Mushaf ‘Uthmani

Selama pemerintahan `Uthman, yang dipilih oleh masyarakat melalui bai’ah () yang amat terkenal sebagai khalifah ketiga, umat Islam sibuk melibatkan diri di medan jihad yang membawa Islam ke utara sampai ke Azerbaijan dan Armenia. Berangkat dari suku kabilah dan provinsi yang beragam, sejak awal para pasukan tempur memiliki dialek yang berlainan dan Nabi Muhammad , di luar kemestian, telah mengajar mereka membaca AI-Qur’an dalam dialek masing-masing, karena dirasa sulit untuk meninggalkan dialeknya secara spontan. Akan tetapi sebagai akibat adanya perbedaan dalam menyebutkan huruf Al-Qur’an mulai menampakkan kerancuan dan perselisihan dalam masyarakat.

1. Sikap ‘Uthman terhadap Perselisihan Bacaan

Hudhaifa bin al-Yaman dari perbatasan Azerbaijan dan Armenia, yang telah menyatukan kekuatan perang Irak dengan pasukan perang Suriah, pergi menemui ‘uthman, setelah melihat perbedaan di kalangan umat Islam di beberapa wilayah dalam membaca Al-Qur’an-Perbedaan yang dapat mengan­cam lahimya perpecahan. “Oh khalifah, dia menasihati, ‘Ambillah tindakan untuk umat ini sebelum berselisih tentang kitab mereka seperti orang Kristen dan Yahudi.’ “1

Adanya perbedaan dalam bacaan Al-Qur’an sebenarnya bukan barang baru sebab ‘umar sudah mengantisipasi bahaya perbedaan ini sejak zaman pemerintahannya. Dengan mengutus Ibn Mas’ud ke Irak, setelah ‘umar diberitahukan bahwa dia mengajarkan AI-Qur’an dalam dialek Hudhail2 (sebagaimana Ibn Mas’ud mempelajarinya), dan ‘umar tampak naik pitam:

AI-Qur’an telah diturunkan dalam dialek Quraish ( ), maka ajarkanlah menggunakan dialek Quraish, bukan menggunakan dialek Hudhail.3

Dalam masalah ini komentar Ibn Hajar dirasa sangat penting. “Bagi kalangan umat Islam bukan Arab yang ingin membaca Al-Qur’an,” katanya. “pilihan bacaan yang paling tepat adalah berdasarkan dialek Quraishi (  ). Sesungguhnya dialek Quraish merupakan pilihan terbaik bagi kalangan Muslim bukan Arab (sebagaimana semua dialek Arab sama susahnya bagi Mereka).4

Hudhaifa bin al-Yaman mengingatkan khalifah pada tahun 25 H dan pada tahun itu juga ‘Uthman menyelesaikan masalah perbedaan yang ada sampai tuntas. Beliau mengumpulkan umat Islam dan menerangkan masalah perbedaan dalam bacaan AI-Qur’an sekaligus meminta pendapat mereka tentang bacaan dalam beberapa dialek, walaupun beliau sadar bahwa beberapa orang akan menganggap bahwa dialek tertentu lebih unggul sesuai dengan afliasi kesukuan.5 Ketika ditanya pendapatnya sendiri beliau menjawab (sebagaimana diceritakan oleh ‘Ali bin Abi Talib),

“Saya tahu bahwa kita ingin menyatukan manusia (umat Islam) pada satu Mushaf (dengan satu dialek) oleh sebab itu tidak akan ada perbedaan dan perselisihan” dan kami menyatakan “sebagai usulan yang sangat baik).”6

Terdapat dua riwayat tentang bagaimana ‘uthman melakukan tugas ini. Sam di antaranya (yang lebih masyhur) beliau membuat naskah mushaf semata-mata berdasarkan kepada Suhuf yang disimpan di bawah penjagaan Hafsa, bekas istri Nabi Muhammad saw. riwayat kedua yang tidak begitu terkenal menyatakan, ‘uthman terlebih dahulu memberi wewenang pengum­pulan Mushaf dengan menggunakan sumber mana, sebelum membandingkannya dengan Suhuf yang sudah ada. Kedua-dua versi riwayat sepaham bahwa Suhuf yang ada pada Hafsa memainkan peranan penting dalam pembuatan Mushaf ‘Uthmani.

2. ‘Uthman Menyiapkan Mushaf Langsung dari Suhuf

Berdasarkan pada riwayat pertama `Uthman memutuskan berupaya dengan sungguh-sungguh untuk melacak Suhuf dari Hafsa, mempercepat menyusun penulisan, dan memperbanyak naskah. AI-Bara’ meriwayatkan,

Kemudian ‘Uthntan mengirim surat kepada Hafsa yang menyatakan. “Kirimkanlah Suhuf kepada kami agar kami dapat membuat naskah yang sempurna dan kemudian Suhuf akan kami kembalikan kepada anda.” Hafsa lalu mengirimkannya kepada ‘Uthman, yang memerintahkan Zaid bin Thabit, `Abdullah bin az-Zubair, Sa’id bin al-‘As, dan ‘Abdur­Rahman bin al-Harith bin Hisham agar memperbanyak salinan (duplicate) naskah. Beliau memberitahukan kepada tiga orang Quraishi, “Kalau kalian tidak setuju dengan Zaid bin Thabit perihal apa saja mengenai Al-Qur’an, tulislah dalam dialek Quraish sebagaimana AI­Qur’an telah diturunkan dalam logat mereka.” Kemudian mereka berbuat demikian, dan ketika mereka selesai membuat beberapa salinan naskah `Uthman mengembalikan Suhuf itu kepada Hafsa…7

3. ‘Uthman Membuat Naskah Mushaf Tersendiri

i. Pelantikan Sebuah Panitia yang Terdiri dari Dua belas Orang untuk Mengawasi Tugas Ini

Riwayat kedua adalah pendapat yang agak rumit dan kompleks. Ibn Sirin, (w. 110 H.) meriwayatkan,

Ketika ‘Uthman memutuskan untuk menyatukan ( ) Al-Qur’an, dia mengumpulkan panitia yang terdiri dari dua belas orang dari kedua-dua suku Quraish dan Ansar. Di antara mereka adalah Ubayy bin Ka’b dan Zaid bin Thabit.8

Identitas dua betas orang ini bisa dilacak melalui beberapa sumber. AI­Mu’arrij as-Sadusi menyatakan, “Mushaf yang baru disiapkan diperlihatkan pada (1) Sa’id bin al-‘As bin Sa’id bin al-‘As untuk dibaca ulang;”9 dia menambahkan (2) Nafi’ bin Zubair bin `Amr bin Naufal.10 Yang lain termasuk (3) Zaid bin Thabit, (4) Ubayy bin Ka’b, (5) ‘Abdullah bin az-Zubair, (6) ‘Abrur-Rahman bin Hisham, dan (7) Kathir bin Aflah.11 Ibn Hajar menyebutkan beberapa nama lain: (8) Anas bin Malik, (9) ‘ Abdullah bin ‘Abbas, dan (10) Malik bin Abi ‘Amir.12 Dan al-Baqillani menyebutkan selebihnya (11) ‘Abdullah bin `Umar, dan (12) `Abdullah bin ‘Amr bin al-‘As.13

ii. Penyusunan Sebuah Naskah Sendiri (Otonom)

‘Uthman memercayakan pada dua belas orang di atas tadi untuk mengurusi tugas ini dengan mengumpulkan dan menabulasikan AI-Qur’an, yang ditulis di atas kertas kulit pada zaman Nabi Muhammad   Sejarawan ulung, Ibn `Asakir (w. 571 H.) menyebutkan dalam bukunya History of Damascus (sejarah Damaskus):

Dalam ceramahnya ‘Uthman mengatakan, “Orang-orang telah berbeda dalam bacaan mereka, dan saya menganjurkan kepada siapa saja yang memiliki ayat-ayat yang dituliskan di hadapan Nabi Muhammad   14 hendaklah diserahkan kepadaku.” Maka orang-orang pun menyerahkan ayat-ayatnya, yang ditulis diatas kertas kulit dan tulang serta daun-daun, dan siapa saja yang menyumbang memperbanyak kertas naskah, mula­mula akan ditanya oleh `Uthman, “Apakah kamu belajar ayat-ayat ini (seperti dibacakan) langsung dari Nabi sendiri?” Semua penyumbang menjawab disertai sumpah,15 dan semua bahan yang dikumpulkan telah diberi tanda atau nama satu per satu yang kemudian diserahkan pada Zaid bin Thabit.16

Malik bin AN ‘Amir mengaitkan,

Saya salah seorang dari mereka yang menulis Mushaf (dari sumber yang tertulis), dan jika ada kontroversi mengenai ayat-ayat tertentu mereka akan bertanya, “Dari mana si penulis (di kertas kulit ini)? Bagaimana Nahi Muhammad   mengajar dia tentang ayat ini secara tepat?” Dan mereka akan meringkas tulisan, dan meninggalkan sebagian tempat kosong dan mengirimkannya kepada orang itu disertai pertanyaan untuk mengklarifikasi tulisannya.17

Oleh karena itu, naskah Mushaf independen itu muncul secara bertahap, dengan ke dua belas orang itu mengesampingkan semua ayat yang tidak pasti dalam ejaan konvensional, agar supaya ‘Uthman dapat melihatnya secara pribadi.18 Abu `Ubaid mencatat beberapa masalah yang ada. Salah satu yang tidak pasti contohnya dalam hal ejaan at-tabut, di mana menggunakan `t’ terbuka (maftuhah) ( ) atau tertutup (marbutah) (). Hani al-Barbari, seorang langganan ‘Uthman, meriwayatkan:

Saya bersama ‘Uthman tatkala panitia sedang sibuk membanding­bandingkan Mushaf. Dia mengutus saya agar menemui Ubayy bin Ka’b dengan tulang balm kambing yang bertulisan tiga kata yang berbeda dari tiga stirah yang berbeda-beda (masing-masing dari 2:259, 30:30, dan 86:17), memintanya agar mengecek kembali ejaan-ejaannya. Lalu Ubayy menuliskannya (dengan ejaan yang sudah diubah).

iii. ‘Uthman Mengambil Suhuf dari ‘A’ishah Sebagai Perbandingan

‘Umar bin Shabba, meriwayatkan melalui Sawwar bin Shabib, melaporkan:

Saya masuk ke kelompok kecil untuk bertemu dengan Ibn az-Zubair, lalu saya menanyakan kepadanya kenapa ‘Uthman memusnahkan semua naskah kuno AI-Qur,an…. Dia menjawab, “Pada zaman pemerintahan ‘Umar ada pembual bicara yang telah mendekati Khalifah memberitahukan kepadanya bahwa orang-orang telah berbeda dalam membaca AI-Qur’an. ‘Umar  menyelesaikan masalah ini dengan mengumpulknn semua salinan naskah AI-Qur’an dan menyamakan bacaan mereka, tetapi menderita yang sangat fatal akibat tikaman maut sebelum beliau dapat melakukan upaya lebih lanjut. Pada zaman pemerintahan ‘Uthman orang yang sama datang untuk mengingatkannya masalah yang sama di mana kemudian ‘Uthman memerintahkan untuk membuat Mushaf tersendiri (independent). Lalu dia mengutus saya menemui bekas istri Nabi Muhammad %%% , ‘A’ishah, agar mengambil kertas kulit (suhuf) yang Nabi Muhammad %%% sendiri telah mendiktekan keseluruhan Al-Qur’an. Mushaf yang dikumpulkan secara independent kemudian di dibandingkan dengan Suhuf ini, dan setelah melakukan koreksi terhadap kesalahan-kesalahan yang ada, kemudian ia menyuruh agar semua salinan naskah Al-Qur’an dimusnahkan.23

Walaupun riwayat ini dianggap lemah menurut ukuran para ahli hadith (traditionist), tapi ada gunanya dalam menyebutkan riwayat ini yang mene­rangkan pengambilan Suhuf yang ada di bawah pengawasan atau penjagaan ‘A’ishah.24 Riwayat di bawah ini bagaimanapun menguatkan riwayat sebelumnya. Ibn Shabba meriwayatkan dari ‘Harun bin ‘Umar, yang mengaitkan bahwa,

Ketika ‘Uthman hendak membuat salinan (naskah) resmi, dia meminta ‘A’ishah agar mengirimkan kepadanya kertas kulit (Suhuf) yang dibacakan oleh Nabi Muhammad %%%. yang disimpan di rumahnya. Kemudian dia menyuruh Zaid bin Thabit membetulkan sebagaimana mestinya, pada waktu itu beliau merasa sibuk dan ingin mencurahkan waktunya mengurus masyarakat dan membuat ketentuan hukum sesama mereka.25

Begitu juga [bn Ushta (w. 360 H./ 971 M.) melaporkan di dalam al­ Masahif, dalam penyelesaian masalah pembuatan naskah AI-Qur an tersendiri dengan menggunakan sumber utama, ‘Uthman mengutus seseorang ke rumah ‘A’ishah agar mengambil Suhuf Dalam usaha ini beberapa kesalahan telah terjadi dalam Mushaf yang kemudian ditashih sebagaimana mestinya.26

Dan riwayat-riwayat ini kita tahu bahwa ‘Uthman menyiapkan salinan Mushaf independent berdasarkan secara keseluruhannya pada sumber-sumber primer termasuk tulisan-tulisan sahabat ditambah dengan Suhuf dari ‘A’ishah.27

iv. ‘Uthman Mengambil Suhuf dari Hafsa Guna Melakukan Verifikasi

Ibn Shabba melaporkan,

Zaid bin Thabit berkata, “Ketika saya melakukan revisi Mushaf ‘Uthmani (Mushaf yang dibuat sendiri) saya temukan kekurangan satu ayat () kemudian saya mencarinya di kalangan kaum Muhajirin dan Ansar (Karena mereka itu yang menulis AI-Qur’an pada zaman Nabi Muhammad saw.), sehingga saya mendapatkannya dari Khuzaimah bin Thabit al-Ansari. Kemudian saya menuliskannya… Lalu saya merevisinya sekali lagi dan tidak menemukan sesuatu (yang meragukan). `Uthman kemudian mengutus menemui Hafsah minta agar meminjamkan Suhuf yang dipercayakan pada dirinya; Hafsah lalu memberikan setelah `Uthman berjanji pasti atau bernazar hendak mengembalikan. Dalam perbandingan kedua ayat ini, saya tidak melihat adanya perbedaan. Kemudian saya kembalikan pada ‘Uthman dan penuh kegembiraan, dia menyuruh orang-orang membuat duplikat naskah dari Mushaf itu.”

Jadi pada waktu itu naskah yang dibuat sendiri (independen) telah dibandingkan dengan Suhuf resmi yang sejak semula ada pada Hafsah.

Seseorang bisa jadi keheran-heranan mengapa khalifah ‘Uthman bersusah payah mengumpulkan naskah tersendiri (otonom) sedang akhimya juga dibandingkan dengan Suhuf juga. Alasannya yang paling mendekati kemungkinan barangkali sekadar upaya simbolik. Satu dasawarsa sebelumnya ribuan sahabat, yang sibuk berperang melawan orang-orang murtad di Yamamah dan di tempat lainnya, tidak bisa berpartisipasi dalam kompilasi Suhuf Untuk menarik lebih banyak kompilasi bahan-bahan tulisan, naskah ‘Uthman tersendiri (independen) memberi kesempatan kepada sahabat yang masih hidup untuk melakukan usaha yang penting ini.

Dalam keterangan di atas, tidak terdapat inkonsistensi di antara Suhuf dan Mushaf tersendiri (independen), dan dari dua kesimpulan yang luas ini terdapat: pertama, sejak awal teks AI-Qur’an sudah benar-benar kukuh dan tidak cair (sebagaimana sementara menuduh) dan rapuh sehingga abad ketiga; dan kedua, Metodologi yang dipakai dalam kompilasi AI-Qur’an pada zaman kedua pemerintahan sangat tepat dan akurat.

1. AI-Bukhari, Sahih, hadith no. 4987; Abu ‘Ubaid, FadA’il, hlm. 282. terdapat banyak lagi laporan tentang masalah ini.

2. Salah satu suku mayoritas di daratan Arabia pada zaman itu.
3. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 9, Kutipan Abu Dawud

4. lbid, ix: 27

5. Lihat Abi Dawud, al -Masahif, hlm. 22. Dalam kejadian ini banyak perbedaan pendapar telah diberikan dalam menentukan tahun yang sebenar dari tahun 25-30 Hijrah. Saya mengadopsi pendirian Ibn Hajar. Lihat as Suyuti, al-Itqan, I : 170.

6. Ibn Abi Dawud, al-Magahif, hlm. 22. Lihat juga Ibn Hajar, Farhul Bari, x: 402.

7. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: ii, hadith no. 4987; Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 19-20; Abu ‘Ubaid, Fada’il, hlm. 282

8. Ibn Sa’d, Tabaqat, iii/2:62. perlu dicatat bahwa Ibn Sirin menggunakan kata (mengumpulkan).

9. AI-Mu’arrij as-Sadusi, Kitab Hadhfin min Nasb Quraish, hlm. 35.
10. Ibid,hlm 42.

11. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 20, 25-26.
12. lbn Hajar, Fathur Bari, ix 19.

13. AI-Baqillani, al-Intisar (ringkasan), hlm. 358.

14. Penjelasan yang cukup detail tentang salah satu Mushaf pribadi (lihat hlm. 100-2) yang mengemukakan bahwa kedua belas orang tersebut terbagi kepada Iebih dari satu kelompok, yang setiap dari mereka membaca (mendiktekan) dan bekerja secara independen.

15. Ibn Manzur, Mukhtasr Tarikh Dimashq, xvi: 17l-2; lihat juga Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 23-24.

16. A. Jeffery (Penyunting), Muqaddimatan, hlm. 22. Tanda (seperti nama penulis) mungkin bisa disimpulkan dari pernyataan Malik di kutipan selanjutnya.

17. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 21-22
18. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 19, 25.
19. Qur’an 2:259.

20. Qur’an 30:30
21. Qur’an 86:17
22. Abu ‘ Ubaid, Fada’il, hlm. 286-7.

23. Ibn Shabba, Tarikh al-Madinah, hlm. 990-991; lihat juga as-Suyuti, al-Itqan, ii:272, Mengutip buku Ibn Ushta, al-Masahif.

24. Salah satu perawi di riwayat ini sangat rendah reputasinya ( %%% : matruk).
25. Hat Shabba, Tarikh al-Madinah, hlm. 997

26. As-Suyuti, al-Itqan, ii: 272

27. Ini boleh disimpulkan dalam hadith berikut ini yang diriwayatkan oleh al-Bukhari,

– Zaid bin Thabit melaporkan bahwa ketika dia mengumpulkan AI-Qur’an pada zaman pemerintahan Abu Bakr, dia tidak dapat mendapatkan dua ayat terakhir surah al-Bara’ah sehingga dia bertemu dengan Abu Khuzaimah al-Ansari, dengan tiada seorang pun yang memiliki salinan utama (tangan pertama). Suhuf yang sudah Iengkap disimpan di bawah penjagaan Abu Bakr sampai dia meninggal … (al-Bukhari, sahih, hadith no. 4986)

– Kharijah bin Zaid bin Thabit meriwayatkan dari bapaknya Zaid bin Thabit, ” ketika kami menulis Mushaf, saya tidak menemukan satu ayat (no. 23 dari surah al-Ahzab) yang selalu saya dengar dari bacaan Rusulullah saw. Kami mencarinya sehingga kami dapatkan dari Khuzaimah bin Thabit al-.Ansari, lalu kami masukkan ke dalam surah yang tepat dalam Mushaf.” (al-Bukhari. Sahih, Hadith no. 4988).

Kedua hadith ini menyebabkan kekeliruan di kalangan ilmuwan, disebabkan kemungkinan besar ada dua nama. Perlu dicatat bahwa dua nama ini berbeda: Khuzaimah dan Abu Khuz.aimah. Sekarang jika kita baca hadith-hadith ini dengan teliti, kita akan melihat bahwa Zaid menggunakan kata Suhuf untuk kompilasi AI-Qur’an pada zaman pemerintahan Abu Bakr, dan kala Mushaf atau Masahif (kata majemuk untuk Mushaf) digunakan di bawah bimbingun `Uthman. Oleh karena itu, kila mungkin bisa menyimpulkan bahwa kedua ini conloh koleksi yang berbeda. (Perlu dicatat hadith nomor 4986 menerangkan bagian kompilasi AI-Qur’an di masa Abu Bakr dan nomor 4989 menerangkan pada zaman ‘Uthman.). Jika kita pertimbangkan kompilasi kedua adalah tugas Zaid dalam mempersiapkan Mushaf independent, maka semuanya jadi jelas. Di satu segi, kalau kita asumsikan bahwa Zaid hanya membuat duplikat salinan untuk ‘ Uthman dari suhuf Abu Bakr, bukan salinan sendiri, maka kita harus berhadapan dengan pertanyaan kenapa Zaid tidak bisa menemukun ayat no. 23 dari surah al-Ahzab- sedangkan semua ayat seharusnya sudah ada di hadapannya. Yang menarik juga bahwa Zaid menggunakan kata ganti single orang pertama (saya) dalam riwayat pertama dan menggunakan kata ganti banyak orang pertama (kami) pada riwayat kedua, yang menunjukkan perbuatan kelompok di dalam riwayat kedua. Semua ini menguatkan pandangan yang berpendapat bahwa kompilasi kedua sesungguhnya menunjukkan usaha yang lain (independen).

28. Ibn Shabba, Tarikh al-Madinah, hlm. 1001-2.

***

4. Penentuan dan Pendistribusian Mushaf ‘Uthmani

i. Naskah Terakhir Dibacakan di Depan Para Sahabat

Naskah penentuan ini, ketika diverifikasi dan dicek dengan Suhuf yang dari Hafsa, lalu,

“dibacakan kepada sahabat di depan ‘Uthman.”29 Dengan selesainya pembacaan itu, dia mengirimkan duplikat naskah Mushaf untuk disebar luaskan ke seluruh wilayah negara Islam. Perintah ‘Uthman yang umum kepada orang­orang “Tulislah Mushaf” terkesan bahwa dia menghendaki para sahabat mem’buat duplikat naskah Mushaf untuk kegunaan mereka masing-masing.

ii. Jumlah Naskah Mushaf yang Telah disahkan

Berapakah banyak Naskah yang telah dibagi-bagikan oleh ‘Uthman? Menurut beberapa laporan, ada empat: Kufah, Basra, dan Suriah, yang satu lagi disimpan di Madinah; Riwayat lain menambahkan Mekah, Yaman dan Bahrain. Ad-Dani lebih cenderung menerima laporan (riwayat) pertama.30 Profesor Shauqi Daif percaya bahwa delapan naskah telah dibuat, karena ‘Uthman mengambil satu untuk din sendiri.31 Untuk menguatkan pendapat ini, kita tahu bahwa Khalid bin Ilyas telah membuat perbandingan antara Mushaf yang disimpan ‘Uthman dan yang disediakan untuk Madinah,32 oleh karena itu, delapan tempat untuk naskah mushaf kelihatannya lebih masuk akal. AI­Ya’qubi, seorang sejarawan Syi’ah, berkata bahwa ‘Uthman mengirim Mushaf ke Kufah, Basra, Madinah, Mekah, Mesir, Suriah, Bahrain, Yaman, dan al­Jazirah, kesemuanya itu adalah sembilan.33 Ini sebagai bukti bahwa selama proses penyiapan naskah Mushaf ini, beberapa orang menulis beberapa naskah lagi untuk kegunaan mereka masing-masing. Studi tentang salah satu naskah yang tidak resmi akan dipaparkan pada halaman 100-2 (tlg. sesuaikan)

iii. ‘Uthman Membakar Seluruh Manuskrip yang Lain

Dengan selesainya tugas ini, tinta di atas naskah terakhir telah kering, dan duplikat naskah pun telah dikirimkan, maka tidak dirasa perlu lagi adanya fragmentasi tulisan Al-Qur’an bergulir di tangan orang-orang. Oleh karena itu, semua pecahan tulisan (fragmentasl) Al-Qur’an telah dibakar. Mus’ab bin Sa’d menyatakan bahwa masyarakat dapat menerima keputusan ‘Uthman; setidak­nya tak terdengar kata-kata keberatan.34 Riwayat lain mengukuhkan kesepakatan ini, termasuk Ali bin Abi Talib berkata,

Demi Allah, dia tidak melakukan apa-apa dengan pecahan-pecahan (Mushaf) kecuali dengan persetujuan kami semua (tidak ada seorang pun di antara kami yang membantah).

iv. ‘Uthman Mengirim Pembaca Al-Qur’an dilengkapi Dengan Mushaf

Tiada naskah yang dikirim tanpa seorang qari’ ( : Pembaca). Ini termasuk Zaid bin Thabit ke Madinah, ‘Abdullah bin as-Sa’ib ke Makkah, al­ Mughirah bin Shihab ke Suriah, ‘Amir bin ‘Abd Qais ke Basra dan Abu ‘Abdur-Rahman as-Sulami ke Kufah. ‘Abdul-Fattah al-Qadi berkata:

“Setiap ilmuwan (‘ulama’) ini membacakan kepada masyarakat kota masing-masing menurut tata cara seperti apa yang mereka pelajari secara autentik, bermacam-macam riwayat sampai ke Nabi Muhammad , sehingga riwayat-riwayat yang ada satu dengan lainnya sama dan sesuai dengan kerangka konsonan Mushaf. Cara bacaan yang sampai hanya melalui satu jalur (atau mencakup ayat-ayat yang telah dimansukh sewaktu Nabi Muhammad   masih hidup) kesemuanya dihilangkan atau dikesampingkan. Pengiriman para pembaca dilengkapi dengan Mushaf berarti membatasi kemungkinan-kemungkinan bahwa yang sesuai dengan skrip konsonan (yang diakui) hanya terbatas pada hal-hal yang telah dinyatakan autentik dan mendapat pengukuhan atau pengakuan … Pengiriman seorang ulama dengan sebuah Mushaf oleh karenanya, menerangkan bahwa bacaan yang betul adalah berdasarkan sistem belajar secara langsung dengan guru yang jalur transmisinya sampai ke Nabi Muhammad , tidak hanya tergantung kepada skrip atau ejaan yang umum dipakai.”37

Naskah Mushaf `Uthmani yang terdahulu hanya terdapat huruf-huruf konsonan (karakter), tidak ada huruf vokal (baris) dan titik,38 seperti digambarkan pada gambar 7.1 diambil dari salah satu Mushaf yang ditulis dalam skrip Hejazi.39

Naskah ini bisa dibaca salah dalam berbagai macam cara.40 Di dalam melakukan pengumpulan yang kedua, tujuan pertama ‘Uthman adalah ingin menutup semua celah-celah perbedaan dalam bacaan Al-Qur’an; hanya dengan mengirim Mushaf atau mengirimkannya sekalian dengan seorang pembaca akan memberikan kebebasan juga untuk menggunakan satu cara bacaan, yang akhirnya bertentangan dengan penyatuan yang dikehendaki oleh ‘Uthman di dalam masyarakat. Oleh karena itu, adanya kesatuan secara total yang ada pada teks AI-Qur’an di seluruh dunia selama empat belas abad, di pelbagai negara dengan warna-warni sekte yang ada, merupakan bukti keberhasilan ‘Uthman yang tak mungkin tersaingi oleh siapa pun dalam menyatukan umat Islam pada satu teks.

 

v. Perintah ‘Uthman dengan Mushaf yang Dikirimkan

1. ‘Uthman memerintahkan agar semua Mushaf milik pribadi yang berbeda dengan Mushaf miliknya harus dibakar, jika gagal dalam menghapuskan Mushaf-Mushaf ini maka akan dapat memicu munculnya perselisihan kembali. Anas bin Malik melaporkan,

Mengirimkan setiap pasukan tentara Muslim dengan satu Mushaf, lalu ‘Uthman menginstruksikan mereka agar membakar semua naskah Mushaf yang berbeda dengan Mushafnya (‘Uthmani).

Pernyataan Anas hanya merupakan satu skenario dari sekian banyak yang lain. Menurut riwayat lain, `Uthman memerintahkan untuk membakar atau merobek-robek semua naskah yang terdahulu.42 Dalam riwayat lain, dengan menghapus tintanya. Abu Qilaba menyatakan, “‘Uthman menulis surat ke setiap pusat (center), ‘Saya… telah menghapus apa yang saya miliki (naskah), sekarang hapuslah kepunyaan kalian’.”43 Suatu ketika, satu delegasi dari Irak pergi menuju Madinah dan mengunjungi anak Ubayy, untuk memberitahukan bahwa mereka berjalan dengan susah payah hanya untuk melihat Mushaf Ubayy. Dia menjawab bahwa ‘Uthman sudah mengambilnya. Dia pikir mungkin dia enggan menjawab, lalu mereka bertanya lagi dan temyata dia mengulangi jawaban yang sama.44

Ibn Hajar berkata walaupun sebagian besar laporan menggunakan kata at-tahriq ( : bakar), semua kemungkinan harus dipertimbangkan. Nasib setiap pecahan tulisan naskah tergantung kepada tiap individu yang memiliki: apakah hendak di hapus, dibakar, atau dirobek-robek.45 Saya percaya ada kemungkinan lain. Beberapa orang mungkin memilih untuk membandingkan Mushaf pribadi mereka dengan Mushaf ‘Uthmani dan, saat terlihat adanya perbedaan, mereka mengubahnya. Pemyataan ‘Abdul-A’la bin Hakam al-Kitabi memberi ciri-ciri seperti berikut ini,

“Ketika masuk ke rumah Abu Musa al-Ash’ari, saya menjumpai dia ditemani oleh Hudaifa bin al-Yamn sedang ‘Abdullah bin Mas’ud di atas lantai… Mereka berkumpul mengelilingi Mushaf yang dikirim oleh ‘Uthman, dengan membawa Mushaf mereka masing-masing secara teratur untuk membetulkannya berdasarkan kepada Mushaf `Uthmani. Abu Musa berkata kepada mereka, ‘Apa saja yang kamu dapat dalam Mushaf saya dan terdapat pada Mushaf `Uthmani (tambahan), maka jangan dibuang, dan jika anda jumpai ada yang tertinggal dari Mushaf saya, maka tuliskanlah.”46

2. Perintah kedua `Uthman adalah agar tidak membaca sesuatu yang bertentangan dengan skrip Mushaf ‘Uthmani. Kesepakatan sebagian besar (unanimous) untuk mengubah semua naskah telah melahirkan skrip dan ejaan Mushaf ‘Uthmani sebagai standard baru; dan sejak saat itu setiap Muslim yang belajar Al-Qur’an harus sesuai dengan teks Mushaf ‘Uthmani. Apabila ada orang yang belajar bertentangan dengan Mushaf ‘Uthmani, maka dia tidak boleh membaca atau mengajarkannya dengan cara yang berbeda.47 Jadi apa yang dia bisa lakukan? Solusi yang paling mudah, dia menghadiri group pembaca yang resmi, untuk mempelajari AI-Qur’an berdasarkan kepada kondisi yang telah disediakan dan mendapatkan hak keistimewaan untuk mengajar dan membaca. Kesuksesan ‘Uthman yang tidak ada bandingannya dalam masalah ini adalah bukti positif bahwa upaya yang dilakukan telah memperharum suara masyarakat.

29. Ibn Kathir, Fada’il, vii: 450.

30. Ad-Dani, al-Muqni, hlm. 9; lihat juga Ibn Kathir (yang cenderung tujuh), Fada’il, vii: 445.
31. Shauqi Daif, Kitab as-Sab’a of lbn Mujahid, pendahuluan, hlm. 7.

32. Lihal hIm.110-112.

33. Al-Ya’qubi, Tarikh, ii: 170

34. Abu ‘Ubaid, Fada’il, hlm. 284; ad-Dani, al-Muqni’, hlm. 18.
35. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 22; lihat juga hlm. 12, 23 .

36. ‘Abdul-fattah al-Qadi, “al-Qira’at fi Na ar al-Mustashriqin wa al-Mulhidin’, Majallat al­Azhar, vo1.43/2, 1391 (1971). hlm. 175.

37. Salinan dalam bahasa Inggris (Indonesia) bukan kata demi kata, tetapi hanya dimaksudkan untuk menyampaikan poin-poin tentang riwayat.

38. Untuk gambaran yang Iebih detail tentang titik, lihat hlm. 150-156.

39. Beberapa Mushaf ‘Uthmani yang resmi pertama kali ditulis dalam skrip Hejazi dalam jumlah yang banyak. Banyak sekali sifat-sifat Mushaf ‘Uthmani di seluruh dunia (lihat hlm 315-8..). Dan sangat tidak mungkin untuk menkonfirmasikan atau menolak klaim Mushaf ‘Uthmani, sedangkan salinan itu sendiri tidak menyatakan apa-apa tentang hal ini, sifat-sifat seperti itu mungkin merefleksikan bahwa sebenarnya salinan itu disalin dari salah satu Mushaf yang dikirim oleh ‘Uthman.
40. Salah satu tuduhan adalah Mushaf ‘Uthmani yang tidak ada titik menyebabkan timbulnya perbedaan-perbedaan dalam bacaan Al-Qur’an. Lihat bab II untuk kajian lebih lengkap dalam masalah ini.

41. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 19-20; lihat juga al-Bukhsri, Sahih, Bib Jam’i Al-Qur’an, hadith no. 4987; Ibn Kathir, Fada’il, vii: 442.

42. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 20.
43. Ibid, ix: 21

44. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 25.
45. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 21.

46. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 35

47. Konsep ini akan lebih dijelaskan di dalam diskusi selanjutnya (bab 12)

***

5. Studi Tentang Mushaf ‘Uthmani

Keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah Kalamullah, dan sebagai sumber utama hukum perundang-undangan dan petunjuk untuk semua makhluk, merupakan dasar kepercayaan setiap Muslim. Pada zaman ‘Uthman, rasa kebanggaan terhadap Al-Qur’an itulah yang mendorong untuk mulai meneliti Mushaf secepatnya, melawat ke semua tempat yang menerima naskah dan melakukan pemeriksaan kata demi kata (huruf demi huruf), guna menyingkap perbedaan antara naskah-naskah yang telah dia kirim. Banyak karya tulis yang menyentuh tentang masalah ini, akan tetapi saya akan membatasi hanya kepada satu masalah.

Khalid bin Iyas bin Shakr bin Abi al-Jahm, dalam meneliti Mushaf milik `Uthman sendiri, mencatat bahwa naskah itu berbeda dengan Mushaf Madinah pada dua belas tempat.48  Untuk memberi gambaran tentang perbedaan ini, saya susun dalam table berikut ini .49

5. Studi Tentang Mushaf ‘Uthmani

Keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah Kalamullah, dan sebagai sumber utama hukum perundang-undangan dan petunjuk untuk semua makhluk, merupakan dasar kepercayaan setiap Muslim. Pada zaman ‘Uthman, rasa kebanggaan terhadap Al-Qur’an itulah yang mendorong untuk mulai meneliti Mushaf secepatnya, melawat ke semua tempat yang menerima naskah dan melakukan pemeriksaan kata demi kata (huruf demi huruf), guna menyingkap perbedaan antara naskah-naskah yang telah dia kirim. Banyak karya tulis yang menyentuh tentang masalah ini, akan tetapi saya akan membatasi hanya kepada satu masalah.

Khalid bin Iyas bin Shakr bin Abi al-Jahm, dalam meneliti Mushaf milik `Uthman sendiri, mencatat bahwa naskah itu berbeda dengan Mushaf Madinah pada dua belas tempat.48  Untuk memberi gambaran tentang perbedaan ini, saya susun dalam table berikut ini .49

Dengan jelas, naskah `Uthman miliki pribadi sama seperti Mushaf yang ada di tangan kita sekarang.53 Sedangkan dalam Mushaf Madinah terdapat sedikit perbedaan yang boleh kita simpulkan seperti berikut: (1) satu tambahan dalam ; (2) Tidak ada dalam ; (3) tidak ada dalam ; (4) ada dua dalam  ; (5) tidak ada   dalam ; (6) satu tambahan dalam ; (7) sebagai ganti … dan seterusnya. Semua perbedaan, yang hampir tiga belas huruf dalam 900 baris, tidak memengaruhi arti setiap ayat dan tidak membawa alternatif lain kepada arti semantik. Mereka juga tidak bisa disifatkan sebagai sikap tidak hati-hati. Zaid bin Thabit memegang teguh prinsip bahwa dalam setiap penemuan bacaan dalam berbagai naskah diperlukan kesahihan, dan status yang sama (equal status), dan kemudian meletakkannya dalam naskah yang berbeda.54 Memasukkan kedua-dua bacaan dalam halaman yang bersebelahan ini hanya akan membuat kebingungan; maka salah satu altematif adalah menempatkan salah satu dari bacaan itu di tepi untuk menunjukkan ayat yang kurang autentik. Dengan menempatkan bacaan-bacaan itu pada naskah yang berbeda maka dia mengakomodasikannya berdasarkan kesamaan istilah (equal term).

Pendekatan modern dalam mengkritik teks menghendaki agar ketika perbedaan muncul antara dua manuskrip yang sama statusnya, penyunting meletakkan salah satu darinya dalam bodi teks sedangkan yang lainnya diletakkan dalam catatan kaki. Metode ini walaupun bagaimana tidak adil, karena hal ini dapat mengurangi nilai naskah ke dua. Skim Zaid tampak lebih adil; dengan menyediakan beberapa naskah maka dia mengesampingkan kesimpulan bahwa bacaan ini atau itu lebih tinggi, dan memberikan penilaian pada setiap naskah secara adil.55

Banyak ilmuwan yang telah menguras waktu dan tenaga mereka dalam membandingkan Mushaf ‘Uthmani, melaporkan apa yang mereka dapatkan dengan ikhlas dan tidak menyembunyikan apa pun walau sedikit Abil Uarda, seorang sahabat terkenal, telah bekerja keras tentang perkara ini sebelum dia meninggal dunia pada dekade yang sama dengan pengiriman Mushaf, dan meninggalkan istrinya (janda) untuk menyampaikan penemuannya.56 Untuk memudahkan, saya telah menambah daftar tambahan.57 Tetapi penemuan mereka, ketika semuanya dikumpulkan sungguh sangat mengejutkan. Semua perbedaan yang terdapat dalam Mushaf Mekah, Madinah, Kufah, Basra, Suriah, dan Naskah induk Mushaf ‘Uthmani, melibatkan satu huruf, seperti: … dst. Kecuali hanya adanya (dia) dalam satu ayat yang artinya tidak terpengaruhi. Perbedaan ini tidak lebih dari empat puluh huruf terpisah di seluruh Mushaf enam ini.

Akhirnya kita bisa mengklarifikasikan bahwa kajian ilmuwan terdahulu ini hanya berlandaskan pada naskah Mushaf resmi, yang dikirim oleh ‘Uthman, atau duplikat naskah yang dibuat dan disimpan oleh para sahabat yang terkenal dan Ilmuwan ahli Al-Qur’an. Kajian mereka bukan penyelidikan tentang naskah pribadi yang disimpan oleh masyarakat luas (yang jumlahnya mencapai ribuan), karena Mushaf yang resmi itulah yang dijadikan sebagai ukuran (standar) dan bukan sebaliknya.

i. Studi Tentang Mushaf Malik bin Abi ‘Amir al-Asbahi

Di sini kita akan buat perbandingan antara Mushaf ‘Uthmani dan yang lainnya, naskah individu yang disimpan oleh ilmuwan yang terkenal. Malik bin Anas (94-179 H. / 712-795 M.) ketika Mushaf ini diserahkan ke muridnya58 dan menceritakan sejarahnya; Mushaf ini kepunyaan kakeknya, Malik bin Abi `Amir al-Asbahi (w. 74 H /693 M), murid Khalifah ‘Umar,59 yang menulisnya pada waktu ‘Uthman menyiapkan Mushafnya.60 Murid-murid Malik bin Anas mencatat sebagian ciri-cirinya:

  • Mushaf dihiasi dengan perak
  • Ia mengandung pemisah surah tinta berwarna hitam sepanjang penyambung yang dihiasi seperti rantai memanjang sepanjang garis.
  • Ia juga mempunyai pemisah ayat dalam benluk titik.61

Sesuai dengan penemuan ini, murid-murid itu membandingkan Mushaf Malik di satu sisi dengan Mushaf Madinah, Kufah, Basra, dan naskah utama Mushaf ‘Uthmani di sisi lainnya. Mushaf Malik, menurut mereka, berbeda dengan Mushaf Kufah dan Basra (dan Naskah utama Mushaf ‘Uthmani) dalam delapan tanda (karakter) dan dengan Mushaf Madinah hanya empat. Perbedaan ini disimpulkan di bawah ini.62

Dari carta ini kita catat bahwa Mushaf Malik tetap identik (sama) dengan Mushaf Madinah sampai surah 41; dari surah 42 dan berikutnya, Mushafnya sama dengan Mushaf ‘Uthmani, Kufa, dan Basra. Menjabat sebagai salah satu anggota panitia dua betas yang menuliskan Mushaf ‘Uthmani, Malik juga pada waktu yang sama menulis Mushaf ini untuk digunakan oleh dirinya sendiri. Menimbang daftar di atas tadi, kita dapat menyimpulkan bahwa dia telah kerja bersama-sama dengan kelompok yang menyiapkan Mushaf Madinah. Setelah selesai lima per enam Mushaf itu, dia pindah ke kelompok yang menyiapkan Mushaf Kufah dan Basra. Oleh karena itu, satu per enam sama dengan Mushaf ‘Uthmani, Kufah, dan Basra.

Ini membolehkan kita melihat beberapa pendapat tentang penyiapan naskah resmi: ini adalah usaha tim yang sebagian didiktekan dan sebagian lagi ditulis. Poin yang lebih menarik, menurut pendapat saya, inisiatif dan kecerdasan individu yang menulis naskah pribadinya. Kita tidak tahu secara betul bagai­mana naskah pribadi ini ditulis; dalam pernyataan yang ditulis oleh Ibn Shabba,

“‘Uthman memerintahkan orang-orang untuk menulis Mushaf ”.

Ini bisa diartikan bahwa masyarakat diberikan dorongan untuk menulis naskah untuk digunakan oleh mereka masing-masing.

Mushaf Malik bin Abi ‘Amir al-Asbahi mempunyai pemisah surah dan ayat, sedangkan Mushaf ‘Uthmani tidak. Kekurangan ini mungkin dengan sengaja sebagai taktik bagi Khalifah, mungkin untuk meyakinkan bahwa teks Al-Qur’an bisa diberi lebih dari satu’cara pemisahan ayat, atau sebagai masalah tambahan dalam menghadapi orang yang mau membaca dengan sendiri tanpa ada bimbingan seorang guru yang diakui. Banyak ilmuwan yang berpendapat bahwa sebuah mushaf tua yang ada tanda pemisah ayat dan surah semestinya ditulis setelah Mushaf ‘Uthmani, tetapi dengan diberikan contoh ini kita bisa melihat bahwa itu tidak semestinya benar.

48. Sebenarnya Mushaf Madinah telah musnah pada saat pertempuran yang mengakibalkan terbunuhnya ‘Ulhman. ibn Shabba, Tarikh al-Madinah, hLm. 7-8). Lalu bagaimana beberapa ilmuwan bisa memeriksa Mushaf yang disimpan di Madinah? Jawabannya ada dua segi. Pertama, Abu Darda’, seorang sahabat terkenal, yang meninggal pada tahun yang sama dengan ‘Uthman, menjelaskan kajian secara detail atau Mushaf yang dikirim oleh ‘Uthman termasuk Mushaf yang disimpan di Madinah. Penemuannya, terdaftar sebelum Mushaf Madinah hilang, berguna sebagai model untuk ilmuwan berikutnya. (untuk contoh, lihat Abu’ ubaid, Fada’il, film 330-2.). Kedua, (mungkin ini lebih  penting) ilmuwan-ilmuwan ini, yang tidak lagi bisa menganalisis Mushaf Madinah contohnya, selalu mengatakan dalam tulisannya bahwa mereka telah memeriksa “Mushaf orang-orang Hejaz (Arab bagian Barat).” Artinya, apa yang mereka periksa adalah duplikat asli Mushaf Madinah, yang dibuat oleh para sahabat yang terkenal atau ilmuwan-ilmuwan untuk kegunaan pribadi masing-masing sebelum Mushaf itu hilang (lihat buku ini, teks di bawah tabel hlm. 111). Dengan cara ini mereka bisa mengesampingkan fakta kehilangan mushaf, dan melakukan analisis teksnya secara detail.

49. Ibn Abi Dawud, al-Masahif hlm. 37-38, 41. Informasi yang sama tetapi melalui riwayat lain; lihat juga Abu ‘Ubaid, Fada’il, hlm. 328-9.

50. Berdasarkan kepada riwayat Hafs dari ‘Asim (mewakili salah satu [qira’ah sab’ah] tujuh bacaan yang sepakat diterima oleh pembaca Al-Qur’an yang authoritatif).

51. Lihat Ibn Mujahid, Kitab as-Sab’a, hlm. 390. Ibn Kathir, Nafi, dan ibn ‘omir membaca
( ) sebagai mana ditemui di Mushaf Makkah, Madinah dan Suriah. Sedangkan Abu ‘Amr membaca: ( ) sebagaimana ditemui di Mushaf Basra dan Kufa.

52. Dalam kolom ini ada kesalahan, didalam dua kolom pertama kelihatannya perlu dibetulkan. Saya telah mencoba untuk membetulkannya. Wa Allah A’lam.

53. Saya maksudkan riwayar Hafs dari ‘ Asim.

54. Abu ‘Ubaid, Fada’il, hlm. 333; lihat juga ad-Dani, al-Muqni, hlm. 118-9.

55. Ini juga adalah metodologi para muhaddithin (ahli hadith) yang terdahulu. Dalam membandingkan beberapa naskah hadith yang sama manuskripnya, mereka baik menyebutkan satu naskah tanpa merujuk kepada perbedaan, atau menyebutkan semua perbedaan didalam teksnya sendiri daripada menempatkan catatan di tepi. Contohnya dalam Sahih muslim, hadith tentang salat no. 245 hanya menunjukkan riwayat Ibn Numair; tiga hadith sebelumnya (salat no. 242), dan menyediakan semua riwayat yang berbeda dan meletakkannya dalam teks utama.

56. Lihat Abu ‘Ubaid, Fada’il, hlm. 330.

57. Lihat contohnya Abu ‘Ubaid, Fada’il, hlm. 328-333; lihat juga ad-Dani, al-Muqni, hlm. 112-4.
58. Ini termasuk Ibn al-Qesim, Ashhab, ibn Wahb, Ibn ‘Abdul-Hakam, dan lain-lain.

59. Ibn Hajar, Taqrib at-Tahzib, hlm. 517, entri no. 6443.
60. ad_Dani, al-Muhkam, hlm. 17

61. Contoh pemisah surah dan ayat dari beberapa mushaf disediakan di bab yang akan datang. Di samping itu, saya peroleh pernyataan ini dari A. Grohmann, “Saya menyarankan bahwa untuk pemisah surah mereka diambil dari manuskrip Greek atau Suriah, yang ditulis dipermulaan… ” ( A. Grohmann, “The problem of Dating Early Qur’an”, Der Islam, Band 33, Heft 3, hlm. 228-9). Ini merupakan mengada-ada dan memudahkan bagaimana kesungguhan Orientalis dalam mengutangi budaya orang lain kepada keberhasilan setiap Muslim-sampai pada masalah sekecil mungkin seperti memisahkan satu ayat dari ayat berikutnya dengan sebuah titik!

62. Ad-Dani, dalam bukunya al Muqni, hlm. 116) menyebutkan empat perbedaan antara Mushaf Malik dan Madinah, dan “selebihnya Mushaf Malik berdasarkan pada Mushaf madinah sebagaimana dijelaskan oleh Isma’il bin Ja’far ad-Madani”. Oleh karena itu, dalam menyiapkan carta saya telah memanfaatkan karya al-Madani. (lihat Abu ‘Ubaid, Fada’il, hlm. 328-9; ad Dani, al-Muqni, hlm. 112-4)
63. Berdasarkan kepada riwayat Hafs dari ‘Asim.

64. Lihat Ibn Mujahid, Kitab as-Sab’a, hal. 390. Ibn Kathir, Nafi, dan ibn ‘Amir membaca:
( ) sebagai mana ditemui di Mushaf Makkah, Madinah dan Suriah. Sedangkan Abu ‘Amr membaca: ( ) sebagaimana ditemui di Mushaf Basra dan Kufa.

65. Dalam kolom ini kelihatannya ada kesalahan. Daftar itu ( yang aslinya disediakan oleh ad-Dani untuk menunjukkan perbedaan antara Mushaf Malik dan Madinah) mengandungi ayat ini juga, tetapi tidak menunjukkan perbedaan diantara kedua Mushaf. Selagi teks ini tetap dicetak, walau bagaimanapun saya harus menyimpulkan bahwa kata itu dalam Mushaf Malik seharusnya .66. Ibn Shabba, Tarikh al-Madina, hlm. 1002.

6. Al-Hajjaj dan Kontribusinya Kepada Mushaf

Setelah Khalifah ‘Uthman, kita sekarang bisa mengalihkan pandangan kita ke al-Hajjaj bin Yusuf ath-Thaqafi (w. 95 Hijrah), Gubernur Irak pada zaman Khalifah Umayyah dan seorang yang cukup terkenal dengan kejahatannya. Keberanian, pemerintahan tangan besinya telah menjadi simbol kebenaran dalam sejarah Irak. Yang ironisnya dia juga berperan dalam pengabdian kepada Al-Qur’an, walaupun dia tidak kurang musuh dalam hal ini. Ibn Abi Dawud mengutip ‘Auf bin Abi Jamila (60-146 Hijrah) menyatakan bahwa al-Hajjaj mengubah Mushaf ‘Uthmani dalam sebelas tempat.67 Penelitian mengungkapkan bahwa ‘Auf, walaupun seorang jujur, mempunyai kecenderungan kepada shi’ah dan anti Umayyah.68 AI-Hajjaj, salah satu pemimpin pasukan tentara Umayyah yang terkuat, mempunyai target dalam kepemimpinannya; semua laporan yang dibuat oleh musuh harus dilihat sebagai sesuatu yang berbahaya. Tambah lagi Mu’awiyah (pemimpin pertama kerajaan Umayyah) memerangi ‘Ali atas tuduhan kasus pembunuhan `Uthman, dan ini membuat al-Hajjaj mengubah Mushaf `Uthmani khususnya yang tidak bisa dipercayai, yang ia akan menjelekkan Khilafah Ummayyah.

Apa pun juga kebenarannya, di bawah ini daftar kata-kata yang telah, dituduhkan, diubah oleh al-Hajjaj.69

Jauh sebelum ‘Auf bin Abi Jamila menuduh al-Hajjaj, ilmuwan-ilmuwan telah berdebat tentang naskah Mushaf ‘Uthmani yang resmi dan dengan teliti membandingkannya huruf demi huruf; perbedaan yang disebutkan oleh ilmuwan-ilmuwan terdahulu tidak sesuai dengan perbedaan yang disebutkan oleh `Auf. Mushaf yang dibuat oleh ‘Uthman tidak terdapat titik,70 dan hingga pada zaman al-Hajjaj, titik tidak digunakan di mana-mana. Ada beberapa kata di tabel alas tadi, yang jika titiknya dibuang, tetap sama identiknya.71 Kemudian jika tidak ada titik dan kerangka huruf sama, bagaimana dia bisa memodifikasi kata-kata ini?72 Tidak ada satu pun yang diklaim ada perubahan mengandung makna lain ayat tersebut, dan tuduhan itu sendiri (berdasarkan kepada yang di atas) kelihatannya tidak berdasar.73 Kasus di bawah ini, disebutkan oleh Ibn Qutaib, mungkin memberikan clue (indikasi) kepada interpretasi lain.

Berdasarkan laporan ‘Asim al-Jahdari, al-Hajjaj menunjuk dia, Najiya bin Rimh, dan ‘All bin Asma` untuk memeriksa Mushaf dengan tujuan untuk menyobek semua mushaf yang berbeda dengan Mushaf `Uthmani. Pemilik Mushaf seperti itu akan mendapatkan kompensasi 60 dirham.74

Beberapa Mushaf seperti ini mungkin bisa tidak dirusak, setelah dibetulkan dengan menghapuskan tinta lama dan menuliskan lagi di kertas kulit yang kosong. Beberapa orang mungkin salah menginterpretasikan perbuatan ini seperti usaha al-Hajjaj untuk mengubah Al-Qur’an.

Setelah kepimpinan ‘Uthman, al-Hajjaj juga mendistribusikan naskah­naskah Al-Qur’an ke beberapa kota. ‘Ubaidillah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah menyatakan bahwa Mushaf Madinah disimpan di Masjid Nabi saw. dan dibaca setiap pagi.75 Pada waktu masyarakat berkecamuk tentang pembunuhan ‘Uthman, seseorang melarikan Al-Qur’an secara diam-diam. Muhriz bin Thabit melaporkan dari bapaknya (yang menjadi salah satu penjaga keamanan al-Hajjaj) bahwa al-Hajjaj menyuruh membuat beberapa Mushaf,76 dan salah satunya dikirimkan ke Madinah. Keluarga `Uthman sangat sedih, tetapi ketika mereka diminta untuk terus menyimpan Mushaf yang original, yang mungkin bisa dibaca lagi, mereka mendeklarasikan bahwa Mushaf itu telah rusak ( ) pada hari pembunuhan ‘Uthman. Muhriz diinformasikan bahwa Naskah utama Mushaf ‘Uthmani masih ada kepunyaan cucu laki-lakinya, Khalid bin. ‘amr bin ‘Uthman, tetapi kita pikir bahwa yang dikirim oleh al­ Hajjaj dijadikan bacaan umum di Masjid Nabi pengganti Mushaf asli. Berdasarkan kepada as-Samhudi, yang mengutip Ibn Zabala,

Al-Hajjaj mengirimkan Al-Qur’an ke kota-kota besar, termasuk Mushaf besar dikirimkan ke Madinah, dan ia merupakan Mushaf yang pertama yang dikirimkan ke kota-kota.

Ibn Shabba berkata,

Dan ketika (Pemerintahan Abbasiyyah) al-Mahdi menjadi khalifah, dia mengirimkan satu lagi Mushaf ke Madinah, yang dibaca sampai se­karang. Mushaf al-Hajjaj sudah dipindahkan dan disimpan di kotak sebelah mimbar.78

Peranan al-Hajjaj terhadap Al-Qur’an bukan saja meneruskan pengiriman Mushaf Abu Muhammad al-Himmani melaporkan bahwa al-Hajjaj ketika mengumpulkan huffaz dan orang-orang yang professional dalam membaca kitab suci, dia ikut duduk bersama dengan mereka, karena dia juga salah seorang daripada mereka, dia meminta mereka untuk menghitung jumlah tanda (karakter) di dalam Al-Qur’ an. Ketika sudah selesai, mereka sepakat pada jumlah yang sampai sekitar 340,750 karakter. Keinginannya untuk mengetahui jauh lebih dalam, dia kemudian menemukan karakter apa yang ada di tengah ­tengah Al-Qur’an, dan jawabannya adalah dalam surah 18 ayat 19, karakter, daiam . Kemudian dia menanyakan di mana satu pertujuhnya Al-Qur’ an, dan jawabannya; satu pertujuh pertama dalam surah 4 ayat 55 karakter dalam ; kedua dalam surah 7 ayat 147 karakter dalam ; ketiga dalam surah 13 ayat 35; keempat dalam surah 22 ayat 35; kelima dalam surah 33 ayat 36; keenam dalam surah 48 ayat 6 dan ketujuh terakhir dalam bagian seterusnya. Tujuan dia kemudian untuk menemukan satu pertiga bagian seterusnya. Tujuan dia kemudian untuk menemukan tempat satu pertiga dan satu perempat Al­Qur’an.79 Al-Himmani menyebutkan bahwa al-Hajjaj membuat follow up kemajuan panitia setiap malam; semuanya memakan waktu empat bulan.80

Al-Munaggid menulis bahwa dia menjumpai sebuah Mushaf di Topkapi Sarayi (Istanbul), no. 44, yang catatannya menunjukkan bahwa Mushaf itu ditulis oleh Hudaij bin Mu’awiyah bin Maslamah al-Ansari untuk ‘Uqbah bin Nafi` al-Fihri pada tahun 49 H.. Dia ragu tentang tanggal, salah satu alasannya dikarenakan kertas folio 3b yang mengandung statistik huruf alfabet yang ada dalam seluruh Al-Qur’an. Menurut argumentasi dia, analisis statistik me­rupakan perhatian umat Muslim yang tinggi pada tahun pertama Hijrah.81 Menurut pendapat saya, keraguan al-Munaggid di dalam memberikan inisiatif al-Hajjaj dalam masalah ini, adalah tidak sah.

Komputer kita mengandung naskah teks AI-Qur’an tanpa tanda di atas dan di bawah; dengan bantuan program penghitung karakter, kita dapatkan 332,795 karakter. Kita tidak tahu metodologi al-Hajjaj: apakah tashdid juga dihitung satu karakter? Bagaimana dengan alif yang dibaca dan tidak ditulis
(seperti )? Walaupun ada kekurangan tentang ini, figure (jumlah yang didapatkan) komputer kita pun hampir sama dengan apa yang ditemukan oleh panitia al-Hajjaj yang lebih dari tiga belas abad, menunjukkan bahwa empat bulan yang intensif ini betul-betul terjadi.

7. Mushaf di Pasaran

Pada awalnya, menurut Ibn Mas’ud, seseorang yang menginginkan satu naskah Mushaf akan datang kepada sukarelawan (volunteer) secara mudah dan meminta bantuannya;82 Pendapat ini didukung oleh All bin Husain (w. 93 H.) yang berpendapat bahwa Mushaf tidak boleh diperjualbelikan, dan bahwa seseorang akan mengambil kertasnya sendiri ke mimbar dan meminta sukarelawan untuk menuliskannya. Seorang penulis sukarelawan kemudian akan mengerjakannya, secara bergantian, hingga tugas itu selesai.83 Ketika Muhil bertengkar dengan Ibrahim an-Nakha’i tentang masyarakat yang memerlukan Mushaf untuk dibaca, Ibrahim menjawab, “Beli kertas dan tinta, dan minta bantuan sukarelawan.”84 Tetapi dengan jumlah umat Islam yang membengkak sampai meliputi daratan Saudi Arabia, permintaan pada naskah Al-Qur’an meningkat, mendesak penulis sukarelawan untuk menulis lebih gigih lagi dan menjadikan fenomena baru: naskah dibayar.

Fenomena ini menimbulkan dilema teologi, tentang legitimasi upah seseorang yang mengabdi kepada Kalamullah. Seseorang mungkin boleh menjual barang kepunyaannya, banyak alasan, jadi atas dasar apa Al-Qur’an boleh dijual sedang itu bukan kepunyaan seseorang, tetapi kepunyaan sang pencipta? Mayoritas ilmuwan tidak setuju dengan naskah yang dibayar dan memperkenalkan Mushaf sebagai komoditas pasar, di antara mereka adalah Ibn Mas’ud (w. 32 H.), ‘Alqamah (w. 60 H, Masruq (w. 63 H.), shuraih (w. 80 H,) Ibrahim an-Nakha’i (w. 96 H.), abu Milaz (w. 106 H.) dan yang lainnya,85 Sedangkan ibn al-Musayyib (w. 90 H.) berbicara keras melawan pendapat ini.86 Walau bagaimanapun, ada beberapa orang yang mencoba menenangkan kritikan teman koleganya dengan menyebutkan bahwa bayaran itu bukan untuk kalam Allah, tetapi untuk tinta, kertas dan juga tenaga; memperhatikan jumlah sukarelawan yang sangat sedikit sekali, mereka itu seperti Ibn ‘Abbas (w. 68 H.), Sa’id b. Jubair (w. 95 H.) dan Ibn al-Hanafiyyah (w. 100 H.) tidak berpendapat jual beli Mushaf adalah sesuatu yang tidak menyenangkan.87 Terjadi perdebatan juga ada dalam masalah merevisi Mushaf dan membetulkan tulisan yang salah di dalam Mushaf, yang mulanya tugas sukarelawan, kemudian diserahkan ke tangan pengoreksi yang dibayar. Sa’id b. Jubair, Satu ketika menawarkan sebuah Mushaf kepada Musa al-Asadi, meminta untuk dia membaca, mengoreksi kesalahan-kesalahan dan itu untuk dijual.88 Orang yang mengikuti argumentasi mereka yang terdahulu, Ibrahim an-Nakha’i dan yang lainnya, tidak menyetujui akan pembayaran untuk merevisi, walaupun sesudah itu Ibrahim dalam masalah tertentu mengubah sikapnya.89

‘Amr bin Murrah (w. 118 H.) menyatakan bahwa hamba sahaya adalah yang pertama kali berinisiatif untuk melakukan bisnis jual beli Mushaf.90 Contohnya hamba sahaya Ibn ‘abbas memberikan harga 100 dirham untuk menulis (menyalin) Al-Qur’an.91 Jual beli Mushaf mulai muncul pada zaman pemerintahan Mu’awiyyah, menurut Ibn Mijlaz, yang tepatnya pada awal pertengahan abad pertama Hijrah.92 Perkembangan jual beli ini mengakibatkan adanya toko yang special menjual Mushaf; jika mereka lewat ke sebuah toko seperti itu, Ibn ‘Umar (w. 73 H.) dan Salim bin ‘Abdullah (w. 106 H.) akan mengatakannya sebagai “Jual beli yang menakutkan (a dreadful trade).”93 sedangkan Abu al-‘Aliya (w. 90 H.) menginginkan siksaan bagi orang-orang yang menjual beli Al-Qur’an.94

Trend yang lebih berpengaruh adalah perpustakaan umum. Mujahid (20­103 S.H.) melaporkan bahwa Ibn Abi Laila (w. 83 H) mendirikan perpustakaan yang hanya mengandung kitab suci Al-Qur’an, di mana orang-orang akan berkumpul dan membacanya.95 ‘Abdul-Hakam bin ‘Amr al-Jumahi mendirikan beberapa bangunan seperti perpustakaan pada pertengahan abad pertama hijrah, rumah Kurrasat ( : kertas ) tentang subjek yang tersusun ditambah beberapa permainan, dan di sini orang-orang menggunakan fasilitas untuk membaca dan bersukaria dengan percuma.96 Beberapa sumber menyebutkan perpustakaan lain kepunyaan Khalid bin Yazid bin Mu’awiyah;97 mungkin ada perpustakaan lain yang informasi detailnya tidak sampai kepada kita.98 Perubahan yang dilakukan beberapa kali pada Mushaf untuk menyebarkannya di kalangan masyarakat, tidak memengaruhi pembacaan dan arti ayat. ‘Uthman sendiri mungkin tahu dengan beberapa aspek fenomena ini; keputusannya untuk tidak memberikan tulisan vokal dan tidak menggunakan pemisah ayat dan titik ini berarti sebagai peringatan bagi orang yang menghafal Al-Qur’an sendiri tanpa bimbingan yang tepat. Tetapi dengan waktu berjalan (yang tidak terlalu lama) memasukkan titik dan pemisah ayat menjadi biasa (normal). Oleh karena itu, marilah kita selidiki semua implikasi ini di dalam beberapa bab berikut ini.

8. Kesimpulan

Usaha ‘Uthman yang sungguh-sungguh jelas tampak berhasil dan dilihat dari dua cara: pertama, tidak ada Mushaf di provinsi Muslim kecuali Mushaf ‘Uthmani yang telah menyerap ke darah daging mereka; dan kedua, Mushaf atau kerangka teks Mushafnya dalam jangka waktu empat belas abad tidak bisa dirusak. Sesungguhnya manifestasi Kitab Suci Al-Qur’an adalah benar-benar ajaib; interpretasi yang lain tidak berhasil. Khalifah berikutnya, mungkin meneruskan usaha nenek moyangnya, mengutus dan terus mengirim naskah Mushaf yang resmi, tetapi tidak ada naskah yang dikirim yang bertentangan dengan standar universal Mushaf ‘Uthmani.

Sampai hari ini terdapat banyak Mushaf yang dinisbatkan langsung kepada ‘Uthman, artinya bahwa Mushaf-mushaf tersebut asli atau kopian resmi dari yang asli. Inda Office Library (London), dan di Tashkent (dikenal dengan Mushaf Samarqand). Mushaf-mushaf ini ditulis pada kulit, bukan kertas, dan tampak sejaman.99 Teks-teks kerangkanya cocok satu sama lainnya dan sama dengan Mushaf-mushaf dari abad pertama hijrah dan setelahnya, sampai pada mushaf-mushaf yang digunakan pada masa kita ini.100

67. Ibn AM Dawud, al-Masahif, hlm. 117.

68. Ibn Hajar, Tarikh at-Tahzib, hlm. 433, no entri. 5215
69. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 117 – 8.

70. Untuk mendiskusikan kemungkinan kenapa ‘Uthman memilih untuk tidak memberikan titik,. rujuk Bab 9 dan 10.

71. Seperti dan . Sama juga dengan contoh 3 dan 4.

72. Seperti contoh no 1 daftar , kita sebelum ini menyebutkan bahwa ejaan Mushaf `Uthmani diputuskan untuk kalimat ini: KHAT

73. Ini mungkin dilakukan perubahan dalam naskah pribadi, seperti kasus ‘Ubaidullah bin Ziyad, yang menstandarkan ejaan (orthography) di dalam naskahnya sendiri ( lihat buku ini hlm. 133). Betulkah al-Hajjaj telah membuat perubahan kepada Mushaf ‘Uthmani, Baik masyarakat atau orang elite dalam kekuasaan tidak akan diam. Lagi-lagi Abbasiyyah, penerus kerajaan Umayyah, akan mengeksploitasi perbuatan itu untuk dapat dukungan.

74. Ibn Qutaiba, Ta’wil Mushkil Al-Qur’an, hlm. 51.
75. Ibn Shabba, Tarikh al-Madinah, hlm. 7; juga, Ibn Qutaiba Ta’wil Mushkil Al-Qur’an, hlm. 51.
76. Dia berbuat demikian untuk mengakomodasi jumlah Muslim yang makin banyak yang terjadi antara periode ‘Uthman dan periodenya (lebih dari setengah abad) yang menjadikan permintaan (demand) kepada Mushaf lebih banyak. Kita tidak ada informasi berapa banyak jumlahnya atau ke mana saja dikirimkan.

77. As-Samhudi, Wafa’ al-Wafa , I:668, sebagaimana dikutip oleh al-Munaggid, Etudes de Palaegrapgie Arabe, Beirut, 1972, hlm. 46.

78. Ibn Shabba, Tarikh al-Madinah, hlm. 7-8.
79. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 119-120.

80. Ibid, hlm. 120.

81. S. al-Munaggib, Etudes De Paleograpie Arabe, hlm. 82-83.
82. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 160

83. Ibid, hlm. 166
84. Ibid, hlm. 169.

85. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 160,166,169,175; lihat juga Ibn Abi Shaiba, Musannaf, iv: 292
86. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 166.

87. Ibn Abi Shaiba, Musannaf, iv: 293; lihat juga Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 175.
88. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 175-76.

89. Ibid, hlm. 157, 167,169.
90. Ibid, hlm. 171

91. Al-Bukhari, Khalq Afal al-‘Ibad, hlm. 32.
92. Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 175.

93. Ibid, hlm. 159, 165; lihat juga Ibn Abi Shaiba, Musannaf, iv: 292.

94. lbn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 169.

95. Ibn Sa’d, Tabaqat, iv:75; lihat juga Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 151.
96. ql_Aifahani, al-Aghani, iv:253.

97. Bertentangan dengan pernyataan Krenkow (“Kitabkhana”, Encyclopaedia of Islam, Edisi pertama, iv: 104), Perpustakaan ini kemungkinan didirikan oleh orang-orang Ibn Abi Laila dan ‘abdul­Hakam bin `Amr al-Jumahi, dan oleh karena itu tidak ada perpustakaan sebelum ini.

98. M.M. al-‘Azami, Studies in Early Hadith Literature, hlm. 16-17.

99. M. Hamidullah, Khutabat Bahawalpur, International Islamic University, Islamabad, 1985, hlm. 26.

100. Meskipun tetap merupakan salah satu kekayaan tertulis yang agung di dunia, sayang sekali Mushaf Samarqand ini tidak lagi murni. Keterikatan kaum orientalis pada Mushaf ini begitu menggebu-gebu sehingga S. Pissareff, pada tahun 1905, berikhtiar untuk menerbitkan edisi faksimil. Sebelum melakukan itu ia menebali tulisan-tulisan yang telah kabur karena masa pada lembaran­lembaran itu dengan tinta baru, sebagai proses memperkenalkan perubahan-perubahan yang terjadi pada teks. Jeffery dan Mendelsohn mengklaim bahwa “sementara beberapa kesalahan akibat ketidaktahuan telah terjadi di sana-sini dalam proses penebalan (dengan tinta baru) tersebut, tidak ada dasar yang cukup untuk menuduh adanya perubahan yang disengaja.” [“The Orthography of the Samarqand Qur’an Codex”, Journal of the America Oriental Society, vol. 62, 1942, hlm. 1761 Apapun tujuan ­tujuan Pissareff, teks Mushaf ini telah rusak.

Penulis: Prof. Dr. M.M al A’zami

(Bersambung Ke Perkembangan Alat Bantu Bacaan Dalam Mushaf ‘Uthmani)

 


About admin

Jika kata tak lagi bermakna lebih baik diam. (Masih) belajar Islam yang lurus dan benar. Cuma numpang sebentar di dunia. Silahkan duduk mari bicara. Lihat semua pos milik admin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: