Kajian Qadha dan Qadar

Oleh : Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin

Muqadimah

Segala puji bagi Allah Subhannahu wa Ta’ala yang telah mengutus hambaNya Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam dengan membawa kebenaran, menyampaikan amanat kepada umat dan berjihad di jalanNya hingga akhir hayat. Semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada beliau, berikut para keluarga, sahabat dan pengikutnya yang setia.

Dalam pertemuan ini, kami akan membahas suatu masalah yang kami anggap sangat penting bagi kita umat Islam, yaitu masalah qadha’ dan qadar. Mudah-mudahan Allah membukakan pintu karunia dan rahmatNya bagi kita, menjadikan kita termasuk para pembimbing yang mengikuti jalan kebenaran dan para pembina yang membawa pembaharuan.

Sebenarnya masalah ini sudah jelas. Akan tetapi kalau bukan karena banyaknya pertanyaan dan banyaknya orang yang masih kabur dalam memahami masalah ini serta banyaknya orang yang membicarakannya, yang kadangkala benar tetapi seringkali salah; di samping itu sebenarnya pemahaman-pemahaman yang hanya karena mengikuti hawa nafsu dan adanya orang-orang fasik yang berdalih dengan qadha’ dan qadar untuk kefasikannya; seandainya bukan karena itu semua, niscaya kami tidak akan berbicara tentang masalah ini.

Sudah sejak dahulu masalah qadha’ dan qadar menjadi ajang perselisihan di kalangan umat Islam. Diriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam keluar menemui para sahabatnya, ketika itu mereka sedang berselisih masalah qadar (takdir), maka beliau melarangnya dan mem-peringatkan bahwa kehancuran umat-umat terdahulu tiada lain karena perdebatan seperti ini.

Pengertian Tauhid Dan Macam-Macamnya

Walaupun masalah qadha’ dan qadar menjadi ajang perselisihan di kalangan umat Islam, tetapi Allah Subhannahu wa Ta’ala telah membukakan hati para hambaNya yang beriman, yaitu para Salaf Shalih yang mereka itu senantiasa menempuh jalan kebenaran dalam pemahaman dan pendapat. Menurut mereka qadha’ dan qadar adalah termasuk rububiyah Allah Subhannahu wa Ta’ala atas makhlukNya. Maka masalah ini termasuk ke dalam salah satu di antara tiga macam tauhid menurut pembagian ulama:

Pertama: Tauhid Al-Uluhiyah, ialah meng-esakan Allah dalam ibadah, yakni beribadah ha-nya kepada Allah dan karenaNya semata.

Kedua: Tauhid Ar-Rububiyah, ialah meng-esakan Allah dalam perbuatanNya, yakni meng-imani dan meyakini bahwa hanya Allah yang mencipta, menguasai dan mengatur alam semesta ini.

Ketiga: Tauhid Al-Asma’ was-Sifat, ialah mengesakan Allah dalam asma dan sifatNya. Artinya mengimani bahwa tidak ada makhluk yang serupa dengan Allah Subhannahu wa Ta’ala dalam dzat, asma maupun sifat.

Iman kepada qadar adalah termasuk tauhid ar-rububiyah. Oleh karena itu Imam Ahmad Rahimahullaah, berkata: “Qadar adalah kekuasaan Allah”. Karena, tak syak lagi, qadar (takdir) termasuk qudrat dan kekuasaanNya yang menyeluruh. Di samping itu, qadar adalah rahasia Allah yang tersembunyi, tak ada seorangpun yang dapat mengetahui kecuali Dia, tertulis pada Lauh Mahfuzh dan tak ada seorangpun yang dapat melihatnya. Kita tidak tahu takdir baik atau buruk yang telah ditentukan untuk kita maupun untuk makhluk lainnya, kecuali setelah terjadi atau berdasarkan nash yang benar.

Pendapat-pendapat Tentang Qadar

Pembaca yang budiman.
Umat Islam dalam masalah qadar ini terpecah dalam tiga golongan:

Pertama: Mereka yang ekstrim dalam menetapkan qadar dan menolak adanya kehendak dan kemampuan makhluk. Mereka berpendapat bahwa manusia sama sekali tidak mempunyai kemampuan dan keinginan, dan hanyalah disetir dan tidak mempunyai pilihan, laksana pohon yang tertiup angin. Mereka tidak membedakan antara perbuatan manusia yang terjadi dengan kemauannya dan perbuatan yang terjadi tanpa kemauannya. Tentu saja mereka ini keliru dan sesat, karena sudah jelas menurut agama, akal dan adat kebiasaan bahwa manusia dapat membedakan antara perbuatan yang dikehendaki dan perbuatan yang terpaksa.

Kedua: Mereka yang ekstrim dalam menetapkan kemampuan dan kehendak makhluk, sehingga mereka menolak bahwa apa yang diperbuat manusia adalah karena kehendak dan keinginan Allah serta diciptakan olehNya. Menurut mereka, manusia me-miliki kebebasan atas perbuatannya. Bahkan ada di antara mereka yang mengatakan bahwa Allah Subhannahu wa Ta’ala tidak mengetahui apa yang diperbuat oleh manusia kecuali setelah terjadi. Mereka inipun sangat ekstrim dalam menetapkan kemampuan dan kehendak makhluk.

Ketiga: Mereka yang beriman, sehingga diberi petunjuk oleh Allah untuk menemukan kebenaran yang telah diperselisihkan. Mereka itu adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Dalam masalah ini mereka menempuh jalan tengah dengan berpijak di atas dalil syar’i dan dalil ‘aqli. Mereka berpendapat bahwa perbuatan yang dijadikan Allah di alam semesta ini terbagi atas dua macam:

  • Perbuatan yang dilakukan oleh Allah Ta’ala terhadap makhlukNya. Dalam hal ini tidak ada kekuasaan dan pilihan bagi siapapun. Seperti; turunnya hujan, tumbuhnya tanaman, kehidupan, kematian, sakit, sehat dan banyak contoh lainnya yang dapat disaksikan pada makhluk Allah. Hal seperti ini, tentu saja tak ada kekuasaan dan kehendak bagi siapapun kecuali bagi Allah Yang Maha Esa dan Maha Kuasa.
  • Perbuatan yang dilakukan oleh semua makhluk yang mempunyai kehendak. Perbuatan ini terjadi atas dasar keinginan dan kemauan pelakunya karena Allah menjadikannya untuk mereka. Sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta’ala :

“Bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.” (At-Takwir: 28).

“Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat.” (Ali Imran: 152).

“Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” (Al-Kahfi: 29).

Manusia bisa membedakan antara perbuatan yang terjadi karena kehendaknya sendiri dan yang terjadi karena terpaksa. Sebagai contoh, orang yang dengan sadar turun dari atas rumah melalui tangga, ia tahu kalau perbuatannya itu atas dasar pilihan dan kehendaknya sendiri. Lain halnya kalau ia terjatuh dari atas rumah, ia tahu bahwa hal tersebut bukan karena kemauannya. Dia dapat membedakan antara kedua perbuatan ini, yang pertama atas dasar kemauannya dan yang kedua tanpa kemauannya. Dan siapapun mengetahui perbedaan ini.

Begitu juga orang yang menderita sakit beser umpamanya, ia tahu kalau air kencingnya keluar tanpa kemauannya. Tetapi apabila ia sudah sembuh, ia sadar bahwa air kencing-nya keluar dengan kemauannya. Dia mengetahui perbedaan antara kedua hal ini dan tak ada seorangpun yang mengingkari adanya perbedaan tersebut.

Demikianlah segala yang terjadi dari manusia, dia mengetahui perbedaan antara mana yang terjadi dengan kemauannya dan mana yang tidak.
Akan tetapi, karena kasih sayang Allah Subhannahu wa Ta’ala, ada di antara perbuatan manusia yang terjadi atas kemauannya namun tidak dinyatakan sebagai perbuatannya. Seperti perbuatan orang yang kelupaan dan orang yang sedang tidur. Firman Allah dalam kisah Ashabul Kahfi:

“… dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri …” (Al-Kahfi: 18).
Padahal merekalah sendiri yang berbalik ke kanan dan ke kiri, tetapi Allah Ta’ala menyatakan bahwa Dialah yang membalik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sebab orang yang sedang tidur tidak mempunyai kemauan dan pilihan serta tidak mendapat hukuman atas perbuatannya, maka perbuatan tersebut di-nisbat-kan kepada Allah.

Dan sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, “Barangsiapa yang lupa ketika dalam keadaan berpuasa, lalu makan atau minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena Allah yang memberinya makan dan memberinya minum.”

Dinyatakan dalam hadits ini bahwa yang memberinya makan dan minum adalah Allah Subhannahu wa Ta’ala, karena perbuatannya tersebut terjadi di luar kesadarannya, maka seakan-akan terjadi tanpa kemauannya.
Kita semua mengetahui perbedaan antara rasa sakit atau rasa senang yang kadangkala dirasakan seseorang dalam dirinya tanpa kemauannya serta dia sendiri tidak tahu sebabnya dan rasa sakit atau rasa senang yang timbul dari perbuatan yang dilakukan oleh dia sendiri. Hal ini, alhamdulillah, sudah cukup jelas dan gamblang.

Sanggahan Atas Pendapat Pertama

Pembaca yang budiman.
Seandainya kita mengambil dan mengikuti pendapat golongan pertama, yaitu mereka yang ekstrim dalam menetapkan qadar, niscaya sia-sialah syari’at ini dari semula. Sebab bila dikatakan bahwa manusia tidak mempunyai kehendak dalam perbuatannya, berarti tidak perlu dipuji atas perbuatan yang terpuji dan tidak perlu dicela atas perbuatan yang tercela. Karena pada hakikatnya perbuatan tersebut dilakukan tanpa kehendak dan keinginan dirinya.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala -Mahasuci Allah dari pendapat dan pemahaman yang demikian ini- adalah zhalim jika mengadzab dan menyiksa orang yang berbuat maksiat, sebab perbuatan maksiat tersebut terjadi bukan dengan kehendak dan keinginannya.

Pendapat seperti ini jelas sangat berten-tangan dengan firman Allah Subhannahu wa Ta’ala :
“Dan (malaikat) yang menyertai dia berkata, ‘Inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku’, Allah berfirman, ‘Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam Neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala; yang sangat enggan melakukan kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu; yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah, maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat’. Sedang (syaitan) yang menyertai dia berkata, ‘Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya, tapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh.’ Allah berfirman, ‘Janganlah kamu bertengkar di hadapanKu, padahal sesungguhnya Aku dahulu telah memberikan ancaman kepadamu. Keputusan di sisiKu tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hambaKu’.” (Qaaf: 23-29).

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa siksaan dariNya itu adalah karena kemaha-adilanNya, dan sama sekali Dia tidak zhalim terhadap hamba-hambaNya. Sebab Allah telah memberikan peringatan dan ancaman kepada mereka, telah menjelaskan jalan kebenaran dan jalan kesesatan bagi manusia. Akan tetapi mereka memilih jalan kesesatan, maka mereka tidak akan mempunyai alasan di hadapan Allah Subhannahu wa Ta’ala untuk membantah keputusanNya.

Andaikata kita menganut pendapat bathil ini, niscaya sia-sialah firman Allah Ta’ala:
“(Kami utus mereka) sebagai rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisa’: 165).

Dalam ayat ini Allah Subhannahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa tidak ada balasan lagi bagi manusia setelah diutusnya para rasul, karena sudah jelas hujjah Allah atas mereka. Maka seandainya masalah qadar bisa dijadikan alasan bagi mereka, tentu alasan ini akan tetap berlaku sekalipun sesudah diutusnya para rasul. Karena qadar (takdir) Allah sudah ada sejak dahulu sebelum diutusnya para rasul dan tetap ada sesudah diutusnya mereka.

Dengan demikian pendapat ini adalah bathil karena tidak sesuai dengan nash dan kenyataan, sebagaimana telah kami uraikan dengan contoh-contoh di atas.

Sanggahan Atas Pendapat KeDua

Adapun pendapat kedua, yaitu pendapat golongan yang ekstrim dalam menetapkan kemampuan manusia, maka pendapat inipun bertentangan dengan nash dan kenyataan. Sebab banyak ayat yang menjelaskan bahwa kehendak manusia di bawah (tidak lepas dari) kehendak Allah Subhannahu wa Ta’ala. Firman Allah:
“(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (At-Takwir: 28-29).

“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali ti-dak ada pilihan bagi mereka.” (Al-Qashash: 68).

“Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (Surga), dan menunjuki orang yang dikehen-dakiNya kepada jalan yang lurus (Islam).” (Yunus: 25).

Mereka yang menganut pendapat ini sebenarnya telah mengingkari salah satu aspek dari rububiyah Allah, dan berprasangka bahwa ada dalam kerajaan Allah Subhannahu wa Ta’ala ini apa yang tidak dikehendaki dan tidak diciptakan-Nya. Padahal Allah-lah yang menghendaki segala sesuatu, menciptakannya dan menentukan qadar (taqdir)nya.

Sekarang, kalau semuanya kembali kepada kehendak Allah dan segalanya berada di Tangan Allah, lalu apakah jalan dan upaya yang akan ditempuh seseorang apabila dia telah ditakdirkan Allah tersesat dan tidak mendapat petunjuk?

Jawabnya: bahwa Allah Subhannahu wa Ta’ala menunjuki orang-orang yang patut mendapat petunjuk dan menyesatkan orang-orang yang patut menjadi sesat. Firman Allah:
“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (As-Shaff: 5).

“(Tetapi) karena mereka melanggar janji-nya, Kami kutuk mereka dan Kami jadikan hati mereka keras membatu, mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya.” (Al-Maidah: 13).

Di sini Allah menjelaskan bahwa Dia tidak menyesatkan orang yang sesat kecuali disebabkan oleh dirinya sendiri. Dan sebagaimana telah kami terangkan tadi bahwa manusia tidak dapat mengetahui apa yang telah ditakdirkan oleh Allah untuk dirinya. Karena dia tidak mengetahui takdirnya kecuali apabila sudah terjadi, maka dia tidak tahu apakah dia ditakdirkan Allah menjadi orang yang tersesat atau menjadi orang yang mendapat petunjuk.

Kalau begitu, mengapa jika seseorang menempuh jalan kesesatan lalu berdalih bahwa Allah Subhannahu wa Ta’ala telah menghendakinya demikian? Apa tak lebih patut baginya menempuh jalan kebenaran kemudian mengatakan bahwa “Allah Subhannahu wa Ta’ala telah menunjukkan kepadaku jalan kebenaran?”.

Pantaskah dia menjadi seorang jabari (Jabari, ialah orang yang berpendapat bahwa manusia itu terpaksa dalam perbuatannya, tidak mempunyai kehendak dan keinginan ) kalau tersesat dan qadari (Qadari, ialah orang yang berpendapat bahwa manusia memiliki kebebasan dalam perbuatannya dan mengingkari adanya takdir ) kalau berbuat kebaikan?

Sungguh tak pantas bagi seseorang menjadi jabari ketika berada dalam kesesatan dan kemaksiatan, kalau ia tersesat atau berbuat maksiat kepada Allah dia mengatakan: “Ini sudah takdirku, dan tak mungkin aku dapat keluar dari ketentuan dan takdir Allah”; tetapi ketika berada dalam ketaatan dan memperoleh taufik dari Allah untuk berbuat ketaatan dan kebaikan dia mengatakan: “Ini kuperoleh dari diriku sendiri.” Dengan de-mikian dia menjadi qadari dalam segi ketaatan dan menjadi jabari dalam segi kemaksiatan.

Ini tidak boleh sama sekali, sebab sebe-narnya manusia mempunyai kehendak dan kemampuan.
Masalah hidayah sama halnya dengan masalah rizki dan menuntut ilmu. Sebagai-mana kita semua tahu bahwa manusia telah ditentukan rizki yang menjadi bagiannya. Namun demikian dia tetap berusaha untuk mencari rizki ke kanan dan ke kiri, di daerahnya sendiri atau di luar daerahnya. Tidak duduk saja di rumah seraya berkata: “Kalau sudah ditakdirkan rizkiku tentu akan datang dengan sendirinya.” Bahkan dia akan berusaha untuk mencari rizki tersebut. Padahal rizki ini disebutkan bersamaan dengan amal perbuatan, sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi Shalallaahu alaihi wasalamyang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud Radhiallaahu anhu, “Sesungguhnya kalian ini dihimpunkan kejadiannya dalam perut ibu selama empat puluh hari berupa air mani, kemudian berubah menjadi segumpal darah selama empat puluh hari pula, kemudian berubah menjadi segumpal daging selama empat puluh hari pula, lalu Allah mengutus seorang malaikat yang diberi tugas untuk mencatat empat perkara, yaitu: rizkinya, ajalnya, amal perbuatannya dan apakah termasuk orang celaka atau bahagia.”

Jadi rizki ini pun telah dicatat seperti halnya amal perbuatan, baik ataupun buruk, juga telah dicatat.
Kalau begitu, mengapa Anda pergi ke sana kemari untuk mencari rizki dunia tetapi tidak berbuat kebaikan untuk mencari rizki akhirat dan mendapatkan kebahagiaan Surga? Padahal kedua-duanya adalah sama, tidak ada perbedaanya.

Jika Anda mau berusaha untuk mencari rizki dan untuk mempertahankan kelangsungan hidup Anda, sehingga kalau Anda sakit pergi ke manapun mencari dokter ahli yang dapat mengobati penyakit Anda, padahal Anda tahu kalau ajal telah ditentukan, tidak akan dapat bertambah maupun berkurang, Anda tidak bersikap pasrah sambil berkata: “Sudahlah aku tetap tinggal di rumah saja meski menderita sakit, karena kalaupun aku ditakdirkan panjang umur aku akan tetap hidup.” Bahkan Anda berusaha sekuat tenaga untuk mencari dokter yang ahli, yang sekiranya dapat menyembuhkan penyakit Anda dengan takdir Allah. Jika demikian, mengapa usaha Anda di jalan akhirat dan dalam amal shalih tidak seperti usaha Anda untuk kepentingan dunia?

Sebagaimana telah kami kemukakan bahwa masalah qadar adalah rahasia Allah yang tersembunyi, tak mungkin Anda dapat mengetahuinya. Sekarang Anda berada di antara dua jalan; jalan yang membawa Anda kepada keselamatan, kebahagiaan, kedamaian dan kemuliaan; dan jalan yang dapat membawa Anda kepada kehancuran, penyesalan dan kehinaan. Sekarang Anda sedang berdiri di antara ujung kedua jalan tersebut dan bebas untuk memilih, tak ada seorangpun yang akan merintangi Anda untuk melalui jalan yang kanan atau yang kiri. Anda dapat pergi ke manapun sesuka hati Anda. Lalu mengapa Anda memilih jalan kiri (sesat) kemudian berdalih bahwa “Itu sudah takdirku”? Apa tidak lebih patut jika Anda memilih jalan kanan dan mengatakan bahwa “Itulah takdirku”?

Untuk lebih jelasnya, apabila Anda mau bepergian ke suatu tempat dan di hadapan Anda ada dua jalan. Yang satu mulus, lebih pendek dan lebih aman; sedang yang kedua rusak, lebih panjang dan mengerikan. Tentu saja Anda akan memilih jalan yang mulus, yang lebih pendek dan lebih aman, tidak memilih jalan yang tidak mulus, tidak pendek dan tidak aman. Ini berkenaan dengan jalan yang visual, begitu pula dengan yang non-visual, sama saja dan tidak ada bedanya. Namun kadangkala hawa nafsulah yang memegang peran dan menguasai akal. Padahal, sebagai seorang mukmin seyogyanya akalnyalah yang harus lebih berperan dan menguasai hawa nafsunya. Jika orang meng-gunakan akalnya, maka akal itu -menurut pengertian yang sebenarnya- akan melindungi pemiliknya dari yang membahayakan dan membawanya kepada yang bermanfaat dan membahagiakan.

Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa manusia mempunyai kehendak dan pilihan dalam perbuatan yang dilakukannya secara sadar, bukan terpaksa. Kalau manusia berbuat dengan kehendak dan pilihannya untuk kepentingan dunia, maka diapun begitu pula dalam usahanya menuju akhirat. Bahkan jalan menuju akhirat lebih jelas. Karena Allah Subhannahu wa Ta’ala telah menjelaskannya dalam Al-Qur’an dan melalui sabda RasulNya Shalallaahu alaihi wasalam, maka jalan menuju akhirat tentu saja lebih jelas dan lebih terang daripada jalan untuk kepentingan dunia.

Namun, kenyataannya, manusia mau berusaha untuk kepentingan dunia yang tidak terjamin hasilnya tapi meninggalkan jalan menuju akhirat yang telah terjamin hasilnya dan diketahui balasannya berdasarkan janji Allah Subhannahu wa Ta’ala, dan Allah Subhannahu wa Ta’ala tidak akan menyalahi janjiNya.

Pembaca yang budiman.
Inilah yang menjadi ketetapan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan inilah yang menjadi aqidah serta madzhab mereka, yaitu bahwa manusia berbuat atas dasar kemauannya dan berkata menurut keinginannya, tetapi keinginan dan kemauannya itu tidak lepas dari kemauan dan kehendak Allah Ta’ala Dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani bahwa kehendak Allah tidak lepas dari hikmah kebijaksanaanNya, bukan kehendak mutlak dan absolut, tetapi kehendak yang senantiasa sesuai dengan hikmah kebijaksanaanNya. Ka-rena di antara asma Allah adalah Al-Hakim yang artinya Pemutus Yang Bijaksana, yang memutuskan segala sesuatu dan bijaksana dalam keputusanNya.

Allah dengan sifat hikmahNya, menentukan hidayah bagi siapa yang dikehendakiNya yang menurut pengetahuanNya menginginkan al-haq dan hatinya berada dalam istiqamah. Dan dengan sifat hikmahNya pula, Dia menen-tukan kesesatan bagi siapa yang suka akan kesesatan dan hatinya tidak senang dengan Islam. Sifat hikmah Allah tidak dapat menerima bila orang yang suka akan kesesatan termasuk dalam golongan orang-orang yang mendapat petunjuk, kecuali jika Allah memperbaiki hatinya dan merubah kehendak-nya, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Namun, sifat hikmahNya menetapkan bahwa setiap sebab berkaitan erat dengan akibatnya.

Tingkatan Qadha Dan Qadar

Menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah, qadha’ dan qadar mempunyai empat tingkatan:

Pertama: Al-’Ilm (pengetahuan),
yaitu mengimani dan meyakini bahwa Allah Ta’ala Mahatahu atas segala sesuatu. Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, secara umum maupun terinci, baik itu termasuk perbuatanNya sendiri atau perbuatan makh-lukNya. Tak ada sesuatupun yang tersembunyi bagiNya.

Kedua: Al-Kitabah (penulisan)
yaitu mengimani bahwa Allah Subhannahu wa Ta’ala telah menuliskan ketetapan segala sesuatu dalam Lauh Mahfuzh yang ada di sisiNya.
Kedua tingkatan ini sama-sama dijelas-kan oleh Allah dalam firmanNya:

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (Al-Hajj: 70).

Dalam ayat ini disebutkan lebih dahulu bahwa Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi, kemudian dikatakan bahwa yang demikian tertulis dalam sebuah kitab yaitu Lauh Mahfuzh.

Sebagaimana pula dijelaskan oleh Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam dalam sabdanya, “Pertama kali tatkala Allah menciptakan qalam (pena), Dia firmankan kepadanya, ‘Tulislah!’ Qalam itu berkata, ‘Ya Tuhanku, apakah yang hendak kutulis?’ Allah berfirman, ‘Tulislah apa saja yang akan terjadi!’ Maka seketika itu bergeraklah qalam itu menulis segala yang akan terjadi hingga hari Kiamat.”

Ketika Nabi Shalallaahu alaihi wasalam ditanya tentang apa yang hendak kita perbuat, apakah sudah ditetapkan atau tidak? Beliau menjawab: “Sudah ditetapkan.”
Dan ketika beliau ditanya: “Mengapa kita mesti berusaha dan tidak pasrah saja dengan takdir yang sudah tertulis?”, beliau pun men-jawab: “Berusahalah kalian, masing-masing akan dimudahkan menurut takdir yang telah ditentukan baginya.” Kemudian beliau men-sitir firman Allah Subhannahu wa Ta’ala :

“Adapun orang yang memberikan (harta-nya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membe-narkan adanya pahala yang terbaik, maka Kami akan memudahkan baginya (jalan) yang mudah. Sedangkan orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan adanya pahala yang terbaik, maka Kami akan memudahkan baginya (jalan) yang sukar.” (Al-Lail: 5-10).

Oleh karena itu, hendaklah Anda berusaha, sebagaimana yang diperintahkan Nabi Shalallaahu alaihi wasalam kepada para sahabat. Anda akan dimudahkan menurut takdir yang telah ditentukan Allah.

Ketiga: Al-Masyi’ah (kehendak).
Artinya, bahwa segala sesuatu yang terjadi, atau tidak terjadi, di langit dan di bumi, adalah dengan kehendak Allah Subhannahu wa Ta’ala. Hal ini dinyatakan jelas dalam Al-Qur’an Al-Karim. Dan Allah telah menetapkan bahwa apa yang diperbuatNya adalah dengan kehendakNya, serta apa yang diperbuat para hambaNya juga dengan kehendakNya.
Firman Allah Subhannahu wa Ta’ala :

“(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (At-Takwir: 28-29).
“Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya.” (Al-An’am: 112).

“Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendakiNya.” (Al-Baqarah: 253).
Dalam ayat-ayat tersebut Allah menjelas-kan bahwa apa yang diperbuat manusia terjadi dengan kehendakNya.
Dan banyak pula ayat-ayat yang menunjukkan bahwa apa yang diperbuat Allah adalah dengan kehendakNya. Seperti firman Allah Subhannahu wa Ta’ala :
“Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk (bagi)nya.” (As-Sajdah: 13).
“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu.” (Huud: 118).

Dan banyak lagi ayat-ayat yang mene-tapkan kehendak Allah dalam apa yang diperbuatNya.
Oleh karena itu, tidaklah sempurna keimanan seseorang kepada qadar (takdir) kecuali dengan mengimani bahwa kehendak Allah Subhannahu wa Ta’ala meliputi segala sesuatu. Tak ada yang terjadi atau tidak terjadi kecuali dengan kehendakNya. Tidak mungkin ada sesuatu yang terjadi di langit ataupun di bumi tanpa dengan kehendak Allah Subhannahu wa Ta’ala .

Keempat: Al-Khalq (penciptaan).
Yaitu, mengimani bahwa Allah Subhannahu wa Ta’ala Pencipta segala sesuatu. Apa yang ada di langit dan di bumi Penciptanya tiada lain adalah Allah. Sampai yang dikatakan “mati” (tidak hidup), itupun diciptakan olah Allah. Firman Allah Subhannahu wa Ta’ala:
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (Al-Mulk: 2).

Jadi, segala sesuatu yang ada di langit ataupun di bumi Penciptanya tiada lain adalah Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Kita semua mengetahui dan meyakini bahwa apa yang terjadi dari perbuatan Allah adalah ciptaanNya. Seperti langit, bumi, gunung, sungai, matahari, bulan, bintang, angin, manusia dan hewan, kesemuanya adalah ciptaan Allah. Demikian pula apa yang terjadi untuk para makhluk ini, seperti: sifat, perubahan dan keadaan, itupun ciptaan Allah Subhannahu wa Ta’ala.

Akan tetapi mungkin saja ada orang yang merasa sulit memahami, bagaimana dapat dikatakan bahwa perbuatan dan perkataan yang kita lakukan dengan kehendak kita ini adalah ciptaan Allah?

Jawabnya: Ya, memang demikian. Sebab perbuatan dan perkataan kita ini timbul karena adanya dua faktor, yaitu; kehendak dan kemampuan. Apabila perbuatan manusia timbul karena kehendak dan kemampuannya, maka perlu diketahui bahwa yang menciptakan kehendak dan kemampuan manusia adalah Allah. Dan Siapa yang menciptakan sebab, Dialah yang menciptakan akibatnya.

Jadi, sebagai argumentasi bahwa Allah-lah yang menciptakan perbuatan manusia yaitu bahwa apa yang diperbuat manusia itu timbul karena dua faktor, yaitu; kehendak dan kemampuan. Andaikata tidak ada kehendak dan kemampuan, tentu manusia tidak akan berbuat. Karena andaikata dia menghendaki, tetapi tidak mampu, tidak akan ia perbuat. Begitu pula andaikata dia mampu, tetapi tidak menghendaki, tidak akan terjadi perbuatan itu. Jika perbuatan manusia itu terjadi karena adanya kehendak yang mantap dan kemampuan sempurna, sedangkan yang menciptakan kehendak dan kemampuan tadi pada diri manusia adalah Allah, maka dengan cara ini dapat kita katakan bahwa Allah-lah yang menciptakan perbuatan manusia.

Akan tetapi, pada hakikatnya manusia yang berbuat. Manusialah yang bersuci, yang melakukan shalat, yang menunaikan zakat, yang berpuasa, yang melaksanakan ibadah haji dan umrah, yang berbuat kemaksiatan, yang berbuat ketaatan; hanya saja semua perbuatan ini ada dan terjadi dengan kehendak dan kemampuan yang diciptakan oleh Allah Subhannahu wa Ta’ala . Dan alhamdulillah hal ini sudah cukup jelas.

Keempat tingkatan yang disebutkan tadi wajib kita tetapkan untuk Allah Subhannahu wa Ta’ala. Dan hal ini tidak bertentangan apabila kita katakan bahwa manusia sebagai yang berbuat atau pelaku perbuatan.

Seperti halnya kita katakan: “Api membakar”. Padahal yang menjadikannya dapat membakar tentu saja Allah Subhannahu wa Ta’ala. Api tidak dapat membakar dengan sendirinya, sebab seandai-nya api dapat membakar dengan sendirinya, tentu ketika Nabi Ibrahim p dilemparkan ke dalam api akan terbakar hangus. Akan tetapi, ternyata beliau tidak mengalami cedera sedikitpun, karena Allah telah berfirman kepada api itu:
“Hai api, jadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.” (Al-Anbiya: 69).

Sehingga Nabi Ibrahim Alaihissalam tidak terbakar, bahkan tetap dalam keadaan sehat wal ‘afiat.
Jadi api tidak dapat membakar dengan sendirinya, tetapi Allah-lah yang menjadikan-nya mempunyai kekuatan untuk membakar. Kekuatan api untuk membakar adalah sama dengan kehendak dan kemampuan dalam diri manusia untuk berbuat, tidak ada perbedaan-nya. Hanya saja, karena manusia mempunyai kehendak, perasaan, pilihan dan tindakan, maka secara hukum dan sebenarnya manusia dinyatakan sebagai yang berbuat. Dia akan mendapat balasan sesuai dengan apa yang diperbuatnya, karena dia berbuat menurut kehendak dan kemauannya sendiri.

Penutup

Sebagai penutup, kami katakan bahwa seorang mukmin harus ridha kepada Allah sebagai Tuhannya, dan termasuk kesempurnaan ridhanya yaitu mengimani adanya qadha’ dan qadar Allah serta meyakini bahwa dalam masalah ini tidak ada perbedaan antara amal yang dikerjakan manusia, rizki yang dia usahakan, dan ajal yang dia khawatirkan.

Kesemuanya adalah sama, sudah tertulis dan ditentukan. Dan setiap manusia dimudahkan menurut takdir yang ditentukan baginya. Semoga Allah Subhannahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk mereka yang dimudahkan untuk berbuat seperti perbuatan orang-orang yang mendapat kebahagiaan dan melimpahkan kepada kita kebaikan di dunia dan di akhirat.

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan seluruh sahabatnya.

Iklan

About admin

Jika kata tak lagi bermakna lebih baik diam. (Masih) belajar Islam yang lurus dan benar. Cuma numpang sebentar di dunia. Silahkan duduk mari bicara. Lihat semua pos milik admin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: