Keutamaan Sifat Malu

Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Beliau sampai hari Kiamat.

Kaum muslimin yang kami muliakan, sesungguhnya sifat malu itu semuanya baik. Demikianlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terucap dari lesan beliau yang mulia. Kalimat yang ringkas, namun mengandung butiran hikmah dan pelajaran yang sangat banyak. Sungguh benar apa yang diucapkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa malu yang syar’i tidak lain akan membawa kebaikan, karena malu itu merupakan buah keimanan. Orang yang malu akan menahan dirinya dari berbuat maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia tahu bahwa Allah melihat dan mengetahui perbuatannya.

Malu Yang Sebenarnya

Raghib al-Asfahani rahimahullah mengatakan, “Malu adalah menahan jiwa agar tidak mengerjakan sesuatu yang tercela. Dan ini termasuk sifat istimewa yang dimiliki seorang manusia. Malu adalah menahan diri dari mengerjakan segala sesuatu yang diinginkan oleh hawa nafsunya, sehingga ia tidak menjadi seperti binatang.” (Fathul Bari, 1/102)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Al-Hayaa’ (malu) merupakan pecahan dari kata al-Hayaat (hidup). Hal ini karena sesuai dengan hidupnya hati seseorang yang mendorong untuk berperangai dengan sifat malu. Sedikitnya rasa malu merupakan tanda matinya hati dan ruh. Maka apabila hati itu hidup, rasa malunya akan lebih sempurna.” (Madarijus Salikin, 2/270).

Imam Ibnu Muflih rahimahullah berkata, “Hakikat malu adalah perangai yang mendorong untuk mengerjakan kebaikan dan meninggalkan kejelekan.” (al-Adab asy-Syar’iyah, 2/219).

Keutamaan Sifat Malu

Kaum muslimin yang kami muliakan, sesungguhnya sifat malu adalah sifat yang mulia yang dimiliki oleh para Nabi dan Rasul ‘alaihimush sholatu was salam. Sifat malu ini memiliki keutamaan yang banyak. Berikut ini adalah sebagian dari keutamaan sifat malu yang syar’i:

1. Malu Adalah Bagian Dari Iman

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah lewat di depan seorang Anshar yang sedang mencela saudaranya karena malu –seolah-olah ia mengatakan, ‘Malu itu menyusahkanmu!’– Melihat hal itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Biarkan dia, sesungguhnya malu itu termasuk keimanan.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 24 dan Muslim, no. 36)

Ibnu Qutaibah rahimahullah berkata, “Maknanya, sifat malu itu mencegah pelakunya dari perbuatan maksiat, sebagaimana keimanan mencegah pemiliknya dari kemaksiatan.” (Fathul Bari, 1/102)

2. Malu Semuanya Baik

Malu yang syar’i tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلْحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلاَّ بِخَيْرٍ.

“Malu itu tidak datang kecuali dengan membawa kebaikan.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 5652 dan Muslim, no. 53).

Dalam redaksi lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلْحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ.

“Malu itu semuanya baik.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 54).

3. Sifat Malu Adalah Akhlaq Islam

Tidak diragukan lagi bahwa sifat malu adalah sifat yang mulia. Islam menganjurkannya bagi seluruh umatnya untuk berhias dengan sifat yang mulia ini. Bahkan sifat ini merupakan keistimewaan dienul (agama) Islam.

Diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ دِيْنٍ خُلُقًا وَخُلُقُ الإِسْلاَمِ الْحَيَاءُ

“Setiap agama mempunyai budi pekerti. Dan budi pekerti agama Islam adalah sifat malu.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani dalam ash-Shahiihah, no. 940).

4. Menghantarkan Pemiliknya ke Surga

Kaum muslimin yang kami muliakan, tidaklah ada perbuatan baik melainkan pelakunya akan mendapatkan ganjaran yang setimpal. Sifat malu merupakan bagian dari keimanan, dan keimanan akan membawa pemiliknya ke dalam Surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلْحَيَاءُ مِنَ الإِيْمَانِ وَالإِيْمَانُ فِي الْجَنَّةِ، وَالْبَذَاءُ مِنَ الْجَفَاءِ وَالْجَفَاءُ فِي النَّارِ

“Sifat malu itu termasuk bagian dari keimanan, dan keimanan membawa ke dalam Surga. Sedangkan perbuatan keji termasuk kejelekan, dan kejelekan itu tempatnya di Neraka.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, no. 2009 dan beliau berkata, “Hadits ini hasan shahih.” Diriwayatkan pula oleh Ahmad 2/501, Hakim 1/52, Ibnu Hibban no. 1929 dan dinilai hasan shohih oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahiih Targhiib 3/4 dan ash-Shahiihah, no. 295).

5. Akan Senantiasa Menghiasi Pemiliknya Dan Tidak Mengotori

Tidaklah sifat malu ada pada suatu perkara melainkan pasti akan menghiasinya, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا كَانَ الْفُحْشُ فِي شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ، وَمَا كَانَ الْحَيَاءُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ

“Tidaklah perbuatan keji ada pada sesuatu kecuali akan mengotori. Dan tidaklah sifat malu ada pada sesuatu melainkan pasti akan menghiasinya.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, no. 1974, Ibnu Majah no. 4185, Ahmad 3/165. Hadits ini dinilai shohih oleh al-Albani dalam Shohiih al-Adab al-Mufrad, no. 469).

Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Ada empat perkara yang barangsiapa empat perkara ini ada padanya, maka akan sempurna, dan barangsiapa yang mempunyai satu saja, maka ia termasuk orang sholih pada kaumnya: Agama sebagai petunjuknya, akal yang meluruskannya, mawas diri yang menjaganya, malu yang menggiringnya.” (al-Adab asy-Syar’iyah, 2/219).

6. Indikasi Adanya Keimanan

Sesungguhnya sifat malu dan iman saling bertautan. Apabila sifat malu hilang, maka hal ini menjadi pertanda hilangnya keimanan. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلْحَيَاءُ وَالإِيْمَانُ قُرَنَاءُ جَمِيْعًا، فَإِذَا رُفِعَ أَحُدُهُمَا رُفِعَ الآخَرُ.

“Malu dan keimanan, keduanya saling berdampingan. Apabila hilang salah satunya, maka hilang yang lainnya.” (Hadits ini shohih. Lihat Shahiih Targhiib, 3/6).

Fudhail bin Iyadh rahimahullah mengatakan, “Ada lima perkara termasuk tanda-tanda kebinasaan: Kerasnya hati, mata yang beku, sedikitnya rasa malu, cinta dunia, dan panjang angan-angan.” (Madarijus Salikin, 2/271).

Malu Yang Tercela

Kaum muslimin yang kami muliakan, sebagian orang ada yang salah dalam menempatkan sifat malu. Ada yang malu bertanya kepada orang alim karena malu dikatakan bodoh. Ada pula yang malu sholat berjama’ah di masjid karena kawatir disebut-sebut sebagai orang sholih. Ada yang malu karena garis nasabnya tidak bagus, malu kalau ada yang tahu bahwa ia berasal dari keturunan orang miskin, dan sebagainya. Malu seperti ini bukanlah malu yang syar’i. Bahkan pelakunya tercela dengan sifat malu seperti ini.

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah mengatakan, “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar. Sifat malu tidak menghalangi mereka untuk bertafaqquh fid din (menuntut ilmu agama).” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 130).

Mujahid rahimahullah mengatakan, “Tidak akan memperoleh ilmu orang yang malu (menuntut ilmu, pen) dan orang yang sombong.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 130).

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menambah ilmu yang bermanfaat kepada kita semua dan menerima amal kita. Amin

Sumber : http://attaubah.com/

Iklan

About admin

Jika kata tak lagi bermakna lebih baik diam. (Masih) belajar Islam yang lurus dan benar. Cuma numpang sebentar di dunia. Silahkan duduk mari bicara. Lihat semua pos milik admin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: