Mutiara Hikmah Ulama Salaf (4)

Wasiat Berharga

[331] Seorang lelaki berkata kepada Zuhair bin Nu’aim, “Wahai Abu Abdirrahman, engkau ingin memberikan wasiat?”. Dia menjawab, “Iya, waspadalah engkau. Jangan sampai Allah mencabut nyawamu sedangkan kamu tenggelam dalam kelalaian.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 142)

Angan-Angan Yang Sudah Terlambat

[332] Ibrahim bin Abi ‘Abdah rahimahullah berkata, “Aku mendengar bahwa seorang mukmin apabila meninggal maka dia akan berangan-angan untuk bisa kembali ke dunia; hal itu bukan karena apa-apa melainkan agar dia bisa bertakbir walaupun sekali saja, bertahlil dan bertasbih walaupun sekali saja.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 143)

Tangisan Kejujuran

[333] Ketika kematian hendak menghampiri Abdullah bin ‘Ali dia pun menangis. Lalu ada yang bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?”. Beliau menjawab, “Aku menangisi keteledoranku pada hari-hari yang telah berlalu dan sedikitnya amalku untuk meraih surge yang tinggi serta –sedikitnya bekalku- untuk menyelamatkan diri dari api neraka.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 149)

Pengagungan Sholat

[334] Adi bin Hatim radhiyallahu’anhu berkata, “Tidaklah ditegakkan sholat –dikumandangkan iqomah- semenjak aku masuk Islam, melainkan aku berada dalam keadaan telah berwudhu/bersuci.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 173)

[335] Sa’id bin al-Musayyib rahimahullah berkata, “Tidak pernah aku luput dari takbir yang pertama sejak lima puluh tahun lamanya, dan aku tidak pernah melihat kepada tengkuk seorang pun –di hadapanku- di dalam sholat [artinya beliau selalu berada di shaf terdepan, pent] sejak lima puluh tahun lamanya.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 174)

[336] Waki’ bin al-Jarrah rahimahullah berkata, “Adalah al-A’masy hampir tujuh puluh tahun lamanya beliau tidak pernah luput dari takbir yang pertama.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 175)

[337] Ibnu Sima’ah rahimahullah berkata, “Aku telah menjalani waktu empat puluh tahun dalam keadaan tidak luput dariku takbir yang pertama kecuali pada hari meninggalnya ibuku.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 175)

[338] Ibrahim an-Nakha’i rahimahullah berkata, “Jika kamu melihat seorang [periwayat] yang meremehkan takbir yang pertama maka cucilah kedua tanganmu darinya [jangan mengambil riwayat darinya].” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 176)

[339] Ibrahim at-Taimi rahimahullah berkata, “Jika kamu melihat seorang [periwayat] yang meremehkan takbir yang pertama maka cucilah kedua tanganmu darinya [jangan mengambil riwayat darinya].” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 176)

[340] Muhammad bin al-Mubarak ash-Shuri berkata, “Adalah Sa’id bin Abdul ‘Aziz apabila tertinggal dari sholat jama’ah maka beliau pun menangis.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 176)

Sholat Yang Membekas

[341] Bakr al-Muzani rahimahullah berkata, “Jika engkau ingin agar sholatmu bermanfaat [memberikan pengaruh] kepadamu maka katakanlah –pada dirimu sendiri- bahwa aku tidak mengerjakan sholat kecuali sholat itu saja.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 181)

Keagungan Hak Allah

[342] Thalq bin Habib rahimahullah berkata, “Sesungguhnya hak-hak Allah itu terlau agung untuk bisa ditunaikan dengan sempurna oleh seorang hamba. Akan tetapi mereka dapat menggapai keutamaan dengan senantiasa bertaubat di waktu pagi dan bertaubat di waktu sore.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 195)

Kelezatan Bagi Hati

[343] Tsabit al-Bunani rahimahullah berkata, “Tidaklah aku merasakan sesuatu yang lebih mendatangkan kelezatan ke dalam hatiku daripada sholat malam.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 211)

Jahannam Tidak Membiarkan Mereka Terlelap

[344] Putri ‘Amir bin Abdi Qais berkata kepada ayahnya, “Mengapa aku melihat orang-orang terlelap tidur sementara engkau tidak tidur…” Maka beliau menjawab, “Wahai putriku, sesungguhnya neraka Jahannam  membuatku tidak bisa terlelap tidur.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal.215)

Dosa Yang Membutuhkan Ampunan

[345] Suatu ketika putri Rabi’ bin Khutsaim rahimahullah bertanya kepada ayahnya, “Wahai ayahanda, orang-orang tidur sedangkan aku melihat engkau tidak tidur?” Maka Rabi’ menjawab, “Wahai putriku, sesungguhnya ayahmu khawatir akan akibat dari dosa-dosa.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 215)

Sebab Tidak Bisa Sholat Malam

[346] Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya seseorang bisa jadi melakukan suatu dosa kemudian hal itu membuatnya terhalang dari mengerjakan sholat malam.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 217)

Benteng Kemenangan

[347] Bisyr bin al-Harits rahimahullah berkata, “Engkau tidak akan merasakan manisnya ibadah sampai kamu bisa meletakkan tembok/penghalang antara dirimu dengan syahwat.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 217)

Jarak Antara Kita Dengan Mereka

[348] Ibrahim at-Taimi rahimahullah berkata, “Berapakah jarak antara kalian dengan kaum [pendahulu] itu? Dunia datang kepada mereka –salafus shalih- dan mereka berlari darinya. Sementara dunia itu pergi meninggalkan kalian dan kalian justru mengejarnya.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 222)

Gembira Memasuki Waktu Malam

[349] Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Apabila matahari telah tenggelam aku pun merasa gembira dengan kegelapan agar bisa menyelimuti kesendirianku dengan Rabbku. Dan apabila matahari telah terbit, aku pun sedih karena orang-orang pun akan masuk dalam hidupku.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 232)

Kenikmatan Dunia

[350] Ibnul Munkadir rahimahullah berkata, “Kini tidak tersisa lagi kelezatan di dunia kecuali tiga perkara; … sholat malam, berjumpa dengan saudara [sesama muslim], dan sholat berjama’ah.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 237)

Hakikat Keimanan

[351] Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Tidaklah seorang hamba mencapai hakikat keimanan sampai dia bisa menganggap musibah sebagai kenikmatan dan kelapangan sebagai musibah, dan sampai dia tidak menyukai apabila dipuji karena ibadahnya kepada Allah.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 254)

Tingkatan Sabar

[352] Maimun bin Mihran rahimahullah berkata, “Sabar ada dua macam; sabar dalam menghadapi musibah, maka itu adalah baik. Dan yang lebih utama lagi adalah sabar dalam menghindari maksiat.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 259)

Sabar Menghadapi Musibah

[353] al-Ahnaf rahimahullah berkata, “Telah lenyap penglihatan kedua mataku sejak empat puluh tahun lamanya dan aku tidak menceritakan hal itu kepada siapapun.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 261)

[354] Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu berkata, “Diantara bentuk pengagungan kepada Allah dan pengenalan terhadap hak-Nya adalah hendaknya engkau tidak mengadukan sakitmu dan menceritakan musibah yang menimpamu.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 266)

Pahala Sabar

[355] ‘Aisyah radhiyallahu’anhu berkata, “Sesungguhnya demam itu akan menggugurkan dosa sebagaimana pohon yang menggugurkan daun-daunnya.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 268)

[356] Ibnu Abid Dunya rahimahullah berkata, “Adalah mereka –para salaf- mengharapkan apabila mereka mengalami demam semalaman mudah-mudahan bisa menggugurkan dosa-dosa yang telah berlalu.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal.268)

Kehidupan Yang Bahagia

[357] ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu’anhu berkata, “Kami mendapatkan sebaik-baik penghidupan kami dengan modal kesabaran.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 272)

[358] ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu’anhu berkata, “Seandainya sabar dan syukur itu menjelma menjadi dua ekor onta maka aku tidak peduli di atas onta yang mana -diantara keduanya- aku kendarai.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 278)

[359] ‘Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullah berkata, “Tidaklah Allah memberikan nikmat kepada seorang hamba lalu dicabutnya dan Allah gantikan hal itu dengan kesabaran melainkan ganti yang Allah berikan pasti lebih baik daripada apa nikmat dicabut darinya.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 279)

[360] Ada seorang lelaki meminta wasiat kepada Abud Darda’ radhiyallahu’anhu. Maka beliau berkata, “Ingatlah Allah pada saat senang niscaya Allah akan mengingatmu pada saat susah.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 280)

Nikmat Atau Bencana?

[361] Salamah bin Dinar rahimahullah berkata, “Setiap kenikmatan yang tidak semakin mendekatkan diri kepada Allah –‘azza wa jalla– maka itu adalah bencana.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 282)

Sumber Datangnya Musibah

[362] Abu Sulaiman ad-Darani rahimahullah berkata, “Mereka [salafus shalih] sedikit dosanya, oleh sebab itu mereka bisa mengetahui darimana sumber musibah yang menimpanya. Adapun kita; dosa kita sangatlah banyak, sehingga kita tidak bisa mengetahui dari dosa manakah kita mendapatkan bencana.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 289)

Rahasia Kebaikan

[363] ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu’anhu berkata, “Aku tidak peduli apakah aku memasuki waktu pagi dalam keadaan dirundung kesulitan atau mendapatkan kemudahan -dalam urusan dunia-, sebab aku tidak mengetahui manakah yang lebih baik bagiku.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 289)

Musibah Yang Lebih Besar

[364] Sebagian salaf berkata, “Kehilangan pahala [sabar] pada saat musibah menimpa itu jauh lebih besar [merugikan] daripada musibah itu sendiri.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 290)

Sabar Di Saat Sehat

[365] Sebagian salaf berkata, “Musibah itu bisa membuat sabar orang beriman maupun orang kafir. Akan tetapi tidak akan bisa bersabar ketika mendapatkan keselamatan dan kesehatan -untuk tidak bermaksiat- kecuali orang yang shiddiq/jujur keimanannya.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 297)

Meringankan Musibah

[366] ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu berkata, “Barangsiapa yang bersikap zuhud di dunia niscaya musibah-musibah itu akan terasa ringan baginya, dan barangsiapa yang menunggu-nunggu datangnya kematian pastilah dia akan bersegera menuju kebaikan-kebaikan.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 303)

Menyambut Musibah Dengan Gembira

[367] Ibrahim bin Dawud rahimahullah berkata: Sebagian orang bijak mengatakan, “Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang menghadapi musibah-musibah yang menimpanya dengan kegembiraan.” Maka Ibrahim berkata, “Mereka itu adalah orang-orang yang hatinya telah bersih dari kegandrungan terhadap dunia.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 305)

Memusuhi Allah

[368] Abu Mas’ud al-Balkhi rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang tertimpa musibah kemudian merobek-robek pakaian atau memukul-mukul dada, seolah-olah dia adalah orang yang sedang mengambil tombak untuk mengobarkan peperangan dengan Rabbnya ‘azza wa jalla.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 305)

Kunci Keselamatan

[369] Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Barangsiapa yang membaca al-Qur’an dan mengikuti ajaran yang terdapat di dalamnya, maka Allah akan tunjuki dirinya dari kesesatan dan Allah akan menjaganya pada hari kiamat dari hisab yang buruk.” (lihat Ma’alim at-Tanzil, hal. 829 oleh Imam al-Baghawi rahimahullah)

Ilmu Yang Bermanfaat

[370] Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Adapun ilmu nafi’/ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bisa mensucikan hati dan ruh yang pada akhirnya akan membuahkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Ilmu itu adalah ajaran-ajaran yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meliputi ilmu tafsir, hadits, dan fiqih serta segala ilmu yang menopang atau membantunya semacam ilmu-ilmu bahasa arab…” (lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 42)

Penyesalan Terbesar

[371] Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Tidaklah aku menyesali sesuatu sebagaimana penyesalanku terhadap suatu hari yang tenggelam matahari pada hari itu sehingga berkuranglah ajalku padanya sedangkan amalku tidak kunjung bertambah.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i [2/11])

Tanda Kebinasaan

[372] al-Hasan rahimahullah berkata, “Salah satu ciri bahwa Allah mulai berpaling dari seorang hamba adalah tatkala Allah menjadikan kesibukan dirinya dalam hal-hal yang tidak penting baginya tatkala Allah ‘azza wa jalla tidak lagi memberikan taufik kepadanya.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i [2/15])

Perjalanan Menghancurkan Usia

[373] Ahmad bin Masruq rahimahullah berkata, “Engkau senantiasa berada dalam proses penghancuran umurmu, yaitu sejak engkau keluar dari perut ibumu.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i [2/22])

Kesibukan Yang Bermanfaat

[374] Wuhaib bin al-Ward rahimahullah berkata, “Jika engkau sanggup membuat tidak ada seorang pun yang menyibukkan dirimu dari mengabdi kepada Allah ta’ala maka lakukanlah.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i [2/24])

Menyambut Negeri Akhirat

[375] Ada yang bertanya kepada Muhammad bin Wasi’ rahimahullah, “Bagaimana keadaanmu pagi ini?”. Maka beliau menjawab, “Bagaimanakah menurutmu mengenai orang yang menempuh perjalanan setiap hari melalui tahapan-tahapan menuju akhirat.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i [2/27])

Memelihara Waktu

[376] Ibrahim bin Syaiban rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang menjaga untuk dirinya waktu-waktu yang dia jalani sehingga tidak tersia-siakan dalam hal yang tidak mendatangkan keridhaan Allah padanya niscaya Allah akan menjaga agama dan dunianya.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i [2/29])

Hakikat Kerugian

[377] Yahya bin Mu’adz rahimahullah berkata, “Tidaklah aku menangisi diriku apabila ia mengalami kematian, hanya saja yang aku tangisi adalah apabila kebutuhanku [ibadah] telah sirna.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i [2/42])

Menjaga Lisan

[378] ’Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang mengetahui bahwa ucapannya termasuk dari amalnya niscaya akan sedikit ucapannya kecuali dalam perkara yang penting baginya atau bermanfaat untuknya.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i [2/72])

Celah Bagi Setan

[379] az-Zuhri rahimahullah berkata, “Apabila suatu majelis itu lama maka setan pasti berusaha untuk campur tangan di dalamnya.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i [2/77])

Penjagaan Ketat

[380] Muhammad bin Wasi’ berkata kepada Malik bin Dinar, “Wahai Abu Yahya, menjaga lisan itu jauh lebih berat bagi manusia daripada menjaga dinar dan dirham.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i [2/83])

Tanda Kebaikan dan Keburukan

[381] Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Tidaklah memahami agamanya orang yang tidak pandai menjaga lisannya.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i [2/84])

Binatang Buas

[382] Thawus rahimahullah berkata, “Lisanku adalah binatang buas. Apabila aku melepaskannya dengan bebas niscaya ia akan memakan diriku.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i [2/90])

Bahaya Namimah

[383] Yahya bin Aktsam rahimahullah berkata, “Tukang namimah/adu-domba lebih jelek daripada tukang sihir. Seorang tukang namimah bisa melakukan sesuatu dalam waktu satu jam apa yang tidak bisa dilakukan oleh seorang tukang sihir selama sebulan.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i [2/128])

Bahaya Dusta

[384] ’Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu berkata, “Sebesar-besar kesalahan di sisi Allah adalah lisan yang suka berdusta dan seburuk-buruk penyesalan adalah penyesalan pada hari kiamat.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i [2/138])

Amal Yang Tidak Diterima

[385] Bilal bin Sa’ad rahimahullah berkata, “Tiga hal yang menyebabkan amalan tidak akan diterima apabila disertai olehnya, yaitu; syirik, kekafiran, dan ra’yu.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud ra’yu.” Beliau menjawab, “Yaitu apabila dia meninggalkan Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya dan beramal dengan ra’yu/pendapatnya sendiri.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa‘, hal. 359)

Dosa Yang Terus Mengalir

[386] Habib Abu Muhammad rahimahullah berkata, “Salah satu tanda kebahagiaan bagi seorang hamba adalah apabila dia mati maka ikut mati pula dosa-dosanya.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 361)

Akibat Dosa

[387] Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Aku terhalang dari melakukan sholat malam selama lima bulan gara-gara sebuah dosa yang pernah aku lakukan.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 361)

Mencari Tempat Yang Tepat

[388] Seorang lelaki berkata kepada Hatim al-Asham rahimahullah, “Berikanlah nasehat kepadaku.” Maka beliau berkata, “Jika kamu ingin berbuat maksiat kepada Tuhanmu maka lakukanlah hal itu di tempat yang tidak dilihat-Nya.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 362)

Kepada Siapa Hal Itu Ditujukan

[389] Bilal bin Sa’id rahimahullah berkata, “Janganlah kamu melihat kecilnya kesalahan, akan tetapi lihatlah kepada siapa kamu berbuat durhaka.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 362)

Antara Tangisan dan Penyesalan

[390] Bakr bin Abdullah al-Muzani rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang melakukan dosa sambil tertawa-tawa, maka dia akan masuk neraka sambil menangis.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 362)

Kelembutan Hati

[391] Mak-hul rahimahullah berkata, “Orang-orang yang paling lembut hatinya adalah orang-orang yang paling sedikit dosanya.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 364)

Bau Busuk Maksiat

[392] Muhammad bin Wasi’ rahimahullah berkata, “Seandainya dosa itu mengeluarkan bau niscaya  kalian tidak akan sanggup mendekat kepadaku, karena betapa busuknya bau [dosa] yang keluar dariku.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 365)

Mengagungkan Sunnah

[393] Qotadah rahimahullah berkata, “Aku tidak pernah berfatwa dengan pendapatku sendiri sejak tiga puluh tahun lamanya.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 367)

Keyakinan Yang Kuat

[394] Muhammad bin al-Mubarak rahimahullah berkata, “Tidaklah beriman dengan benar kepada Allah orang yang berharap kepada makhluk mengenai sesuatu yang telah dijamin oleh Allah [rizki].” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 381)

Merasa Cukup

[395] Sa’id bin al-Musayyab rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang merasa cukup dengan pertolongan Allah niscaya manusia akan membutuhkan dirinya.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 388)

Semangat Para Ulama

[396] Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku pernah mengkhatamkan al-Qur’an enam puluh kali dalam bulan Ramadhan.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 394)

Zuhud Terhadap Kekuasaan

[397] Yusuf bin Asbath rahimahullah berkata, “Zuhud dalam hal kepemimpinan lebih berat daripada zuhud dalam urusan dunia.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 399)

Ridha Dengan Kesederhanaan

[398] Abu Usamah menceritakan: Mis’ar pernah berkata kepadaku, “Wahai Abu Usamah, orang yang telah merasa puas dengan cuka dan sayur niscaya orang-orang tidak akan memperbudak dirinya.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 400)

Orang Yang Zuhud

[399] Malik bin Dinar rahimahullah berkata, “Orang-orang mengatakan bahwa Malik bin Dinar adalah orang yang zuhud. Sesungguhnya orang yang zuhud itu adalah ‘Umar bin Abdul ‘Aziz; orang yang dunia datang menghampirinya akan tetapi dia justru meninggalkannya.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 400)

Kemuliaan Sabar

[400] Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Tidaklah hamba mendapatkan karunia yang lebih utama daripada kesabaran. Karena dengan sebab kesabaran itulah mereka masuk ke dalam surga.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 459)

Keutamaan Sabar dan Syukur

[401] Mutharrif bin Abdullah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah maka hamba yang paling dicintai adalah orang yang sabar dan pandai bersyukur. Yaitu orang yang apabila diberikan ujian maka dia bersabar, dan apabila diberi karunia maka dia pun bersyukur.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 462)

Mencintai Para Sahabat

[402] Bisyr bin al-Harits rahimahullah berkata, “Amalku yang paling aku andalkan dalam pandanganku adalah kecintaan kepada para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 463)

Bodoh Tentang Sunnah

[403] Abu Ja’far al-Baqir rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang tidak mengetahui keutamaan Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu’anhuma maka sesungguhnya dia telah bodoh terhadap Sunnah/ajaran Nabi.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 466)

Jurus Keselamatan

[404] Syaqiq al-Balkhi rahimahullah berkata, “Bersahabatlah dengan manusia sebagaimana kamu bergaul dengan api. Ambillah manfaat darinya dan berhati-hatilah jangan sampai dia membakar dirimu.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 475)

Mengenali Riya’

[405] Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Tidak bisa mengenali riya’ kecuali orang yang ikhlas.” (lihat Bustan al-Arifin, hal. 99)

Keutamaan Menimba Ilmu

[406] Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Tidak ada suatu amal setelah amalan-amalan wajib yang lebih utama daripada menuntut ilmu.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 526)

Ibadah Paling Utama

[407] ‘Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullah berkata, “Ketahuilah, bahwa ibadah yang paling utama adalah menunaikan kewajiban dan menjauhi hal-hal yang diharamkan.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 532)

Kunci Kebaikan Umat

[408] Ada seseorang yang datang menemui Maimun bin Mihran dan berkata kepadanya, “Manusia senantiasa dalam kebaikan selama engkau berada di tengah-tengah mereka.” Maka beliau mengatakan, “Umat manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka tetap bertakwa kepada Allah.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 536)

Teladan Seorang Ulama

[409] Imam Yahya bin Ma’in rahimahullah berkata, “Tidaklah aku melihat seorang semisal Ahmad bin Hanbal. Kami telah bersahabat dengannya selama lima puluh tahun, meskipun demikian beliau sama sekali tidak pernah membanggakan kepada kami apa-apa yang ada pada dirinya berupa kesalihan dan kebaikan.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 536)

Keutamaan ‘Uzlah dan Jama’ah

[410] Mak-hul rahimahullah berkata, “Apabila keutamaan itu ada pada jama’ah -berkumpul bersama orang banyak- maka sesungguhnya keselamatan itu ada pada ‘uzlah -menjauhkan diri dari fitnah-.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 545)

Orang Yang Berakal

[411] Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Bukanlah orang yang berakal itu yang mengenali kebaikan dan keburukan. Hanyalah orang yang berakal itu adalah apabila melihat kebaikan maka dia pun mengikutinya, dan apabila melihat keburukan maka dia pun menjauhinya.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 558)

Pengangguran

[412] Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Sungguh aku tidak senang apabila melihat ada orang yang menganggur; yaitu dia tidak sedang melakukan amal untuk dunianya dan tidak juga beramal untuk akhirat.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 560)

Antara Amal dan Tawakal

[413] Muslim bin Yasar rahimahullah berkata, “Beramallah seperti halnya amalan seorang lelaki yang tidak bisa menyelamatkan dirinya kecuali amalnya. Dan bertawakallah sebagaimana tawakalnya seorang lelaki yang tidak akan menimpa dirinya kecuali apa yang ditetapkan Allah ‘azza wa jalla untuknya.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 561)

Nasehat Yang Tidak Membekas

[414] Malik bin Dinar rahimahullah berkata, “Sesungguhnya seorang alim/ahli ilmu apabila tidak beramal dengan ilmunya maka akan lenyaplah nasehat yang diberikannya dari hati manusia sebagaimana mengalirnya tetesan air hujan di atas batu.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 569)

Niat Yang Salah

[415] Malik bin Dinar rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk diamalkan niscaya Allah berikan taufik kepadanya. Dan barangsiapa menuntut ilmu bukan untuk diamalkan maka ilmunya akan semakin membuatnya congkak.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 569)

Dokter Yang Dungu

[416] Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata, “Perumpamaan seorang yang mempelajari suatu ilmu namun dia tidak mau mengamalkannya adalah seperti seorang dokter yang memiliki obat-obatan akan tetapi tidak mau berobat dengannya.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 571)

Menundukkan Pandangan

[417] Waki’ menuturkan: Suatu saat kami berangkat bersama Sufyan ats-Tsauri pada hari raya/’Ied. Lalu beliau berkata, “Sesungguhnya hal pertama kali yang [semestinya] kita lakukan pada hari ini adalah menundukkan pandangan.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 579)

Zaman Fitnah

[418] Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu’anhu berkata, “Benar-benar akan datang suatu masa dimana tidak akan selamat pada waktu itu kecuali orang yang senantiasa berdoa seperti doa orang yang hampir tenggelam.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 588)

Hasil Ujian

[419] Sa’id bin Jubair rahimahullah berkata: Ada seorang rahib yang bertemu denganku. Dia berkata, “Wahai Sa’id. Dalam fitnah akan menjadi jelas siapa yang menyembah Allah dan siapa yang menyembah thaghut.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 593)

Nikmat Paling Utama

[420] Abul ‘Aliyah rahimahullah berkata, “Aku tidak mengetahui manakah diantara kedua macam nikmat ini yang lebih utama; ketika Allah berikan hidayah kepadaku untuk memeluk Islam ataukah ketika Allah menyelamatkan aku dari hawa nafsu/bid’ah-bid’ah ini?” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 601)

Dzikir Paling Utama

[421] Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Dzikir yang paling utama adalah membaca al-Qur’an di dalam sholat, kemudian membaca al-Qur’an di luar sholat, lalu puasa, lalu dzikir [dengan lisan].” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 632)

Penasihat Dari Dalam

[422] Ibnu Sirin rahimahullah berkata, “Jika Allah berkehendak baik kepada seorang hamba maka Allah akan jadikan untuknya penasihat dari dalam hatinya yang memerintah dan melarangnya.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 655)

Penyebab Kerasnya Hati

[423] Bisyr bin al-Harits rahimahullah berkata, “Dua perkara yang akan mengeraskan hati, yaitu terlalu banyak berbicara dan terlalu banyak makan.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 657)

Pengaruh Nasihat

[424] Syahr bin Hausyab rahimahullah berkata, “Jika seorang menuturkan pembicaraan kepada suatu kaum niscaya pembicaraannya akan meresap ke dalam hati mereka sebagaimana sejauh mana pembicaraan [nasihat] itu bisa teresap ke dalam hatinya.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 660)

Akibat Pertengkaran

[425] Abu Ja’far rahimahullah berkata, “Jauhilah oleh kalian pertengkaran; karena sesungguhnya hal itu akan merusak hati dan menumbuhkan bibit kemunafikan.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 661)

Musibah Terbesar

[426] Hudzaifah al-Mar’asyi rahimahullah berkata, “Tidaklah seorang tertimpa musibah yang lebih berat daripada kerasnya hati.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 661)

Nasihat Yang Membekas

[427] ‘Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullah berkata, “Tidaklah bermanfaat bagi hati [nasihat] kecuali yang keluar dari dalam hati.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 661)

Antara Hati dan Pakaian

[428] Abu Idris rahimahullah berkata, “Hati yang bersih di dalam pakaian yang kotor lebih baik daripada hati yang penuh kotoran di dalam selubung pakaian yang bersih.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 661)

Orang Paling Kaya

[429] ‘Ali bin al-Husain rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang merasa cukup [qona’ah] dengan apa yang dibagikan Allah untuknya maka dia adalah orang yang paling berkecukupan.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 662)

Sumber Bencana

[430] Hatim al-’Asham rahimahullah berkata, “Pokok segala musibah ada tiga, yaitu kesombongan, ketamakan, dan hasad/dengki.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 670)

About admin

Jika kata tak lagi bermakna lebih baik diam. (Masih) belajar Islam yang lurus dan benar. Cuma numpang sebentar di dunia. Silahkan duduk mari bicara. Lihat semua pos milik admin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: