Rumahku Sempit Tetapi Semoga Kuburanku Tidak Sempit

 

 بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين, أما بعد:

Sebagian orang mengeluh; “Aduh rumahnya sempit, mau meletakkan meja makan aja bingung”

Ada lagi  yang mengeluh: “Aduh rumahnya sempit, dapurnya apalagi, ke kanan ke jedot wajan, ke kiri ke jedot rak piring”

Ada lagi yang mengeluh: “Aduh rumahnya sempit, sampai-sampai mau tidur aja susah”

Memang yang sangat dibutuhkan manusia adalah tempat tinggal, dan Alhamdulillah jika luas dan lapang, karena itu termasuk tanda dan mendatangkan kebahagiaan.

عَنْ سعد ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  أَرْبَعٌ مِنْ السَعَادَةِ: المرأة الصالحة و الْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ , وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيُّ و أَرْبَعٌ مِنَ الشَّقَاءِ:  المرأة السوء و الْمَسْكَنُ الضيق ، وَالْجَارُ السوء, وَالْمَرْكَبُ السوء .

Artinya: “Sa’ad radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Empat perkara dari kebahagiaan: istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang shalih, kendaraan yang nyaman, dan empat perkara dari kesengsaraan, istri yang tidak shalih, tempat tinggal yang sempit, tetangga yang buruk dan kendaraan yang buruk.” HR. Al Hakim dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 887.

Tetapi harus diingat! disana juga ada tempat tinggal yang akan dihuni oleh setiap manusia, kafirnya kah atau muslimnya kah? dan siapapun yang tinggal disitu, akan disempitkan tempat tinggalnya, kemudian setelah itu dilapangkan hanya untuk orang-orang yang beriman, semoga kita termasuk darinya:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « هَذَا الَّذِى تَحَرَّكَ لَهُ الْعَرْشُ وَفُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَشَهِدَهُ سَبْعُونَ أَلْفًا مِنَ الْمَلاَئِكَةِ لَقَدْ ضُمَّ ضَمَّةً ثُمَّ فُرِّجَ عَنْهُ ».

Artinya: “Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Inilah seorang yang Arsy bergerak untuknya dan dibukakan untuknya pintu-pintu langit, dan disaksikan oleh tujuhpuluh ribu malaikat, sungguh (kuburannya) disempitkan kemudian (setelah itu) dilapangkan untuknya.” HR. An Nasai dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Misykat Al Mashabih yang ditahqiq oleh beliau, dan beliau berkata: “Sanadnya shahih sesuai dengan syarat shahih Muslim, 1/49.

قَالَ أَبُو الْقَاسِم السَّعْدِيّ : لَا يَنْجُو مِنْ ضَغْطَة الْقَبْر صَالِح وَلَا طَالِح غَيْر أَنَّ الْفَرْق بَيْن الْمُسْلِم وَالْكَافِر فِيهَا دَوَام الضَّغْط لِلْكَافِرِ وَحُصُول هَذِهِ الْحَالَة لِلْمُؤْمِنِ فِي أَوَّل نُزُوله إِلَى قَبْره ثُمَّ يَعُود إِلَى الِانْفِسَاح لَهُ قَالَ وَالْمُرَاد بِضَغْطِ الْقَبْر اِلْتِقَاء جَانِبَيْهِ عَلَى جَسَد الْمَيِّت وَقَالَ الْحَكِيم التِّرْمِذِيّ : سَبَب هَذَا الضَّغْط أَنَّهُ مَا مِنْ أَحَد إِلَّا وَقَدْ أَلَمَّ بِذَنْبِ مَا فَتُدْرِكهُ هَذِهِ الضَّغْطَة جَزَاء لَهَا ثُمَّ تُدْرِكهُ الرَّحْمَة وَكَذَلِكَ ضَغْطَة سَعْد بْن مُعَاذ فِي التَّقْصِير مِنْ الْبَوْل

Berkata As Suyuthi:
“Berkata Abu Al Qasim As Sa’di: tidak ada yang selamat dari penyempitan kubur, baik seorang yang shalaih atau yang tidak shalih, Cuma perbedaan antara seorang muslim dengan seorang kafir di dalmnya adalah, penyempitan yang terus menerus untuk seorang kafir dan seorang beriman mendapat keadaan seperti ini ketika pertama-tama turun ke dalam kuburnya, kemudian dikembalikan menjadi lapang untuknya, dan maksud dari pernyempitan kubur adalah ertemunya dau sisi samping kuburan tersebut menyempitkan jasad si mayat. Berkata Al Hakim At Tirmidzi: “Sebab penyempitan ini adalah bahwa tiada seorangpun kecuali ia telah melakukan sebuah dosa, maka diganjar dengan penyempitan inisebagai balasan atasnya, kemudian ahmat (Allah) menghampirinya, demikian pula penyempitan untuk Sa’ad bin Mu’adz di dalam perkara peremehan terhadap kencing.” Lihat kitab Hasyiyat As Suyuthi wa As Sindi ‘Ala Sunan An Nasai, 3/292, (Asy Syamela).

عَنْ عَائِشَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ لِلْقَبْرِ ضَغْطَةً وَلَوْ كَانَ أَحَدٌ نَاجِياً مِنْهَا نَجَا مِنْهَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ ».

Artinya: “Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa NAbi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kubur mempunyai penyempitan, jika ada seorang yang selamat darinya niscaya selamat darinya adalah Sa’ad bin Mu’adz.” HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, 2/236.

 ( ان للقبر ضغطة ) أي ضيقا لا ينجو منه طالح ولا صالح لكن الكافر تدوم ضغطته بخلاف المؤمن والمراد به التقاء جانبيه عليه

Al Munawi rahimahullah berkata: “Maksud dari “Sesungguhnya kubur mempunyai penyempitan” adalah disempitkan, tidak ada yang selamat darinya, baik seorang shalih atau tidak shalih, akan tetapi seorang kafir terus menerus penyempitan untuknya, berbeda dengan seorang beriman, dan yang dimaksudkan dengan (penyempitan)nya adalah bertemunya dua sisi samping kubur tersebut atasnnya”. Lihat kitab At Taisir Bisyarh Al Jami’ Ash Shaghir, karya Al Munawi, 1/684. (Asy Syamela).

عن ابن عباس رَضِيَ الله عَنْهُما ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم يقول: لَوْ نَجَا أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ الْقَبْرِ لَنَجَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ و لَقَدْ ضُمَّ ضَمَّةً ثُمَّ روخي عَنْهُ

Artinya: “Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jikalau ada seorang yang selamat dari penyempitan kubur, niscaya selamat Sa’ad bin Mu’adz, (tetapi) sungguh (kuburnya) telah disempitkan dengan sangat sempit, kemudian dilapangkan (setelah itu) untuknya. HR. Ath Tahbrani dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 5306.
Bahkan sampai kuburan bayi dan anak kecil tidak selamat

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، رَضِيَ الله عَنْهُ ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم قَالَ : لَوْ أفلت أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ الْقَبْرِ لأفلت هَذَا الصَّبِيُّ.

Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jikalau seorang selamat dari penyempitan kubur niscaya selamat bayi ini.” HR. Ath Thabrany dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, 5/56.

Semoga setelah ini, sebagaimana kita memperhatikan tempat tinggal kita di dunia dan itu sementara, kita juga lebih memperhatikan awal tempat kita di akhirat dan kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal.

Ditulis oleh Ahmad Zainuddin
Selasa, 17 Rabiul Awwal 1434H, Dammam KSA

About admin

Jika kata tak lagi bermakna lebih baik diam. (Masih) belajar Islam yang lurus dan benar. Cuma numpang sebentar di dunia. Silahkan duduk mari bicara. Lihat semua pos milik admin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: