangkan bahwa beliau berambut lurus, sedangkan di dalam riwayat lain berambut ikal padahal ikal adalah lawan dari lurus, maka mungkin saja menggabungkan keduanya bahwa beliau berambut lurus, adapun pensifatannya dengan al-Ja’du (di antara maknanya adalah keriting,-pent.) maksudnya adalah al-Ja’du pada badan bukan pada rambut, yang maknanya dagingnya padat.[8]

2. Sifat Turunnya Nabi ‘Isa Alaihissallam

Setelah keluarnya Dajjal dan kerusakan yang dia lakukan di bumi, maka Allah mengutus ‘Isa Alaihissallam, lalu beliau turun ke bumi. Beliau turun di menara putih sebelah timur Damaskus di Syam. Beliau memakai dua helai pakaian yang dicelup dengan minyak ja’faran, meletakkan kedua tangannya di atas sayap dua Malaikat. Apabila dia menundukkan kepala, maka turunlah rambutnya, dan jika dia mengangkatnya, maka berjatuhanlah keringatnya bagaikan butir-butir mutiara, tidaklah seorang kafir pun yang mencium nafasnya melainkan dia akan mati, sementara nafasnya sejauh pandangannya.

Nabi ‘Isa Alaihissallam akan turun di kalangan ath-Thaaifah al-Manshuurah (Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah) yang berperang di atas kebenaran. Mereka semua bergabung untuk memerangi Dajjal, lalu beliau akan turun ketika iqamah shalat dikumandangkan dan beliau shalat di belakang seorang pemimpin dari kelompok tersebut.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Inilah yang paling masyhur tentang tempat turunnya beliau Alaihissallam, yaitu di atas menara putih bagian timur kota Damaskus, dan saya telah melihat pada sebagian kitab sesungguhnya dia akan turun di menara putih sebelah timur masjid jami Damaskus. Barangkali inilah pendapat yang lebih terpelihara… karena di Damaskus tidak dikenal ada sebuah menara di bagian timur selain menara yang ada di sisi masjid jami al-Umawi di Damas-kus di sebelah timurnya. Inilah yang lebih tepat lagi cocok, karena dia akan turun ketika shalat didirikan, lalu pemimpin kaum muslimin akan berkata kepadanya, “Wahai Ruuhullaah! Majulah,” lalu dia berkata, “Engkau yang maju, karena sesungguhnya iqamat dikumandangkan untukmu.” Sementara pada sebagian riwayat: “Sebagian dari kalian adalah pemimpin bagi yang lain-nya, sebagai kemuliaan yang Allah berikan kepada umat ini.”[9]

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa pada zamannya, yaitu pada tahun 741 H, kaum muslimin memperbaharui menara dengan menggunakan batu putih. Ketika itu pembangunannya diambil dari harta kaum Nasrani yang telah membakar menara tersebut yang berada di tempat mereka, barangkali ini merupakan salah satu tanda kenabian yang tampak, di mana Allah men-takdirkan pembangunan menara ini dari harta orang-orang Nasrani agar Nabi ‘Isa bin Maryam turun pada menara tersebut, untuk membunuh babi, meng-hancurkan salib, tidak menerima jizyah dari mereka, akan tetapi pilihannya adalah masuk Islam atau dibunuh, demikian pula orang-orang kafir dari ka-langan yang lainnya.[10]

Dijelaskan dalam hadits an-Nawwas bin Sam’an yang panjang tentang keluarnya Dajjal kemudian turunnya ‘Isa Alaihissallam, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila Allah telah mengutus al-Masih bin Maryam, dia akan turun di Menara putih sebelah timur Damaskus, dengan mengenakan dua pakaian yang dicelupkan wars dan ja’faran, meletakkan kedua telapak tangannya di sayap dua Malaikat. Ketika dia menundukkan kepalanya, maka rambutnya akan turun, dan ketika dia mengangkatnya, maka akan berjatuhan darinya (keringat) bagaikan butiran mutiara, maka tidaklah seorang kafir mencium aroma nafasnya melainkan dia akan mati, dan aroma nafasnya sejauh mata memandang. Kemudian dia akan mencarinya -mencari Dajjal- hingga dia mendapatkannya di pintu Ludd, lalu membunuhnya. Selanjutnya satu kaum yang Allah lindungi akan datang kepada ‘Isa bin Maryam, lalu dia akan mengusap wajah mereka dan bercerita kepada mereka tentang derajat mereka di dalam Surga.”[11]

Footnote:

[1]. Shahiih al-Bukhari, kitab Ahaaditsul Anbiyaa’, bab Qaulullaah wadzkur fil Kitaabi Maryam (VI/476, al-Fat-h), Shahiih Muslim, bab al-Israa bi Rasuulillaah Shallallahu ‘alaihi wa salalm wa Fardhush Shalaawaat (II/232, Syarh an-Nawawi).
[2]. Shahiih al-Bukhari, kitab Ahaadiitsul Anbiyaa’, bab Qaulullaah waddzkur fil Kitaabi Maryam (VI/ 477, al-Fat-h).
[3]. Beliau adalah seorang Sahabat yang mulia Abu Mas’ud ‘Urwah bin Mas’ud bin Mu’tab bin Malik ats-Tsaqafi Radhiyallahu anhu. Masuk Islam setelah Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa sallam pergi dari Tha-if, sebelumnya beliau memiliki peranan penting dalam perdamaian Hudaibiyyah, dia adalah orang yang dicintai dan ditaati oleh kaumnya, penduduk Tha-if. Maka ketika beliau mengajak mereka untuk masuk Islam, mereka semua membunuhnya dan ketika panah mereka mengenainya, dikatakan kepadanya, “Apakah yang engkau lihat tentang darahmu?” Dia menjawab, “Ini adalah kemuliaan yang Allah berikan kepadaku, syahadah yang dikaruniakan kepadaku, maka tidaklah di dalam diriku kecuali bagian yang didapatkan oleh para syuhada yang wafat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum dia meninggalkan kalian,” lalu Nabi berkata tentangnya, “Perumpamaan ‘Urwah bagaikan Sahabat Yasin, dia mengajak kaumnya kepada jalan Allah, lalu mereka membunuhnya.”
Dan ada yang berpendapat, “Dialah yang dimaksud dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dan mereka berkata, ‘Mengapa al-Qur-an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Makkah dan Tha-if) ini.” [Az-Zukhruf: 31]

Lihat al-Istii’aab fii Ma’rifatil Ashhaab (III/1066-1067) tahqiq ‘Ali al-Bajawi, karya Ibnu ‘Abdil Barr, dan al-Ishaabah fii Tamyiizish Shahaabah (II/477-478), karya Ibnu Hajar dan Tajriidu Asmaa-ish Shahaabah (I/380), karya adz-Dzahabi.
Hadits ini tercantum dalam Shahiih Muslim, bab Dzikrul Masiih Ibni Maryam Alaihissallam (II/237-238, Syarh an-Nawawi).
[4]. Shahiih al-Bukhari, kitab Ahaadiitsul Anbiyaa’ (VI/477, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, bab Dzikrul Masiih Ibni Maryam ‘Alaihis Salaam (II/233, Syarh an-Nawawi).
[5]. Shahiih al-Bukhari (VI/477).
[6]. Shahiih Muslim (II/236).
[7]. Al-Isyaa’ah (hal. 143).
[8]. Lihat kitab Fat-hul Baari (VI/486).
[9]. Shahiih Muslim, kitab al-Iimaan, bab Bayaanu Nuzuuli ‘Isa bin Maryam Hakiman bi Syarii’ati Nabiyyinaa Muhammadin J (II/193, Syarh an-Nawawi).
[10]. An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/144-145) tahqiq Dr. Thaha Zaini.
[11]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikrud Dajjal (XVIII/67-68, Syarh an-Nawawi).

3. Dalil-Dalil Turunnya ‘Isa Alaihissallam

Turunnya ‘Isa Alaihissallam di akhir zaman telah tetap dalam al-Kitab dan as-Sunnah yang shahih lagi mutawatir, hal itu merupakan salah satu tanda dari tanda-tanda besar Kiamat.

a. Dalil-dalil turunnya Nabi ‘Isa Alaihissallam di dalam al-Qur-an al-Karim.
1). Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

Dan tatkala putera Maryam (‘Isa) dijadikan perumpamaan tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak karenanya. Sampai dengan firman-Nya: Dan sesungguhnya ‘Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari Kiamat…” [Az-Zukhruf: 57-61]

Ayat-ayat ini turun dalam konteks bercerita tentang ‘Isa Alaihissallam, di akhirnya dijelaskan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِّلسَّاعَةِ , maknanya adalah turunnya Isa pada hari Kiamat merupakan salah satu tanda dekatnya Kiamat, hal itu pula ditunjuki oleh bentuk qira-ah (tanda baca) yang lainnya وَإِنَّهُ لَعَلَمٌ لِّلسَّاعَةِ dengan huruf ‘ain dan lam yang difat-hahkan, maknanya adalah tanda akan tegaknya hari Kiamat. Qira-ah seperti ini diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, Mujahid dan yang lainnya dari kalangan imam ulama tafsir. [1]

Al-Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya kepada Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma di dalam tafsiran ayat وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِّلسَّاعَةِ , dia berkata, “Ia adalah turunnya ‘Isa bin Maryam Alaihissallam sebelum tegaknya Kiamat.” [2]

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Yang shahih bahwa kata (إِنَّـهُ) -dhamirnya (kata ganti)- kembali kepada ‘Isa, karena redaksi ayat menyebutkan tentangnya.” [3]

Dan jauh sekali jika makna ayat adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh Nabi ‘Isa Alaihissallam berupa menghidupkan yang mati, menyembuhkan orang buta, yang berpenyakit kusta juga yang lainnya dari orang-orang yang berpenyakit.

Lebih jauh lagi apa yang diungkapkan dari sebagian ulama bahwa dhamir di dalam kata (وَإِنَّهُ) kembali kepada al-Qur-an al-Karim.[4]

2). Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dan karena ucapan mereka, ‘Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, ‘Isa putera Maryam, Rasul Allah,’ padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka. Sampai dengan firman-Nya Ta’ala: Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (‘Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti ‘Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” [An-Nisaa’: 157-159]

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi tidak membunuh ‘Isa Alaihissallam, tidak juga mensalibnya, akan tetapi dia diangkat oleh Allah ke langit, sebagaimana diungkapkan dalam firman-Nya:

“(Ingatlah), ketika Allah berfirman, ‘Hai ‘Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku…” [Ali ‘Imran: 55]

Maka sesungguhnya ayat-ayat itu pun menunjukkan bahwa di antara Ahlul Kitab ada yang beriman kepada ‘Isa Alaihissallam di akhir zaman. Hal itu terjadi ketika dia turun [5]sebelum wafat, sebagaimana dijelaskan oleh beberapa hadits mutawatir lagi shahih.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata dalam jawabannya atas pertanyaan yang ditujukan kepadanya tentang wafat dan pengangkatan ‘Isa Alaihissallam, “Segala puji hanya milik Allah, ‘Isa Alaihissallam masih hidup, dan telah tetap di dalam hadits shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda:

‘Ibnu Maryam akan turun di tengah-tengah kalian sebagai hakim dan pemimpin yang adil, lalu dia akan mematahkan salib, membunuh babi dan menghapus jiz’yah (pajak).’ [6]

Telah tetap dalam hadits shahih dari beliau bahwa ‘Isa Alaihissallam akan turun pada menara putih sebelah timur Damaskus, sesungguhnya dia akan membunuh Dajjal. Barangsiapa ruhnya berpisah dengan jasadnya tidak mungkin tubuhnya akan turun dari langit, dan jika dihidupkan, maka sesungguhnya dia bangkit dari dalam kuburnya.

Adapun firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“… sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang kafir….” [Ali ‘Imran: 55]

Ini merupakan dalil bahwa tidak dimaksudkan dengan pengangkatan ini adalah kematian, karena jika yang dimaksud dengan hal itu adalah kematian, niscaya ‘Isa q akan sama seperti layaknya orang-orang beriman lainnya, di mana Allah mengambil ruh mereka, lalu mengambilnya ke atas langit, sehingga tidak ada sesuatu yang khusus dalam pengangkatannya. Demikian pula firman-Nya وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا “Serta membersihkan kamu dari orang-orang kafir,” dan jika yang dimaksud bahwa ruhnya telah berpisah dengan jasadnya, niscaya badannya di bumi akan seperti jasad para Nabi yang lainnya.

Sementara Allah Ta’ala berfirman dalam ayat yang lain:

… Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih faham tentang (pembunuhan) ‘Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah ‘Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat ‘Isa kepada-Nya… [An-Nisaa’: 157-158]

Firman Allah Ta’ala, بَلْ رَفَعَهُ اللهُ إِلَيْهِ “Tetapi yang sebenarnya Allah telah mengangkat ‘Isa kepada-Nya,” menjelaskan bahwasanya beliau diangkat dengan badan juga ruhnya, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits shahih bahwa dia akan turun dengan badan juga ruhnya, karena jika yang dimaksud pengangkatannya adalah kematiannya, niscaya Allah berfirman, “Tidaklah mereka membunuhnya, tidak juga menyalibnya, akan tetapi dia telah mati.”

Karena itulah di antara para ulama ada yang berkata إِنِّي مُتَوَفِّيْكَ “Kami mewafatkannya,” maknanya adalah memegangmu, yaitu memegang ruh dan jasadmu. Dikatakan dalam bahasa Arab (تَوَفَّيْتُ الْحِسَابَ وَاسْتَوْفِيْقَهُ) maknanya ada-lah mengambilnya.

Dan lafazh (اَلتَّوَفِّي) secara menyendiri tidak mengandung makna kematian ruh tanpa badan, tidak juga kematian keduanya secara bersamaan kecuali dengan qarinah (petunjuk) lainnya yang terpisah.

Bahkan terkadang bermakna tidur, sebagaimana diungkapkan dalam firman-Nya:

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya…” [Az-Zumar: 42]

Firman-Nya:

“Dan Dia-lah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari…” [Al-An’aam: 60]

Dan firman-Nya:

“… Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh Malaikat-Malaikat Kami…” [Al-An’aam: 61]” [7]

Pembicaraan dalam pembahasan ini tidak bermaksud mengungkapkan diangkatnya ‘Isa Alaihissallam, tetapi hanya sekedar menjelaskan bahwa dia q diangkat dengan jasad dan ruhnya, dan sesungguhnya dia masih hidup sampai sekarang di atas langit, dan akan turun di akhir zaman, serta akan diimani oleh orang-orang Ahlul Kitab yang ada pada waktu itu, sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta’ala:

“Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (‘Isa) sebelum kematiannya…” [An-Nisaa’: 159]

Ibnu Jarir rahimahullah berkata, “Ibnu Basyar meriwayatkan kepada kami, dia berkata, ‘Sufyan meriwayatkan kepada kami, dari Abu Hushain, dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas:

‘Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (‘Isa) sebelum kematiannya…’ [An-Nisaa’: 159]

Dia berkata, ‘Maksudnya adalah sebelum kematian ‘Isa bin Maryam.’” [8]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ini adalah sanad yang shahih.” [9]

Kemudian Ibnu Jarir rahimahullah berkata setelah mengungkapkan berbagai pendapat tentang makna ayat ini, “Dan pendapat yang paling benar adalah pendapat yang mengatakan bahwa tafsiran ayat tesebut adalah “Dan tidak ada seorang pun di antara Ahlul Kitab yang tidak beriman kepada ‘Isa sebelum kematian ‘Isa.” [10]

Beliau meriwayatkan dengan sanadnya dari al-Hasan al-Bashri rahimahullah, bahwasanya dia berkata, “(Maknanya adalah) sebelum kematian ‘Isa. Demi Allah, sesungguhnya dia sekarang masih hidup di sisi Allah, akan tetapi jika dia turun, maka semua orang akan beriman kepadanya.” [11]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Tidak diragukan bahwa yang dikatakan oleh Ibnu Jarir ini adalah pendapat yang benar, karena pendapat itulah yang dimaksud dari beberapa redaksi ayat dalam menetapkan kebathilan semua pengakuan Yahudi bahwa ‘Isa itu dibunuh dan disalib, kemudian diserahkannya kabar ini kepada orang-orang Nasrani yang bodoh. Maka Allah mengabarkan bahwa masalahnya tidak demikian, yang ada hanyalah seseorang yang diserupa-kan-Nya bagi mereka, sehingga mereka membunuh orang yang serupa dengan-nya (‘Isa) sementara mereka tidak mencari kebenaran akan hal itu, selanjutnya beliau diangkat kepada-Nya, dan sungguh, dia akan turun sebelum hari Kiamat, sebagaimana hadits-hadits mutawatir menunjukkan hal itu.” [12]

Beliau (Ibnu Katsir) menuturkan bahwa diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma juga yang lainnya bahwa Ibnu ‘Abbas menjadikan dhamir dalam firman-Nya قَبْلَ مَوْتِهِ kembali kepada Ahlul Kitab, dan beliau berkata, “Sesungguh-nya jika riwayat ini benar, niscaya akan bertentangan dengan penjelasan ini, akan tetapi yang benar di dalam makna dan sanad adalah yang telah kami jelaskan.” [13]

b. Dalil-Dalil Turunnya Nabi ‘Isa Alaihissallam Dalam as-Sunnah al-Mu-thahharah
Dalil-dalil dari as-Sunnah tentang turunnya ‘Isa Alaihissallam sangat banyak dan mutawatir, sebagian darinya telah kami uraikan, dan akan kami sebutkan di sini sebagian darinya karena khawatir akan terkesan terlalu panjang, di antaranya:

1). Diriwayatkan oleh asy-Syaikhani dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh telah dekat turunnya putera Maryam di tengah-tengah kalian sebagai hakim yang adil, dia akan mematahkan salib, membunuh babi, menghentikan pe-perangan, dan melimpahkan harta, sehingga tidak seorang pun menerima-nya, hingga satu kali sujud lebih baik daripada dunia dan seisinya.’”

Kemudian Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata, “Dan bacalah jika kalian menghendaki.

‘Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (‘Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti ‘Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.’ [An-Nisaa’: 159]”[14]

Ini adalah penafsiran Abu Hurairah Radhiyallahu anhu untuk ayat tersebut bahwa yang dimaksud di dalam ayat ialah di antara Ahlul Kitab akan ada yang beriman kepada ‘Isa Alaihissallam sebelum beliau wafat. Hal itu terjadi tatkala beliau turun di akhir zaman, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.

2). Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Bagaimanakah kalian ketika putera Maryam diturunkan sedangkan (pemimpin) imam kalian dari kalangan kalian sendiri?!’” [15]

3). Muslim meriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang berjuang membela ke-benaran, mereka selalu mendapatkan pertolongan sampai hari Kiamat.” Beliau berkata, “Lalu ‘Isa bin Maryam Alaihissallam turun, pemimpin mereka ber-kata, ‘Shalatlah mengimami kami.’ Beliau berkata, ‘Tidak, sesungguhnya sebagian dari kalian adalah pemimpin bagi yang lainnya, sebagai kemuliaan yang Allah berikan kepada umat ini.’” [16]

4). Telah dijelaskan sebelumnya hadits Hudzaifah bin Asid tentang tanda-tanda besar Kiamat, di dalamnya diungkapkan:

“Dan turunnya ‘Isa bin Maryam Alaihissallam.” [17]

5). Al-Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Para Nabi adalah saudara seayah, ibu-ibu mereka berbeda-beda, akan tetapi agama mereka satu. Sesungguhnya aku adalah orang yang paling berhak (dekat) kepada ‘Isa bin Maryam, karena tidak ada Nabi di antaraku dan dia. Dan sesungguhnya dia akan turun, jika kalian melihatnya, maka kenalilah dia!” [18]

Footnote:

[1]. Tafsiir al-Qurthubi (XVI/105), dan lihat Tafsiir ath-Thabari (XXV/90-91).
[2]. Musnad Ahmad (IV/329, no. 2921) tahqiq Ahmad Syakir, beliau berkata, “Sanadnya shahih.”
[3]. Tafsiir Ibni Katsir (VII/222).
[4]. Lihat Tafsiir Ibni Katsir (VII/223).
[5]. Yaitu, turun secara hakiki, tidaklah yang dimaksud dengan turun dan hukum yang diterapkan di bumi di akhir zaman hanya sekedar perumpamaan dominasi ruh dan rahasianya risalah beliau terhadap manusia, berkasih sayang, saling mencintai, kedamaian dan mengambil segala tujuan hukum tanpa memahami zhahirnya, maka sesungguhnya hal itu bertentangan dengan hadits-hadits yang mutawatir bahwa ‘Isa akan turun dengan ruh dan jasadnya, sebagaimana ia diangkat dengan ruh dan jasadnya Alaihissallam.
[6]. Lihat perkataan Syaikh Muhammad ‘Abduh dalam Tafsiir al-Manaar (III/317).
[7]. Majmuu’ al-Fataawaa (IV/322-323).
[8]. Tafsiir ath-Thabari (VI/18).
[9]. An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/131).
Dan atsar Ibnu ‘Abbas dishahihkan oleh Ibnu Hajar dalam al-Fat-h (VI/492).
[10]. Tafsiir ath-Thabari (VI/21).
[11]. Tafsiir ath-Thabari (I/18).
[12]. Tafsiir Ibni Katsir (II/415).
[13]. An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/137).
[14]. Shahiih al-Bukhari, kitab Ahaadiitsul Anbiyaa’, bab Nuzuulu ‘Isa bin Maryam Alaihissallam (VI/490-491, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, bab Nuzuulu ‘Isa bin Maryam Shallallaahu ‘alaihi wa Sallaam Haakiman (II/189-191, Syarh an-Nawawi).
[15]. Shahiih al-Bukhari, kitab Ahaadiitsul Anbiyaa’, bab Nuzuulu ‘Isa bin Maryam Alaihissallam (VI/491, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, bab Nuzuulu ‘Isa bin Maryam Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam Haakiman (II/193, Syarh an-Nawawi).
[16]. Shahiih Muslim, bab Nuzuulu ‘Isa bin Maryam Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam Haakiman (II/193-194, Syarh an-Nawawi).
[17]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah (XVIII/27-28, Syarh an-Nawawi).
[18]. Musnad Ahmad (II/406, catatan pinggir kitab Muntakhab al-Kanz).

4. Hadits-Hadits Tentang Turunnya Nabi ‘Isa Alaihissallam Adalah Mutawatir

Telah kami sebutkan sebelumnya sebagian hadits yang menjelaskan turunnya ‘Isa Alaihissallam. Akan tetapi kami tidak menyebutkan semua hadits tentangnya karena tidak ingin memperpanjang pembahasan. Hadits-hadits tersebut telah diriwayatkan dalam kitab Shahiih, Sunan, Musnad dan yang lainnya dari kitab-kitab hadits, semuanya secara jelas menetapkan turunnya ‘Isa Alaihissallam di akhir zaman, dan tidak ada hujjah bagi orang yang membantahnya dengan mengatakan, “Sesungguhnya hadits tersebut adalah ahad sehingga tidak bisa dijadikan hujjah,” atau “Sesungguhnya turunnya ‘Isa Alaihissallam tidak termasuk di antara ‘aqidah kaum muslimin yang wajib mereka imani [1], sebab jika suatu hadits itu sudah shalih (baik shahih atau hasan,-penj.) maka wajib diimani, membenarkan segala sesuatu yang dikabarkan oleh ash-Shaadiqul Mashduuq Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak dibenarkan bagi kita untuk menolak sabdanya hanya karena hadits tersebut ahad. Penolakan mereka dengan hujatannya sangat lemah sebagaimana telah kami jelaskan dalam satu pasal secara khusus di awal pembahasan. Di dalamnya kami menjelaskan bahwa hadits ahad jika shahih, maka isinya wajib dibenarkan, dan jika kita berkata, “Sesungguhnya hadits ahad bukan hujjah, maka berarti kita membantah semakin banyak hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan apa-apa yang dikatakan oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi sesuatu yang tidak berarti, apalagi dengan kenyataan sesungguhnya para ulama telah menetapkan bahwa hadits-hadits tentang turunnya ‘Isa Alaihissallam adalah mutawatir?!

Pada kesempatan ini kami akan menyebutkan sebagian dari perkataan mereka:

a. Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata -setelah mengungkapkan perbedaan pendapat tentang makna wafatnya ‘Isa-, “Dan pendapat yang paling benar menurut kami adalah pendapat yang mengatakan, “Maknanya bahwa Aku mengambil kamu dari bumi dan mengangkatnya kepada-Ku,” karena mutawatirnya beberapa khabar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:

“‘Isa bin Maryam akan turun, lalu membunuh Dajjal.” [2]

Kemudian setelahnya beliau menyebutkan beberapa hadits yang menjelaskan turunnya ‘Isa Alaihissallam.

b. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Telah diriwayatkan secara mutawatir beberapa hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau mengabarkan tentang turunnya ‘Isa Alaihissallam sebelum hari Kiamat sebagai imam dan hakim yang adil.” [3]

Kemudian beliau menyebutkan lebih dari 18 hadits tentang turunnya ‘Isa Alaihissallam.

c. Shiddiq Hasan Khan berkata, “Hadits-hadits tentang turunnya ‘Isa Alaihissallam adalah banyak. Imam asy-Syaukani menyebutkan sebagiannya sebanyak dua puluh sembilan hadits, di antaranya ada yang shahih, hasan, dha’if dan munjabir, sebagaimana diungkapkan dalam hadits-hadits tentang Dajjal… dan di antaranya ada yang diungkapkan dalam hadits-hadits tentang al-Mahdi al-Muntazhar, ditambah lagi dengan beberapa atsar dari para Sahabat yang semuanya memiliki hukum marfu’ (dinisbatkan pada Nabi) karena tidak ada ruang ijtihad di dalamnya.”

Kemudian beliau menyebutkannya dan berkata, “Semua yang kami ung-kapkan mencapai batasan mutawatir, sebagaimana hal ini tidak samar bagi orang yang dikaruniai pengetahuan yang luas.”[4]

d. Al-Ghumari[5] berkata, “Dan telah benar pendapat yang mengatakan bahwa ‘Isa Alaihissallam akan turun. Pendapat ini bukan hanya dari satu orang Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, juga para ulama dari berbagai madzhab sepanjang zaman sampai zaman sekarang ini.” [6]

Beliau juga berkata, “Mutawatirnya hadits dalam masalah ini adalah sesuatu yang tidak diragukan, di mana tidak dibenarkan mengingkarinya kecuali orang-orang bodoh, seperti golongan al-Qadiyaniyyah dan orang yang sejalan dengan mereka. Sebab hadits-hadits tersebut dinukil oleh sejumlah orang dari sejumlah orang (sebelumnya), sehingga telah tetap dalam berbagai kitab Sunnah yang sampai kepada kita secara mutawatir, dari generasi ke generasi.”[7]

Dan beliau telah menyebutkan para Sahabat yang meriwayatkannya, lalu menghitungnya ternyata lebih dari dua puluh lima Sahabat, yang meriwayat-kan dari mereka lebih dari tiga puluh orang Tabi’in, kemudian diriwayatkan dari mereka oleh para Tabi’ut Tabi’in dengan jumlah yang lebih banyak dari jumlah Tabi’in… dan demikianlah, sehingga diriwayatkan oleh para imam di dalam kitab hadits, di antaranya adalah berbagai kitab Musnad, seperti Musnad ath-Thayalisi, Ishaq bin Rahawaih, Ahmad bin Hanbal, ‘Utsman bin Abi Syaibah, Abu Ya’la, al-Bazzar, dan ad-Dailami. Dan kitab-kitab Shahiih seperti, al-Bukhari, Muslim, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, al-Hakim, Abu ‘Awanah, al-Isma’ili, adh-Dhiya’ al-Maqdisi juga yang lainnya. Dan diriwayatkan pula oleh para pemilik kitab-kitab Jawaami’, al-Mushannafat, as-Sunan, Tafsiir bil Ma-tsuur, Mu’jam, al-Ajzaa’, al-Gharaa-ib, al-Mu’jizaat, ath-Thabaqaat, dan al-Malaahim.

Di antara ulama yang mengumpulkan berbagai hadits tentang turunnya Isa Alaihissallam adalah Syaikh Anwar Syah al-Kasymiri [8] di dalam kitabnya at-Tashriih bimaa Tawaatara fii Nuzuulil Masiih, beliau menyebutkan lebih dari tujuh puluh hadits.

e. Penulis kitab ‘Aunul Ma’buud Syarh Sunan Abi Dawud berkata, “Telah diriwayatkan secara mutawatir berbagai khabar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang turunnya ‘Isa bin Maryam Alaihissallam dari langit dengan jasadnya ke bumi sebelum datangnya Kiamat, inilah madzhab Ahlus Sunnah.[9]

f. Asy-Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah berkata, “Ihwal turunnya Nabi ‘Isa Alaihissallam di akhir zaman merupakan perkara yang disepakati oleh kaum muslimin, berdasarkan hadits-hadits yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentangnya, dan ini termasuk perkara yang harus diketahui dalam Islam. Orang yang mengingkarinya termasuk kafir.”

Dan beliau berkata dalam komentarnya atas kitab Musnad Imam Ahmad, “Kaum modernis dan sekuler di zaman kita sekarang ini telah mempermainkan berbagai hadits yang secara jelas menunjukkan turunnya ‘Isa bin Maryam Alaihissallam pada akhir zaman sebelum berakhirnya kehidupan dunia dengan penakwilan yang terkadang mengisyaratkan pengingkaran, dan dengan pengingkaran secara jelas pada kesempatan lain! Hal itu karena mereka -pada hakikatnya- tidak mengimani perkara ghaib, atau hampir saja tidak mengimaninya. Padahal keseluruhan hadits-hadits tersebut adalah mutawatir secara makna, dan kandungannya termasuk perkara yang harus diketahui dalam agama. Maka tidak bermanfaat bagi mereka pengingkaran tidak pula pentakwilan.” [10]

g. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya hadits-hadits tentang Dajjal dan turunnya ‘Isa Alaihissallam adalah mutawatir, wajib diimani. Janganlah engkau tertipu dengan orang yang mengklaim bahwa turunnya ‘Isa Alaihissallam berdasarkan hadits ahad. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang bodoh terhadap ilmu ini (ilmu hadits), dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang meneliti jalan periwayatannya, seandainya dia melakukannya, niscaya dia akan mendapati bahwa hadits-hadits tersebut mutawatir, sebagaimana disaksikan oleh para imam dalam ilmu ini, seperti al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah.

Di antara hal yang benar-benar disayangkan bahwa sebagian dari mereka memberanikan diri untuk berbicara dalam urusan yang bukan keahlian (bidang) mereka, apalagi ini merupakan masalah agama dan ‘aqidah.” [11]

Turunnya ‘Isa Alaihissallam dicantumkan oleh sebagian ulama termasuk ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dan sesungguhnya dia turun untuk membunuh Dajjal -semoga Allah melaknatnya-.

h. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata:

“Dasar-dasar Sunnah menurut kami adalah berpegang teguh kepada berbagai hal yang ada pada Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengikuti mereka, meninggalkan bid’ah-bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.”

Selanjutnya beliau menuturkan sebagian dari ‘aqidah Ahlus Sunnah, kemudian berkata, “Dan mengimani bahwa al-Masihud Dajjal akan keluar, di antara kedua matanya tertulis (Kaafir), meyakini hadits-hadits yang menjelaskan tentangnya, mengimani bahwa hal itu akan terjadi, dan sesungguhnya ‘Isa Alaihissallam akan turun lalu membunuhnya di pintu Ludd [12].”

Abul Hasan al-Asy’ari rahimahullah[13] ketika menguraikan ‘aqidah Ahlul Hadits was Sunnah berkata, “Beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, segala hal yang datang dari Allah dan segala hal yang diriwayatkan oleh orang-orang terpercaya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak membantah sedikit pun darinya… membenarkan keluarnya Dajjal, dan bahwasanya ‘Isa Alaihissallam akan membunuhnya.”

Kemudian di akhir perkataanya beliau berkata, “Dan kami berkata dengan setiap yang kami ungkapkan dari perkataan mereka, dan kepadanyalah kami bermadzhab.” [14]

Ath-Thahawi rahimahullah [15] berkata, “Dan kami beriman kepada tanda-tanda besar Kiamat berupa keluarnya Dajjal, turunnya ‘Isa bin Maryam Alaihissallam dari langit”. [16]

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Turunnya ‘Isa dan pembunuhan yang ia lakukan terhadap Dajjal adalah suatu kebenaran dan shahih menurut Ahlus Sunnah berdasarkan beberapa hadits tentangnya, tidak ada yang membatalkannya secara akal juga secara syara’, maka wajib menetapkannya.” [17]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Dan al-Masih -semoga shalawat dicurahkan kepada beliau dan kepada Nabi yang lain-, beliau pasti turun ke dunia… (dan seterusnya) sebagaimana dijelaskan dalam berbagai hadits shahih. Karena itulah beliau berada di atas langit kedua, padahal dia lebih utama daripada Yusuf, Idris, dan Harun, karena dia hendak turun ke dunia sebelum datangnya Kiamat, berbeda dengan yang lainnya. Adapun Adam berada di langit dunia karena jiwa anak-anak keturunannya diperlihatkan kepadanya.” [18]

Footnote:

[1]. Lihat al-Fataawaa’ (hal. 59-82), karya Syaikh Mahmud Saltut, Darusy Syuruq, cet. ke VIII, th. 1395 H, Beirut. Beliau t di dalam kitab tersebut mengingkari orang yang mengatakan bahwa ‘Isa naik ke langit dengan jasadnya. Demikian pula mengingkari turunnya pada akhir zaman dan mem-bantah berbagai hadits yang menjelaskannya, beliau berkata, “Tidak ada hujjah di dalamnya karena semua haditsnya adalah ahad!!”
Permasalah diangkatnya ‘Isa ke langit, apakah dengan jasad atau ruhnya adalah masalah yang di-perdebatkan di antara para ulama. Akan tetapi yang benar bahwa dia diangkat ke langit dengan jasad beserta ruhnya, sebagaimana difahami oleh kebanyakan para ulama tafsir, seperti ath-Thabari, al-Qurthubi, Ibnu Taimiyyah, Ibnu Katsir dan para ulama lainnya.
Lihat Tafsiir ath-Thabari (III/291), Tafsiir al-Qurthubi (IV/100), Majmu’ al-Fataawaa’, karya Ibnu Taimiyyah (IV/322-323), dan Tafsiir Ibni Katsir (II/4045).
[2]. Tafsiir ath-Thabari (III/291).
[3]. Tafsiir Ibni Katsir (VII/223).
[4]. Al-Idzaa’ah (hal. 160).
[5]. Beliau adalah Abul Fadhl ‘Abdullah Muhammad ash-Shiddiq al-Ghimari dari kalangan ulama zaman ini.
[6]. ‘Aqiidatu Ahlil Islaam fii Nuzuuli ‘Isa q (hal. 12).
[7]. ‘Aqiidatu Ahlil Islaam fi Nuzuuli ‘Isa q (hal. 5).
[8]. Beliau adalah Syaikh Muhaddits Muhammad Anwar Syah al-Kasymiri al-Hindi, beliau memiliki berbagai karya tulis, di antaranya Faidhul Baari ‘ala Shahiihil Bukhari dalam empat jilid, al-‘Urfusy Syadzi Jaami’ at-Tirmidzi, dan yang lainnya, wafat pada tahun 1352 t di kota Dyunid.
Lihat biografinya dalam muqaddimah at-Tashriih, karya Syaikh ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah.
[9]. ‘Aunul Ma’buud (XI/457), karya Abu Thayyib Muhammad Syamsul Haq al-‘Azhim Abdi.
[10]. Dari catatan pinggir kitab Tafsiir ath-Thabari (VI/460) takhrij Syaikh Ahmad Syakir, dan tahqiq Mahmud Syakir, cet. Darul Ma’arif, Mesir.
[11]. Haasyiyah Syarh ‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah (hal. 565) dengan takhrij Syaikh Muhammad Nashi-ruddin al-Albani, seorang ahli hadits negeri Syam.
[12]. Thabaqaatul Hanaabilah (I/241-243), karya al-Qadhi bin Muhammad Abi Ya’la, cetakan Darul Ma’rifah lin Nasyr, Beirut.
[13]. Beliau adalah al-‘Allamah Abul Hasan ‘Ali bin Isma’il, dari keturunan Abu Musa al-Asy’ari seorang Sahabat yang mulia. Tumbuh di bawah asuhan ayah tirinya, Abu ‘Ali al-Juba-i, Syaikh Mu’tazilah pada zamannya, berguru kepadanya, dan memegang madzhabnya hampir 40 tahun, kemudian Allah memberikan petunjuk kepadanya berpindah ke madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Lalu beliau mengumumkan bahwa beliau menganut madzhab Ahmad bin Hanbal. Beliau memiliki hampir 50 karya tulis. Dr. Fauqiyyah Husain Mahmud menyebutkan di dalam Muqaddimah tahqiq kitab al-Ibaanah ‘an Ushuulid Diyaanah hampir 100 karya tulis. Di antara yang terkenal adalah Maqaalatul Islaamiyyiin, Kitaabul Luma’, al-Wajiiz dan yang lainnya, kitab terakhir yang ia tulis adalah kitab al-Ibaanah ‘an Ushuulid Diyaanah, beliau wafat pada tahun 324 H.
Lihat biografinya dalam Tabyiin Kadzbil Muftari, karya Ibnu ‘Asakir (hal. 34, dan yang setelahnya), al-Bidaayah wan Nihaayah (XI/186), Syadzaraatudz Dzahab (II/303-305), muqaddimah kitab al-Ibaanah (hal. 7-16), karya Abul Hasan an-Nadwi tahqiq ‘Abdul Qadir al-Arna-uth, cet. I, diterbitkan oleh Darul Bayan, Damaskus 1401 H, dan muqaddimah kitab al-Ibaanah tahqiq Fauqiyyah Husain Mahmud, cet. I, th. 1397 H, Darul Anshar, Kairo.
[14]. Maqaalatul Islaamiyyiin wa Ikhtilaaful Mushalliin (I/345-348) tahqiq Syaikh Muhammad Muhyiddin ‘Abdul Hamid, cet. II, th. 1389 H, Maktabah an-Nahdhah al-Mishriyyah, Kairo.
[15]. Beliau adalah al-Hafizh, al-Faqih, al-Muhaddits Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad bin Salamah ath-Thahawi al-Azdi al-Mishri, Syaikhul Hanafiyyah pada zamannya di Mesir, nisbatnya kepada Thaha sebuah kampung di dataran tinggi Mesir. Beliau memiliki banyak karya tulis, di antaranya al-‘Aqiidah ath-Thahaawiyah, kitab Ma’aanil Atsaar, kitab Musykiilul Atsaar, wafat pada tahun 321 H di Mesir t. Lihat biografinya dalam al-Bidaayah wan Nihaayah (XI/174), Syadzaraatudz Dzahab (II/288), dan Muqaddimah kitab Syarh al-‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah (hal. 9-11) tahqiq dan takhrij Syaikh al-Albani.
[16]. Syarh al-‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah (hal. 564) tahqiq Syaikh al-Albani.
[17]. Syarh Shahiih Muslim (XVIII/75).
[18]. Majmu’ al-Fataawa (IV/329), karya Ibnu Taimiyyah.

5. Hikmah Turunnya Nabi ‘Isa Alaihissallam, Bukan Nabi yang Lainnya

Para ulama berusaha mengetahui hikmah turunnya Nabi ‘Isa Alaihissallam pada akhir zaman, sementara yang lainnya dari kalangan Nabi tidak demikian. Menurut mereka ada beberapa hikmah tentang hal itu.

a. Sebagai bantahan terhadap klaim orang-orang Yahudi bahwa mereka telah membunuh Nabi ‘Isa Alaihissallam, lalu Allah Ta’ala menjelaskan kedustaan mereka. Sesungguhnya beliaulah yang akan membunuh mereka juga membunuh pemimpin mereka, Dajjal. Sebagaimana hal itu telah dijelaskan dalam pembahasan tentang peperangan dengan orang-orang Yahudi.[1]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menganggap bahwa pendapat ini lebih kuat daripada yang lainnya.[2]

b. Sesungguhnya Nabi ‘Isa Alaihissallam mendapati keutamaan umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam Injil, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala:

“… Dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya…” [Al-Fat-h: 29]

Lalu beliau memohon kepada Allah agar termasuk dari mereka, kemudian Allah mengabulkan do’anya dan mengekalkannya hingga dia turun di akhir zaman sebagai pembaharu bagi urusan Islam.

Al-Imam Malik rahimahullah berkata, “Telah sampai kepadaku sebuah kabar bahwa orang-orang Nasrani, jika mereka melihat para Sahabat menaklukkan Syam, maka mereka berkata, ‘Demi Allah, mereka lebih baik daripada kaum Hawariyyin menurut berita yang sampai kepada kami.”[3]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Mereka (Nasrani) berkata benar dalam hal itu, karena umat ini diagungkan dalam berbagai kitab terdahulu dan berbagai khabar yang ada.”[4]

Al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah telah memuat biografi untuk ‘Isa Alaihissallam di dalam kitabnya Tajriidu Asmaa-ish Shahaabah, beliau berkata, “Isa bin Maryam, seorang Sahabat, seorang Nabi, karena beliau melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di malam beliau diisra’kan, mengucapkan salam kepadanya, maka dia menjadi Sahabat Nabi yang terakhir meninggal.”[5]

c. Sesungguhnya turunnya Nabi ‘Isa Alaihissallam dari langit karena ajalnya yang sudah dekat agar dimakamkan di bumi. Makhluk yang diciptakan dari tanah tidak layak di kubur di selainnya. Maka turunnya bertepatan de-ngan keluarnya Dajjal, kemudian Nabi ‘Isa Alaihissallam membunuhnya.

d. Sesungguhnya dia Alaihissallam akan turun untuk mendustakan semua hal yang dikatakan oleh kaum Nasrani, lalu beliau akan menampakkan berbagai kepalsuan dalam pengakuan mereka yang bathil, dan Allah akan menghancurkan seluruh agama pada zamannya, kecuali Islam. Dia Alaihissallam akan menghancurkan salib, membunuh babi, dan menghapus jizyah (pajak).

f. Sesungguhnya keutamaannya dengan berbagai perkara yang telah disebutkan ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Aku adalah manusia yang paling dekat dengan ‘Isa bin Maryam. Tidak ada Nabi di antara aku dan dia.” [6]

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam orang yang paling istimewa baginya dan yang paling dekat dengannya, karena ‘Isa Alaihissallam memberi kabar gembira (umatnya) akan datangnya seorang Nabi setelahnya, dan mengajak seluruh makhluk untuk membenarkan juga mengimaninya. [7]

Sebagaimana difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“… Dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, namanya adalah Ahmad (Muhammad)…” [Ash-Shaff: 6]

Demikian pula dalam sebuah hadits dijelaskan:

“Mereka (para Sahabat) bertanya, ‘Wahai Rasulullah! Kabarkanlah kepada kami tentang dirimu!’ Beliau berkata, ‘Ya, aku adalah do’anya Nabi Ibrahim dan kabar gembira yang disampaikan saudaraku, ‘Isa.’”[8] (Yaitu, do’a Nabi Ibrahim dalam surat al-Baqarah: 129, dan kabar gembira Nabi ‘Isa tentang kedatangan beliau dalam surat ash-Shaff: 66-pent.)

6. Dengan Apa Nabi ‘Isa Alaihissallam Menetapkan Hukum?

‘Isa Alaihissallam berhukum dengan syari’at Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau akan menjadi pengikut Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya dia tidak turun dengan membawa syari’at yang baru karena Islam adalah penutup semua agama dan akan kekal sampai hari Kiamat, tidak akan dihapus. Maka ‘Isa Alaihissallam akan menjadi hakim dari para hakim dari kalangan umat ini, reformis urusan Islam, karena tidak ada lagi Nabi setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Bagaimanakah keadaan kalian ketika putera Maryam turun kepada kalian, sedangkan imam kalian dari kalangan kalian sendiri?!”

Lalu aku berkata (yang berkata adalah al-Walid bin Muslim [9]) kepada Abu Da’-b [10], “Sesungguhnya al-Auza’i meriwayatkan kepada kami dari az-Zuhri, dari Nafi’, dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ‘Dan Imam kalian dari kalangan kalian.’” Ibnu Abi Da’-b bertanya, “Apakah engkau tahu dengan apa dia akan memimpin kalian?” “Kabarkanlah kepadaku!” jawabku. Dia berkata, “Dia akan memimpin kalian dengan kitab Rabb kalian تبارك وتعالى dan Sunnah Nabi kalian Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [11]

Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Senantiasa akan ada sekelompok dari umatku yang berjuang di atas jalan yang haq dengan mendapat pertolongan sampai hari Kiamat.” Beliau bersabda, “Lalu ‘Isa bin Maryam Alaihissallam turun, pemimpin mereka berkata, “Kemarilah, shalatlah mengimami kami,” lalu dia berkata, “Tidak, sesungguhnya sebagian dari kalian pemimpin bagi sebagian yang lainnya, sebagai kemuliaan yang Allah berikan kepada umat ini.” [12]

Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Sebagian kaum berpendapat bahwa dengan turunnya ‘Isa Alaihissallam, hilanglah segala beban kewajiban (taklif), agar ia tidak menjadi Rasul pada manusia zaman itu yang menyampaikan perintah dan larangan dari Allah Ta’ala. Keyakinan ini (yakni keadaan dia sebagai Rasul setelah Muhammad) adalah suatu hal yang tertolak, berdasarkan firman-Nya Ta’ala:

“… Dan penutup Nabi-Nabi…” [Al-Ahzaab: 40]

Dan sabdanya عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ:

“Tidak ada Nabi setelahku.” [13]

Juga sabdanya:

“Akulah al-‘Aaqib.” [14]

Maksudnya, Nabi terakhir dan penutup bagi mereka.

Jika demikian halnya, maka tidak boleh disalahfahami bahwa ‘Isa Alaihissallam akan turun dengan membawa syari’at baru selain syari’at Muhammad Nabi kita semua Shallallahu ‘alaihi wa salalm. Bahkan jika dia turun, maka dia termasuk pengikut Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana disabdakan oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wa salalm ketika berkata kepada ‘Umar:

“Seandainya Musa masih hidup, maka tidak ada keleluasaan baginya kecuali mengikutiku. [15]

Lalu dia Alaihissallam akan turun, sementara di langit beliau telah diajarkan dengan berbagai perintah Allah sebelum turun, yaitu dengan segala hal yang dibutuhkan berupa ilmu syari’ah (agama ini) untuk memberikan putusan hukum di antara manusia, dan mengamalkannya pada dirinya sendiri. Kemudian kaum mukminin berkumpul kepadanya dan meminta putusan hukum bagi diri mereka… dan karena mengabaikan hukum adalah sesuatu yang tidak dibenarkan, demikian pula tetap adanya dunia hanya bisa dengan adanya pembebanan hukum sampai tidak dikatakan lagi di bumi, ‘Allah, Allah’ (hari Kiamat).” [16]

Dan yang menjadi dalil atas tetapnya pembebanan hukum setelah turunnya ‘Isa Alaihissallam adalah shalat yang beliau lakukan bersama kaum muslimin, haji, dan jihad yang beliau lakukan.

Adapun shalatnya telah diungkapkan di berbagai hadits terdahulu.

Demikian pula peperangan yang beliau lakukan terhadap kaum kuffar dan pengikut Dajjal.

Sedangkan haji, maka hal itu dijelaskan dalam Shahiih Muslim dari Hanzhalah al-Aslami, beliau berkata, “Aku mendengar Abu Hurairah Radhiyallahu anhu meriwayatkan hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

‘Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguhnya Ibnu Maryam akan melakukan ihram di Fajjur Rauhaa’ [17] untuk melakukan tahlil (talbiah) untuk haji atau umrah, atau melakukan keduanya.” [18]

Yakni menggabungkan haji dan umrah.

Adapun pembatalan hukum jizyah yang dilakukan oleh ‘Isa Alaihissallam dari kalangan orang-orang kafir -padahal hal itu merupakan syari’at Islam sebelum turunnya ‘Isa-, maka naskh (proses penghapusan) hukum [19] jizyah (pajak perijinan tinggal orang kafir di negeri Islam) yang dilakukan oleh ‘Isa Alaihissallam bukan merupakan syari’at baru yang dibawanya karena penetapanan hukum jizyah dikaitkan dengan turunnya ‘Isa Alaihissallam dengan kabar dari Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, artinya Nabi Muhammadlah yang menjelaskan adanya penghapusan hukum dengan sabdanya kepada kita semua:

“Demi Allah, putera Maryam akan turun sebagai hakim yang adil, lalu dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, dan menghapus jizyah.”[20]

Footnote:

[1]. (hal. 303).
[2]. Fat-hul Baari (VI/493).
[3]. Tafsiir Ibni Katsir (VII/343).
[4]. ibid
[5]. Tajriidu Asmaa-ish Shahaabah (I/432).
[6]. Shahiih al-Bukhari (VI/477-478, al-Fat-h), kitab Ahaadiitsul Anbiyaa’ bab Qaulullahi Ta’aala (QS. Maryam: 16), dan Shahiih Muslim, kitab al-Fadhaa-il bab Fadhaa-ilu ‘Isa Aliahissallam.
[7]. Lihat al-Minhaaj fii Syu’abil Iimaan (I/424-425), karya al-Hulaimi, at-Tadzkirah, karya al-Qurthubi (hal. 679), Fat-hul Baari (VI/493), kitab at-Tashriih bimaa Tawaatara fii Nuzuulil Masiih (hal. 94) ta’liq Syaikh ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah.
[8]. HR. Ibnu Ishaq dalam as-Siirah, lihat kitab Tahdziib Siirati Ibni Hisyam (hal. 45), karya ‘Abdus Salam Harun, cet. al-Majma’ul ‘Ilmil ‘Arabi al-Islami, Mansyuurat Muhammad ad-Daayah, Beirut. Ibnu Katsir mengomentari sanadnya dengan berkata, “Ini adalah sanad yang jayyid,” dan beliau meriwayatkan beberapa penguat baginya dari jalan lain, yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad dalam al-Musnad, Tafsiir Ibni Katsir (VIII/136), dan Musnad Imam Ahmad (IV/127, dan V/262, dengan catatan pinggir Muntakhab al-Kanz).
[9]. Beliau adalah al-Walid bin Muslim al-Qurasy, orang tua Bani Umayyah, seorang ulama negeri Syam, wafat pada tahun 195 H rahimahullah.
Lihat Tahdziibut Tahdziib (XI/151-152).
[10]. Beliau adalah Muhammad bin ‘Abdirrahman bin al-Mughirah bin al-Harits bin Abi Da’-b al-Qurasy al-‘Amiri, al-Imam, ats-tsiqah, wafat pada tahun 159 H t.
Lihat Tahdziibut Tahdziib (IX/303-307).
[11]. Shahiih Muslim, kitab al-Iimaan, bab Nuzuulu ‘Isa bin Maryam Haakiman (II/193, Syarh an-Nawawi).
[12]. Shahiih Muslim (II/193-194, Syarh an-Nawawi).
[13]. Shahiih Muslim, kitab al-Fadhaa-il, bab Fii Asmaaihi J (XV/104, Syarh an-Nawawi).
[14]. Shahiih al-Bukhari, kitab at-Tafsiir, bab (ash-Shaff: 6) (VIII/640-641, al-Fat-h).
[15]. Musnad Ahmad (III/387, dengan catatan pinggir kitab Muntakhab al-Kanz).
Ibnu Hajar berkata, “Perawinya adalah tsiqat, kecuali pada Mujalid (salah satu perawi haditsnya), ada kelemahan.” (Fat-hul Baari XIII/334).
Dan ‘Abdurrazzaq telah meriwayatkannya dalam al-Mushannaf (X/313-314), tahqiq Habiiburrahman al-A’zhami.
Dan Mujalid bin Mujalid bin Sa’id bin ‘Umair al-Hamadani al-Kufi, Muslim meriwayatkannya dengan menggunakan penyerta yang lainnya.
Ibnu Hajar berkata tentangnya, “Shaduq.”
Lihat Tahdziibut Tahdziib (X/39-41).
[16]. At-Tadzkirah (hal. 677-678).
[17]. Fajjur Rauhaa’ adalah satu tempat di antara Makkah dan Madinah yang pernah dilalui oleh Nabi J ketika pergi ke Badar dan ke Makkah pada masa penaklukan kota Makkah dan ketika me-lakukan haji.
Lihat an-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits (III/412), dan Mu’jamul Buldaan (IV/236).
[18]. Shahiih Muslim bi Syarh an-Nawawi, kitab al-Hajj bab Jawaazut Tamattu fil Hajji wal Qiraan (VIII/ 234, Syarh an-Nawawi).
[19]. Lihat Fat-hul Baari (VI/492).
[20]. Shahiih Muslim, bab Nuzuuli ‘Isa ‘alaihis Salaam Haakiman (II/292, Syarh an-Nawawi).

7. Tersebarnya Rasa Aman dan Keberkahan Pada Zaman ‘Isa Alaihissallam

Zaman ‘Isa Alaihissallam adalah zaman yang dipenuhi dengan keamanan, kesejahteraan dan kemakmuran serta kelapangan. Allah akan menurunkan hujan lebat pada zamannya, bumi mengeluarkan buah-buahan dan keberkahannya, harta akan melimpah, sementara percekcokan, kebencian juga sikap saling hasad (dengki) akan hilang.

Dijelaskan dalam hadits an-Nawwas bin Sam’an yang panjang tentang Dajjal, turunnya ‘Isa Alaihissallam dan keluarnya Ya’-juj dan Ma’-juj pada zaman ‘Isa Alaihissallam, do’a beliau untuk kebinasaan mereka, dan kehancuran mereka. Di dalamnya terdapat sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Kemudian Allah akan mengirim hujan, di mana rumah yang terbuat dari tanah liat juga rumah dari bulu tidak bisa menahannya, lalu akan mencuci bumi sehingga bersih seperti cermin kaca, kemudian dikatakan kepada bumi, “Tumbuhkanlah buah-buahanmu dan kembalikanlah keberkahanmu,” maka ketika itu sejumlah orang dapat memakan buah delima dan berteduh dengan kulitnya, dan susu pun diberi berkah, sehingga susu unta yang akan melahirkan cukup untuk satu kelompok manusia dengan jumlah yang banyak, susu sapi yang akan melahirkan cukup untuk satu kabilah manusia, dan susu kambing yang akan melahirkan cukup untuk satu keluarga manusia.”[1]

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Para Nabi adalah saudara sebapak[2], ibu mereka berbeda-beda, akan tetapi agama mereka satu, dan aku adalah orang yang paling berhak kepada Ibnu Maryam, karena tidak ada Nabi di antaraku dengannya, dan sesungguhnya dia akan turun… lalu Allah akan membinasakan al-Masih ad-Dajjal, dan suasana di muka bumi menjadi aman, sehingga singa dapat hidup bersama unta, harimau dengan sapi, serigala dengan kambing, demikian pula anak-anak kecil dapat bermain dengan ular tanpa membahayakan mereka.”[3]

Al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Demi Allah, ‘Isa bin Maryam akan turun sebagai hakim yang adil… dan dia akan menghapus jizyah, unta yang masih muda akan ditinggalkan sehingga tidak diperhatikan lagi; percekcokan, permusuhan dan sikap saling dengki akan hilang, mereka akan menyeru orang lain untuk menerima harta, lalu tidak seorang pun menerimanya.”[4]

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Maknanya bahwa manusia bersikap zuhud terhadapnya -unta- dan tidak menginginkannya karena memiliki banyak harta, sedikitnya angan-angan, tidak ada kebutuhan, dan mengetahui telah dekatnya Kiamat.”

Disebutkannya al-qilaash (unta yang masih muda) karena ia adalah unta yang paling utama lagi merupakan harta yang paling mulia di kalangan orang-orang Arab, ungkapan ini sama dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan).” [At-Takwiir: 4]

Adapun makna (لاَ يَسْعَى عَلَيْهَا) adalah tidak dipergunakan.[5]

Adapun al-Qadhi ‘Iyadh berpendapat bahwa maknanya adalah tidak dipinta lagi zakatnya karena saat itu tidak ada lagi orang yang mau menerimanya.

Dan an-Nawawi rahimahullah mengingkari pendapat ini.[6]

8. Masa Menetap Nabi ‘Isa Alaihissallam di Dunia Setelah Turun dan Kewafat-annya

Adapun masa menetapnya ‘Isa Alaihissallam di bumi setelah turunnya, hal itu telah dijelaskan di sebagian riwayat bahwa beliau menetap selama 7 tahun, sementara pada riwayat yang lain selama 40 tahun.

Dijelaskan dalam riwayat Imam Muslim rahimahullah, dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhuma:

“Lalu Allah mengutus ‘Isa bin Maryam… kemudian dia menetap bersama manusia selama 7 tahun, pada waktu itu tidak ada permusuhan pun di antara dua orang. Selanjutnya Allah mengutus angin dingin dari arah Syam, lalu tidak ada yang tersisa di muka bumi seorang pun yang di dalam hatinya terdapat kebaikan atau keimanan sebesar dzarrah, melainkan akan dihembusnya dan mati karenanya.” [7]

Adapun dalam riwayat Ahmad dan Abu Dawud, “Lalu beliau menetap di muka bumi selama 40 tahun, kemudian wafat dan kaum muslimin menshalatkannya.”[8]

Kedua riwayat tersebut adalah shahih, dan ini adalah sesuatu yang musykil kecuali jika difahami bahwa riwayat 7 tahun maknanya adalah menetapnya beliau setelah turun ke bumi, lalu jumlah tersebut ditambah dengan lamanya beliau berdiam di bumi sebelum diangkat ke langit, yang saat itu umur beliau adalah 33 tahun (maka antara umur 33 tahun ketika diangkatnya dan 7 tahun ketika turunnya nanti menjadi genap 40 tahun) berdasarkan riwayat yang masyhur. [8]

Wallaahu a’lam.

Footnote:

[1]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan, bab Dzikrud Dajjal (XVIII/63-70, Syarh an-Nawawi).
[2]. (إِخْوَةُ لِعَلاَّتٍ), عَلاَّتٌ dengan huruf ain yang difat-hahkan, huruf lam yang ditasydid, dan (أَوْلاَدُ الْعَلاَّتِ) maknanya adalah anak-anak sebapak sementara ibu mereka berbeda-beda, maknanya adalah se-sungguhnya keimanan para Nabi adalah satu walaupun syari’at mereka berbeda-beda.
Lihat an-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits (III/291), dan Tafsiir ath-Thabari (VI/460) ta’liq Mahmud Syakir, dan takhrij Ahmad Syakir.
[3]. Musnad Ahmad (II/406, dengan catatan pinggir Muntakhab al-Kanz).
Ibnu Hajar berkata, “Sanadnya shahih.” Fat-hul Baari (VI/493).
[4]. Shahiih Muslim, bab Nuzuulu ‘Isa q (II/192, Syarh an-Nawawi).
[5]. Syarah an-Nawawi li Shahiih Muslim (II/192).
[6]. Lihat Syarh an-Nawawi li Shahiih Muslim (II/192).
[7]. Shahiih Muslim, bab Dzikrud Dajjal (XVIII/75-76, Syarh an-Nawawi).
[8]. Musnad Imam Ahmad (II/406, dengan catatan pinggir Muntakhab Kanz).
Ibnu Hajar berkata, “Shahih,” (VI/493). Dan Sunan Abi Dawud, kitab al-Malaahim, bab Khuruuju Dajjal (XI/459, ‘Aunul Ma’buud).
Lihat an-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/146) tahqiq Dr. Thaha Zaini.

(Bersambung)

Iklan

About admin

Jika kata tak lagi bermakna lebih baik diam. (Masih) belajar Islam yang lurus dan benar. Cuma numpang sebentar di dunia. Silahkan duduk mari bicara. Lihat semua pos milik admin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: